NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Namun malam harinya, saat seluruh rumah sudah sunyi senyap, Joshua diam-diam turun ke dapur. Ia berhenti tepat di depan lemari pendingin, tangannya ragu-ragu sebelum akhirnya membuka pintunya perlahan. Di sana, piring yang sama masih tersimpan rapi. Ia membuka tutupnya, mencium aroma masakan yang perlahan mulai hilang kehangatannya—sama seperti kehangatan yang perlahan lenyap di antara mereka.

Ia tidak memakannya, namun ia juga tidak membuangnya. Ia hanya menatapnya lama sekali, seolah sedang berhadapan dengan dua sisi yang tak bisa ia satukan: dendam yang harus ia tuntaskan, dan hati yang perlahan mulai retak karena menyakiti wanita yang tak benar-benar bersalah.

Keesokan paginya, Dian terbangun lebih awal dari biasanya. Ia berniat membuang sisa masakan itu, namun saat ia membuka lemari pendingin, piring itu sudah tak ada di tempatnya. Ia bertanya pada pelayan, namun semua menggeleng tak tahu. Hanya Bu Ratih yang menunduk dalam, lalu berkata pelan:

“Tadi malam… saya melihat Tuan membawa piring itu ke ruang kerjanya, Nyonya.”

Hati Dian yang sempat beku seketika berdebar kencang kembali. Ada harapan kecil yang tumbuh lagi, tipis namun tak bisa ia cegah. Apakah… apakah dia akhirnya memakannya? Atau setidaknya… dia menyadari niatku?

Namun harapan itu kembali runtuh saat ia berpapasan dengan Joshua di lorong. Ia ingin bertanya, ingin memastikan sesuatu, namun Joshua hanya melintas di sampingnya tanpa menoleh sedikit pun, seolah ia hanyalah udara yang tak kasat mata.

Ia tidak tahu, bahwa di laci meja kerja Joshua, sisa masakan itu sudah dingin sepenuhnya, namun tak sekalipun dibuang. Dan setiap kali dendamnya membara, Joshua tanpa sadar menatap laci itu lama sekali—seolah ada sesuatu yang mulai mengikatnya pada wanita yang seharusnya ia hancurkan sepenuhnya.

Hari-hari berikutnya, harapan kecil yang sempat tumbuh di hati Dian tak kunjung padam, meski tak pernah juga mendapatkan jawaban yang jelas. Ia berusaha mengumpulkan setiap tanda kecil yang mungkin bisa ia jadikan pegangan: bahwa piring itu dibawa ke ruang kerjanya, bahwa Joshua tidak membuangnya, bahwa mungkin saja di balik sikap dinginnya yang tak berubah itu, ada sesuatu yang mulai bergerak di dalam hatinya—sesuatu yang belum siap ia tunjukkan secara terang-terangan. Karena itulah, ia kembali berusaha, kali ini dengan cara yang lebih hati-hati, lebih pelan, dan tak lagi berani melanggar batas secara terang-terangan. Ia mulai menyiapkan secangkir teh hangat setiap kali waktu makan malam lewat dan Joshua belum muncul dari ruang kerjanya, menaruhnya di atas nampan kecil, lalu membiarkannya di depan pintu ruangan itu tanpa mengetuk atau memanggil, hanya agar Joshua tahu bahwa ada seseorang yang selalu memikirkannya di luar sana. Kadang teh itu kembali dingin di tempatnya, kadang nampan itu hilang perlahan saat ia kembali lagi nanti malam, namun tak pernah ada kata terima kasih, tak pernah ada panggilan yang menyuruhnya masuk, tak pernah ada satu pun kalimat yang menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu atau apa yang dirasakan suaminya. Namun bagi Dian, sekadar tahu bahwa niatnya sampai, sekadar tahu bahwa hal kecil itu diterima, sudah cukup untuk membuatnya bertahan satu hari lagi.

