NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Pintu Terlarang dan Jejak Kehidupan yang Hilang

Angin sore yang berhembus lewat lorong lantai dua terasa tiba-tiba menjadi dingin menusuk tulang, seolah membawa serta hawa dari dunia yang berbeda. Aku terpaku di tempat, mata tak lepas dari celah pintu sayap timur yang kini terbuka sendiri, pintu yang selama ini dilarang Erlan kusentuh, pintu yang menyimpan seluruh rahasia yang belum siap aku ketahui.

Erlan yang berdiri di sampingku ikut membeku. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini tampak pucat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia menatap pintu itu bukan dengan rasa takut, melainkan dengan tatapan penuh kepasrahan, seolah takdir akhirnya memaksanya untuk membuka tirai penutup kebenaran yang selama ini dia peluk erat sendirian.

"Aku sudah berusaha menunda ini selama mungkin," bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar jarang sekali terdengar darinya. "Aku takut jika kamu melihat apa yang ada di sana, kamu akan membenciku... atau takut padaku. Tapi sepertinya semesta tidak mengizinkan kita menyembunyikannya lebih lama lagi."

Dia melangkah perlahan mendekat ke pintu itu, tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu yang terbuat dari kayu jati tua berukir halus. Saat didorong perlahan, pintu itu terbuka lebar tanpa suara, seolah sudah menunggu kedatangan kami sejak lama.

Aku melangkah masuk di belakangnya, rambut panjangku menyapu kusen pintu saat aku berbalik menutupnya rapat. Ruangan di dalamnya sama sekali tidak seperti yang kubayangkan. Bukan ruangan gelap yang penuh harta rahasia atau dokumen berbahaya. Ruangan ini justru terlihat persis seperti kamar tidurku di rumah lama, tiga tahun yang lalu.

Ada meja belajar kayu yang sama persis, lemari pakaian dengan cat yang sedikit terkelupas di sudut, bahkan stiker bunga matahari yang dulu aku tempel di dinding masih menempel di sana. Di atas meja rias terpajang puluhan foto, foto yang membuat kakiku lemas seketika.

Foto-foto itu bukanlah foto masa kecil yang aku kenal. Itu adalah foto dari kehidupan sebelumnya, kehidupan yang berakhir dengan kematianku di jalan raya saat hujan deras. Ada foto aku yang sedang bekerja lembur di kantor, foto aku yang menangis sendirian di sudut taman setelah dikhianati Rian, bahkan foto terakhirku saat aku terbaring lemah di ambang kematian di dalam mobil yang remuk.

"Bagaimana bisa... kau punya semua ini?" tanyaku nyaris tak bersuara, jari-jariku menyentuh permukaan foto itu dengan tak percaya.

Erlan berjalan mendekat ke sudut ruangan, di mana sebuah kotak kaca besar berdiri megah. Di dalamnya tersimpan benda-benda milikku dari masa lalu seperti jepit rambut yang pernah hilang saat aku jatuh dari sepeda, buku catatan harianku yang hilang dua tahun lalu, bahkan syal rajutan yang kugunakan saat hari pertamaku masuk kuliah, benda yang sama sekali tidak kubawa saat kami pindah rumah.

"Di kehidupan yang dulu," mulainya perlahan, seolah setiap kata terasa berat untuk diucapkan. "Aku tidak pernah berani mendekatmu terlalu jauh. Aku tahu Rian adalah tunanganmu, aku tahu kau mempercayainya sepenuhnya. Aku hanya bisa berdiri di kejauhan, menjagamu dari bayang-bayang. Aku tahu setiap langkahmu, setiap kesedihanmu, setiap luka yang kau terima karena kebohongan orang lain."

Dia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Saat hari kecelakaan itu tiba, aku terlambat menyadari rencana jahat mereka. Aku mengejar mobilmu secepat yang aku bisa, tapi saat aku tiba, kau sudah terbaring di sana. Aku mati di tempat itu juga, aku tewas tertabrak truk saat mencoba menolongmu yang sudah tak bernyawa."

Air mata mengalir deras di pipiku tanpa sadar. Aku tidak menyangka bahwa di detik-detik terakhir hidupku, ada orang lain yang rela mengorbankan nyawanya demi aku. Orang yang selama ini aku anggap hanya orang asing yang kebetulan lewat dalam hidupku.

