Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. Karung Beras dan Hati yang Ditimbang
..."Beras bisa habis, tapi kalau hati dibagi dengan adil, maka tidak ada orang yang akan tidur dengan perut kosong."...
Hari ke 42 di Desa Majia dimulai dengan suara roda kayu yang berderit dari kejauhan, suara yang sudah lama tidak terdengar di jalan setapak menuju desa, suara yang membuat anak-anak yang sedang menyiram rak sayur langsung berhenti dan berlari ke arah gerbang bambu sambil berteriak "gerobak, gerobak datang", dan ketika debu yang mengepul mulai menghilang, yang terlihat adalah tiga gerobak besar yang ditarik oleh kerbau kurus, di atasnya ditumpuk karung-karung goni bertuliskan cap istana berwarna merah yang sudah pudar karena hujan dan panas.
Seluruh desa keluar, orang tua yang biasanya duduk di bawah balai kini berdiri dengan tongkat, ibu-ibu yang sedang menanak bubur meninggalkan api, dan bahkan Nenek Sun yang kakinya sakit turun dengan dibantu dua cucu, karena semua orang tahu bahwa setiap kali ada karung dari istana, itu berarti perut bisa diisi untuk beberapa hari ke depan.
Utusan dari kabupaten turun dengan wajah yang lelah dan jubah yang penuh debu, memberi hormat kepada Jing yue dan para Tetua, lalu berkata dengan suara yang pelan dan hati-hati bahwa ini adalah bantuan beras untuk lima desa di sepanjang Sungai Min, dan untuk Majia jatahnya adalah dua puluh karung, masing-masing berisi lima puluh jin, yang kalau dihitung-hitung hanya cukup untuk setengah desa selama satu bulan kalau dibagi rata.
Kalimat "hanya cukup untuk setengah desa" jatuh seperti batu ke dalam sumur, membuat riak yang panjang, karena selama empat puluh satu hari terakhir mereka sudah belajar bertahan dengan rak sayur, dengan saluran bambu, dengan ikan sungai, tapi nasi tetap menjadi hal yang paling dirindukan, terutama oleh anak-anak dan orang tua yang giginya sudah tidak kuat mengunyah umbi.
Jing yue tidak langsung menjawab, dia berjalan ke gerobak, membuka satu karung dengan pisau kecil, dan mencelupkan tangannya ke dalam beras, merasakannya, beras itu bersih, kering, dan baunya masih enak, beras yang bisa membuat sup menjadi wangi dan bisa membuat anak berhenti menangis karena lapar.
Paman Chen berbisik di telinganya bahwa mereka harus segera membagi, sebelum orang mulai bertengkar, sebelum ada yang menuduh ada yang curang, tapi Jing yue menggeleng dan berkata bahwa kalau dibagi sekarang tanpa aturan maka besok akan ada darah, karena orang lapar tidak mendengar alasan.
Dia lalu meminta semua kepala keluarga untuk berkumpul di bawah balai, meminta agar karung-karung itu tidak diturunkan dulu, dan meminta agar semua orang duduk melingkar, termasuk anak-anak yang sudah cukup besar untuk mengerti.
Di bawah balai, suasananya tegang, ada yang menatap karung dengan mata berbinar, ada yang menatap lantai dengan marah, dan ada yang menatap Jing yue dengan harapan, karena mereka sudah terbiasa bahwa setiap kali ada masalah, Jing yue adalah orang yang menemukan jalan tengah.
Jing yue berdiri di tengah, dan dia tidak langsung bicara tentang beras, dia bicara tentang empat puluh hari terakhir, tentang bagaimana mereka menggali garis api bersama, tentang bagaimana mereka membuat saluran bambu bersama, tentang bagaimana mereka menyemprot ulat bersama, dan dia berkata bahwa kalau mereka bisa bertahan bersama ketika tidak ada apa-apa, maka mereka juga harus bisa bertahan bersama ketika ada sedikit.
"Beratnya bukan di beras," katanya pelan, "beratnya di hati, karena kalau kita bagi salah, maka persaudaraan yang kita bangun akan retak lebih cepat daripada rumah yang roboh."
Setelah itu dia mengajukan tiga cara, cara pertama adalah diundi, siapa yang dapat giliran bulan ini maka dapat, bulan depan yang lain, tapi dia tahu cara itu akan membuat orang yang tidak dapat bulan ini kelaparan.
Cara kedua adalah dijual, lalu uangnya dipakai untuk membeli bibit dan alat, tapi dia tahu tidak ada yang punya uang untuk membeli.
Cara ketiga adalah dibagi tidak rata, tapi dibagi berdasarkan kebutuhan, anak kecil, orang tua, orang sakit, dan keluarga yang tidak punya rak sayur akan dapat lebih dulu, dan keluarga yang masih punya sayur dan ikan akan dapat belakangan atau lebih sedikit.
Awalnya banyak yang protes, terutama keluarga besar yang berkata bahwa mereka kerja paling keras, kenapa dapatnya sama dengan orang tua, tapi Jing yue tidak marah, dia hanya bertanya satu pertanyaan, "Kalau anakmu lapar dan anak tetanggamu juga lapar, siapa yang harus makan duluan?"
Pertanyaan itu membuat lapangan menjadi hening, karena tidak ada yang bisa menjawab tanpa merasa bersalah.
Nenek Sun berdiri dengan bantuan tongkat dan berkata bahwa dia sudah tua, giginya sudah tidak ada, dan dia tidak butuh banyak, setengah jatah saja cukup, asalkan cucunya dapat penuh, dan pernyataan itu membuat beberapa orang menunduk.
