NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Cahaya di Balik Aurora

Malam turun perlahan di atas Kota Valerika.

Hujan tipis yang sejak sore mengguyur kota kini hanya menyisakan butiran air yang menempel di kaca-kaca gedung pencakar langit. Dari lantai tertinggi The Obsidian, pemandangan itu terlihat seperti lautan cahaya yang berkilauan di bawah kabut.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan terjebak dalam pusaran misteri Aurora, Adrian dan Alea tidak sedang berdebat.

Mereka juga tidak sedang saling menghindar.

Mereka hanya duduk berdampingan di ruang kerja Adrian.

Diam.

Lelah.

Dan sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Di atas meja kayu mahoni, tergeletak beberapa dokumen hasil penyelidikan yang selama ini mereka kumpulkan.

Arsip 17.

Rekaman suara George Corisand.

Catatan transaksi rahasia.

Kode-kode yang selama ini membuat mereka kehilangan tidur.

Selama berminggu-minggu mereka mengejar misteri itu.

Dan kini...

Untuk pertama kalinya...

Mereka mulai melihat sebuah pola.

Aurora bukan sekadar nama proyek.

Aurora adalah sesuatu yang jauh lebih besar.

"Aku menemukan sesuatu."

Suara Adrian memecah keheningan.

Alea yang sedang menatap layar laptop perlahan mengangkat kepala.

"Apa?"

Adrian memutar monitor ke arahnya.

"Ini."

Di layar terlihat puluhan dokumen digital yang telah disusun dalam garis waktu.

Alea langsung menyadari sesuatu.

Semua dokumen itu berasal dari tahun yang sama.

Tiga tahun lalu.

Tahun ketika George Corisand meninggal.

Tahun ketika wasiat keluarga dibuat.

Dan tahun ketika Aurora pertama kali muncul.

Adrian menunjuk salah satu dokumen.

"Awalnya aku mengira Aurora adalah proyek investasi."

Dia berpindah ke dokumen lain.

"Lalu aku mengira ini semacam operasi rahasia."

Dokumen berikutnya muncul.

"Setelah melihat Arsip 17, aku yakin Aurora berkaitan dengan sesuatu yang ingin disembunyikan."

Alea mengangguk.

"Itu kesimpulan yang sama denganku."

"Tapi ada yang tidak cocok."

Adrian menyandarkan tubuhnya.

"Mereka menghabiskan terlalu banyak uang."

Alea mengernyit.

"Untuk menyembunyikan sesuatu?"

"Bukan."

Adrian menggeleng.

"Justru sebaliknya."

Dia membuka file lain.

Mata Alea langsung melebar.

Karena angka yang muncul di sana sangat besar.

Sangat besar.

Dana yang dikeluarkan mencapai miliaran.

Dan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Tidak masuk akal jika hanya digunakan untuk menutupi sebuah rahasia.

"Kalau seseorang ingin menghilangkan bukti," lanjut Adrian, "dia akan meminimalkan jejak."

"Tapi Aurora meninggalkan terlalu banyak jejak."

Alea mulai memahami arah pikirannya.

"Kau sedang mengatakan..."

"Bahwa Aurora bukan dibuat untuk menyembunyikan sesuatu."

Adrian menatapnya.

"Melainkan untuk melindungi sesuatu."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Karena kalimat itu mengubah segalanya.

Selama ini mereka menganggap Aurora sebagai musuh.

Sebagai konspirasi.

Sebagai ancaman.

Tapi bagaimana jika mereka salah sejak awal?

Bagaimana jika Aurora sebenarnya adalah perlindungan?

Alea bangkit dari kursinya.

Dia berjalan menuju jendela.

Pikirannya berputar cepat.

Semua kepingan yang selama ini terasa berantakan mulai perlahan membentuk gambar yang lebih jelas.

George Corisand.

William Hutama.

Dua pria yang selama hidupnya dikenal sebagai rival.

Namun semakin jauh mereka menggali, semakin terlihat bahwa kedua pria itu justru bekerja bersama.

Bukan melawan satu sama lain.

Alea menatap gemerlap kota di luar sana.