Di sisi lain, Joshua justru semakin terjebak dalam kebingungan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia pikir menyakiti Dian akan terasa mudah, terasa seperti menebus luka lama, terasa seperti keadilan yang pantas ia terima, namun kenyataannya justru sebaliknya. Setiap kali ia melihat nampan teh itu di depan pintu, setiap kali ia mencium aroma masakan yang pernah dibuat Dian, setiap kali ia tak sengaja melihat wajah istrinya yang menunduk ragu-ragu di ujung lorong, rasa yang asing dan tak diinginkan itu kembali menyeruak—rasa yang bercampur aduk antara rasa bersalah yang menyesakkan dada, rasa kagum pada ketulusan yang tak berubah meski sering ditolak, dan ketakutan yang mendalam bahwa ia sedang melenceng jauh dari tujuan awalnya. Ia berulang kali menegur dirinya sendiri, berulang kali mengingat wajah orang tuanya yang tewas tragis, mengingat penderitaan yang harus ia tanggung sendirian bertahun-tahun lamanya, mengingat betapa kejamnya ayah angkat Dian pada saat itu, namun semua itu tak lagi sekuat dulu saat dihadapkan pada kebaikan yang tak bertepi dari wanita yang kini tinggal di rumahnya. Ia bahkan pernah berniat membuang sisa masakan itu, berniat membuang semua cangkir teh yang pernah disiapkan Dian, berniat menegaskan dengan tegas agar ia tak perlu melakukan hal seperti itu lagi, namun setiap kali tangannya terulur, ia tak sanggup melakukannya. Ia justru menyimpan semuanya—menaruh cangkir-cangkir itu di lemari paling dalam, menyimpan sisa masakan itu meski sudah tak layak dimakan, seolah-olah benda-benda itu adalah satu-satunya bukti bahwa di tengah kekacauan dan dendam yang ia bangun, masih ada sesuatu yang bersih dan tulus yang menyentuhnya.

Suatu sore yang mendung, hujan turun begitu deras hingga memukul kaca jendela dengan suara yang nyaring, membuat suasana rumah yang biasanya sunyi terasa semakin sepi dan mencekam. Dian sedang duduk di ruang tengah, menatap tetesan air yang meluncur turun di kaca, saat tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat. Ia mengira itu adalah pelayan atau mungkin Joshua, namun saat ia menoleh, ia melihat Bu Ratih berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, tangannya gemetar memegang selembar kertas yang terlipat rapat.

“Ada apa, Bu?” tanya Dian segera, hatinya langsung berdebar tak tenang melihat ekspresi wanita itu.

Bu Ratih menelan ludah susah payah, lalu melangkah mendekat dengan suara yang sangat pelan seolah takut terdengar oleh siapa pun. “Maafkan saya, Nyonya… saya tahu saya tidak seharusnya berbicara hal ini, saya tahu saya melanggar perintah tegas Tuan Joshua, tapi saya tidak sanggup lagi memendamnya sendirian. Saya melihat berkas-berkas di ruang kerja beliau saat beliau keluar sebentar, dan saya tidak tega melihat Nyonya hidup dalam kebohongan seperti ini.”

Dian berdiri perlahan, matanya melebar penuh kebingungan. “Kebohongan? Apa maksud Bu Ratih?”

“Perusahaan keluarga Nyonya… kebangkrutan itu bukan kebetulan pasar. Bukan karena kesalahan manajemen atau hal lain yang sering dikatakan orang. Semua itu diatur, direncanakan, dan dijalankan perlahan demi perlahan atas perintah langsung Tuan Joshua. Beliau yang memutus jalur kerjasama, beliau yang menyebarkan isu buruk, beliau yang mengambil alih aset satu per satu tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan bukan hanya itu… Tuan Joshua menaruh harapan besar agar Nyonya ikut merasakan betapa hancurnya dunia saat kehilangan segalanya, sama seperti apa yang pernah dirasakan beliau dulu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!