Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Turun Kasta ke Dasar Rantai Makanan
Udara di dalam selokan Sektor 4 mengendap seperti sup beracun di dasar paru-paru. Lembap, membekukan tulang, dan dipenuhi bau amonia serta logam berkarat yang menyengat hingga ke rongga hidung.
Arka duduk sendirian, bersandar di dinding beton yang dilapisi lumut hitam berlendir. Napasnya pendek-pendek, bahunya bergetar menahan dingin. Tidak ada suara gesekan pedang Bram. Tidak ada omelan pelan Hasan. Hanya ada gema tetesan air limbah dan kesunyian yang menulikan telinga.
Kepalanya terasa seperti baru saja dibelah dan diisi dengan pecahan kaca.
Di mana mereka membawa Bram dan Hasan? Ke kamp kerja paksa sektor mana?
Arka memejamkan mata, memaksakan sisa-sisa otaknya untuk memvisualisasikan rute transportasi Unit Sanitasi Asosiasi. Jika aku bisa meretas log lalu lintas di simpang atas—
Zzzzt!
Kepala Arka tersentak hebat ke belakang, membentur beton basah. Darah segar yang terasa hangat dan asin seketika mengalir dari lubang hidungnya, menetes ke lantai kotor. Ghost Code Kaelen merespons. Sebuah sengatan listrik fiktif menghajar pangkal tengkoraknya, membuat pandangannya berbayang ganda.
Arka mencengkeram kepalanya, kuku-kukunya memutih saat ia meremas rambutnya sendiri, menahan erangan yang merobek tenggorokan. Tidak bisa. Aku tidak bisa berpikir. Setiap kali ia mencoba menyusun probabilitas atau rencana logistik, sistem sarafnya hancur menjadi debu statis.
Rasa lapar memotong siksaan itu dengan siksaan lain. Asam lambungnya meremas perutnya yang kosong selama 72 jam terakhir. Tubuhnya mulai memakan ototnya sendiri demi energi.
Aku akan mati di sini sebelum sempat mencari mereka, batin Arka. Insting purbanya mengambil alih. Logika kompleks telah dibakar, menyisakan satu perintah biologis absolut: Makan.
Di masa lalu, Arka akan meretas mesin penjual otomatis atau memanipulasi grid pengiriman makanan kelas bawah. Kini, tanpa cip ID, tanpa kredit, dan tanpa kemampuan berpikir runut, ia diklasifikasikan sebagai limbah.
Namun, memori dasar di otaknya yang tidak terhapus memberinya satu nama tempat: Pasar Tikus.
Itu adalah titik buta di Sektor 4. Pasar gelap tempat para bandar tidak mempedulikan cip identitas. Mereka tidak butuh data. Mereka hanya butuh otot kasar untuk pekerjaan yang terlalu mematikan bagi manusia yang terdaftar.
Arka mendorong dirinya bangkit berdiri. Kedua lututnya bergetar hebat dan sendinya berderak. Rasa sakit di kepalanya masih berdenyut layaknya detak jantung kedua, tapi ia menelannya mentah-mentah.
Ia melangkah menjauh dari ceruk persembunyiannya, masuk kembali ke dalam labirin pipa pembuangan yang dialiri air limbah setinggi mata kaki. Arka menyeret kakinya yang berat, membelah air yang berbau bangkai dan minyak mesin.
Saat ia tiba di bawah lubang gorong-gorong yang mengarah ke permukaan, Arka terhenti. Dari atas jeruji besi, ia bisa mendengar dengungan rendah baling-baling drone patroli Asosiasi yang menyapu jalanan. Cahaya pemindai termal biru sesekali menembus celah jeruji, memantul di air kotor. Sistem masih menyisir area untuk mencari sisa-sisa "anomali".
Arka menahan napas, merapatkan punggungnya ke dinding bata yang dingin, membiarkan drone itu berlalu.
Ia kemudian menunduk, menatap telapak tangannya yang gemetar, kotor, dan penuh luka gores. Tangan kurus itu tidak lagi memegang terminal data. Tidak lagi mengetik kode override yang mengendalikan suplai Sektor 4.
Inilah Arka yang sekarang. Bukan otak logistik Grey Underground. Bukan peretas jenius. Dia hanyalah seorang kuli tanpa nama yang harus menyewakan paru-parunya untuk menghirup gas beracun demi sesuap makanan sisa.
Arka memanjat tangga besi yang berkarat itu, bergerak naik menuju bau sampah yang lebih menyengat di permukaan. Ia menuju Pasar Tikus, bersiap menjual tenaga kasarnya—satu-satunya hal berharga yang belum dirampas oleh sistem—demi menyambung nyawa, agar suatu hari nanti, ia bisa menemukan teman-temannya kembali.
***
**[AUTHOR NOTE] **Kesendirian yang absolut. Arka sekarang benar-benar terisolasi di dasar rantai makanan. Tanpa Bram sebagai pelindung fisik, dan tanpa kemampuannya meretas, Arka harus menggunakan tubuh kurusnya yang rentan untuk menjadi kuli limbah beracun demi sesuap makanan. Mampukah Arka bertahan dari siksaan fisik di Pasar Tikus tanpa mati keracunan? Dan ke mana sebenarnya Asosiasi membawa Bram dan Hasan?
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