Paman Chen lalu berdiri dan berkata bahwa keluarganya punya tiga orang dewasa yang kuat, dan mereka bisa makan umbi dulu, jadi jatah mereka bisa dikurangi dan diberikan ke keluarga yang ayahnya sakit.
Satu per satu orang mulai maju, bukan untuk meminta lebih, tapi untuk memberi, dan dalam waktu satu jam daftar pembagian selesai, ditulis di atas papan besar dengan arang, nama, jumlah orang, dan berapa jin yang akan diterima.
Anak-anak di bawah lima tahun dapat dua jin per orang, orang tua di atas enam puluh dapat satu setengah jin, orang sakit dapat dua jin, dan keluarga yang sehat dapat satu jin untuk dibagi bersama.
Totalnya pas, tidak ada yang tersisa, tidak ada yang kurang, dan ketika daftar itu dibacakan, tidak ada yang berteriak, tidak ada yang melempar batu, yang ada hanya anggukan dan beberapa air mata.
Penurunan karung dilakukan bersama, laki-laki mengangkat, perempuan mencatat, anak-anak menghitung, dan setiap karung yang dibuka langsung ditakar dengan timbangan kayu yang dibuat semalam oleh Lei Feng.
Jing yue sendiri tidak mengambil untuk dirinya, dia berkata bahwa dia masih bisa makan sayur dari rak, dan jatahnya diberikan kepada keluarga yang rumahnya paling ujung dan paling jauh dari saluran air.
Di sore hari, dapur umum menyala lagi, bukan dengan bubur umbi, tapi dengan nasi putih yang mengepul, dan baunya sampai ke ujung desa, membuat orang yang sedang bekerja di hutan ikut pulang lebih cepat.
Anak-anak makan dengan lahap, beberapa di antaranya menangis karena sudah lama tidak makan nasi, dan ibu-ibu menyuapi orang tua dengan tangan sendiri.
Di malam hari, Jing yue duduk di balai dengan buku di pangkuan, dan dia menulis bahwa hari ini adalah hari paling sulit bukan karena tidak ada beras, tapi karena harus memutuskan siapa yang makan duluan.
Dia menulis bahwa dia belajar bahwa keadilan bukan tentang membagi sama rata, tapi tentang membagi dengan cara yang membuat orang paling lemah tidak mati.
Dia juga menulis bahwa dia bangga, bukan karena dia pintar membuat daftar, tapi karena orang-orang mau mendengarkan, mau mengalah, mau memberi.
Di hari kedua setelah pembagian, datang surat dari kabupaten yang mengatakan bahwa bulan depan akan ada bantuan lagi, tapi jumlahnya sama, dan Jing yue menjawab dengan surat bahwa mereka tidak butuh lebih banyak, mereka hanya butuh waktu agar rak sayur mereka bisa panen lebih besar.
Di hari kelima, beberapa keluarga yang dapat jatah lebih kecil datang ke rumah Jing yue dan mengembalikan setengah jin, dengan alasan bahwa mereka masih punya ikan, dan meminta agar diberikan ke keluarga lain, dan Jing yue menerima dengan dua tangan dan langsung membagikannya lagi.
Di hari kesepuluh, beras mulai habis di beberapa rumah, tapi rak sayur sudah mulai panen besar, sehingga tidak ada yang benar-benar kelaparan, dan orang-orang mulai belajar menukar, satu ikat sayur ditukar dengan setengah jin beras.
Di hari kelima belas, Jing yue mengadakan pertemuan lagi dan berkata bahwa mulai bulan depan mereka tidak akan menunggu beras dari istana, mereka akan menanam padi di atas rakit di sungai, padi apung yang tidak perlu tanah, dan semua orang setuju.
Di hari kedua puluh, datang utusan dari desa lain yang mendengar cara pembagian di Majia, dan mereka meminta diajari, sehingga Jing yue harus menuliskan aturan itu di atas kertas dan mengirimkannya.
Di hari ketiga puluh, lumbung desa yang baru dibangun di bawah balai sudah terisi dengan sayur kering, ikan asin, dan sedikit beras sisa, dan Paman Chen berkata bahwa ini adalah pertama kalinya mereka punya cadangan makanan yang tidak diambil dari istana.
Malam di hari ke 42, Jing yue duduk di tepi sungai, menatap air yang tenang, dan dia menulis bahwa hari ini dia menimbang beras, tapi yang sebenarnya dia timbang adalah hati manusia.
Dia menulis bahwa dia takut ketika membuka karung, bukan takut tidak cukup, tapi takut orang akan berubah menjadi serigala, tapi ternyata orang-orang Majia memilih menjadi keluarga.
Dia juga menulis bahwa dia lelah, tapi dia tidur nyenyak, karena di sebelahnya ada semangkuk nasi sisa yang dia simpan untuk besok pagi, dan di luar ada suara anak-anak yang tertawa karena perut mereka kenyang.
Sebelum memejamkan mata, dia melihat ke atas ke arah rumah-rumah panggung yang lampunya masih menyala, dan dia berbisik bahwa besok dia harus mulai menggambar denah rakit padi, karena dia tidak mau ada lagi hari di mana mereka harus memilih siapa yang makan.
Dan ketika dia tidur, dia bermimpi tentang lumbung yang penuh, tentang anak-anak yang makan sampai tidak habis, dan tentang hari ketika kata "bantuan" tidak lagi membuat orang takut, karena mereka sudah punya cara untuk menolong diri sendiri.