NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Tahun Kemudian, Papan Nama Baru, dan Gelas yang Hampir Pecah

Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah banyak hal di sudut Sukaasih.

Ruko yang dulunya gersang dan berdebu kini telah berubah total. Pagar besi hijau yang berkarat milik Kos Bu Retno di gang sebelah memang masih berdiri, namun ruko tempat usaha mereka kini tampak sangat modern.

Teras ruko sempit yang dulunya hanya memuat satu meja kayu kini telah disulap menjadi kedai kopi berkonsep industrial minimalis yang estetik dengan AC yang dingin. Di atas pintu kaca masuk, sebuah papan nama kayu jati berukir rapi berdiri dengan gagah: Kopi Karsa. Ghea kini bukan lagi barista tunggal yang tangannya melepuh; dia adalah CEO muda dari merek kopi lokal yang mulai membuka cabang keduanya di kota tetangga.

Sementara itu, garasi sempit di sebelahnya kini telah diperluas menjadi kantor operasional dua lantai dengan cat abu-abu gelap yang elegan. Logo kepala serigala hitam dengan tulisan Arka-Logistics terpasang besar di dinding depan. Pikap hitam bekas yang dulu sering mogok kini sudah ditemani oleh barisan truk boks roda enam yang mengantre rapi untuk memuat barang.

Meskipun status sosial mereka telah kembali ke kelas atas berkat kerja keras mereka sendiri, ada satu hal yang sama sekali tidak berubah: dinding ego mereka yang setinggi langit dan pertengkaran harian yang tetap bising.

"Heh, manja," panggil sebuah suara berat dari arah pintu masuk kafe.

Ghea yang sedang memeriksa laporan keuangan bulanan di laptop barunya yang mahal mendongak. Di ambang pintu, Arkan berdiri dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan kasual yang elegan. Rambutnya ditata rapi, dan aura kepemimpinannya kini terpancar sangat kuat, bukan lagi sebagai kuli fotokopi, melainkan sebagai direktur utama perusahaan logistik yang disegani.

"Bisa gak sih, sehari aja lo gak usah panggil gue pakai sebutan itu, tiang listrik?" ketus Ghea, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh andalannya yang tidak pernah hilang. "Dan ngapain lo ke kafe gue? Mau minta kopi gratisan lagi karena kantor lo lagi seret?"

Arkan mendengus sombong, melangkah mendekat lalu bersandar di meja bar dengan gaya maskulin yang sangat percaya diri. "Minta gratisan? Sori ya, dompet gue sekarang udah terlalu tebal buat sekadar bayar kopi premium lo itu. Gue ke sini cuma mau ngasih tahu, sebentar lagi Arka-Logistics bakal dapet kontrak distribusi eksklusif dari Mulia Mart, jaringan ritel terbesar di wilayah ini. Jadi, siap-siap aja kafe lo bakal makin tenggelam sama bayang-bayang kesuksesan gue."

Ghea memutar bola matanya malas, meskipun di dalam hatinya dia tahu betapa kerasnya Arkan berjuang demi tender Mulia Mart tersebut selama satu bulan terakhir. "Halah, baru juga masuk tahap negosiasi akhir udah sombong. Awas aja kalau lo kalah tender terus nangis di garasi!"

"Gak akan," sahut Arkan lempeng, sebelum akhirnya berbalik pergi dengan senyum tipis yang menyebalkan.

Namun, kenyataan di balik layar tidak seindah kesombongan Arkan.

Sore harinya, saat Ghea sedang berjalan menuju ruang stafnya yang terletak di bagian belakang kafe, dia tidak sengaja mendengar percakapan serius dari arah ruang rapat kantor Arka-Logistics di sebelah ruko yang jendelanya sedikit terbuka.

"Mas Arkan, kita kalah tipis dalam hal penawaran harga," suara manajer operasional Arkan terdengar cemas. "Pihak Kargo Jaya, kompetitor terbesar kita berani memotong harga sewa armada mereka sampai lima belas persen di bawah harga pasar. Mereka sengaja mau mematikan bisnis kita. Direktur Mulia Mart bilang, kalau kita gak bisa menyamai harga mereka besok pagi, kontrak akan langsung diberikan ke Kargo Jaya."

Hening sejenak, sebelum terdengar suara Arkan yang sangat tenang namun terdengar berat. "Kita tidak bisa memotong harga lagi. Kalau kita potong lima belas persen, kita harus memotong upah para driver kita dan mengabaikan standar perawatan truk. Saya tidak akan pernah mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan pekerja saya hanya demi memenangkan tender."

"Tapi Mas, kalau kontrak ini lepas, ekspansi armada baru kita bisa tertunda beberapa bulan..."

"Saya tahu," potong Arkan tegas. "Tapi itu prinsip bisnis saya. Biarkan saja. Kita cari jalan lain."

Mendengar hal itu, dada Ghea mendadak terasa sangat sesak. Dia meremas ujung blazernya erat-erat. Ghea tahu betul seberapa besar ambisi Arkan untuk membuktikan diri kepada ayahnya di Solaria melalui tender ini. Dan dia juga tahu, Arkan tidak akan pernah mau meminta bantuan keuangan dari keluarganya.

Dasar tiang listrik keras kepala. Di saat kayak gini pun lo masih mikirin orang lain, batin Ghea, matanya berkaca-kaca karena tidak tega.

Ghea segera kembali ke meja kerjanya. Dia membuka draf kontrak kemitraan antara Kopi Karsa dan Mulia Mart. Kebetulan sekali, saat ini Kopi Karsa adalah pemasok tunggal biji kopi untuk seluruh jaringan executive lounge dan kafe internal di kantor pusat Mulia Mart. Nilai kontrak mereka sangat besar dan menguntungkan.

