Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:
"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."
Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Cahaya
Dua minggu telah berlalu sejak kunjungan bersejarah ke SD Negeri 3 Bukit Harapan. Apa yang awalnya dimulai sebagai langkah defensif untuk membersihkan nama baik, kini telah berubah menjadi gerakan sosial yang organik dan menyentuh hati. Kampanye "Gerakan Literasi" yang digagas Zidan dan Viona meledak di media sosial. Ribuan buku mengalir deras dari donatur tidak hanya di Semarang, tetapi juga dari Jakarta, Surabaya, hingga Bali. Tagar #ArdhanaPeduli dan #BukuUntukHarapan menjadi trending topic selama tiga hari berturut-turut.
Narasi publik mengalami pergeseran drastis. Zidan dan Viona tidak lagi dipandang semata-mata sebagai pasangan kontroversial yang melanggar norma, melainkan sebagai sosok muda, modern, dan empatik yang menggunakan privilase mereka untuk kebaikan bersama. Saham Ardhan Group, yang sempat anjlok, kini justru melonjak naik, melewati titik tertinggi dalam enam bulan terakhir. Investor melihat ini sebagai bukti bahwa kepemimpinan generasi baru membawa angin segar dan stabilitas reputasi jangka panjang.
Namun, di balik sorotan kamera dan pujian netizen, ada keheningan yang menggerogoti pikiran Zidan. Di tengah euforia tersebut, insting bisnisnya yang tajam menangkap anomali kecil yang tidak bisa diabaikan.
Malam itu, hujan deras mengguyur Semarang, mengubah kota menjadi lautan kabut dan cahaya lampu jalan yang buram. Zidan duduk sendirian di ruang kerjanya yang gelap di lantai paling atas Gedung Ardhan Tower. Hanya cahaya biru dari layar laptop dan sesekali kilatan petir yang menerangi wajahnya yang tegang. Di depannya, terbuka sebuah folder fisik berwarna cokelat tua yang sudah usang dan berdebu. Folder itu ia temukan secara tidak sengaja dua hari lalu, terselip di belakang rak buku langka di perpustakaan pribadi ayahnya—sebuah tempat yang jarang dikunjungi siapa pun kecuali Pak Wahyu sendiri.
Folder itu bertuliskan dengan tinta merah yang sudah memudar:
"Proyek Tanah Kendal – Ekspansi Wilayah Barat – 2010".
Viona mengetuk pintu pelan sebelum masuk, membawa dua cangkir teh jahe hangat yang mengepul. Ia segera menyadari suasana berat di ruangan itu. Senyumnya pudar, digantikan oleh ekspresi khawatir.
"Kak? Kamu belum tidur?" tanya Viona lembut, meletakkan cangkir di meja kerja Zidan. Matanya jatuh pada folder terbuka itu. "Apa itu?"
Zidan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Ia menatap Viona, lalu kembali menatap dokumen di tangannya. "Vion, kamu ingat Pak Darmo? Kepala sekolah di Bukit Harapan yang sangat bersahabat dengan kita?"
Viona mengangguk, menarik kursi untuk duduk di samping Zidan. "Tentu. Beliau orang yang sangat tulus. Kenapa tiba-tiba membahas beliau?"
"Aku sedang melakukan due diligence mendalam untuk proyek perluasan yayasan ke wilayah Kendal bagian barat. Secara prosedur, aku memeriksa sejarah kepemilikan tanah dan izin lingkungan. Ternyata, lahan tempat SD Negeri 3 berdiri sekarang memiliki masa lalu yang... kelam."
Mata Viona membesar, rasa penasaran bercampur kecemasan mulai merayap di dadanya. "Kelam? Maksudmu bagaimana?"
"Sepuluh tahun lalu, area itu adalah lahan sengketa panas antara perusahaan konstruksi milik Paman Hendra—adik Ayah—dan warga setempat," jelas Zidan, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Warga menolak tanahnya dijual karena alasan spiritual; di sana terdapat makam leluhur desa yang dianggap sakral. Namun, proyek pembangunan gudang logistik tetap dipaksakan berjalan. Dan yang aneh, kasus itu ditutup dengan sangat cepat. Tidak ada liputan media, tidak ada demonstrasi besar-besaran, tidak ada gugatan kelas aksi. Seolah-olah warga tiba-tiba menerima ganti rugi fantastis dan memilih untuk diam seribu bahasa."
Zidan membuka salah satu lembar dokumen di dalam folder. Itu adalah salinan surat perjanjian hitam di atas putih yang ditandatangani oleh perwakilan warga desa. Tanda tangannya terlihat ragu-ragu, bahkan ada noda yang mirip tetesan air mata atau keringat di atas kertas. Namun, yang membuat darah Zidan membeku bukan tanda tangan warga, melainkan nama saksi materi di bagian bawah dokumen: Budi Santoso.
"Budi Santoso..." gumam Viona, alisnya berkerut mencoba mengingat. "Nama itu terdengar sangat familiar. Bukankah dia..."
"Dia adalah mantan Kepala Keamanan Internal Keluarga Ardhana yang dipecat lima tahun lalu karena dugaan penggelapan dana operasional dan penyalahgunaan wewenang," potong Zidan cepat. Matanya menyipit tajam. "Dan menurut catatan sumber daya manusia yang masih bisa aku akses, setelah dipecat, Budi Santoso tidak menganggur. Dia langsung direkrut sebagai konsultan keamanan senior untuk... PT Bayu Hitam."
Viona terkejut, tangannya secara refleks menutup mulutnya. "PT Bayu Hitam? Perusahaan rival utama Ayah di sektor properti dan infrastruktur? Perusahaan yang dipimpin oleh Tuan Wijaya, pria yang selalu kalah tender dari Ayah?"
Zidan mengangguk lambat, tatapannya semakin dingin dan waspada. "Tuan Wijaya selalu ingin mengambil alih Ardhan Group dengan cara apa pun. Dia dikenal licik dan tidak segan menggunakan metode kotor. Jika dia memiliki bukti bahwa tanah sengketa itu diperoleh dengan cara pemaksaan, penipuan, atau bahkan kekerasan... itu bisa menjadi senjata mematikan. Bukan hanya untuk menjatuhkan reputasi Paman Hendra, tapi juga mencoreng nama Ayah sebagai pemimpin yang membiarkan hal itu terjadi. Dan secara otomatis, itu akan menghancurkan kredibilitas kita."
Tiba-tiba, keheningan malam pecah oleh deringan ponsel Zidan yang nyaring. Nama "Paman Hendra" berkedip-kedip di layar, kontras dengan kegelapan ruangan.
Zidan dan Viona saling berpandang. Jantung mereka berdegup serempak. Paman Hendra jarang menghubungi Zidan secara pribadi, apalagi di jam larut malam seperti ini. Hubungan mereka selama ini selalu formal dan dingin, dipenuhi persaingan bisnis terselubung.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Zidan mengangkat telepon dan mengaktifkan mode speaker.
"Selamat malam, Paman," sapa Zidan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan profesional.
"Zidan, Nak. Maaf mengganggu malam-malam begini. Kamu sedang sibuk?" Suara Paman Hendra terdengar berat, parau, dan ada nada kecemasan yang sangat tidak wajar bagi seorang pria yang biasanya arogan.
"Tidak, Paman. Ada apa gerangan? Apakah ada masalah dengan divisi konstruksi?"
"Aku mendengar kabar bahwa kamu dan Viona sedang gencar-gencarnya melakukan kegiatan sosial di Kendal. Khususnya di daerah perbukitan, dekat dengan lokasi proyek lama kami."
"Benar, Paman. Itu bagian dari program transparansi Yayasan Cahaya Hati. Masyarakat merespons sangat positif."
Hening mencekam terjadi di ujung sana. Terdengar suara napas berat, seperti seseorang yang sedang menahan panik.
"Dengarkan aku baik-baik, Zidan. Hentikan itu. Segera. Tarik tim kalian dari sana."
Zidan mengerutkan kening, kebingungan bercampur curiga. "Mengapa, Paman? Program itu sukses besar. Ini justru meningkatkan citra perusahaan. Mengapa harus dihentikan?"
"Kamu tidak mengerti! Daerah itu... itu bukan sekadar tanah biasa, Zidan! Itu tanah kutukan! Jangan kau gali masa lalu di sana. Jika kau terus berada di sana, kau akan menemukan hal-hal yang seharusnya tetap terkubur rapat-rapat. Hal-hal yang bisa menghancurkan seluruh fondasi keluarga Ardhana yang sudah dibangun selama tiga dekade."