"Lalu apa yang mereka lindungi?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tidak ada jawaban.

Karena mereka belum menemukannya.

Namun untuk pertama kalinya...

Mereka berada di jalur yang benar.

Beberapa menit kemudian.

Adrian kembali memeriksa isi kotak Aurora yang mereka temukan.

Kotak itu kini terbuka di atas meja.

Isinya tidak banyak.

Hanya beberapa dokumen.

Foto-foto lama.

Dan sebuah buku catatan kecil milik George Corisand.

Selama ini mereka menganggap buku itu tidak penting.

Karena sebagian besar isinya hanya catatan harian biasa.

Namun malam ini Adrian membukanya lagi.

Lembar demi lembar.

Halaman demi halaman.

Sampai akhirnya dia berhenti.

"Sebentar."

Alea berbalik.

"Ada apa?"

Adrian tidak langsung menjawab.

Matanya terpaku pada sebuah halaman.

Halaman yang sebelumnya mereka abaikan.

Karena isinya hanya satu kalimat pendek.

Sangat pendek.

Terlalu pendek untuk dianggap penting.

Namun kini...

Kalimat itu terasa berbeda.

Adrian membacanya perlahan.

"'Jika suatu hari mereka menemukan Aurora, pastikan mereka menemukan alasan sebelum menemukan kebenaran.'"

Alea membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Karena kalimat itu terdengar seperti pesan.

Pesan untuk seseorang.

Atau...

Untuk mereka.

"Apa maksudnya?"

bisik Alea.

Adrian menggeleng.

"Tidak tahu."

Namun mereka berdua sama-sama sadar.

Kalimat itu tidak ditulis secara kebetulan.

George Corisand meninggalkan petunjuk.

Dan petunjuk itu sengaja ditujukan kepada orang yang suatu hari menemukan Aurora.

Malam semakin larut.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berniat tidur.

Mereka terus meneliti isi buku catatan itu.

Sampai akhirnya Alea menemukan sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

"Adrian."

"Hm?"

"Lihat ini."

Dia menunjuk sebuah halaman di bagian belakang.

Adrian mendekat.

Di sana terdapat gambar sederhana.

Bukan peta.

Bukan diagram.

Hanya gambar tiga lingkaran yang saling bertumpuk.

Di bawahnya terdapat tulisan tangan George.

"Keluarga. Kepercayaan. Masa depan."

Adrian menatap gambar itu lama.

Semakin lama.

Semakin dalam.

Lalu perlahan sesuatu muncul di wajahnya.

Kesadaran.

"Keluarga..."

gumamnya.

Alea memandangnya.

"Apa?"

Adrian menoleh.

"Mungkin selama ini kita mencari jawaban di tempat yang salah."

"Maksudmu?"

"Kita selalu mencari apa itu Aurora."

Dia menarik napas.

"Padahal mungkin pertanyaan sebenarnya adalah..."

"Untuk siapa Aurora dibuat."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Alea.

Untuk siapa Aurora dibuat.

Bukan apa.

Tapi siapa.

Dan ketika sudut pandang itu berubah...

Segalanya mulai terlihat berbeda.

George dan William.

Wasiat pernikahan.

Dokumen rahasia.

Dana yang sangat besar.

Perlindungan selama bertahun-tahun.

Semuanya mengarah pada satu titik.

Generasi berikutnya.

Anak-anak mereka.

Alea menatap Adrian.

Dan Adrian menatap balik.

Untuk beberapa detik yang panjang...

Tak ada yang berbicara.

Karena mereka berdua memikirkan hal yang sama.

Kemungkinan yang selama ini bahkan tidak pernah mereka pertimbangkan.

Bagaimana jika...

Aurora memang selalu tentang mereka?

Pikiran itu membuat suasana menjadi aneh.

Terlalu pribadi.

Terlalu dekat.

Alea segera mengalihkan pandangan.

Jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.

Dan yang membuatnya kesal...

Dia tahu Adrian juga merasakan hal yang sama.

"Aku membuat kopi."

katanya tiba-tiba.

Lalu berdiri.

Adrian tersenyum tipis.

