NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Menghuni penjara kelas kakap bukanlah hal tersulit bagi Marysa. Yang benar-benar menghancurkannya adalah kenyataan bahwa pria yang memborgol tangannya adalah Herry, cinta masa lalunya yang kini menjabat sebagai kapten polisi dan ironisnya, Herry sama sekali tidak mengingatnya. dan bahkan terdengar jika Herry akan segera menikah.

​Memilih mati daripada terus tersiksa oleh ingatan, sang Ratu Mafia mengatur pelarian besar dari Negara aslinya Korea menuju ke negara tropis, Indonesia. Rambut panjangnya dipangkas pendek, kemewahannya ditanggalkan, dan kini ia menyamar sebagai Tania, seorang tukang sapu jalanan yang tak kasatmata.

​Namun, kedamaian barunya terusik ketika jalanan mempertemukannya dengan Rangga. Pria playboy yang terbiasa berganti-ganti Wanita itu mendadak penasaran setengah mati pada sosok Tania, yang dingin.

Akankah samaran Marysa terbongkar saat seorang playboy itu mulai tulus mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Bertemu Herry

...

Matahari merayap semakin tinggi, menyebarkan hawa gerah yang membakar aspal di sepanjang koridor luar alun-alun kota. Debu-debu jalanan beterbangan, berkumpul bersama kepulan asap knalpot yang pekat. Di bawah sengatan cuaca tropis itu, para pekerja kebersihan kembali mengayunkan sapu lidi mereka secara mekanis.

Namun, ada yang sangat aneh dengan Rangga hari ini.

Pria jangkung itu tampak jauh lebih bersemangat daripada biasanya. Energi yang meluap-luap terpancar dari setiap gerakan tubuhnya. Dengan suara khasnya, dia berulang kali menawarkan bantuan kepada Tania. Setiap kali Tania hendak mengangkat keranjang sampah plastik yang berat dan penuh sampah sampah dedaunan. Rangga dengan sigap langsung menyambarnya.

"Biar aku saja, Neng! Kamu bagian yang ringan-ringan saja, ndak usah angkat yang berat begini, nanti encok," seru Rangga sambil meringis lebar, memamerkan barisan giginya yang rapi. Semangatnya benar-benar berada di level seratus persen, dipicu oleh sisa memori fajar tadi di kamar rumah sakit.

Saat jam istirahat tiba, Rangga bahkan dengan sukarela berlari kecil menuju deretan warung tenda di seberang jalan. Tidak tanggung-tanggung, kali ini dia membelikan makanan tidak hanya untuk dirinya dan Tania, melainkan juga untuk Bu Yuni. Tiga bungkus nasi uduk hangat dengan lauk semur tahu dan telur dadar kini berpindah tangan.

Mereka bertiga akhirnya duduk melingkar di atas rerumputum kering di bawah naungan pohon peneduh jalan yang rindang. Suasana makan siang itu diwarnai oleh tawa renyah Bu Yuni yang sesekali menggoda Rangga karena sikapnya yang mendadak menjadi sangat penurut dan manis di depan Tania. Tania sendiri menerima bungkusan makanan itu tanpa gengsi, memakannya dengan tenang khas dirinya.

Namun, ketenangan di bawah pohon itu tidak bertahan lama. Riuh rendah dari arah tengah alun-alun kembali terdengar, bahkan jauh lebih ramai dibandingkan pagi hari sebelumnya.

Dari sela-sela kunyahannya, telinga tajam Tania menangkap bisik-bisik dari beberapa warga yang berjalan melintas di trotoar depan mereka. "Eh, liat deh ke sana! Itu di depan gedung serbaguna ada cowok sama cewek asing, cakep banget kayak artis Korea yang di TV! Katanya pejabat atau polisi penting dari luar negeri."

Mendengar frasa 'polisi penting dari luar negeri', gerakan mengunyah Tania mendadak melambat. Sesuatu di dalam insting mafianya sebuah alarm bahaya yang telah terkubur berhari-hari mendadak bergetar halus. Tania meremas kertas nasi yang didalamnya sudah kosong dengan cepat. Dia bangkit berdiri, lalu menoleh kaku ke arah Bu Yuni.

"Bu... saya izin ke sana sebentar. Ingin melihat keramaian," ucap Tania, suaranya terdengar datar namun ada sedikit nada mendesak yang tersembunyi.

