"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Terakhir
"Lin, besok saja. Kondisimu belum pulih betul." Cegah Ummi Hannah saat Alina tetap bersikukuh untuk pergi ke rumah Leon.
Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Mendung tebal bahkan kini merajai langit yang yang menggelap tanpa bintang. Namun, perempuan itu tetap bersikukuh meski dokter telah mewanti-wanti agar ia tidak meninggalkan bangsal.
"Jika Al hanya memikirkan diri Al sendiri, lalu bagaimana dengan Marsha, Teh?" Alina menatap perempuan itu dengan sorot penuh putus asa. "Marsha tidak punya banyak waktu lagi. Al harus pergi sekarang." Kekeh nya.
Ia mengalihkan pandang pada sang putri yang kini terbaring di atas ranjangnya dengan berbagai selang medis yang menempel pada tubuh kecilnya.
Rasanya, hati itu teriris luar biasa.
Bagaimana bisa gadis kecil yang biasanya ceria, kini hanya bisa terbaring dengan kondisi tak berdaya.
Nyawanya terancam.
Dokter bahkan kini sudah menyerah dengan tindakan kemoterapi.
Tapi Alina tidak mau menyerah.
Tidak. Ia tidak bisa menyerah.
Jalan satu-satunya saat ini hanya mendatangi laki-laki itu, memohon padanya untuk meminta pertolongan agar mau menyelamatkan sang putri.
Persetan jika laki-laki itu akan memaki. Atau mengusirnya layaknya pengemis tak tahu diri. Alina tidak perduli.
Yang ingin ia lakukan saat ini hanya berjuang untuk sang putri. Sampai Tuhan berkata, sudah, Waktumu sudah usai. Lepaskan putrimu.
"Iya, teteh paham. Tapi kamu sekarang juga sedang hamil, Lin. Teteh takut nanti ada apa-apa sama kalian."
Wajah itu menunduk, menatap sendu pada perutnya yang kini bersemayam sang calon buah hati. Ia usap perut itu lembut, penuh sayang. Meski laki-laki itu menolak, bahkan meminta ia menggugurkannya. Namun Alina bersikukuh, ia akan tetap berusaha menjaganya.
"Alina akan jaga diri, Teh."
Ummi Hannah menghela nafas dalam. "Baiklah. Tapi kamu harus janji, kamu tidak akan lagi melakukan hal-hal bodoh seperti kemarin." Pintanya, penuh permohonan.
"Iya, Teh. Al pergi dulu."
Deru motor itu perlahan membelah kesunyian malam. Jalanan tampak lengang. Hawa dingin seketika menusuk tulang, membuat tubuh itu kian menggigil hebat.
Keadaan semakin memburuk saat hujan kini tiba-tiba menghujamnya cepat.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi mereka akan sampai.
Membuat Alina urung menepi meski sekedar untuk memakai jas hujan. Ia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Di sana, Marsha sedang menunggunya.
Ia tidak bisa berhenti begitu saja.
"Pak, Tuan Leon nya ada?" Alina berseru dengan bibir yang gemetar menahan dingin.
Petugas keamanan itu menatap Alina penuh selidik. "Dengan siapa, Mba?"
"Alina." Ucapnya, lirih.
"Saya laporkan dulu ke dalam."
Alina menunggu di balik pagar besi itu dengan jantung berdebar hebat. Jemari itu saling mencengkeram, tak tenang. Jika... jika nanti Leon sampai menolak permintaannya, atau bahkan langsung mengusirnya saat itu juga, maka Alina tak tahu lagi harus kemana.
"Silahkan masuk, mba. Tuan ada di dalam."
Alina terkejut luar biasa saat petugas keamanan itu akhirnya mempersilahkannya masuk.
Ia tidak sedang bermimpi bukan? Laki-laki yang kini membencinya itu benar-benar mempersilahkannya masuk, kan?
"Beneran, pak?" Tanya Alina, memastikan. Wajahnya yang sebelumnya pias, kini tampak berbinar penuh harapan.
"Iya, ini saya pinjami payung." Serunya, menatap iba pada Alina yang kini basah kuyup. Rambutnya tampak lepek, tubuhnya bahkan terlihat menggigil menahan dingin.
Alina meraihnya. "Terimakasih, pak."
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Alina perlahan memasuki pelataran rumah mewah itu.
Lumayan jauh, namun hal itu tak sedikitpun menyurutkan langkahnya.
Tok tok tok.
Ia ketuk pintu rumah itu dengan ragu. Sampai akhirnya seorang pelayan kini membukanya. "Silahkan masuk, non."
Alina menunduk, menatap pada penampilannya yang kini basah kuyup. "Tapi... apa tidak apa-apa? Saya akan mengotori lantainya?"
Pelayan itu menggeleng dengan seulas senyum yang terbit dari bibirnya. "Tidak apa-apa. Silahkan masuk."
Mengusir segala keraguannya, Alina perlahan masuk lebih dalam. Manik mata itu menelisik ke sekeliling, mencari keberadaan laki-laki yang kini menjadi satu-satunya harapannya.
"Tuan ada di ruang kerjanya, non. Mari, saya antar."
Alina mengangguk paham. Dengan tubuh yang masih basah kuyup, ia perlahan mengikuti langkah itu meniti satu per satu tanggan menuju lantai dua. Meninggalkan jejak air yang menggenang di lantai.
Tok tok tok.
Pelayan itu mengetuk pintu itu sebentar sebelum akhirnya membukakannya. "Silahkan, non."
Dengan jantung berdebar hebat, Alina perlahan memasuki ruangan itu.
Terlihat disana sosok itu tengah berdiri membelakanginya, menghadap pada jendela kaca.
"Mas... ."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong Chingu
Maap ta ngilang bentar hehe
Abis liburan nih, pamer dikit, hehe
Othor usahakan up lagi nanti ya
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar