Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapangan Tanah Merah dan Detak Arloji yang Lambat
Matahari hari Rabu pagi di atas SMA Internasional Garuda Bangsa bersinar terik, memantulkan kilau menyengat pada permukaan lapangan atletik beralas tartan merah bata. Angin berembus malas, membawa aroma rumput basah yang dipotong rapi dan semerbak wangi kolonye mahal. Bagi murid-murid kelas X-A, jam pertama hari ini adalah ujian sesungguhnya untuk topeng yang mereka kenakan. Pelajaran olahraga bukan sekadar gerak badan; di tempat ini, setiap ayunan lengan, ritme napas, dan koordinasi motorik adalah bahasa tubuh yang paling jujur. Bagi para predator dunia bawah, menyembunyikan refleks yang sudah terlatih sejak kecil adalah siksaan tersendiri.
"Semuanya berkumpul! Hari ini kita ambil nilai tes kebugaran jasmani," seru Pak bobby, guru olahraga berbadan tegap dengan peluit perak yang menggantung di lehernya. "Lari sprint enam puluh meter, lalu dilanjutkan dengan shuttle run. Bapak mau lihat sampai di mana fisik anak-anak manja Garuda Bangsa tahun ini!"
Di barisan tengah, Azrint Breynerlanz berdiri dengan postur tubuh setinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter yang tegak sempurna bagai model papan atas. Seragam olahraga kaos putih dengan celana trenis marun melekat pas di tubuh idealnya. Kulit seputih perinya mulai memancarkan kilau keringat tipis di bawah terik matahari. Jemari lentiknya yang dipulas warna merah marun pekat bergerak tak sabar, mengetuk-ngetuk paha luarnya dalam ritme yang monoton.
"Aduh, Azrint, panas banget ya," keluh Nadine di sebelahnya, sibuk mengipasi wajahnya dengan selembar brosur sekolah. "Kulit aku bisa gosong nih kalau kelamaan di tengah lapangan kayak gini."
"Kalau takut panas, kenapa gak minta izin ke ruang UKS saja, Nadine?" jawab Azrint dengan nada manjanya yang berjarak. Matanya yang sewarna karamel tua melirik acuh tak acuh, namun sudut pandangnya mendadak terkunci pada perimeter pagar pembatas lapangan.
Di atas deretan motor sport hitam metalik yang terparkir rapi di bawah pohon peneduh tepi lapangan, Gava Ernando duduk tegak dengan jaket kulit hitam berlogo tengkorak besi yang sengaja dibuka setengah kancingnya. Helm full-face-nya digantung di setang motor, menampilkan garis rahang kaku dan sepasang mata elang yang liar. Di sekelilingnya, Bimo dan beberapa anggota inti The Iron Phantoms bersandar malas, berpura-pura mengawasi area parkir padahal pandangan mereka terpusat penuh pada kelas X-A.
"Bos, peri kecil lo kelihatan mencolok banget di tengah lapangan," bisik Bimo sembari menyikut lengan tegap Gava. "Kulitnya putih banget, mirip boneka porselen berjalan."
Gava tidak menyahut. Jemarinya yang dipenuhi jajaran cincin perak kaku bergerak menghidupkan korek api gas, menyalakan sebatang rokok dengan gerakan malas namun dominan. Tatapan matanya lurus, tajam, menguliti setiap gerak-gerik Azrint dari jarak lima puluh meter. "Dia bukan boneka, Bimo. Dia singa betina yang pura-pura jadi rusa manis," gumam Gava dengan suara baritonnya yang serak rendah. Segaris senyuman sinis muncul di sudut bibirnya yang kaku saat melihat Azrint membuang muka dengan keanggunan seorang ratu kecil ketika menyadari kehadirannya.
Sementara itu, di lajur lari pertama, Eriza Tryanaz berdiri mematung dengan pandangan lurus ke depan. Tinggi tubuhnya seratus enam puluh delapan sentimeter tampak proporsional, namun dia sengaja membungkukkan pundaknya sedikit sebuah teknik penyamaran instan untuk mengurangi kesan intimidasi fisik. Rambut hitam panjangnya yang biasa terurai kini dikuncir kuda, mempertegas wajah polos jernihnya yang bersih dari riasan.
Prit!
Peluit Pak Bobby berbunyi nyaring. Jalur pertama yang diisi oleh siswi-siswi umum mulai berlari. Eriza membiarkan dirinya berada di posisi tengah, mengayunkan kakinya dengan ritme yang sengaja dibuat canggung dan agak terengah-engah, padahal jantungnya berdetak dengan ritme yang sangat lambat tanda dari seorang eksekutor yang mampu mengendalikan pasokan oksigen dalam kondisi ekstrem.