"Oh, iya, Neng. santai-santai. Masih ada beberapa menit jam istirahat." sahut Bu Yuni ramah. Sementara Rangga hanya menatap kepergian Tania dengan pandangan mata sipitnya yang bingung, namun dia memilih untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu.

Tania melangkah membelah rerumputan alun-alun, mendekati pusat kerumunan yang semakin memadat di depan tangga gedung kolonial. Suasana di sana sangat kacau dan bising. Ratusan warga lokal berbondong-bondong merangsek maju, menciptakan dinding manusia yang tebal.

Untuk bisa mencapai barisan paling depan, tubuh ramping Tania terdorong-dorong ke kanan dan ke kiri oleh ego massa yang saling sikut. Bau keringat dan hawa panas manusia mengimpit udara. Dibutuhkan seluruh sisa kesabaran dan ketahanan fisiknya sebagai Ratu Mafia untuk tetap melangkah maju, menyelinap di antara celah-celah lengan orang-orang tanpa memicu keributan.

Sesampainya di barisan paling depan, tepat di balik garis pembatas steril yang dijaga ketat, langkah kaki Tania mendadak lumpuh total.

Plak.

Kantong plastik putih berisi bungkus sisa makannya yang tadi dipegang erat, mendadak terlepas dari genggaman jemarinya yang mendadak lemas. Bungkusan itu jatuh seketika ke atas tanah, terinjak oleh kaki orang lain yang tidak peduli.

Di balik masker kain kumalnya, rahang Tania mengeras. Sepasang mata kelamnya membelalak lebar, menatap lurus ke arah tiga sosok manusia yang baru saja melangkah keluar dari pintu kaca besar gedung serbaguna.

Di sana, di bawah kilatan lampu kilat dan sorotan kamera ponsel warga yang antusias mengabadikan momen, berdiri Wanita yang anggun menggandeng lengan seorang pria berjas hitam formal yang potongannya sangat sempurna. Pria dengan rahang tegas, tatapan mata yang beku, dan aura otoritas yang mutlak menyeramkan.

Itu Herry. Kapten Herry dari Badan Kepolisian Metropolitan Seoul. Pria yang telah mengurungnya di sel isolasi, pria yang memburunya melintasi perbatasan maritim, dan pria yang memegang separuh dari benang takdir masa lalunya yang kelam.

Tania merasakan darahnya mendadak membeku di dalam pembuluh alirannya. Jiwa Marysa di dalam dirinya meneriakkan alarm bahaya tingkat tinggi. Dia harus pergi sekarang juga. Dia harus bersembunyi kembali ke dalam bayang-bayang sebelum pria itu menyadari kehadirannya. Tania dengan cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, membetulkan posisi maskernya, dan bersiap membalikkan tubuh untuk mundur ke dalam kerumunan.

Namun, nasib buruk tidak pernah datang dengan permisi.

Tepat ketika Tania memutar tubuhnya setengah lingkaran, gelombang massa dari arah belakang mendadak merangsek maju dengan anarkis karena ingin melihat Jessica dari dekat. Seseorang bertubuh besar mendorong pundak Tania dari belakang dengan sangat keras.

Karena posisinya yang tidak siap dan tumpuan kakinya yang goyah di atas pembatas rumput, tubuh Tania terdorong maju dengan kencang, menembus barisan steril penjagaan. Dia kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan jatuh tersungkur di atas lantai marmer lobi luar.

Bruk.

Kedua lutut dan telapak tangan Tania menghantam lantai yang dingin. Dan saat dia mendongakkan wajahnya yang tertutup debu tipis, yang dia temukan di depan matanya adalah sepasang sepatu pantofel kulit hitam yang mengkilap, tepat beberapa sentimeter dari posisinya jatuh.

Pria yang berdiri di atas sepatu itu tidak lain adalah Herry.

Langkah kaki rombongan VIP itu terhenti seketika. Para petugas protokoler dan polisi lokal langsung tegang, bersiap menarik senjata mereka karena mengira ada upaya penyerangan. Namun, demi menjaga citra dan imej diplomatik di hadapan ratusan kamera warga serta di depan tunangannya, Herry mengangkat satu tangannya, memberikan isyarat agar bawahannya mundur.

Dengan gerakan yang sangat elegan dan dingin, Herry merendahkan tubuh tegapnya. Dia mengulurkan tangannya yang terbalut jam tangan perak mahal, memegang lengan atas Tania untuk membantunya berdiri dari lantai.

