Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Belas
Akhir-akhir ini Abimanyu selalu datang mengunjunginya di kamar, menanyakan keadaannya atau mengajaknya berjalan-jalan di taman bunga hanya agar Aruna tidak merasa bosan berdiam diri di kamar terus-menerus. Awalnya Aruna tidak begitu merespon Abi, tapi ia tidak menolak segala bentuk perhatian Abi padanya.
Namun, pria itu tidak protes dan terus mengajaknya mengobrol atau Abi akan menceritakan hari-harinya di Moscow juga teman-temannya di sana. Aruna hanya akan diam mendengarkan atau ia akan mengabaikannya begitu saja.
Keadaan Aruna saat ini bisa di bilang mulai membaik tapi ia masih harus mengkonsumsi bubur setiap hari. Bukan hanya Abi yang rajin mengunjunginya, tapi Ganesha juga datang saat tahu ia sakit. Beberapa kali Ganesha menginap di tempat Aruna karena mencemaskan anak itu. Dengan segala alasan dan upaya keras, Aruna berhasil meyakinkan Ganesha bahwa ia baik-baik saja dan anak itu bisa pulang.
Lalu ia tidak melihat kehadiran Elvio lagi semenjak hari di mana ia pingsan. Sedangkan Alvaro dan Antares, Aruna tidak mempermasalahkan jika mereka mengabaikannya. Justru itu bagus jadi ia tak perlu repot merasa tidak enak nantinya.
Kali ini Aruna tengah terduduk di taman bunga di temani secangkir teh hangat juga cemilan. Suasana sore hari itu begitu indah dan sangat cocok untuk sekedar berjalan-jalan saja. Ia tidak sendirian, ada Abimanyu yang menemaninya sembari membaca buku yang tidak ia pahami isinya karena memakai bahasa asing.
"Tugas kuliah, kak?" tanya Aruna.
Abi mendongak dan tersenyum, "Begitulah."
"Kakak bisa melanjutkan di kamar saja biar fokus."
"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini," ucap Abi tidak terima.
"Aku tidak apa-apa sendirian. Itu bukan hal baru untukku," kekeh Aruna.
Abi mengernyit tak suka mendengar ucapannya, "Aruna bukankah sudah kubilang jangan berkata begitu lagi?"
"Tapi itu kenyataan."
"Aruna.."
Aruna memutar kedua bola matanya malas, "Oke..oke, aku paham."
Abi sendiri menghela nafas dan berdiri, ia sempat mengusak rambut pendeknya pelan, "Kakak akan menaruh buku di kamar dan kembali dengan cepat," kata Abi lalu pergi begitu saja.
Sementara Aruna tidak mengatakan apa pun dan fokus menikmati angin sore yang berhembus. Sejujurnya aneh ketika Abi datang dan mengajaknya berbicara karena Aruna sudah terlanjur di abaikan. Namun, ia merasa tak ada salahnya meladeni pria itu.
Samar-samar Aruna mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya, "Cepat sekali, Kak Abi," ucapnya tanpa melihat ke belakang.
Tak ada respon yang berarti dan membuat kening Aruna mengernyit, ia menoleh ke belakang dan mendapati Antares berdiri di sana dengan canggung.
"Ayah bilang kau sakit," kata Antares pelan. Ia memalingkan wajahnya ke mana saja agar tidak menatap Aruna.
"Lalu?"
Antares mendengus, "Tapi kau nampak baik-baik saja."
Aruna memutar bola matanya malas, "Tuan muda, aku sedang tak ada tenaga untuk meladenimu. Jadi aku akan mengabaikan apa yang kau katakan," balasnya.
"Kau!"
"Ada apa ini? Ares kenapa meneriaki Aruna?" Abi datang dan langsung menginterupsi. Pria itu kembali duduk di tempatnya sembari membawa dua buku baru lainnya.
"Aruna mengabaikanku, kak!" protes Antares.
"Kau pasti melakukan sesuatu, kan?" tebak Abi. Ia sudah terlampau hafal perangai saudara-saudaranya. Ucapan Abi membuat Antares langsung bungkam seribu bahasa.
Abi menggeleng pelan lalu melihat Aruna, "Sebaiknya kau masuk. Tubuhmu belum sehat betul dan kau sudah terlalu lama di luar."
"Sebentar lagi, kak. Aku masih ingin menikmati bunga-bunga di taman."
"Baiklah. Setelah 15 menit, kakak akan memaksamu masuk."
Aruna mengangguk, "Iya, Kak Abi."
