NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.35

Silakan duduk, Dok. Kehadiran Anda merupakan kehormatan bagi kami," ucap Arga dengan senyum ramah sambil mempersilakan Alvaro menempati kursi yang telah disiapkan.

"Terima kasih," balas Alvaro pelan.

Ia berusaha membalas senyum itu setenang mungkin, meski di balik wajah datarnya, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Kedatangannya ke restoran itu terasa seperti memasuki ruang operasi tanpa mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan.

Arga mengamati sekeliling sebelum kembali menatap Alvaro.

"Di mana tunangannya, Dokter?" tanyanya penasaran karena sejak tadi hanya Alvaro yang berdiri di hadapannya.

"Ada, kok. Dia sedang menelepon." Alvaro mengulas senyum tipis, lalu mengangkat tangan menunjuk ke arah seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari meja mereka.

"Itu... dia di sana."

Arga mengikuti arah telunjuk Alvaro. Pandangannya tertuju pada sosok Elizabets yang sedang berbicara melalui telepon. Wanita itu tampak anggun dalam balutan gaun elite, rambutnya tergerai rapi, sesekali menganggukkan kepala seolah tengah menanggapi lawan bicaranya.

"Kalau begitu, kita tunggu saja sebentar," ujar Arga santai.

Namun, ketenangan itu sama sekali tidak dirasakan oleh Anna.

Sejak nama tunangan Alvaro disebut, dadanya mulai terasa sesak. Telapak tangannya mendadak dingin dan berkeringat. Ia menarik napas dalam-dalam berkali-kali, berusaha mengendalikan gejolak di dalam hati yang tiba-tiba kembali bangkit.

Tatapannya perlahan mengarah ke sosok Alvaro.

Lima tahun berlalu seharusnya cukup untuk menghapus semua kenangan. Nyatanya, hanya melihat pria itu duduk beberapa meter di hadapannya sudah mampu mengacak-acak pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

"Anna... kamu tidak apa-apa?" bisik Arga pelan saat menyadari wajah tunangannya mulai pucat.

Anna tersentak.

"I-iya... aku baik-baik saja," jawabnya cepat sambil memaksakan senyum, meski jemarinya saling menggenggam erat di bawah meja agar tidak terlihat gemetar.

Di sisi lain, Alvaro diam-diam juga melirik ke arah Anna.

Tatapan mereka bertemu hanya sesaat.

Namun, satu detik itu terasa begitu panjang.

Tak ada senyum. Tak ada sapaan.

Hanya sepasang mata yang menyimpan ribuan kenangan, penyesalan, dan perasaan yang selama lima tahun dipaksa terkubur.

Sementara itu, Elizabets menutup panggilan teleponnya. Dengan langkah anggun, ia berjalan mendekati meja tempat mereka berkumpul, sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuan malam itu akan membuka kembali luka lama yang belum benar-benar sembuh.

"Halo, Dokter," sapa Eliz dengan senyum hangat. Tangannya terulur lebih dulu untuk menjabat tangan Arga.

Arga menyambut uluran tangan itu dengan ramah. Senyum tipis menghiasi wajahnya, mencerminkan sikap profesional sekaligus teman.

"Senang akhirnya kita bisa bertemu langsung, Dokter Alvaro. Selama ini kita hanya bertemu dengan waktu singkat karena sibuk dengan pekerjaan," ucap Arga sambil menepuk bahu Alvaro pelan.

Alvaro membalas dengan senyum tipis. Meski wajahnya tampak tenang, ada kegelisahan yang diam-diam bersembunyi di balik sorot matanya.

"Oh ya..." Arga menoleh ke samping, lalu meraih lembut tangan perempuan yang sejak tadi berdiri di sisinya. 

"Kenalkan, ini tunanganku. Namanya Aluna Anna."

Seketika waktu seolah berhenti.

"Apa? Anna?" batin Eliz.

Matanya membulat. Napasnya tercekat. Baru kali itu ia benar-benar memperhatikan perempuan yang berdiri di samping Arga. Sedari tadi fokusnya hanya tertuju pada Alvaro dan Arga, hingga ia sama sekali tak menyadari keberadaan wanita itu.

Dan ketika pandangan mereka bertemu...

Eliz terpaku.

Perempuan itu memang Anna.

Cantik dengan gaun sederhana berwarna krem, rambutnya terurai rapi, dan senyum yang begitu lembut. Tak ada sedikit pun kesan bahwa ia sedang menyimpan luka dari masa lalu.

Di sisi lain, Anna juga tampak terkejut.

Matanya beralih dari Eliz kepada Alvaro yang berdiri tepat di samping wanita itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi ia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap tenang.

"Jadi... ini tunangan Dokter Arga?" gumam Eliz dalam hati.

Suasana mendadak terasa canggung.

Hanya suara alunan musik piano restoran yang terdengar memenuhi keheningan.

Alvaro yang sama sekali tidak mengetahui hubungan rumit di antara mereka namun tetap tersenyum lebar walau hati perih.

"Alvaro ini sahabatku sejak koas. Orangnya memang pendiam, tapi kalau sudah bekerja, dia salah satu dokter terbaik yang pernah kukenal."

Alvaro hanya mengangguk pelan.

"Terima kasih."

Tak ada kalimat lain yang keluar dari bibirnya. Ia bahkan tak berani menatap Anna terlalu lama.

Sementara itu, Eliz bergantian memandang Anna dan Alvaro. Kini ia mulai memahami mengapa nama Anna terdengar begitu familiar di telinganya. Nama itu pernah beberapa kali tak sengaja keluar dari mulut Alvaro saat sedang melamun.

Seketika rasa penasaran memenuhi benaknya.

"Kenapa Anna selalu ada di tengah-tengah kami?" pikir Eliz.

" Apakah mbak Anna sengaja menggaet pria yang berstatus seorang dokter? Tujuannya apa? Balas dendam atau memanas-manasiku kerena masih cemburu.

Di sisi lain, Anna menggenggam lengan Arga dengan lembut. Senyum tipis tetap menghiasi wajahnya, meski dadanya terasa sesak melihat pria yang pernah mengisi seluruh ruang hatinya kini berdiri bersama perempuan lain.

Tak seorang pun menyadari bahwa di balik senyum yang mereka tunjukkan, masing-masing sedang menyembunyikan badai perasaan.

Makan malam yang seharusnya menjadi pertemuan penuh kehangatan, perlahan berubah menjadi awal dari rahasia-rahasia masa lalu yang mulai kembali terkuak.

" Anna sengaja muncul di depan Alvaro demi merebut kembali hati pria itu. 

" Kenapa Mbak Anna tidak pergi sejauh mungkin? Tapi, siapa yang kulihat saat ini kalau bukan Anna.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!