Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjun Langsung
"Bersiaplah! Aku ambil ponsel sama kunci mobil," Sean kembali ke ruangan.
Celline berbenah, merapikan meja kerja.
Tak sengaja melihat Kevin melirik ke arah meja Celline.
"Kalian mau ke mana?" tanya Kevin sok peduli.
"Cari angin," jawab Celline sekenanya.
"Oh....," ucap Kevin singkat membuat Celline mengerutkan kening. Merasa aneh dengan pria yang suka berbuat onar itu.
"Oke, aku pergi dulu!" pamit Celline pada Kevin dan yang lain karena Sean telah berdiri menunggu nya.
"Sean, emang ada masalah mendesak apa? Hingga kita harus buru-buru pergi?" tanya Celline mencoba mengejar langkah lebar Sean.
"Aku belum tahu pasti. Yang pasti ada beberapa kendala terkait pasokan bahan bangunan yang kita perlukan dan juga para pekerja," jelas Sean sambil membuka pintu mobil nya.
"Bukannya kerjasama dengan pihak ketiga secara legal sudah jelas semua? Hak dan kewajiban mereka seperti apa?" bahas Celline sambil memasang sabuk pengaman.
"Harusnya begitu," Sean melajukan mobil perlahan keluar basement.
"Orang yang mengganggu proyek ini pasti bukan orang sembarangan," tebak Celline.
"Pasti ada orang kuat di belakangnya," sambung Celline.
Sean menoleh ke arah Celline.
"Kenapa? Heran?" tanya Celline. Mereka berdua saling pandang.
"Nggak usah heran, orang yang berani menyinggung perusahaan Rahardjo dan Dirgantara pasti bukan orang biasa," kata Celline yakin.
"Kamu yakin sekali?" ucap Sean.
"Orang bodoh saja tahu," Celline tertawa renyah.
Sampai di lokasi proyek, sudah ada tuan Anton asisten tuan Dirga.
"Kita ke kantor," ajak tuan Anton.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kantor semi permanen yang ada di tengah lokasi proyek.
Di ruangan itu sudah ada beberapa pihak yang diajak kerjasama dan terlibat langsung dalam proyek.
Sean duduk di tengah sebagai pimpinan proyek ini.
"Ada yang bisa disampaikan ke saya?" tanya Sean tegas.
"Tuan Sean, perusahaan kami ingin mundur dari proyek ini," ulas pria setengah baya yang duduk di samping tuan Anton.
"Dengan alasan?" tanya Sean.
"Terus terang saja sebagai pemasok utama bahan-bahan, kami terkendala dengan pengadaan. Pembayaran kami ke sana tersendat tuan. Jadi mereka menunda pengiriman bahan yang kami minta," jelas pria itu.
"Boleh kamu jujur tuan Sean?" sambung pria itu ragu.
"Silahkan!" balas Sean berwibawa.
Pria itu menatap ragu ke arah pengawas bagian pengadaan perusahaan Rahardjo. Sean menangkap semua itu.
"Pembayaran perusahaan kami lancar bukan? Kalau lancar harusnya bisa menutup case flow keuangan perusahaan anda," tegas Sean, membuat pengawas yang tadi berusaha menutupi kegugupannya.
"Silahkan disampaikan, kami tidak akan mentolerir oknum-oknum nakal. Meski oknum tersebut termasuk staf perusahaan kami," ulas Sean penuh ketegasan.
"Tuan Sean, maaf saya menyampaikan ini. Ada beberapa tagihan yang harusnya jatuh tempo mulai dua Minggu yang lalu dan sampai sekarang belum terbayarkan," pria itu akhirnya berani mengutarakan.
Sean mengalihkan pandangan ke arah pengawas seakan meminta penjelasan padanya.
"Tuan Sean, dana yang dijanjikan perusahaan telat turun. Dan hari ini sudah saya konfirmasikan kembali ke pusat, sampai detik ini belum ada jawaban," beritahu pengawas itu.
"Apa selama ini seperti itu?" tanya Sean yang tak mengira akan terjadi hal seperti ini.
'Apa ada orang dalam yang terlibat?' tebak Sean dalam benak.
"Baru kali ini tuan. Sebelumnya tidak pernah ada kendala," lapor pengawas proyek itu.
"Bagian lain?" tanya Sean.
