Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Hadiah
"Besok kesini lagi ya, Ta!" Aru melambaikan tangan.
"Gua ngga nih?" tanya Aguil.
"Lah? Kan sepaket," tunjuk Aru pada kedua temannya.
"Oke sip," Aguil kehabisan kata-kata.
Arinta hanya senyum senyum saja.
Sepanjang jalan pulang Aguil berdeham-deham.
"Kenapa sih? Sakit tenggorokan?" tanya Arinta risih.
"Ke rumah gua dulu, Ta."
"Iya, inget! Ngapain lagian? Ngga bisa besok aja? Udah mau magrib gini."
Aguil menggeleng, "Bentaran doang, abis itu langsung gua anter pulang."
"Iya."
Aguil menyerahkan sebuah kotak dalam papper bag, Arinta tak bisa menebak apa isinya.
"Sekali lagi gua bilang ini dari mama papa, gua cuma nyampein. Dibukanya di rumah aja. Ayo pulang, nanti keburu kemaleman," ajak Aguil tanpa menunggu sahutan.
"Apa ini?"
Arinta berusaha mengintip, tapi Aguil merebutnya lagi, "Gua aja yang bawain, nanti tiba-tiba lu unboxing ditengah jalan."
Arinta hanya bisa manyun di tempat, semua barang bawaannya direbut paksa oleh Aguil, termasuk tas dan botol minum yang daritadi setia ia peluk-peluk.
"Kenapa lu baik banget sih sama gua, Il? Lu punya utang budi apa sama gua?" tanya Arinta terheran-heran.
Betul juga. Mungkin memang didikan orangtuanya untuk selalu bersikap baik pada oranglain?
"Ntah. Gua juga ngga tau," jawab Aguil sejujur-jujurnya.
"Masa sih.." Arinta ragu.
Aguil tak menyahut lagi, memang ia tak tahu.
"Udah keliatan tuh rumah gua, mana siniin," Arinta berusaha mengambil alih barang bawaannya.
"Belom.." bantah Aguil.
"Ih ngga jelas," gerutu Arinta.
"Nih."
Arinta mengambilnya dengan kasar dan langsung masuk kedalam rumah, meninggalkan Aguil bersama Ghifari di teras.
Pemberian yang katanya dari mama dan papa Aguil itu tak langsung Arinta buka, ia malah terlelap tidur begitu selesai membersihkan diri.
Keesokan paginya ia terbangun saat langit masih gelap, karena manusia-manusia di rumahnya juga sudah mulai beraktifitas.
Saat mengumpulkan nyawa, Arinta baru teringat dengan pemberian Aguil semalam.
Ia membukanya perlahan. Jantungnya berdebar cepat saat sebuah kotak persegi panjang itu ia keluarkan dari papper bag.
"H-handphone?" suaranya bergetar hebat efek dari debaran jantungnya yang amat keras.
Ada secarik kertas disana. Isinya kurang lebih;
Dari mama Mala & papa Samuel, dipergunakan dengan baik ya, nak.
(Ini tambahan dari gua, Aguil)
Ini udah ada sim card-nya, tinggal lu atur-atur aja. Kalo ngga ngerti tanya sama bang Ari. Oh iya jangan lupa langsung chat gua sama Aru ya!! Liat aja nomornya di hp bokap lu.
Arinta masih membeku. Matanya sudah panas ingin menangis. Ia tak bisa berkata-kata sama sekali. Handphone yang kini ada ditangannya jauh berkali-kali lipat lebih bagus dari punya abang dan ayahnya.
"Abang!!" itulah orang yang pertama Arinta panggil.
"Kenapa??" sahut Ghifari dari ruangtamu.
Arinta keluar sambil menunjukan handphone ditangannya, "Dari mama Mala sama papa Samuel."
Arinta malah menangis sambil memeluk Ghifari, padahal disitu ada ayahnya juga.
"Bagus dong. Arin jadi bisa teleponan sama temen-temen," ucap Ghifari.
Arinta masih sesenggukan di tempat, terharu sepertinya.
"Nanti kalo Arin sukses, inget mama sama papanya Aguil ya nak ya.. Banyak banget jasa mereka sama keluarga ini, terutama ke Arin," ucap Zaid.
Arinta mengiakan hanya dengan mengangguk.
"Udah ah. Itu hp-nya udah nyala tuh," tunjuk Ghifari.