"Bagus, kalian semua cukup baik! Sekarang jalur kedua, bersiap!" teriak Pak Bobby, menunjuk ke arah Fyrline Zyornaland, Aleyna Rossalind, Camellia Putri, dan Miya Fynezayn.
Miya melangkah ke garis start dengan keangkuhan murni faksi mafia tingkat tinggi. Sanggul rambut pirangnya yang sedikit ikal berayun lembut, dan rahang tegasnya mengetat dingin saat melirik ke arah siswi-siswi lain yang menatapnya penuh selidik. "Don't touch my lane," desis Miya dengan logat asingnya yang kental saat seorang siswi borjuis mencoba berdiri terlalu dekat dengannya.
Di sebelah Miya, Aleyna Rossalind menyeringai sinis. Gaya penampilan tegasnya terlihat dari kancing atas kaos olahraga yang sengaja dibuka, memperlihatkan kalung rantai tipis yang berkilat diterpa cahaya matahari sore. Sifatnya yang ketus dan tidak suka basa-basi membuatnya langsung memasang posisi start jongkok yang terlalu sempurna untuk ukuran anak sekolahan umum.
"Jangan pamer kemampuan di sini, El," bisik Camellia Putri yang berdiri di jalur paling ujung. Wajah imut (baby face)-nya tampak sangat polos, namun jemarinya yang terbalut kain kasa baru akibat perkelahian jalanan semalam diam-diam menekan tombol di pergelangan tangan, memantau pergerakan data siber sekolah lewat jam tangan pintarnya yang sudah dimodifikasi.
Fyrline Zyornaland tidak bersuara. Pembawaannya teramat efisien, bergerak tanpa suara di lajur tengah. Pandangan matanya yang tajam menganalisis jarak lintasan dengan kalkulasi matematis murni. Bagi seorang pembunuh profesional dari sindikat "Senja", lari enam puluh meter hanyalah masalah waktu kurang dari delapan detik jika dia menggunakan kekuatan penuh—namun hari ini, dia harus memastikan catatan waktunya berada di angka rata-rata: sebelas koma dua detik. Tidak kurang, tidak lebih.
Prit!
Lintasan kedua melesat. Aleyna memimpin di depan dengan keliaran yang murni, namun sengaja memperlambat langkahnya di lima meter terakhir untuk membiarkan Miya menyusul. Camellia berpura-pura hampir tersandung di pertengahan jalur, mengeluarkan pekikan imut buatan yang memancing tawa beberapa siswa senior di tepi lapangan, sementara Fyrline menyentuh garis finis tepat di detik kesebelas sesuai kalkulasinya.
Dari lantai dua gedung perpustakaan sekolah yang dibatasi oleh dinding kaca gelap pekat, sesosok pemuda bermata tajam sedang berdiri mematung. Arza Dirwantalla. Siswa paling jenius di SMA Garuda Bangsa itu mengenakan setelan jas sekolah formal yang teramat rapi tanpa ada satu pun lipatan yang salah. Di hadapannya, sebuah laptop komputer jinjing berspesifikasi militer menyala, menampilkan rekaman video gerak lambat dari lintasan lari di bawah sana.
"Menarik," gumam Arza sangat lirih, nadanya terdengar tenang namun dingin.
Jemari Arza bergerak taktis di atas papan tik, memperbesar tangkapan gambar pada kaki Eriza Tryanaz saat melakukan start lari tadi. Melalui analisis biomekanika digital yang dia kembangkan sendiri, Arza bisa melihat dengan jelas bahwa setiap tumpuan berat tubuh Eriza memiliki tingkat presisi keseimbangan yang tidak masuk akal untuk seorang gadis remaja umum. Sudut kemiringan tubuh Eriza saat berlari persis seperti sudut seorang prajurit taktis yang bersiap mencabut senjata dalam waktu nol koma tiga detik.
"Topengmu terlalu tipis, Eriza," bisik Arza dengan segaris senyuman tipis yang sarat akan intrik analisis di sudut bibirnya yang kaku. "Kau bisa menipu seluruh guru dan murid di sekolah ini dengan akting lugu dan status beasiswamu. Tapi di mataku... kau adalah eksekutor senyap yang sedang mencari mangsa."
Arza menutup laptopnya dengan satu dentingan pelan, lalu menyampirkan ransel hitamnya ke pundak. Langkah kakinya yang konstan membawa tubuh tegapnya keluar dari ruang perpustakaan yang sunyi, bergerak menuju area lapangan terbuka untuk memulai permainan pikiran (mind games) pertamanya dengan sang target analisis.