Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Zona Aman
Sedan hitam milik Devan berhenti di lobi apartemen Savira. Setelah drama air mata di ruang VIP restoran, Devan mengantar gadis itu pulang. Tidak ada rayuan atau kata-kata romantis, semua Devan lakukan sebagai bentuk tanggung jawab dari pria dewasa.
"Istirahat. Jangan menangis lagi." suara rendah itu memecah kesunyian dalam kabin, matanya menatap Savira yang duduk di sampingnya.
"Terimakasih, dok." jawab Savira membuka seatbelt.
Devan mengangguk pelan, melihat Savira keluar dari mobil. Gadis itu menoleh kearahnya, memastikan jika benar dokter Devan sang dewa maut mengantar nya pulang.
"Masuk lah." Savira mengangguk. Fix, beneran dokter Devan.
Setelah memastikan Savira melewati meja resepsionis. Devan menginjak pedal gasnya, sedan itu keluar dari area apartemen, membelah aspal Jakarta yang tetap ramai meski sudah jam 10 malam.
Tangan Devan memutar kemudi, mengarahkan sedan itu menuju apartemennya. Ia butuh waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya. Keputusannya sudah bulat, yaitu bersama dengan Savira. Meskipun ia belum mengatakan apapun pada gadis itu.
.....
Pagi ini, seperti biasa. Rumah sakit berjalan sesuai ritme nya. Langkah cepat perawat, Tek...Tek..Tek .. roda brankar menghajar lantai keramik, bau antiseptik dan disinfektan yang menyengat, kode biru menggema dari speaker.
"Tim resusitasi ke IGD 2, sekarang!"
Ketegangan mengumpul seperti awan di ruang resusitasi. Semua orang lari, semua orang teriak, menyelamatkan pasien agar tetap hidup.
Dan anehnya...semua berjalan dengan baik meskipun menguras energi dan tenaga. Mata perih karena kurang tidur. Meski hati sebagian masih basah semalam. Rumah sakit tidak pernah menunggu.
Di konter informasi perawat, suasana cukup sibuk. Para perawat melakukan over shift pagi, perawat jaga malam memberikan laporan pasien pada perawat jaga pagi. Pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi.
Savira melangkah mantap dengan perasaan yang....lebih ringan. Ia belum bicara apapun dengan dokter Devan, tapi air mata sudah mengatakan segalanya. Pelukan hangat, dadanya, aroma maskulin, dan kemeja hitam yang basah. Menjadi saksi bisu seberapa tangisan itu terjadi.
"Dokter Savira." panggil seseorang saat Savira berdiri di depan pintu lift.
Ia menoleh, tersenyum tipis. "Mau ke atas?"
"Iya." jawab orang itu. Dokter Erika. "Gimana stase BTKV? Konsulennya bener-bener kayak dewa maut yang di bilang si Riko?"
Savira tertawa pelan mendengar pertanyaan dokter Erika. Riko memang selalu mengeluhkan sikap dokter Devan yang tegas dan dingin. Kemarin saja, bikin perawat junior gemeteran di ICCU, padahal dokter Devan cuma natap. Belum mengeluarkan sepatah kata.
"Riko selalu berlebihan dokter. Padahal dokter Devan tidak se-mengerikan itu." jawabnya. "Riko tidak tahu saja, jika dokter Devan itu orangnya lembut dan hangat." Batin Savira mengingat perlakukan sang dewa mau semalam.
Ting...
Pintu lift terbuka, keduanya masuk bersama.
"Oh ya? Terus gimana?" jiwa keponya mulai meronta-ronta.
Savira refleks menggigit bibir bawahnya. "Ya, tegas. Tapi sejauh ini, aman-aman saja." jawab Savira.
Dokter Erika melongo mendengarnya. "Vi, kamu gak sakit 'kan?" ia memeriksa dahi Savira dengan punggung tangannya. "Gak panas." katanya pelan.
Dahi Savira berkerut. Bingung. "Saya sehat, dokter." sambil menggeleng.
"Nah itu dia. Kamu sehat. Tapi cuma kamu satu-satunya orang yang bilang aman bekerja dengan dokter Devan." katanya berapi-api.
"Kamu tahu? Bahkan perawat senior saja masih sering ngeluh kalau bekerja dengan dokter Devan." katanya. "Tahu suster Eli, kan? Kemarin dia ngeluh setelah delapan jam bersama dokter Devan di OK. Bukan cuma kaki yang mau copot. Tapi jantungnya juga. Dia bilang dokter Devan itu bukan manusia, tapi mesin dengan standar sempurna di atas sempurna." tandasnya.