Begitu telapak tangan Herry menyentuh kain seragam oranye yang membungkus lengan Tania, sebuah getaran aneh yang sangat dahsyat menghantam dada sang kapten polisi. Ada sengatan listrik tak kasat mata yang seolah merobek seluruh lapisan kesadarannya. Sensasi yang begitu familiar, begitu gelap, dan dipenuhi oleh kepedihan emosional yang mendalam.

Tania pun merasakan hal yang sama. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memicu adrenalin yang hampir meledak di dalam rongga dadanya.

Saat tubuh Tania sudah berdiri tegak, mereka berdua saling tatap-tatapan selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat. Tania menatap lurus ke dalam manik mata pria yang paling dia takuti sekaligus dia benci itu. Namun, di dalam sepasang mata jelaga Herry, Tania tidak menemukan kilat kemarahan atau ketajaman seorang pemburu.

Yang Tania temukan di sana... adalah sebuah tatapan kosong. Pandangan mata seorang pria yang jiwanya tersesat di dalam labirin kegelapan, dilingkupi keresahan mendalam yang menolak untuk berdamai dengan kenyataan. Herry menatap mata sipit di balik masker kumal itu dengan dahi yang sedikit mengernyit, seolah sedang melihat sepotong bayangan hantu dari masa lalunya, namun otaknya menolak untuk mempercayainya.

"Kapten Herry? Ada apa? Ayo jalan, di sini terlalu berisik," suara ketus Jessica dari arah samping memecah keheningan magis tersebut. Jessica menatap tajam ke arah wanita berpakaian oranye di depan mereka dengan pandangan jijik yang amat sangat.

Suara itu menyentak kesadaran para polisi lokal. "Ayo, tertibkan warga! Mundur, mundur!"

Dua orang petugas kepolisian lokal segera merangsek maju, mengambil alih tubuh Tania dengan memegang kedua pundaknya, lalu menariknya kembali ke belakang dengan kasar agar tidak menghalangi jalur berjalan Herry dan Jessica. Tania tidak melawan, dia membiarkan dirinya diseret mundur, kembali menenggelamkan sosoknya di antara ratusan kepala manusia yang riuh.

Herry tetap berdiri kaku di tempatnya selama satu detik, menatap telapak tangan kanannya yang baru saja menyentuh baju wanita kebersihan itu dengan tatapan yang semakin kosong dan bingung. Rahangnya mengeras, menahan badai emosi dingin yang bergejolak hebat di dalam dadanya.

Sementara itu, jauh di bagian belakang kerumunan yang bising, Rangga berdiri mematung di samping sebuah tiang lampu. Pria jangkung itu terdiam seribu bahasa. Wajahnya yang biasanya dipenuhi senyuman tengil kini tampak sangat datar dan kaku.

Sepasang mata sipit Rangga telah merekam seluruh kejadian itu sejak awal. Dia melihat bagaimana Tania terjatuh, bagaimana pria asing berjas mewah itu menyentuhnya, dan yang paling membuat lubuk hati Rangga terasa nyeri seolah ditusuk belati adalah... dia melihat dengan sangat jelas bagaimana tatapan mata Tania saat menatap pria berjas itu. Itu bukan tatapan ketakutan biasa dari seorang warga miskin, itu adalah tatapan penuh sejarah, penuh luka, dan emosi yang teramat dalam yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh seorang pria jalanan seperti dirinya. Rangga mengepalkan tangannya di dalam saku celana oranyenya, merasakan cemburu mulai membakar kewarasannya.

...

1
falea sezi
kenapa alurnya lambat thor
kikyoooo: Alurnya emang sengaja dibikin slow burn, biar pondasi karakter sama dunia-nya mateng dulu. Nanti pas konflik gede masuk, impact-nya baru kerasa. Sabar ya...


tapi kalau memang ganggu next bikin yang penting penting aja....😌😇😇
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 rangga pasti kepikiran anu nya buat gantiin rokok🤣🤣
falea sezi
🤣🤣 tania oh tania 🤣 lu uda gk di harepin ma cowok. matre itu kapten sombong😒 uda lupain. masih aja. lu. penasaran lu itu g di ingat sekali. lagi jasa lu g di ingat amnesia lah konon tp ma cwek kaya dia nikahin kan bangke
falea sezi
🤣🤣 tania lu cocok ma rangga deh dripada kapten g tau diri yg matre itu🤣
falea sezi
kenapa muter doank sih thor
kikyoooo: mutèr gimana kak? maaf
total 1 replies
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!