Sementara Antares yang di abaikan sedari tadi menatap marah dengan kedua tangan mengepal. Kemudian anak itu berbalik dan pergi begitu saja. Abi melihatnya tapi ia tak berencana untuk menghentikan.
"Ares masih menjahilimu? Terakhir kali aku dengar kau tenggelam karena ulahnya," ucap Abi mencoba memastikan.
"Ya, tapi aku sudah terbiasa dengan semua kejahilannya jadi tak masalah," tawa pelan Aruna terdengar lagi.
"Tetap saja ia keterlaluan, Aruna," kata Abi.
"Kalau kak Abi mencemaskanku, seharusnya kak Abi pulang lebih awal. Iya, kan?"
Abi terdiam.
Ia tak mampu membalas ucapan Aruna karena apa yang anak itu ucapkan benar adanya. Abi memang mencemaskan Aruna tapi ia tidak kembali pulang ketika anak itu membutuhkan sosok pelindung seperti Abi.
"Maaf," ucap Abi pelan.
Hening sejenak sebelum Aruna kembali membuka pembicaraan.
"Kapan kakak kembali ke Moscow?"
"Kenapa? Kau ingin aku cepat-cepat pergi?"
Aruna mendengus, "Aku hanya bertanya."
"Aku takkan kembali ke sana," kata Abi kemudian.
Gerakan tangan Aruna yang akan meraih cangkir tehnya berhenti, ia mendongak dan menatap Abi bingung.
"Kenapa?"
"Aku pindah ke sini. Aku sudah mengurus berkas-berkas kepindahanku ke salah satu Universitas terkenal dan akan mulai masuk besok," jelas Abi.
Pindah?
Kenapa?
Bukankah Abi akan menyelesaikan kuliahnya di Moscow dan menetap di sana? Itu yang seharusnya terjadi di masa depan. Kenapa tiba-tiba berubah?
"Hah?"
Abimanyu tersenyum kecil sembari menongkat dagunya di atas meja, "Mana bisa aku meninggalkan adikku yang menggemaskan ini sendirian? Lagipula kau akan kesepian tanpa aku," kekehnya.
"Oh, wow. Kenarsisan anda perlu di acungi dua jempol," Aruna berucap sarkas.
Hal itu membuat Abi tertawa terbahak-bahak. Memang menyenangkan sekali menggoda Aruna begini.
"Nah, sudah 15 menit. Ayo masuk," kata Abi. Ia berdiri dan membantu Aruna berdiri juga dari kursinya sembari mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh anak itu. Namun, Aruna mengernyit dan menatap Abi bingung.
"Apa?"
"Aku takut kau jatuh," kata Abi.
"Kakiku tidak patah dan sehat, kak. Jadi, aku takkan jatuh semudah itu," tutur Aruna datar dan berjalan begitu saja mengabaikan uluran tangan Abi. Pria itu tidak merasa tersinggung dengan perlakuan Aruna. Ia sadar Aruna bersikap begini karena ulah dan kelalaiannya juga sebagai kakak. Setelah Aaira meninggal, Abi tak bisa berfikir dengan jernih, ia bahkan kerap kali bermimpi buruk dan kembali membuatnya tak bisa tidur.
Ketika Aruna diadopis, Abi seperti melihat sosok Aaira hidup kembali di tubuh anak itu. Ia takut kejadian yang sama terulang lagi, maka Abi memutuskan pergi ke Moscow untuk melanjutkan studinya.
Seharusnya begitu.
Namun, semua berubah.
Perlahan-lahan Aruna bisa merasakan beberapa hal yang berubah karena ia memutar kembali waktunya. Elvio menjadi cemas padanya, begitu pun dengan Alvaro, sedangkan Antares sudah tidak menjahilinya lagi seperti dulu.
Bukankah perubahan mereka terlalu esktrim?
Aruna sudah terbiasa di abaikan, rasanya aneh ketika orang-orang yang mengabaikannya dulu kini berbalik menjadi perhatian padanya. Bahkan mereka melakuan sesuatu yang tidak seharusnya di lakukan.
Semua orang berubah.
Namun, bukan berarti Aruna senang karena biar bagaimana pun semua nasib buruk yang ia alami merupakan ulah keluarganya sendiri. Jadi, bagaimana bisa Aruna melupakan semua kenangan menyakitkan itu hanya karena mereka sedikit berubah? Jika begitu, apa gunanya ia memutar waktunya?
Bukankah sia-sia?
Bahkan sejujurnya, Aruna belum sepenuhnya menerima keberadaan Abimanyu di sekitarnya. Tapi kalau boleh memilih, Aruna lebih nemilih Abi ketimbang dua saudaranya yang lain.