"Puluhan pekerja ijin mendadak tuan. Kebanyakan karena sakit, hingga akhirnya biaya membengkak untuk biaya perawatan mereka semua," jelas staf lainnya.
"Upah yang kita berikan mundur dari biasanya, karena uang gaji mereka sebagian untuk menutup biaya rawat inap," lanjutnya.
"Sementara beberapa yang lain ikutan mogok karena upah mereka tertunda," sambung nya.
"Biaya rawat inap?" tanya balik Sean.
"Betul tuan. Dan itu butuh biaya yang tak sedikit," jelas staf tadi.
"Bukankah ada perusahaan asuransi yang bisa menutupnya? Untuk apa perusahaan kita kerjasama dengan perusahaan asuransi dan membayar premi tiap bulan, kalau masih harus mengeluarkan biaya lagi untuk rumah sakit" tanggap Sean.
"Kalau itu saya kurang paham tuan," jawab staf itu dengan wajah tertunduk.
'Ternyata banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab,' pikir Sean.
"Celline, sudah kamu catat semua kah?" Sean menoleh ke arah Celline yang duduk di samping nya.
Celline mengangkat jempol, tanda semua beres.
"Baiklah, rapat saya akhiri. Selanjutnya, akan saya telusuri semua kejadian hari ini. Jika ada yang berani menghambat proyek ini, akan saya tindak tegas karena telah merugikan perusahaan," tegas Sean. Bukan sebuah ancaman, tapi sebuah ketegasan sebagai seorang pimpinan yang harus ditunjukkan Sean.
Semua telah bubar, tinggallah Sean, Celline dan tuan Anton.
"Tuan Sean, mengevaluasi rapat hari ini. Menurut analisa saya, mulai saja dari internal perusahaan," saran tuan Anton.
"Apa itu artinya ada tikus-tikus pengerat di internal kami?" bahasa kias yang dipakai Sean sangatlah tepat.
"Segala kemungkinan tidak boleh diabaikan," lanjut tuan Anton.
"Baiklah. Makasih atas sarannya tuan," Sean menjabat asisten tuan Dirga itu, demikian juga Celline.
Sean menyerahkan sebuah pelindung kepala dan kacamata hitam untuk Celline.
"Buat?" tanya Celline.
"Kita terjun langsung ke proyek. Kita temui para pekerja," beritahu Sean.
"Apa tak berbahaya? Dalam situasi begini, kamu yakin mereka bisa dikendalikan?" pertegas Celline untuk memastikan.
"Hhmmmm," gumam Sean.
.
Di lokasi proyek, seorang mandor menyambut kedatangan Sean dan Celline.
"Tuan bos, anda datang hari ini. Apa itu artinya upah kami akan segera dibayar?" sambutnya.
"Kumpulkan beberapa orang!" suruh Sean.
"Apa yang kamu lakukan Sean?" bisik Celline.
"Baik tuan," jawab mandor itu dengan tatapan aneh menurut Celline.
Beberapa pekerja dengan wajah yang cukup seram untuk ukuran pekerja datang menemui Sean.
"Bayar upah kami. Kalau tidak, akan kami hancurkan bangunan setengah jadi ini," ancam pria yang paling seram di antara yang lain. Banyak lukisan di tubuh kekarnya, membuat Celline bergidik ngeri.
"Baguslah kalau anda berani muncul. Bayar sekarang hak kami," pinta yang lain.
Sean masih diam.
"Siapa nama anda?" tanya Sean sopan ke arah pria yang paling seram tadi.
"Jangan banyak tanya tuan. Bayar saja upah kami," sahut nya.
"Pasti akan kubayar. Tapi jawab dulu pertanyaan saya, siapa nama anda dan di bagian mana?" lanjut Sean bertanya.
"Isshhhh jangan berbelit-belit. Bayar lunas maka proyek anda berjalan kembali," kata nya mengancam Sean.
"Pak mandor, siapa nama abang ini?" Sean menoleh ke arah mandor proyek.
Pria seram itu menatap penuh intimidasi ke sang mandor.
"Pak mandor," panggil Sean sopan, namun penuh penekanan.
"Bowo tuan," jelas mandor proyek.
"Oh, Abang Bowo," sapa Sean sok kenal.
Sean memberi isyarat Celline. Celline yang tanggap segera membuka tab yang dia bawa.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ada apa selanjutnya? Kepoin part berikut (part nya masih otewe di otak author ya guysss 😂)
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.