"Kita berdua mati di hari yang sama," lanjut Erlan, matanya berkaca-kaca menatapku lekat-lekat. "Saat aku terbangun, aku kembali ke tiga tahun yang lalu, tepat saat tawaran pernikahan itu datang ke rumahmu. Aku pikir hanya aku yang diberi kesempatan kedua, sampai aku melihatmu hari itu di ruang kerjaku. Matamu berubah. Tatapanmu yang dulu lemah dan penurut kini berubah tajam dan berani. Saat itulah aku tahu... kau juga ikut kembali bersamaku."

Aku berjalan mendekat ke arahnya, tanganku menyentuh dadanya yang berdetak kencang di balik kemeja rapi. "Jadi kau tahu sejak awal aku sudah ingat segalanya? Kau tahu aku datang dari masa depan yang sama menyakitkannya?"

Erlan mengangguk pelan, tangannya menutupi tanganku yang ada di dadanya. "Aku tahu. Tapi aku takut bertanya. Aku takut jika kau tahu aku menyaksikan setiap penderitaanmu di masa lalu, kau akan merasa aku mengintaimu, atau menganggapku gila. Aku hanya ingin satu hal yaitu memastikan kali ini kau selamat, kau bahagia, dan tidak ada yang berani menyakitimu lagi."

Belum sempat aku menjawab, suara dering ponsel Erlan memecah keheningan ruangan. Kali ini bukan nada darurat, melainkan pesan singkat yang membuat wajahnya kembali berubah tegang. Dia membuka layar ponselnya, dan aku ikut melirik pesan itu, tanpa nama pengirim, hanya satu kalimat pendek yang membuat bulu kudukku meremang:

"Kalian pikir hanya kalian yang diberi kesempatan? Dia juga kembali. Dan kali ini dia tidak akan membiarkan kalian menang."

Erlan mengepal tangannya kuat hingga buku jarinya memutih. "Ada orang ketiga. Orang yang juga tahu rahasia perjalanan waktu ini, orang yang berdiri di sisi Paman Dika."

"Siapa?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Aku belum tahu pasti," jawabnya pelan. "Tapi ada satu hal yang aku yakin. Orang ini bukan sekadar sekutu Paman Dika. Dia punya dendam pribadi padaku... bahkan mungkin padamu juga."

Sore itu kami keluar dari ruangan sayap timur dengan pikiran yang semakin berat. Banyak teka-teki yang terjawab, namun muncul misteri baru yang jauh lebih mengerikan. Jika ada orang lain yang juga kembali dari masa lalu, berarti dia tahu setiap langkah yang akan kami ambil. Dia tahu kelemahan kami, dia tahu rencana kami, dan dia pasti sudah menyiapkan jebakan yang jauh lebih mematikan.

Malamnya, saat aku sedang duduk di balkon kamarku mencoba menenangkan pikiran, aku melihat bayangan seseorang berdiri di balik pohon beringin besar di ujung taman. Sosok itu berdiri diam menatap ke arahku, lalu perlahan mengangkat tangannya dan melambaikan tangan seolah menyapaku dengan penuh ejekan.

Aku segera berlari masuk dan memanggil Erlan, tapi saat kami kembali ke sana, bayangan itu sudah hilang. Hanya tertinggal selembar kertas kecil yang tertancap di batang pohon dengan pisau lipat. Di atas kertas itu tertulis satu kalimat dengan tinta merah menyala:

"Permainan baru saja dimulai, Dian. Jangan terlalu cepat merasa aman."

Erlan meremas kertas itu hingga hancur, wajahnya penuh amarah yang tertahan. "Mulai besok aku akan menambah pengawal di setiap sudut rumah. Dan kita harus mempercepat langkah kita. Sebelum orang ini sempat melukaimu, kita harus membongkar semua kejahatan Paman Dika dan menemukan siapa dalang sesungguhnya di baliknya."

Aku mengangguk mantap, menyeka sisa air mata di pipiku. Kali ini aku tidak lagi sendirian. Erlan ada di sisiku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kesempatan kedua ini. Namun di lubuk hatiku yang paling dalam, ada firasat buruk yang tak bisa kuhilangkan yaitu orang yang menyapaku tadi bukanlah musuh yang baru kukenal. Dia adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku, seseorang yang aku percaya sepenuhnya di kehidupan yang lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!