NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan lagi

Pembicaraan pagi itu bersama Mbak Rima dan Mbak Santi ternyata memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Sosok Mbak Santi sejak pertama kali bertemu memang sudah membuatku kagum. Dia pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Pernah merasakan rumah tangga yang gagal dan harus membesarkan anak seorang diri. Namun, dia tidak membiarkan masa lalu membuatnya terus terpuruk. Justru dari kegagalannya, dia belajar untuk berdiri kembali.

Dan entah kenapa, aku merasa Mbak Santi sedang berusaha menularkan semangat itu kepadaku. Secara tidak langsung, Mbak Santi membuatku membuka mata bahwa seorang perempuan harus mempunyai pegangan sendiri. Bukan berarti seorang istri tidak membutuhkan suami. Tetapi memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri bukanlah sebuah kesalahan.

" Mbak Jasmine, kalau Mbak benar-benar serius dengan usaha ini, jangan takut untuk memulai dari kecil." Kata Mbak Santi sambil tersenyum.

" Iya, Mbak. Aku memang ingin memulainya pelan-pelan."

" Yang penting jangan hanya memikirkan keuntungan. Utamakan pelanggan. Buat mereka merasa nyaman. Kalau mereka puas, mereka pasti akan datang lagi. Bahkan bisa membawa orang lain." Ujar Mbak Santi.

Aku tersenyum mendengar saran dari Mbak Santi. Ku lihat ruko di hadapanku. Bangunannya memang tidak terlalu besar. Tetapi di mataku, tempat itu seperti sebuah pintu menuju kehidupan baru.

" Aku yakin, Mbak. Kalau aku gigih dan mau belajar, pasti akan ada hasilnya." Ucapku mantap.

Mbak Santi tersenyum puas. Kami pun kembali membicarakan berbagai hal mengenai usaha yang akan kujalankan. Mulai dari pelayanan, kebutuhan awal, sampai bagaimana membuat pelanggan merasa puas.

Semakin lama berbincang, semakin kuat keinginanku untuk segera memulai. Aku mungkin akan mengalami kegagalan. Bisa saja suatu hari daganganku sepi. Bisa saja modal yang kukeluarkan tidak langsung kembali. Tapi setidaknya, aku berani mencoba. Daripada terus hidup dalam ketakutan, lebih baik aku melangkah dan belajar dari setiap kesalahan.

Setelah kurasa cukup, aku akhirnya berpamitan.

" Terimakasih banyak, Mbak Santi. Terima kasih juga, Mbak Rima. Aku pamit pulang duluan, karena Aira dari tadi terus menguap. Sudah waktunya dia tidur siang." Ucapku.

" Iya, Mbak Jasmine. Jangan sungkan kalau butuh bantuan." Ujar Mbak Rima dengan tersenyum.

" Jangan menyerah, Mbak Jasmine. Kamu punya dua anak yang membutuhkan sosok Ibu yang kuat." Kata Mbak Santi dengan menggenggam tanganku.

" Iya, Mbak. Sekali lagi aku benar-benar berterimakasih pada kalian berdua."

" Oke, hati-hati dijalan, Mbak." Ucap Mbak Rima.

Aku kemudian mengajak Aira pulang. Karena hari sudah semakin siang.

Dalam perjalanan pulang, pikiranku terasa jauh lebih ringan. Pagi tadi aku pergi sebagai seorang perempuan yang sedang mencari jalan keluar. Dan sekarang aku pulang membawa sebuah keyakinan baru. Aku mulai percaya bahwa kehidupan yang lebih baik sedang menungguku di depan sana.

.................................

Tiba dirumah, jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Sepanjang perjalanan tadi, Aira sudah beberapa kali menguap. Begitu sampai di depan rumah, kulihat putriku sudah benar-benar mengantuk.

Kulihat Mas Rama sedang duduk di teras rumah sambil merokok. Begitu melihatku datang, dia langsung mematikan rokoknya, kemudian beranjak dari tempat duduk.

" Kenapa perginya lama sekali, yang? Aku telepon juga nggak di angkat, kenapa?" Tanya Mas Rama dengan raut wajah sedikit cemberut.

" Iya maaf, Mas. Ternyata tadi ada banyak hal yang harus dibahas dengan temanku." Jawabku sambil hendak menggendong Aira.

Namun, belum sempat aku menggendong Aira, Mas Rama lebih dulu mengangkatnya. Aku sedikit terkejut melihat sikap Mas Rama yang tak seperti biasanya.

" Ya sudah sana, lebih baik kamu bersih-bersih diri dulu, yang." Ucap Mas Rama sambil sudut matanya mengerling ke arahku.

Aku langsung mengerti maksudnya. Meskipun hati ku sangat berat tapi aku harus tetap melayani nya. Aku akan bermain meskipun tanpa hati. Karena aku belum selesai dengan semua yang sedang ku rencanakan.

Kemudian kulangkahkan kaki ku menuju kamar mandi. Aku ingin membersihkan tubuh agar terasa lebih segar sebelum kembali ke kamar. Dan aku harus menjadi pemimpin dalam permainan nanti.

Setelah selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan handuk. Perlahan kulangkahkan kaki menuju kamar. Begitu pintu kubuka, kulihat Mas Rama ternyata sudah menungguku. Tatapannya langsung tertuju ke arah ku. Wajah nya seketika memerah. Aku bisa melihat jelas bagaimana sorot matanya berubah ketika melihatku hanya terbalut handuk.

Mas Rama bangkit dari tempatnya dan berjalan ke arahku. Tanpa banyak bicara, Mas Rama langsung menarikku. Dengan satu kali tarikan, handuk yang ku kenakan langsung terlepas. Mas Rama langsung menindihku dan menyerangku dengan sangat bergairah. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu. Tangan nya bergerak merambahi buah dadaku yang sudah tak tertutupi apa-apa. Mas Rama meremas-remas buah dadaku. Kemudian bibirnya mulai berpindah menciumi buah dadaku dan menjilati putingnya.

Mas Rama semakin terbawa suasana. Perhatiannya hanya tertuju padaku, se olah-olah tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih penting. Namun disini, aku hanya memainkan peranku. Setiap kali dia mencoba mengambil alih, aku justru berusaha mengarahkan keadaan sesuai keinginanku. Kali ini dan seterusnya, permainan ini hanya aku yang boleh memimpin mau berapa kali pun permainan yang di inginkannya.

Permainan berakhir. Mas Rama terkulai lemas di sampingku. Napasnya masih memburu, sementara keringat membasahi tubuhnya. Dia memejamkan mata sejenak, seolah benar-benar kehabisan tenaga.

" Sayang,,, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Ucap Mas Rama lirih di telingaku.

Lalu lengannya melingkar erat di tubuhku. Tak lama kemudian, napasnya mulai teratur. Dia tertidur dalan posisi masih mendekapku. Aku hanya diam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

Rasa jijik masih kurasakan. Namun aku harus bermain tanpa hati untuk kali ini dan seterusnya. Karena dia telah tega padaku dengan menjadi suami yang sudah berselingkuh.

Kalimat aku mencintaimu yang seharusnya membuat seorang istri merasa bahagia, justru malah terdengar seperti kebohongan yang menyakitkan di telingaku.

...****************...

Terimakasih sudah membaca 🙏😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!