Arinta akhirnya diam, beralih sibuk mengotak-atik handphone-nya. Lalu setelah selesai ditahap terakhir ia mengirim pesan pada Aguil.
| TERIMAKASIH BANYAAK YAA
| INI ARINTAA
Tak berapa lama, detik itu juga pesan balasan muncul.
| SAMA SAMA YAA
| btw, bisa ga usah pake capslock ga? berasa diomelin ih
Arinta senyum-senyum sendiri. Sepertinya ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
| okee
Lalu ia beralih mengirim pesan ke Aru.
| aruu
| ini gua, arinta
Tak langsung ada pesan balasan.
"Ayah? Ayah punya nomor mama Mala atau papa Samuel?" tanya Arinta.
"Coba liat nih, eh ada nih. Coba Arin kirim aja," Zaid menyerahkan ponsel bututnya.
Begitu mendapatkan apa yang ia mau, Arinta langsung ngibrit ke kamar.
| mamaa
| ini arinta
| makasih ya ma, arin ga tau harus bales pake apa
Tak langsung ada balasan juga. Ada balasan tapi ternyata dari Aru.
| anjay
| tiba-tiba punya hp
| keren bro, eh sist maksudnya
Percakapan mereka terus berlanjut. Arinta terlihat sangat norak, padahal yang ia buka hanya aplikasi chat. Namun ia terlihat sangat bahagia saat bertukar pesan dengan Aguil dan Aru. Apalagi saat Aru berinisiatif membuat grup untuk mereka bertiga.
Trio A (Aguil, Arinta, Aru)
Aguil
| wes, sat set tas tes
Aru
| inilah momen yang gwehj tunggu2
Arinta guling-guling diatas kasur, tak pernah sama sekali ia mengandai-andai punya ponsel bagus dan memiliki teman yang sebaik ini, bahkan sampai memiliki grup chat khusus.
Mala tidak membalas pesan, tapi langsung menelepon, panggilan video.
Wajah Arinta terlihat sangat besar dilayar, ia langsung menjauhkannya.
Percakapan mereka begitu hangat, sampai Mala mengajak Aguil untuk ikut video call bersama. Jadilah layar terbagi menjadi tiga bagian.
Aguil nyengir begitu wajahnya muncul, "Anjay.."
"Eh Uil, apa sih ngomongnya," tegur Mala.
"Hehe.." malah nyengir lagi.
Setelah beberapa menit akhirnya panggilan mereka akhiri, karena Aguil dan Arinta harus belajar daring.
Semenjak pandemi, mereka hanya ke sekolah seminggu sekali untuk mengumpulkan tugas. Semenjak itu pula perekonomian semua orang tidak stabil, tak terkecuali keluarga Samuel.
Sempat ada perdebatan antara Samuel dan Mala soal membelikan Arinta ponsel keluaran terbaru.
"Iya, mama tau situasi lagi kayak gini, semua serba dipangkas, orang-orang kerja WFH. Dan justru karena itu mama mau Arin ngga kesusahan buat ngikutin pelajaran, karena sekarang apa-apa harus pake smartphone. Masa papa gitu aja ngga ngerti sih," omel Mala.
"Paham. Paham. Maksud papa tuh kan mama bisa memilah mana yang lebih prioritas dikondisi kita yang lagi serba hemat ini."
Mala membanting pintu, meninggalkan Samuel yang termenung didepan komputernya.
| Nak.. Kamu sementara ngga usah kesini dulu ya
| Liburan nanti kamu disana aja sama om Raka
| Mama juga belom bisa mastiin kapan kamu bisa ketemu mama lagi
| Keuangan keluarga kita lagi susah nak
Begitu pesan yang Aguil terima dari ibunya. Ia melirik sekilas pada Arinta yang masih sibuk dengan ponsel barunya. Sekali lagi, ponsel baru.
| iya ma, gapapa
| aman
Ada sedikit rasa tak terima dihatinya, tapi berusaha ia tahan, mungkin ini memang yang terbaik.
"Ta.. Sibuk banget kayaknya ya?" ucap Aguil.
"Ngga kok, lagi main game aja. Kenapa?" tanya Arinta tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Aguil bergantian menoleh ke Aru yang juga sibuk dengan laptop dan bukunya, "Lagi ngerjain tugas, Ru? Rajin amat.."
Aru hanya mengedikan bahu, saking seriusnya sampai tak bisa menanggapi.
Kini mereka berada di rumah Aru. Rumah itu sudah seperti jadi markas mereka bertiga.
"Lu ngga belajar aja, Il? Daripada planga plongo begitu," ucap Aru mengalihkan pandangan dari buku-buku dihadapannya.
"Males ah," Aguil malah berbaring sambil menggulir-gulir beranda sosmednya yang tidak penting.