Lift masih naik pelan. Lantai 3... 4…
Savira merapihkan kerah snelli yang sudah rapi. "Ya...mungkin saya aja yang kebal." jawabnya bingung harus menanggapi perkataan dokter Erika seperti apa.
Dokter Erika menyentuh kedua pundak Savira, tatapan matanya serius. "Vi, mending kamu konsultasi sama dokter Ratna. Pastiin kalau kamu masih manusia, jangan sampai ketularan jadi robot tanpa empati seperti dokter Devan." sarannya.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai lima.
Dokter Erika menoleh, bersiap keluar. Tapi tiba-tiba wajah dokter Erika pucat, mendadak cardiac arrest, setelah melihat sosok yang berdiri tegap tepat di depan pintu lift.
"Mati gue." jeritnya dalam hati. Memaksakan senyum kaku.
"Se-selamat pagi, dokter Devan." sapanya pelan. Lalu menoleh ke arah Savira. "Aku duluan." katanya tanpa suara, lalu berlari secepat kilat dengan lutut lemas seperti jeli.
Dokter Devan hanya menatapnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Savira melongo melihat tingkah dokter Erika. Padahal tadi dia semangat berapi-api membicarakan dokter Devan. Tapi begitu bertemu sosok aslinya, langsung ciut seperti krupuk kena air.
Dengan langkah tenang, dokter Devan masuk dalam lift. Keningnya berkerut melihat Savira melipat bibirnya ke dalam.
"Apa ada yang lucu, dokter Savira?" tanyanya dengan suara rendah.
Savira berdehem, menetralkan napasnya. "Tidak ada, Dok." jawabnya cepat.
Dokter Devan mengangguk. Tapi mata hitamnya terus menatap Savira dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Mengecek. Menilai. Seperti mesin MRI.
"Bagaimana tidur mu?"
Savira langsung menoleh. "Sial" umpatnya dalam hati, karena matanya bertatapan langsung dengan mata dokter Devan. Kali ini jaraknya cukup dekat, ia yakin jika dokter Devan mendengar detak jantungnya yang seperti genderang perang.
"Ba-baik, Dok." jawabnya menunduk. Menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Bagus." Kata dokter Devan bertepatan pintu lift terbuka. Pria itu melangkah keluar tanpa rasa bersalah setelah memastikan Savira baik-baik saja.
Sedangkan Savira memegang dadanya, merasa jantungnya mau melompat keluar. Ia memang tidur dengan baik selama 7 jam, tapi semua jadi tidak baik-baik saja setelah bertatap mata dengan dokter Devan.
"Sepertinya dokter Erika benar. Aku harus konsultasi ke dokter Ratna." bisiknya lesu. Perasaan ringan dan semangat yang tadi pagi memenuhi dadanya menguap entah kemana. Berganti dengan debaran asing yang memacu jantung bekerja lebih keras.
.....
Ronde pagi di ICCU selesai 25 menit, lebih cepat dari biasanya. Savira berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi datar dan suara stabil. Profesional. Itu motonya.
Akan tetapi. Gagal total.
Apalagi saat dokter Devan berdiri di sisi bed yang sama. Terlalu dekat. Jarinya yang panjang mengecek fiksasi selang ETT pasien. Bahunya nyaris bersentuhan dengan bahu Savira saat dia membungkuk untuk melihat monitor hemodinamik. Membaca angka MAP, CVP, norepinefrin, drip...sedekat itu.
Hal itu membuat Savira merasa seperti cardiac arrest. Ingatannya melayang pada kemarin malam saat ia menangis dalam dekapan dada bidang nan hangat dokter Devan. Ke bau antiseptik dan sandalwood yang sekarang ia ingat setiap menghela napas.
Tidak. Savira tidak bisa jika harus bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Ronde pagi ini tidak sama seperti kemarin, kemarin, dan kemarin.
Di tambah sikap santai dan dewasa dokter Devan yang entah kenapa semakin membuatnya terpesona. Dia tidak canggung, tidak menghindar. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Savira tidak pernah merasakan sosok ayah, masa remajanya dihabiskan untuk menghafal buku tebal anatomi yang membosankan. Dan di usia 25 tahun ini, sangat wajar bukan jika dia menyukai pria yang menawarkan pelukan saat dirinya rapuh.
*
*
*
*
*
To be continued