Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Tantangan Sang Raja Utara.
“Kakak!”
Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Isolde berlari kencang menghampiri Iselyna yang sudah menunggu dengan raut cemas.
Gadis kecil itu seketika memeluk erat pinggang kakaknya, lalu menumpahkan seluruh kepanikan dan peristiwa menakutkan yang baru saja dialaminya di Hutan Lunn diiringi isak tangis yang sesenggukan.
Iselyna mengelus lembut punggung adiknya, mendengarkan setiap detail cerita dengan cermat.
“Jadi... seperti itu yang terjadi...”
Iselyna mendongak, menatap lurus ke arah Edward. Sebuah senyuman tulus yang teramat hangat terukir di wajahnya, diiringi anggukan kepala penuh rasa hormat.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Pangeran. Anda telah mempertaruhkan diri dan menyelamatkan nyawa adik tercinta saya. Saya... sangat berterima kasih atas kebaikan Anda.”
“Sama-sama, Yang Mulia Putri,” balas Edward sopan.
Namun, detik berikutnya, senyuman di wajah sang Pangeran perlahan menghilang, berganti dengan raut rasa bersalah.
“Tapi... saya tetap merasa terlambat. Seandainya saja saya bergerak lebih cepat, mungkin nyawa para prajurit pengawal yang gugur di sana bisa diselamatkan.”
Iselyna menggelengkan kepalanya pelan, menolak rasa bersalah yang dipikul Edward.
“Itu sama sekali bukan salahmu, Pangeran Edward. Setidaknya... keberadaanmu telah membalaskan dendam para prajurit yang telah gugur dalam menjalankan tugas mulia mereka.”
Iselyna kemudian mengalihkan pandangannya ke arah seorang pria bertubuh kekar berotot yang mengenakan zirah komandan lengkap di sampingnya.
“Tolong sampaikan kabar duka ini kepada keluarga yang ditinggalkan, dan segera siapkan upacara pemakaman kehormatan bagi para pahlawan kita yang telah gugur.”
Pria berzirah itu menepuk dadanya dan membungkuk dalam. “Segera akan saya laksanakan sesuai perintah Anda, Yang Mulia Putri Iselyna.”
Ia lalu berbalik dan melangkah pergi memimpin jajaran prajurit lainnya untuk mengurus evakuasi.
Setelah situasi sedikit tenang, Isolde yang berada di dekapan Iselyna tiba-tiba mendongak dengan mata berbinar riang.
“Kakak, Kakak tahu tidak?! Kakak Pangeran itu hebat dan kuat banget, loh!” cerocos Isolde antusias.
“Tadi pas kita perjalanan pulang ke istana, aku, Millie, dan Paman Bernard dibawa terbang melayang di udara sambil naik kereta kuda sama Kakak Pangeran! Seru banget! Isolde bisa lihat pemandangan dari atas angkasa!”
Iselyna tertegun sejenak, matanya membulat. “I-iya...? Benarkah seperti itu?”
“Betul, Kak! Kakak harus cobain terbang bareng Kakak Pangeran juga deh! Asli, seru banget tau!” tutur Isolde polos tanpa dosa.
Deg!
Seketika itu juga, rona merah merona meledak di seluruh permukaan wajah sang Putri Es.
Di sisinya, Edward yang mendengar celotehan polos Isolde pun mengalami hal yang sama persis. Pipinya membakar panas, membuatnya buru-buru memalingkan wajah ke arah lain demi menyembunyikan rasa malu yang luar biasa.
“S-sudah! Kamu bicara apa sih?” potong Iselyna buru-buru, berusaha keras mengendalikan rona merah di wajahnya.
“Sana masuk ke dalam istana. Ayah dan Ibu sudah menunggumu dari tadi.”
Iselyna kemudian mengalihkan pandangannya pada Millie yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Millie, kamu pergilah ke Ruang Bersama Pelayan terlebih dahulu. Istirahatkan tubuhmu. Kamu pasti masih trauma akibat kejadian menakutkan tadi, kan?”
“Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia Putri Iselyna,” tutur Millie penuh rasa syukur.
Namun, sebelum berbalik pergi, manik mata pelayan berambut merah itu sempat tertambat sejenak pada sosok Edward.
Edward yang seakan langsung mengerti arti tatapan itu, memberikan anggukan pelan padanya—sebuah isyarat tersirat agar Millie menyimpan dulu jubah milik Edward yang sedang dikenakannya hingga keadaannya benar-benar pulih.
“Juliet, tolong dampingi Millie dan ceritakan pada Janette mengenai apa yang baru saja terjadi,” perintah Iselyna pada pelayan pribadinya.
“Baik, Yang Mulia Putri. Saya mengerti,” sahut Juliet sigap, lalu segera membimbing langkah Millie menuju pintu samping istana.
Tepat saat akan memasuki pintu utama, Isolde mendadak menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya.
“Kakak Edward! Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi, ya! Isolde masih mau dengar cerita Kakak dan rasanya terbang di angkasa!” seru Isolde riang.
Edward membalas lambaian itu dengan senyuman hangat. “Tentu saja.”
Isolde tersenyum lebar, lalu berlari riang menerobos pintu istana—seolah-olah trauma penyergapan mengerikan beberapa puluh menit lalu menguap begitu saja dari benak kecilnya.
Namun, saat mata sang Pangeran masih mengekor pada sosok Isolde yang menghilang di balik pintu, ia mendadak menyadari bahwa jarak Iselyna dengannya kini sudah amat dekat.
Sang Putri Es telah berdiri tepat di hadapannya, menatap Edward lurus-lurus dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Jadi...” Iselyna membuka suara dengan nada yang sedikit lebih dingin dari biasanya.
“Ada apa antara Anda dan Millie tadi? Tatapan Anda berdua terlihat agak... berbeda.”
Deg!
Edward tersentak kaget, otomatis menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“E-err... Aku hanya memberi isyarat padanya agar menyimpan jubahku terlebih dahulu sementara waktu. Anda tahu sendiri kan, pakaiannya tadi sempat rusak akibat ulah bandit-bandit itu...”
“Ooh... Jadi begitu...”
Iselyna mengangguk pelan sekali. Tanpa membalas sepatah kata pun lagi, sang Putri berbalik begitu saja dan melangkah anggun masuk ke dalam istana.
Meninggalkan Edward dan Bernard yang berdiri mematung di halaman.
Bernard perlahan melangkah mendekati tuannya dari samping, menyikut lengan Edward pelan.
“Wah, wah... Ada apa ini, Tuan Muda? Apa jangan-jangan kalian berdua—”
“Kau ngomong apaan sih, Bernard?! Sudahlah, aku juga mau masuk ke kamar!” potong Edward dengan suara melengking dan wajah yang kembali membakar merah.
Pemuda itu buru-buru berlari kecil menerobos pintu masuk istana demi menghindari interogasi sang pelayan.
Di sisi lain, Bernard hanya bisa berdiri sendirian menatap punggung Pangerannya yang melarikan diri, sementara sebuah senyuman jahil yang penuh arti terukir makin lebar di parasnya.
***
BRAK!
Raja Isenbard menggebrak keras permukaan meja kayu mahoni di hadapannya tatkala laporan mengenai penyerangan terhadap Isolde sampai ke telinganya.
Napas sang Raja memburu penuh amarah. Sementara itu, seluruh penghuni yang berada di dalam ruangan tersebut—Ratu Elizabeth, Raja Nolan, Ratu Tiana, Iselyna, hingga Edward sendiri—hanya sanggup terdiam mematung.
“Berani-beraninya para keparat itu...!” berang Isenbard dengan suara menggelegar.
“Mereka berani mencoba menyerang anggota keluarga Kerajaan Nivalis secara terang-terangan! Seandainya saja aku berada di lokasi kejadian, sudah kupastikan mereka menerima siksaan kematian yang paling menyakitkan!”
Raja Isenbard lalu mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Edward.
