Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sembilan tahun lalu...
"Roy, kamu tidak boleh menceraikan Rani. Kalau kamu berani melakukannya, semua yang kamu miliki akan jatuh ke tangannya."
"Ayah, kenapa Ayah begitu kejam?" seru Roy dengan nada tak terima. "Dia sudah melahirkan anak cacat. Aku ingin menceraikannya!"
Sorot mata pria tua itu langsung mengeras.
"Kamu sangat tahu kenapa anak itu bisa cacat!" bentaknya. "Kalau saja perhatianmu tidak habis untuk Sintia dan kamu membawa Haikal mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal, kondisinya tidak akan seperti sekarang."
"Itu bukan salahku!"
"Kamu masih berani mengelak?" Pria tua itu menggeleng kecewa. "Dengarkan baik-baik. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Rani dan anaknya lagi. Kalau sampai kamu nekat menceraikannya, seluruh hartaku akan jatuh pada mereka."
***
Ingatan itu membuat Roy menarik napas panjang.
Almarhum ayahnya memang tidak pernah main-main dengan perkataannya. Semua telah disiapkan secara hukum. Dalam surat wasiat itu tertulis jelas, apabila Roy menceraikan Rani atas kehendaknya sendiri, sebagian besar harta keluarga akan jatuh ke tangan Rani dan Haikal. Sebaliknya, jika perceraian terjadi atas permintaan Rani, maka wanita itu hanya berhak atas setengah bagian harta sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
Selama bertahun-tahun, Roy sudah mencoba berbagai cara agar Rani menyerah dan memilih mengakhiri pernikahan mereka. Ia bersikap dingin, mengabaikannya, bahkan terang-terangan lebih mengutamakan Sintia. Namun, semua usahanya selalu berakhir sia-sia.
Rani tidak pernah sekalipun mengajukan perceraian.
Kini keadaan justru berbalik. Jika Rani benar-benar meminta berpisah, Roy pun tidak bisa serta-merta mengabulkannya.
Usaha keluarga dibidang kesehatan sedang menghadapi masa sulit. Kondisi keuangan tidak sekuat dulu, jika kehilangan sebagian aset hanya akan memperburuk keadaan. Di sisi lain, selama Rani masih berada di rumah itu, ia masih bisa memanfaatkan wanita tersebut untuk mengurus rumah, melayani ketiga anaknya, dan menjadi tameng agar tidak ada yang mempertanyakan keutuhan keluarga mereka.
Bagi Roy, mempertahankan pernikahan itu bukan lagi soal cinta. Melainkan soal kepentingan.
Roy memijat pelipisnya pelan. Semakin dipikirkan, keadaan justru semakin rumit. Dulu ia ingin menceraikan Rani, tetapi terhalang wasiat ayahnya. Kini, saat Rani mulai berubah dan tidak lagi menurut seperti dulu, ia justru tidak bisa membiarkan wanita itu pergi.
Di ruang tamu, suasana kembali dipenuhi keheningan yang menekan. Tatapan semua orang tertuju pada Roy, menunggu reaksinya.
Rani menangkap perubahan samar di wajah pria itu. Meski tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Roy, ia dapat melihat keraguan yang selama ini tidak pernah muncul.
"Kenapa diam?" tanya Rani dengan senyum tipis. "Bukankah dari dulu kamu yang paling ingin menceraikanku?"
Ucapan itu membuat Roy tersentak. Rahangnya mengeras.
"Jangan bicara sembarangan."
"Aku sembarangan?" Rani tertawa lirih. "Sepuluh tahun aku hidup di rumah ini. Aku tahu persis bagaimana kamu memperlakukanku. Jangan berpura-pura seolah kamu suami yang baik. Apalagi anak-anakmu itu, jelas-jelas mereka ingin kamu menceraikan aku agar kamu bisa bersama dengan wanita itu."
"Sudah cukup!" bentak Hani sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai. "Ceraikan saja wanita ini!"
"Bu..." Roy memejamkan mata sejenak. Ia tahu ucapan itu tidak mungkin dilakukan semudah membalik telapak tangan. Namun, di bawah tatapan tegas ibunya, ia akhirnya mengalihkan pandangan kepada Rani.
