Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Ledakan
BUMMM
Ledakan keras mengguncang seluruh bangunan, debu berjatuhan dari langit-langit gudang, lampu yang tergantung di atas kepala bergoyang hebat hingga hampir putus.
Rania menjerit kaget, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan sebelum terjatuh Bintang langsung menariknya ke belakang tubuhnya.
"Jangan jauh dariku," ucap Bintang
Rania masih gemetar, wajahnya pucat setelah mendengar semua yang dikatakan Leonard beberapa menit lalu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.
Bintang tidak langsung menjawab, saat ini keselamatan Rania jauh lebih penting daripada menjelaskan semuanya.
"Bintang!" teriak Rangga dari luar. "Kita harus keluar sekarang!"
Asap mulai memenuhi bagian belakang gudang, bau bahan peledak semakin kuat.
"Ayo." Bintang meraih tangan Rania.
Mereka berlari menuju pintu utama namun baru beberapa langkah, suara tembakan terdengar dari luar.
Dor Dor Dor
"Sial! Mereka masih di sini!" Rangga langsung membalas tembakan.
Bintang berhenti mendadak, ternyata ledakan itu hanya pengalih perhatian. Leonard memang tidak pernah berniat membiarkan mereka pergi dengan mudah.
"Bos!" salah satu anak buah berteriak. "Jumlah mereka banyak!"
Bintang mengutuk dalam hati, posisi mereka tidak menguntungkan, di belakang ada api dan di depan ada penyerang.
"Rania," panggil Bintang pelan.
"Ya?" Wanita itu menoleh.
"Apa pun yang terjadi, tetap di belakangku," ucap Bintang.
"Jangan mati." Rania menggigit bibirnya.
Kalimat itu membuat Bintang menatapnya sesaat. Dalam situasi seperti ini, wanita itu justru mengkhawatirkan dirinya.
"Aku tidak semudah itu mati." Sudut bibir Bintang bergerak tipis.
Baku tembak berlangsung semakin sengit, Rangga berlindung di balik kontainer besi sambil terus membalas serangan.
"Kita harus keluar dari sini!" ucap Rangga.
"Aku tahu!" balas Bintang.
Seorang pria bersenjata muncul dari sisi kanan.
Dor
Bintang menjatuhkannya dengan satu tembakan dan pria lain langsung menyusul tembakan.
Dor Dor
Suasana berubah kacau. Rania hanya bisa menunduk di balik tumpukan peti kayu, jantungnya berdebar begitu keras hingga terasa sakit. Ini pertama kalinya dalam hidupnya melihat peristiwa seperti ini secara langsung dan yang lebih mengejutkan... Bintang terlihat sangat terbiasa.
Pria itu bergerak cepat, tenang dan tidak panik sedikit pun seolah semua ini adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari. Tiba-tiba sebuah peluru menghantam peti kayu di dekat kepala Rania.
Brak
Rania tersentak, seketika Bintang berlari menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Rania mengangguk cepat.
Namun wajah Bintang tetap tegang. Ia tahu situasi semakin berbahaya, musuh mulai menyadari keberadaan Rania dan itu berarti mereka bisa menjadikannya target.
Lima belas menit kemudian, kelompok Bintang akhirnya berhasil keluar dari area gudang, beberapa mobil sudah menunggu mereka.
"Masuk!" perintah Rangga.
Anaknya buah segera bergerak. Bintang membuka pintu mobil untuk Rania dan wanita itu masuk tanpa banyak bicara.
Beberapa detik kemudian, kendaraan mereka melaju meninggalkan kawasan pergudangan. Baru setelah jarak mereka cukup aman, suasana di dalam mobil berubah sunyi.
Rania duduk menatap ke luar jendela. Pikirannya kacau, terlalu banyak hal terjadi dalam satu hari, penculikan, Leonard, ledakan dan yang paling mengganggunya... ucapan pria tua itu.
"Perempuan yang kau kira ibumu itu bukan ibu kandungmu."
"Bintang." Rania menoleh perlahan.
Pria itu menatapnya.
"Aku ingin jawaban."
Bintang terdiam.
"Apa yang dikatakan Leonard itu bohong, kan?" lanjut Rania bertanya.
Tidak ada jawaban.
"Kenapa diam?" Jantung Rania terasa mencelos.
"Karena aku tidak tahu harus mulai dari mana," jawab Bintang.
"Kau tahu sesuatu." Rania menatapnya lekat-lekat.
Bintang mengembuskan napas pelan, tatapannya beralih ke jalanan di depan.
"Ayahku pernah mengenal ibumu."
"Apa?" Rania membeku.
"Mereka saling mengenal sejak lama."
"Lalu?"
Bintang terdiam lagi dan diamnya itulah yang membuat Rania semakin takut.
"Lalu apa?" Suara wanita itu mulai bergetar.
"Aku pernah menemukan nama ibumu dalam dokumen lama milik ayahku." Bintang menutup mata sejenak.
"Kenapa kau tidak pernah bilang?" Rania merasa dunia di sekelilingnya perlahan runtuh.
"Aku belum yakin."
"Atau kau sengaja menyembunyikannya?"
Bintang langsung menoleh dan tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, kemarahan terlihat jelas di mata Rania dan entah kenapa, kemarahan itu jauh lebih menyakitkan daripada peluru.
.
.
.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di pinggir kota, Leonard duduk santai sambil menikmati segelas anggur. Di depannya berdiri seorang wanita muda bergaun hitam.
"Rencana pertama berhasil." Wanita itu tersenyum tipis.
"Bintang jauh lebih emosional daripada ayahnya." Leonard tertawa pelan.
"Bagaimana dengan Rania?"
"Dia mulai mempertanyakan masa lalunya." Leonard memutar gelas di tangannya.
"Kalau kebenaran terungkap?" tanya wanita itu.
"Itu yang aku inginkan."
Wanita itu mengangguk, namun beberapa detik kemudian, ia terlihat ragu.
"Apa Bintang akan mempercayainya?"
Leonard tersenyum, senyuman yang membuat suasana ruangan terasa dingin.
"Dia tidak punya pilihan."
"Lalu langkah berikutnya?"
Leonard berdiri perlahan, tatapannya mengarah ke foto lama yang tergantung di dinding. Foto seorang pria yang sangat mirip Bintang.
"Akhirnya waktu itu tiba."
"Waktu untuk apa?" tanya wanita itu lagi.
"Waktu untuk memberitahu mereka bahwa kematian ayah Bintang bukanlah rahasia terbesar yang selama ini disembunyikan." Leonard tersenyum tipis.
"Maksud Anda?" Wanita itu mengernyit.
Leonard menatap foto tersebut beberapa saat lalu mengucapkan kalimat yang membuat wanita itu membelalak.
"Karena rahasia sebenarnya adalah..." Pria tua itu berhenti.
Senyumnya semakin lebar.
"...Bintang dan Rania tidak pernah bertemu secara kebetulan," lanjut Leonard.