Sebuah ide gila dan nekat langsung melintas di kepala Ghea.

Dia mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi nomor pribadi Direktur Pembelian Mulia Mart, Pak Hendrawan, seorang pria paruh baya yang sangat menghormati etos kerja Ghea sebagai pengusaha muda.

"Halo, selamat sore Pak Hendrawan... Iya, ini Ghea dari Kopi Karsa," sapa Ghea dengan nada suaranya yang sangat manis dan profesional. "Saya ingin mendiskusikan ulang kontrak pasokan biji kopi kita untuk tahun depan... Begini, Pak. Saya bersedia memberikan potongan harga khusus sebesar dua puluh persen dari nilai kontrak Kopi Karsa untuk seluruh cabang Bapak... Iya, Pak, dua puluh persen."

Terdengar suara Pak Hendrawan di seberang telepon yang sangat terkejut sekaligus gembira mendengar diskon sebesar itu dari merek kopi yang sedang naik daun. "Wah, Neng Ghea serius? Diskon sebesar itu tentu sangat menguntungkan bagi kami. Tapi, apakah ada syarat khusus dari Neng Ghea?"

Ghea menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya meskipun itu berarti margin keuntungan kafenya akan terpangkas drastis selama satu tahun ke dapan.

"Ada satu syarat kecil, Pak," kata Ghea pelan namun tegas. "Tolong berikan kontrak distribusi logistik Mulia Mart kepada Arka-Logistics dengan harga penawaran awal yang mereka ajukan. Tolong abaikan penawaran dari Kargo Jaya... Dan saya mohon dengan sangat, Pak. Tolong jangan pernah sebutkan kesepakatan rahasia antara kita ini kepada pihak Arka-Logistics atau siapa pun. Biarkan ini menjadi kerja sama profesional murni di antara kita."

Pak Hendrawan terdiam sejenak di seberang telepon, sebelum akhirnya tertawa hangat penuh arti. "Oalah, Neng Ghea... Mas Arkan itu beruntung sekali punya rekan bisnis seperti kamu. Baik, saya mengerti. Standar pelayanan Arka-Logistics memang yang terbaik, dan dengan tambahan diskon kopi dari kamu, manajemen kami jelas tidak akan menolak kerja sama ini. Kesepakatan kita aman."

"Terima kasih banyak, Pak Hendrawan," ucap Ghea dengan senyum lega yang luar biasa tulus, meskipun di dalam hatinya dia harus merelakan mimpi untuk membeli mobil sport baru tahun ini demi menyelamatkan armada truk Arkan.

Keesokan paginya, sekitar pukul sepuluh.

Ghea sedang berdiri di balik meja bar kafenya, memperhatikan barista mudanya yang sedang menyeduh kopi.

Tiba-tiba, pintu kaca kafe didorong terbuka dengan sangat keras hingga bel gemerincing di atasnya berbunyi nyaring. Arkan melangkah masuk dengan langkah lebar yang sangat mantap. Wajah tampannya memancarkan aura kemenangan yang sangat luar biasa, dan senyum sombongnya sudah kembali terukir 100% di bibirnya.

Begitu melihat Ghea, Arkan langsung menaikkan sebelah alisnya lempeng.

"Heh, manja," panggil Arkan sombong, melipat kedua tangannya di dada. "Gue bilang juga apa. Karisma pengusaha jenius kayak gue gak akan pernah bisa dikalahkan sama trik murahan kompetitor. Tadi pagi, direktur Mulia Mart telepon sendiri dan resmi memberikan seluruh kontrak distribusi eksklusif mereka ke Arka-Logistics!"

Ghea langsung memasang wajah judes andalannya, menyembunyikan rasa bahagianya yang luar biasa di dalam dadanya sekuat tenaga.

"Halah, sombong banget!" ketus Ghea galak, meremas lap di tangannya. "Palingan direktur mereka khilaf atau kasihan lihat muka lo yang memelas di depan kantor mereka kemarin!"

"Khilaf lo bilang?" ejek Arkan lempeng, menepuk kerah kemeja putihnya yang rapi. "Mereka memilih gue karena mereka tahu Arka-Logistics adalah yang terbaik dan punya integritas tinggi. Gak kayak bisnis kopi lo yang palingan besok-besok pelanggannya bosan karena pemiliknya judes terus."

"Heh! Mulut lo bener-bener minta dicolok sedotan bambu ya!" semprot Ghea galak, melotot tajam dengan bibir mengerucut kesal. "Kedai gue ini selalu ramai karena kualitas rasa, bukan karena tebar pesona kayak lo!"

"Terserah lo," sahut Arkan santai, namun matanya menatap lekat-lekat ke arah mata Ghea yang tampak berbinar lega hari ini. Arkan menyembunyikan senyum tulus dan hangat di dalam dadanya, sebelum akhirnya berbalik berjalan keluar kafe menuju kantornya untuk menyiapkan armada truk pertamanya.

Ghea menatap kepergian Arkan dari balik kaca jendela dengan senyuman lebar yang sangat manis, sama sekali tidak menyadari bahwa putaran roda truk boks besar milik Arkan hari ini bisa melaju dengan gagah di jalan raya hanya karena margin keuntungan kafenya dikorbankan demi melindunginya dari balik bayangan yang sunyi.

Di bawah hangatnya matahari Sukaasih yang kini terasa jauh lebih bersahabat, ego mereka tetap berdiri sekokoh tembok baja di permukaan, sementara di balik bayangan, mereka terus saling menopang satu sama lain tanpa pernah mau mengalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!