Suara Paman Hendra terdengar semakin panik, hampir seperti memohon, sesuatu yang belum pernah Zidan dengar sebelumnya.
"Paman, apa yang sebenarnya Paman sembunyikan? Apakah ada korban jiwa? Apakah ada suap?" tanya Zidan tegas, nadanya mulai meninggi.
"Aku tidak bisa bicara di telepon! Saluran ini mungkin tidak aman. Temui aku besok pagi pukul tujuh di Klub Golf Candi. Datanglah sendirian. Jangan bawa Viona. Dan jangan bilang siapa-siapa, termasuk Ayahmu. Jika kau peduli pada keselamatan keluarga ini, lakukan apa kataku."
Telepon langsung diputus tanpa memberi kesempatan Zidan untuk bertanya lebih lanjut.
Ruangan kembali hening, hanya tersisa suara hujan yang menghantam kaca jendela. Zidan menatap layar ponselnya yang mati dengan tatapan kosong namun penuh perhitungan. Viona tampak pucat, matanya berkaca-kaca karena ketakutan.
"Kak... apa yang Paman maksud dengan 'tanah kutukan'? Apakah ini jebakan?" tanya Viona, suaranya bergetar hebat. Ia meraih tangan Zidan, mencari kehangatan di tengah dinginnya kabar tersebut.
Zidan membalas genggaman Viona erat-erat. "Aku tidak tahu, Vion. Tapi instingku mengatakan, Paman Hendra benar-benar ketakutan. Dan ketika seseorang sekuat dan sekejam Paman Hendra merasa takut, berarti bahaya yang menghadang itu nyata dan sangat besar."
Viona menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Kita harus berhati-hati. Mungkin Tuan Wijaya sudah tahu bahwa kita menyelidiki hal ini. Mungkin ini perangkap untuk memancing kita keluar dari zona aman."
Zidan mengangguk setuju. Matanya menatap ke luar jendela yang gelap gulita, di mana kilatan petir sesekali menerangi langit seperti tanda peringatan.
"Besok pagi, aku akan menemui Paman Hendra. Tapi aku tidak akan ceroboh. Aku akan meminta tim keamanan swasta independen—bukan milik perusahaan—untuk memantau area klub golf dari jarak jauh. Dan kamu..." Zidan menatap Viona dalam-dalam, ekspresinya serius dan protektif. "Kamu harus tetap waspada tingkat tinggi. Jangan keluar rumah tanpa pengawal pribadi. Jika ada orang asing yang mencoba menghubungimu, terutama jika mereka menyebutkan nama Budi Santoso, PT Bayu Hitam, atau proyek tahun 2010, jangan jawab. Langsung blokir dan hubungi aku atau Ayah segera."
Viona mengangguk patuh, meski rasa cemas mencengkeram dadanya begitu kuat hingga sulit bernapas. Ia merasa seolah-olah mereka baru saja membuka kotak Pandora. Kebahagiaan dan kebebasan yang baru saja mereka raih terasa rapuh, diguncang oleh angin dingin misteri masa lalu yang berbau darah dan pengkhianatan.
"Malam ini, tidurlah dengan lampu kamar menyala, Vion," bisik Zidan, mencium kening Viona dengan kelembutan yang kontras dengan ketegangan situasinya. "Badai belum reda. Ia hanya berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih berbahaya."
Di luar, hujan semakin deras, seolah-olah alam sedang berusaha membersihkan dosa-dosa lama yang tersimpan rapi di balik kemewahan dan kekuasaan keluarga Ardhana. Dan di suatu tempat di kota yang sama, di sebuah kantor mewah yang gelap, seorang pria paruh baya dengan mata dingin sedang menatap foto Zidan dan Viona yang dipajang di sampul majalah bisnis terbaru. Ia tersenyum tipis, senyuman yang jahat dan penuh kemenangan.
"Mainkan lah permainanmu, Zidan," gumam pria itu, suaranya serak seperti gesekan batu. "Gali lah tanah itu. Karena setiap langkah yang kau ambil akan membawamu lebih dekat ke jurang. Dan harga dari kebenaran kalian... sangat mahal."
Pria itu menekan tombol intercom di mejanya dengan jari telunjuk yang panjang.
"Siapkan dokumen asli sengketa tanah Kendal dan rekaman video kejadian malam itu. Kita akan gunakan kartu as itu saat waktu yang tepat tiba. Biarkan mereka merasa aman sebentar lagi."