Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Aku Pergi ...
*
*
*
Malam semakin larut. Gerimis yang menemani perjalanan sejak sore masih menempel di kaca jendela, titik-titiknya meluruh perlahan seperti detak waktu yang tak terburu.
Lampu rumah memancarkan cahaya hangat, memeluk ruang yang perlahan hening, setelah tadi dipenuhi kata-kata dan keputusan yang terasa berat di lidah.
Qistina melangkah pelan menuju kamar. Langkahnya tak lagi kokoh seperti minggu-minggu lalu, tubuh itu seakan perlahan menjadi beban yang harus ia bawa sendiri.
Albie berjalan di belakangnya, matanya tak lepas dari punggung istrinya, setiap saat siap menyangga jika ia goyah. Namun setiap kali tatapan mereka bertemu, Qistina selalu tersenyum tipis. Cara itu yang selalu ia pilih demi menenangkan kecemasan suaminya. Padahal dia sendiri merasakan lebih parah.
Sesampainya di kamar, Qistina duduk di pinggir ranjang. Ia melepas hijab dengan gerakan lambat, lalu menyandarkan punggungnya. Nafasnya keluar panjang, berat, matanya terasa panas. Hari-hari berlalu, mengisi dadanya penuh hingga tak ada ruang tersisa sedikit pun.
Albie meletakkan tas, mengambil segelas air, dan menyerahkannya. “Minum dulu, Sayang.”
Jari Qistina bergetar saat menerima gelas. Albie refleks menahan bagian bawahnya. “Aku bisa sendiri Mas,” ucapnya ringan.
“Mas tahu, Sayang...” sahut Albie, tapi tangannya tetap disana sampai gelas kembali kosong.
Qistina menatapnya. Senyum tipis masih menggantung, tapi tak sampai ke matanya. “Mas…”
“Hm?”
“Mas takut, ya?”
Gerakan Albie terhenti di jam tangannya yang hendak dilepas. Ia menatap Qistina sekilas. “Takut apa?”
“Takut kehilangan aku.”
Keheningan jatuh. Ruangan itu seakan menahan nafas. Hanya suara AC yang samar, berpadu dengan rintik hujan di luar. Albie menunduk, jemarinya masih menggenggam tali jam yang belum terlepas.
Qistina menatapnya dalam diam, sampai Albie mengangkat wajah, mendekat, dan meraih tangannya.
“Tentu Mas takut,” suaranya rendah, pecah di ujung kata dan penuh luka. “Tapi, Mas lebih takut kalau kamu menghadapi semuanya sendirian. Mas nggak akan biarkan itu.”
Qistina menatap tangan mereka yang saling bertaut. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Albie pelan. Kemudian mengerling, dan tersenyum lebih lebar. “Kalau Mas takut, berarti Mas sayang banget sama aku.”
Albie tersenyum, tapi matanya justru makin merah.
“Memangnya kamu baru tahu?”
Qistina terkekeh pelan, suara yang ringan. Tapi gemetar di ujungnya. Lalu ia menunduk. “Besok aku mulai kemo ya Mas.”
Albie mengangguk, “Iya sayang.”
Qistina menghembuskan nafas pendek, “Efek samping kemoterapi, bikin aku takut Mas.”
Suaranya begitu pelan, hampir hilang tertelan hujan.
Albie menggeser tubuh, menariknya masuk ke dalam pelukan. Kepala Qistina bersandar di dadanya, detak jantung pria itu menjadi irama yang menenangkan walau sama-sama gelisah.
Tangan Albie mengusap punggungnya, lembut seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh.
“Nggak apa-apa,” bisiknya. “Rasa takut itu wajar, apalagi ini yang pertama kalinya. Mas akan temani kamu terus. Sampai efek kemoterapinya hilang.”
Qistina memejamkan mata. Di dada pria yang menjadi tempat paling aman baginya—ia membiarkan dirinya lepas sejenak. Tanpa kata, tanpa pura-pura. Sebenarnya ia tahu, Albie pun sama takutnya, tapi memilih menahannya supaya ia tak ikut runtuh.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar.
Albie melepaskan pelukan. “Siapa?”
“Maaf Mas Albie, Mbak Qistina…” suara Khalisa terdengar samar. “Eloise sudah selesai menyusu.”
Qistina buru-buru mengusap sudut matanya. “Masuk aja, Khalisa.”
Pintu terbuka. Khalisa masuk, menggendong Eloise yang mulai terpejam, terbungkus selimut tipis seperti bungkusan harapan. Qistina langsung tersenyum, sungguh kali ini matanya ikut bersinar.
“Anak Mommy sudah kenyang ya?” tanyanya pada bayi mungil itu.