"Ta.. Lu juga, Ta. Kita udah kelas sembilan loh. Walaupun ngga ada ujian nasional, tapi kan tetep ada ujian sekolah," Aru berusaha mengingatkan kawannya yang sepertinya sudah kecanduan ponsel sejak beberapa bulan terakhir.
Akhirnya Arinta menaruh ponselnya, lalu membuka buku.
"Tuh, Il. Arin udah belajar, bangun ngga! Buka bukunya!!" titah Aru.
Aguil masih diam saja.
"Satu-"
Aguil langsung bangkit dan menyambar bukunya secepat kilat saat Aru baru mulai menghitung.
Elingnya hanya beberapa menit, beberapa menit kemudian tiba-tiba sudah ponsel lagi yang dihadapi oleh keduanya.
Aru memijat pelipisnya, pusing. Pusing menghadapi pelajaran, juga pusing menghadapi teman-temannya.
Hasil ujian sudah ditangan. Tak ada acara perpisahan yang dirayakan dengan kumpul-kumpul di sekolah. Anak-anak hanya perlu mengambil hasil rapot sesuai jadwal yang sudah ditentukan.
Aru berhasil mempertahankan peringkatnya ditiga besar. Ia mendapat predikat lulusan terbaik 2 paralel, hasil yang amat sangat memuaskan.
Begitupun Aguil. Ia mendapat predikat lulusan terbaik 1 paralel, yang langsung mendapat cibiran iri dari Aru karena Aguil jarang belajar tapi melebihi dirinya yang selalu giat belajar.
Ini dia sosok yang mengecewakan, Arinta Prameswari. Ia sama sekali tak masuk lima besar paralel. Jangankan paralel, di kelasnya pun ia hanya mendapat peringkat 6.
"Kenapa bisa separah ini sih, Ta?" Ghifari sedikit membanting hasil rapot yang adiknya tunjukkan.
Aguil dan Aru yang juga berada di rumah Arinta, tak berani berkomentar.
"Gara-gara kebanyakan main hp nih pasti. Nanti masuk SMA main hpnya diwaktu. Belajar di rumah, ngga ada belajar-belajar bareng di rumah temen. Kalo mau, belajar bareng ngga usah bawa hp, atau kalo harus pake hp, belajarnya disini aja, biar bisa abang liatin!" oceh Ghifari panjang lebar.
Ghifari sudah menjelma menjadi kakak yang sesungguhnya. Setahun lagi ia lulus dan akan menjajaki dunia baru, yaitu dunia kerja. Ia merasakan rasa tanggungjawab terhadap adiknya tumbuh perlahan. Hati kecilnya juga akhir-akhir ini sering merasa sedih kala mengingat fakta bahwa setelah lulus, laki-laki akan bekerja seumur hidupnya.
"Denger ngga abang ngomong?"
Arinta melirik sang ayah yang diam saja, dari dulu memang begitu. Ayah selalu terlihat tak peduli dengan dirinya.
"Iya."
Aru dan Aguil yang merasa keberadaannya sudah tak diperlukan akhirnya pamit pulang, rencana nonton mereka dibatalkan. Memang dasar anak-anak tak punya otak, bukannya mikir malah mau lanjut part 2.
"Ngga usahlah masuk negeri negeri lagi, malu-maluin," ucap Ghifari.
Impian Arinta memanglah masuk SMK negeri, Impian yang sudah ia damba-dambakan sejak masih SD. Menurutnya bisa masuk SMKN itu keren. Padahal tidak sekeren itu juga, karena tak semua yang lolos masuk negeri itu murni dari prestasi, mungkin saja zonasi? Atau donasi?
"Tapi kan..."
"Tapi apa?" serobot Ghifari, "Ya kamu udah sekolah di negeri juga begini toh."
"Yang paling deket kan emang negeri, bang," sahut Arinta tanpa meninggikan suara.
"Ada kok tuh SMA swasta, lebih deket dari negeri. Ambil IPA. Kalo nilai kamu bagus terus, nanti lanjut kuliah kedokteran abang yang biayain," tantang Ghifari, padahal ia tahu kuliah kedokteran tak murah.
"Ari.." Zaid akhirnya bersuara menegur anaknya yang mulai bicara ngelantur.
"Biarin aja, Yah.. Mana mungkin juga dia bisa bertahan dengan nilai bagus kalo sekarang aja udah melempem gini," Ghifari masih tak mau kalah.
Arinta sekali lagi merasa tak ada yang memihaknya, ia langsung masuk kamar, merajuk untuk kesekian kalinya dalam sebulan.
***