Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Rencana Besar
"Oma bilang ingin bertemu cucu menantu barunya."
Kalimat Naomi membuat udara hangat di ruang kerja Pavilion berubah lebih hati-hati.
Keira tahu nama Oma Liem dari percakapan keluarga saat malam negosiasi. Nenek Reynard, istri mendiang Engkong Liem Boen Hwa, perempuan yang masih dihormati bahkan oleh Hendrick. Dalam keluarga konglomerat, orang tua yang tidak lagi memegang jabatan formal sering kali tetap memegang satu hal yang lebih sulit dilawan: legitimasi.
"Oma marah?" tanya Keira.
Naomi menggeleng ragu. "Sulit dibaca. Oma jarang bicara banyak. Tapi kalau sudah minta bertemu, artinya sesuatu sampai ke telinganya."
Keira menoleh kepada Reynard. Ia masih memainkan Rubik, seolah nama Oma tidak menyentuhnya. Namun putaran jarinya sedikit melambat.
"Rey mau bertemu Oma?"
"Tidak."
Naomi menekan bibir. "Koh Rey memang jarang ke rumah lama sejak kecelakaan."
Kecelakaan.
Kata itu jatuh pelan, tetapi cukup membuat ruangan lebih sunyi.
Keira tidak memaksa. "Kalau Oma ingin bertemu, aku akan datang. Tapi bukan hari ini. Hari ini aku perlu bicara dengan Nao soal pekerjaan."
Naomi langsung duduk lebih tegak. "Pekerjaan?"
Keira mengeluarkan tablet dan membuka folder lama. Di dalamnya ada proposal film yang dulu ia siapkan untuk proyek bersama Brandon. Dulu, proyek itu dibuat untuk mengangkat Celine sebagai wajah baru industri hiburan. Dulu, Keira bersedia berdiri di belakang layar dan membiarkan nama Celine bersinar.
Dulu ia bodoh.
"Proyek film dengan Brandon batal," kata Keira. "Celine tidak akan jadi pemeran utama. Semua kontak, konsep, dan strategi promosi yang kususun akan kutarik kembali."
Naomi bersiul pelan. "Kak, itu seperti mencabut karpet dari bawah kaki mereka."
"Bagus. Mereka terlalu nyaman berdiri di atas karpetku."
Reynard mengangkat kepala sekilas.
Keira melanjutkan, "Aku ingin membuat perusahaan hiburan sendiri. Tidak besar dulu. Tapi cukup untuk memproduksi drama pertama, mengontrak beberapa talenta baru, dan punya kendali penuh atas promosi."
"Melawan Langit Entertainment?" Naomi bertanya.
"Kalau mereka menghalangi, iya."
Langit Entertainment berada di bawah Liem Group. Secara teori, itu berarti keluarga suaminya sendiri. Namun Keira tidak datang ke dunia hiburan untuk terus mengemis pintu dari orang yang bisa menutupnya kapan saja.
Naomi tampak antara takut dan bersemangat. "Kak butuh investor."
"Aku tahu."
"Ada satu nama. Evan Lim."
Reynard yang sedang menunduk tiba-tiba berhenti memutar Rubik.
Keira melihatnya dari sudut mata, tetapi tidak berkomentar. "Evan?"
"Dia sepupu jauh keluarga Lim. Di luar kelihatan seperti anak kaya yang kerjaannya pesta, tapi uangnya banyak. Dia juga suka investasi yang aneh-aneh."
"Orang bodoh dengan banyak uang?"
"Kira-kira begitu."
Keira tersenyum kecil. Dari sedikit hal yang ia lihat di pernikahan dan studio, Evan tidak tampak sebodoh citra yang dipasang orang. Orang yang bisa berdiri di lingkaran Reynard, bahkan sebagai "teman", pasti bukan sekadar dompet berjalan.
"Aku ingin bicara dengannya."
Rubik di tangan Reynard berbunyi klik.
Naomi menoleh. "Koh Rey?"
"Tidak apa-apa," kata Reynard, lalu menunduk lagi. "Rubik macet."
Keira pura-pura tidak melihat kebohongan kecil itu.
Sore itu, mereka menyusun rencana di atas meja rendah. Nama perusahaan sementara ditulis di kertas: BC Entertainment, Bintang Cita Entertainment. Naomi mengusulkan dirinya membantu naskah. Keira membuat daftar kebutuhan: kantor kecil, legalitas PT, produser lapangan, sutradara pendamping, casting, promosi digital, dan satu investor yang tidak takut mengambil risiko.