Eloise bergerak pelan. Kelopak matanya menutup rapat. Ia sudah mulai tertidur.
Khalisa mengangguk “Sudah, Mbak. Dia sampai tertidur.”
Qistina mengulurkan tangan. “Sini.”
Saat Eloise berpindah ke pelukannya, Qistina mencium kening bayi itu, mengusap pipinya dengan ujung jari seolah sedang menghafal setiap lekuknya. Bayi itu menggeliat sejenak.
“Khalisa…”
“Iya, Mbak?”
“Terima kasih ya …”
Khalisa menggeleng pelan. “Mbak nggak perlu berterima kasih terus. Karena saya juga sudah banyak menerima kebaikan dari Mbak.”
Qistina tersenyum lembut. Matanya jatuh ke Eloise yang memejam. “Kamu sudah menyelamatkan sesuatu yang paling berharga buat aku Khalisa.”
Khalisa terdiam, menatap bayi itu. “Kalau bukan karena Mbak dan Mas Albie, saya mungkin masih…”
Kalimat itu menggantung, tapi Qistina tak memintanya dilanjutkan. Ia hanya meraih tangan Khalisa, menggenggamnya erat.
“Berarti, kita sama-sama pernah ditolong, Khalisa.”
Khalisa menunduk, matanya berkaca-kaca.
Albie berdiri di ambang pintu, diam melihat mereka.
Malam berjalan pelan. Lampu-lampu satu per satu padam. Setelah Khalisa membawa Eloise pergi, Qistina kembali duduk di ranjang.
Albie sudah berbaring, matanya tertutup, tapi nafasnya tak tenang, seperti orang yang berpura-pura tidur agar yang lain tak merasa dalam pengawasan.
Qistina meraih ponselnya. Layar menyala, menerangi wajahnya samar. Galeri terbuka: foto pernikahan, Albie menggendong Eloise, lalu mereka bertiga. Jemarinya berhenti lama di foto terakhir, seolah ingin mengunci momen itu di balik layar.
Lalu ia membuka catatan. Layar putih kosong menunggu. Qistina mengetik perlahan :
Untuk Mas Albie…
Ia berhenti. Menghapusnya. Mengetik kembali.
Kalau suatu hari aku…
Jemarinya kembali diam. Qistina menatap kalimat itu beberapa detik, kemudian menghapus semuanya. Beberapa detik kemudian, ia menghapus semuanya. Mengunci ponsel, dan berbalik ke arah Albie.
“Mas…”
“Hm?”
“Peluk aku.”
Mata Albie terbuka seketika, pria itu tak pernah benar-benar tidur. Lengannya langsung merengkuh tubuh istrinya erat, namun begitu hati-hati, seolah Qistina adalah cahaya yang bisa padam jika terlalu ditekan.
Lengan lainnya melingkar di pinggangnya, menariknya masuk, tak ada lagi jarak, suara jantung mereka berdetak dalam satu irama yang sama.
Dagu Albie menyandar di puncak kepalanya, nafas hangatnya jatuh di atas hijab yang kini terlepas. Pelukan itu bukan sekadar kebersamaan; itu adalah benteng yang ia bangun dengan tubuhnya sendiri, berusaha menahan segala sakit, ketakutan, dan waktu yang berjalan terlalu cepat. Ia memeluk tidak hanya untuk menghangatkan ; selama ia masih bernafas, ia akan berusaha menghadapi apapun bersama istrinya
Tangannya mengusap punggungnya perlahan, gerakan yang sama berulang-ulang, seperti orang yang sedang berdoa dalam diam.
“Mas di sini, Mas nggak membiarkan kamu pergi.”
Qistina mendongak, kemudian menenggelamkan wajah lebih dalam lagi. “Kalau aku pergi, nanti Mas sama siapa?”
Di pelukan itu, ia menyembunyikan betapa dirinya gemetar, betapa ia takut esok hari, betapa ia takut kehilangan bagian terpenting dari hidupnya.
Namun Albie memeluk begitu tenang, agar Qistina tak merasakan guncangan di dadanya. “Mas kan udah bilang, kamu nggak akan kemana-mana.”
Qistina memejamkan mata, menyerahkan seluruh berat tubuh dan hatinya ke dada suaminya. Ia merasakan ketegangan di lengan itu, detak jantung yang tak tenang, napas yang berusaha teratur. Ia tahu. Di balik pelukan yang kuat itu, ada pria yang sama ketakutannya dengan dirinya.
Angin malam berdesir pelan di luar jendela. Di dalam ruang yang remang itu, pelukan itu bertahan lama. Keduanya berusaha menyatukan nyawa, menyimpan momen ini jauh di dalam dada.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