"Kau gugup."

"Aku tidak gugup."

"Kau selalu membuat kopi saat gugup."

"Aku juga membuat kopi saat marah."

"Itu benar."

Alea memutar bola mata.

Namun tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Dan Adrian memperhatikannya.

Terlalu memperhatikannya.

Saat Alea menghilang ke dapur, Adrian kembali menatap dokumen-dokumen di meja.

Namun kali ini fokusnya tidak lagi sepenuhnya pada Aurora.

Pikirannya justru melayang.

Kepada Alea.

Kepada beberapa minggu terakhir.

Kepada semua hal yang telah mereka lalui.

Dan itulah yang membuat dadanya terasa semakin berat.

Karena semakin dekat dirinya dengan Alea...

Semakin sulit dia mengabaikan Clarissa.

Wajah Clarissa muncul di benaknya.

Lembut.

Tulus.

Wanita yang telah mengenalnya jauh sebelum semua ini terjadi.

Wanita yang selama ini selalu ada.

Namun kini...

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Adrian tidak lagi yakin terhadap perasaannya sendiri.

Dan ketidakpastian itu membuatnya merasa bersalah.

Sangat bersalah.

Di dapur.

Alea berdiri sendirian.

Menunggu kopi menetes perlahan dari mesin.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Dia masih mengingat tatapan Adrian beberapa menit lalu.

Tatapan yang berbeda.

Tatapan yang tidak lagi dingin.

Tidak lagi formal.

Tidak lagi seperti rekan bisnis.

Dan itu menakutkan.

Karena semakin sering dia melihat tatapan itu...

Semakin sulit dia mengingat bahwa semua ini seharusnya hanyalah kontrak.

Hanya perjanjian.

Hanya kewajiban keluarga.

Bukan sesuatu yang nyata.

Bukan sesuatu yang boleh menyentuh hati.

Namun malam ini...

Untuk pertama kalinya...

Dia tidak yakin bisa terus meyakinkan dirinya sendiri.

Ketika Alea kembali membawa dua cangkir kopi, Adrian sedang menatap salah satu foto lama dari dalam kotak Aurora.

Foto itu memperlihatkan George Corisand dan William Hutama.

Tersenyum.

Berdiri berdampingan.

Tanpa permusuhan.

Tanpa jarak.

Seperti dua sahabat lama.

Alea duduk di sampingnya.

Adrian menyerahkan foto itu.

"Aku rasa kita akhirnya mulai memahami mereka."

Alea melihat foto tersebut.

Lalu mengangguk pelan.

"Ya."

"Mereka tidak sedang menyembunyikan sesuatu."

"Tidak."

"Mereka sedang melindungi sesuatu."

Alea tersenyum tipis.

"Kita."

Untuk pertama kalinya malam itu...

Mereka mengucapkan kata itu bersama-sama.

Dan keheningan yang muncul setelahnya terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.

Di tempat lain.

Jauh dari The Obsidian.

Di sebuah ruangan tua yang remang-remang.

Seseorang sedang mengamati layar monitor.

Di layar itu terlihat rekaman kamera tersembunyi yang menunjukkan Adrian dan Alea sedang duduk berdampingan.

Tidak bertengkar.

Tidak saling menjauh.

Hanya berbicara.

Bersama.

Pria tua itu tersenyum perlahan.

Lalu mematikan layar.

"Bagus."

gumamnya.

"Mereka akhirnya mulai melihat cahaya."

Dia berdiri.

Berjalan menuju lemari besi tua yang selama bertahun-tahun tidak pernah dibuka.

Tangannya memasukkan kode rahasia.

Klik.

Pintu besi terbuka perlahan.

Di dalamnya hanya ada satu benda.

Sebuah map tua berwarna biru gelap.

Di sudutnya tertulis satu kata.

AURORA – LEVEL TERAKHIR

Pria tua itu menatap map tersebut cukup lama.

Lalu tersenyum tipis.

"Sudah waktunya."

Dan untuk pertama kalinya sejak misteri Aurora dimulai...

Titik terang yang sesungguhnya akhirnya mulai terlihat di kejauhan.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!