Keira tidak menulis dengan gaya orang yang sedang berkhayal. Ia memecah semuanya menjadi angka. Biaya sewa kantor tiga bulan. Honor tim inti. Perkiraan jadwal syuting. Dana promosi untuk TikTok, Instagram, dan kerja sama akun gosip hiburan. Bahkan risiko somasi dari pihak Celine ia tulis di kolom khusus.
Naomi membaca daftar itu dengan mata makin besar. "Kak, ini bukan rencana balas dendam spontan."
"Balas dendam spontan cepat habis," jawab Keira. "Aku ingin sesuatu yang tetap berdiri setelah mereka selesai panik."
"Dan Evan Lim?"
"Aku akan menawarkan saham minoritas. Kalau dia mau masuk, dia ikut aturan mainku. Kalau tidak, aku cari orang lain. Aku tidak menjual kendali hanya karena butuh modal."
Di kursi roda, Reynard menunduk seolah sibuk dengan Rubik. Namun setiap angka yang Keira sebutkan masuk rapi ke ingatannya. Keira tidak sedang meminta seseorang menyelamatkannya. Ia sedang membangun jalan keluar dengan kedua tangannya sendiri.
Itu jauh lebih menarik daripada air mata.
Dan lebih berbahaya bagi musuhnya.
Ketika Naomi pulang menjelang magrib, Keira ikut mengantarnya sampai pintu. Reynard tetap di ruang kerja, diam menatap kertas bertuliskan BC Entertainment.
Begitu suara langkah Keira menjauh, ia mengambil ponsel lain dari laci bawah meja. Bukan ponsel yang biasa dilihat orang. Layarnya bersih, daftar kontaknya pendek.
Ia menelepon Evan.
"Bro?" Suara Evan terdengar santai. "Ada apa?"
"Keira akan menghubungimu."
Di seberang, jeda dua detik. "Untuk?"
"Perusahaan hiburan."
"Ah." Evan tertawa pelan. "Jadi aku resmi menjadi orang bodoh dengan banyak uang?"
"Kau sudah lama memenuhi dua syarat itu."
"Kejam sekali. Berapa yang harus kubawa?"
"Jangan terlalu mudah. Buat dia merasa negosiasi."
"Kau ingin membantu, tapi tidak ingin ketahuan."
"Jelas."
Reynard menatap pintu. Dari celah tirai, ia melihat Keira sedang bicara dengan Naomi di halaman kecil. Wajahnya serius, tetapi matanya hidup. Ia tampak seperti seseorang yang baru menemukan medan perang yang benar.
"Dan satu lagi," kata Reynard.
"Ya?"
"Bocorkan sedikit skandal Brandon dan Celine. Jangan sampai ke media besar. Cukup ke lingkaran yang membuat mereka tidak bisa tidur."
Evan bersiul. "Kau sudah mulai memelihara istri kecilmu?"
Reynard diam sebentar.
Keira tertawa pelan di luar, mungkin karena Naomi mengatakan sesuatu. Suara itu masuk tipis lewat jendela.
"Memelihara istri kecil," gumam Reynard, lebih kepada dirinya sendiri. "Juga bukan ide yang buruk."
"Bro Rey, itu terdengar sangat tidak sehat."
"Urus saja."
Ia memutus telepon.
Beberapa detik kemudian Keira kembali masuk. Reynard sudah kembali memegang Rubik, wajahnya polos.
"Nao pulang?"
"Iya." Keira duduk di depannya. "Rey bosan?"
"Kei lama."
"Aku sedang membicarakan masa depan."
"Masa depan?"
Keira mengambil kertas bertuliskan BC Entertainment dan menunjukkannya. "Suatu hari nanti, nama ini akan dikenal banyak orang."
Reynard menatap tulisan itu, lalu menatap Keira.
"Pasti."
Jawaban sederhana itu membuat Keira tersenyum. "Kamu percaya begitu saja?"
"Kei bisa."
Keira tidak tahu mengapa kalimat itu terasa lebih hangat daripada pujian panjang.
Malam turun pelan di Pavilion. Setelah Keira keluar untuk mengambil air minum, Reynard menunduk melihat kedua kakinya yang tertutup selimut tipis.
Jari kaki kanannya bergerak.
Sedikit. Hampir tidak terlihat.
Namun cukup untuk membuktikan bahwa seluruh dunia salah tentang Reynard Liem.