Namun, secara tidak terduga, sang Raja mendadak menundukkan kepalanya cukup dalam di hadapan pemuda itu.
Tindakan tersebut seketika membuat Edward—serta seluruh petinggi kerajaan yang hadir di dalam ruangan—tersentak kaget bukan kepalang.
“Meskipun demikian, aku ingin menyampaikan rasa terima kasihku yang terdalam padamu, Pangeran Edward,” ujar Raja Isenbard dengan nada tulus yang bergetar.
“Berkat keberanian dan tindakan cepatmu, putri kecilku berhasil selamat dari maut. Sekali lagi... terima kasih banyak.”
“Y-Yang Mulia! Tolong angkat kepala Anda!” seru Edward panik, memajukan tubuhnya.
“Tidak sepantasnya seorang kepala negara teragung seperti Anda menundukkan kepala kepada orang seperti saya!”
“Tidak, Edward,” sahut Raja Isenbard sembari perlahan menegakkan kembali posisinya.
“Apa yang kulakukan saat ini bukanlah atas nama seorang Raja maupun pemimpin Kerajaan Nivalis... melainkan murni sebagai sosok seorang Ayah, yang berterima kasih kepada pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa putrinya dari marabahaya.”
Senyuman hangat yang penuh wibawa perlahan terukir di wajah sang Raja.
“Rupanya perkiraanku sama sekali tidak salah saat memilihmu untuk mendampingi Putriku di pesta malam nanti, Pangeran Edward. Keberanian serta kehebatan luar biasa yang kau tunjukkan telah membuktikan bahwa kau amat sangat layak.”
Raja Isenbard mengangguk tegas. “Mulai detik ini, kau telah memenangkan rasa hormatku, serta seluruh rakyat Kerajaan Nivalis. Jika suatu hari nanti kau membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun, jangan pernah sungkan untuk memintanya kepadaku.”
Mendengar hal itu, Edward membungkukkan tubuhnya penuh rasa hormat.
“Suatu kehormatan yang teramat besar bagi saya, Yang Mulia. Kebaikan serta kepercayaan Anda akan selalu saya ingat di dalam dada.”
“Hmph! Sudah kubilang juga apa dari awal?” sahut Raja Nolan tiba-tiba, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyuman penuh kebanggaan.
“Bakat dan kehebatan Putraku ini sama sekali bukan sekadar omong kosong belaka!”
“Iya, iya... baiklah, kau menang,” Raja Isenbard mengalah dengan nada yang terdengar pasrah.
Manik matanya melirik bergantian antara Ratu Elizabeth dan Putri Iselyna.
Kedua wanita itu membalas tatapan sang Raja dengan helaan napas panjang yang serempak, seolah baru saja kalah dalam sebuah perdebatan rahasia yang sengit.
“Baiklah,” ujar Ratu Elizabeth akhirnya sembari menyilangkan tangan di dada. “Tapi ingat, hanya untuk sekali ini saja.”
Melihat pertukaran tatapan dan sikap misterius tersebut, Edward, Raja Nolan, bahkan Ratu Tiana hanya bisa saling pandang. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik “lampu hijau” yang diberikan oleh para wanita Kerajaan Nivalis itu.
Raja Isenbard seketika bangkit dari kursinya.
Aura wibawanya yang tadinya lembut sebagai seorang ayah, kini perlahan bertransformasi menjadi aura seorang komandan perang yang haus akan tantangan. Ia menatap Edward dengan seringai lebar yang tertahan.
“Baiklah, Pangeran Edward.”
“Karena aku sudah mendapatkan lampu hijau dari mereka...” Isenbard memberi jeda sejenak, membuat suasana ruangan mendadak hening.
“Bagaimana kalau kita berdua melakukan sparring sebentar di lapangan latihan? Sebelum para tamu undangan lain mulai berdatangan siang nanti, tentu saja.”
Edward tertegun. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
“Aku sudah tidak sabar ingin menguji kekuatanmu secara langsung dengan tanganku sendiri,” lanjut sang Raja penuh semangat.
Jangan lupa ke naskah aku juga ya