"Rani, sudahi semuanya sampai di sini," ucapnya dengan nada dingin. "Bebaskan Aksan, Arlan, dan Arjun. Kalau tidak..."
Ia berhenti sesaat, membiarkan kalimatnya menggantung.
"...aku akan menuntut temanmu karena telah membawa Haikal tanpa izinku."
Deg!
Jantung Rani seolah berhenti berdetak. Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Roy.
"Ancaman lagi?" tanyanya sinis.
"Aku tidak sedang mengancam." Nada suara Roy tetap datar. "Aku hanya menyampaikan konsekuensinya."
Rani mendengus pelan. Selama ini Roy selalu menggunakan cara seperti itu untuk menekannya. Ia tidak berniat gentar. Namun, kalimat Roy berikutnya membuat langkahnya tanpa sadar mundur satu tapak.
"Temanmu membawa Haikal tanpa prosedur yang sah. Meskipun itu atas permintaanmu, secara hukum aku masih menjadi wali sahnya dan aku tidak pernah memberikan izin."
Roy menatap Rani lurus-lurus. "Artinya, tindakan itu dapat dikategorikan sebagai penculikan."
Ucapan itu membuat wajah Rani berubah. Bukan karena ia takut pada Roy, melainkan karena yang langsung terlintas di benaknya adalah Rico. Pria itu hanya membantu membawa Haikal atas permintaannya. Jika benar sampai diproses secara hukum, Rico akan terseret dalam masalah yang seharusnya bukan tanggung jawabnya.
Menangkap perubahan ekspresi Rani, sudut bibir Roy terangkat tipis. Keraguan di mata wanita itu menjadi jawaban yang ia butuhkan.
"Aku beri kamu waktu untuk berpikir," katanya tenang. "Pilihannya sederhana. Bebaskan Aksan, Arlan, dan Arjun, atau biarkan temanmu menghadapi proses hukum."
Ruangan kembali diselimuti keheningan.
Hani mengangguk pelan, jelas menyetujui keputusan putranya. Sementara itu, Sintia menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum puas yang hampir lolos dari bibirnya. Akhirnya mereka menemukan cara untuk menekan Rani.
Rani tetap berdiri di tempatnya. Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya masih tertuju pada Roy, tetapi pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan yang bisa menimpa Rico.
Ia rela menghadapi ancaman apa pun yang ditujukan kepadanya. Namun, ia juga tidak sanggup menyeret orang yang telah tulus membantunya ke dalam persoalan ini. Rani memejamkan mata sejenak. Setelah mengembuskan napas pelan, ia akhirnya mengambil keputusan.
"Baik," ucapnya lirih namun tegas. "Kita sudahi masalah ini. Tapi aku punya satu syarat."
Roy menatapnya lekat. "Syarat apa?"
"Biarkan aku yang mendidik mereka."
"Ti..."
Sintia hampir saja menyela, tetapi Roy lebih dulu membuka suara.
"Aku setuju."
Kali ini justru Sintia yang terkejut. Ia segera menoleh kepada Roy dengan raut cemas.
"Mas, kamu yakin? Aku takut Kak Rani menyimpan dendam dan melampiaskannya kepada anak-anak."
"Benar, Roy," timpal Hani dengan nada tidak kalah tegas. "Ibu juga tidak setuju. Anak-anak tidak boleh diasuh oleh Rani."
Rani tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Kalian sebenarnya sedang mengkhawatirkan apa?" tanyanya tenang. "Bukankah selama sepuluh tahun terakhir mereka tetap hidup baik-baik saja bersamaku?"
Tak ada yang langsung menjawab. Rani melanjutkan dengan tatapan tajam yang bergantian mengarah kepada Roy, Hani, dan Sintia.
"Selama ini aku yang mengurus mereka sejak bangun tidur sampai kembali tidur. Aku yang memastikan mereka makan, sekolah, sakit, bahkan memenuhi semua kebutuhan mereka. Saat itu kalian tidak pernah meragukan kemampuanku."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih dingin.
"Tapi begitu aku mulai berani bersikap tegas, tiba-tiba aku dianggap wanita yang akan mencelakai anak-anak. Lucu, bukan?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