NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Bayangan Masa Lalu

Debu tebal beterbangan saat Savira menarik laci arsip besi berkarat di sudut rumah sakit tua yang terbengkalai.

Udara di ruang bawah tanah itu terasa luar biasa pengap dan beracun. Aroma kertas lapuk berpadu dengan bau pesing lumut yang merayap ganas di dinding beton. Hawa dingin dari lantai tanah menembus sol sepatu kets Savira, mengalirkan sensasi beku yang meremangkan bulu kuduknya.

Savira terbatuk pelan. Ia segera mengangkat kerah jaket hitamnya untuk menutupi hidung dan mulut.

Tangan kirinya menggenggam sebuah senter. Cahaya putih yang sangat tajam menembakkan pilar terang ke dalam laci gelap tersebut, membelah kegelapan yang telah menguasai ruangan ini selama belasan tahun.

Rumah sakit bersalin di kawasan pinggiran utara ibukota ini telah ditutup paksa sepuluh tahun lalu. Gedung ini kini hanya berdiri sebagai monumen beton yang membusuk, menjadi sarang bagi tikus dan bayangan masa lalu yang menolak mati.

Aaron Jayanegara sama sekali tidak melebih-lebihkan kapasitas jaringan intelijennya. Pria posesif itu memberikan cetak biru denah bawah tanah ini secara presisi pada Savira pagi tadi. Anak buah Aaron bahkan telah meretas sisa kunci magnetik berkarat di pintu belakang jauh sebelum Savira menginjakkan kakinya di sana.

Savira memfokuskan pendaran cahaya senter pada deretan map kardus di dalam laci. Ujung jarinya yang terbalut sarung tangan lateks menyusuri tab indeks yang sudah menguning dan rapuh termakan kelembapan.

Tujuh belas tahun lalu. Ia mencari arsip pasien dari bulan dan tahun kelahirannya bersama Nadia.

Jantung Savira berpacu kencang, menghantam tulang rusuknya dengan ritme yang agresif. Keheningan gedung kosong ini justru memperkuat suara detak jantungnya sendiri di telinga, menciptakan gema yang membuat kewaspadaannya berada di tingkat tertinggi.

Ini adalah perjalanan menembus pusara masa lalunya sendiri. Sejarah kelahirannya telah dihapus dan dimanipulasi dengan sangat rapi oleh ibu tirinya. Ayahnya yang sosiopat, Wijaya Dharma, pasti mengetahui konspirasi ini atau justru menjadi arsitek utamanya sejak awal.

Savira menarik napas panjang, menekan gejolak emosi yang mulai membakar lambungnya. Ia sangat benci menjadi pihak yang buta akan identitasnya sendiri. Ia membutuhkan jangkar kebenaran yang tidak bisa dibantah oleh argumen palsu keluarganya.

Jemarinya berhenti pada sebuah map tebal berwarna hijau pudar. Tinta spidol pada labelnya sudah memudar menjadi abu-abu, namun angka tahun kelahirannya masih terbaca sangat jelas di bawah sorotan senter.

Savira menarik map itu keluar dengan sangat hati-hati. Bobot tumpukan kertas berdebu itu terasa berat di tangannya, seolah menyimpan dosa besar yang menuntut untuk segera dibongkar.

Ia berjalan cepat mendekati sebuah meja kayu reyot di tengah ruangan. Ia meletakkan senternya di atas meja, mengarahkan pancaran cahayanya langsung ke permukaan map usang tersebut.

Debu kembali mengepul tebal saat ia membuka sampul depan arsip bersejarah itu.

Mata kelam Savira menyapu deretan daftar nama pasien. Tulisan tangan kursif menggunakan tinta biru memenuhi lembaran kertas yang sudah menipis dan menguning di bagian tepinya.

Ia membalik halaman demi halaman dengan gerakan tangkas namun penuh perhitungan. Kertas tua ini akan hancur menjadi serpihan jika ia menariknya terlalu kasar. Kejeniusan taktisnya menuntut kesabaran yang luar biasa.

Tanggal kelahirannya semakin dekat. Dadanya bergemuruh hebat, menciptakan denyut nyeri yang menjalar hingga ke pangkal lehernya.

Sensasi mual akibat ketegangan mulai merayap naik ke kerongkongannya. Ia menelan ludah, menyingkirkan memori tentang penolakan ayahnya yang selalu menghantuinya setiap malam.

Ia mencari nama ibu kandungnya. Ia mencari nama Nyonya Dharma. Kedua wanita itu melahirkan di tempat yang sama, di malam yang sama, tepat tujuh belas tahun silam di tengah badai ibukota.

Jari telunjuk Savira terhenti secara mendadak di atas kertas.

Napasnya tertahan kuat di kerongkongan. Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat ke arah buku registrasi di bawah sorotan cahaya senter taktisnya.

Ada yang salah dengan halaman ini.

Dua halaman yang seharusnya memuat data pasien pada minggu kelahirannya menghilang tanpa jejak. Sisa robekan kertas yang bergerigi terlihat sangat jelas di bagian jilid tengah buku tebal tersebut.

Seseorang telah merobek halaman aslinya secara paksa dan terburu-buru.

Savira meraba pinggiran kertas yang tersisa dengan ujung jarinya. Permukaannya terasa sangat kasar dan tidak rata. Tidak ada keraguan lagi di dalam kepalanya. Ini adalah sabotase fisik yang dilakukan dengan kepanikan murni untuk menghilangkan jejak utama.

Ia segera membalik ke halaman berikutnya. Sebuah lembaran baru telah diselipkan dan direkatkan dengan lem khusus tepat di bagian tengah buku.

Warna kertas lembaran baru ini sedikit lebih putih dari halaman aslinya. Tinta yang digunakan untuk menulis daftar nama juga memiliki tekstur yang berbeda. Tinta ini berwarna hitam pekat, bukan biru pudar seperti halaman sebelumnya.

Pemalsuan ini dilakukan dengan sangat rapi bagi mata orang awam. Namun di bawah tatapan analitis seorang jenius taktis seperti Savira, kejanggalan struktural ini berteriak nyaring menuntut keadilan berdarah.

Savira membaca dua baris nama yang tertulis di halaman palsu tersebut.

Nama Nyonya Dharma tercatat melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat dan panjang tubuh yang sangat spesifik. Tepat di baris bawahnya, nama mendiang ibu kandung Savira juga tercatat melahirkan bayi perempuan dengan detail fisik yang berbeda.

Gigi Savira bergemeretak keras menahan amarah yang meledak hebat di dalam tengkoraknya.

Data biologis ini telah ditukar dengan sengaja.

Seseorang menyusup ke ruang arsip bawah tanah ini di masa lalu. Pelaku itu merobek halaman asli yang memuat data biologis Savira dan Nadia, lalu menggantinya dengan catatan palsu untuk meresmikan status Nadia sebagai pewaris utama keluarga Dharma.

Kejahatan ini terlalu vulgar, kotor, dan sangat sistematis. Nyonya Dharma tidak mungkin memiliki akses keamanan dan keberanian untuk melakukan sabotase dokumen medis negara tanpa perlindungan langsung dari Wijaya Dharma.

Monster sosiopat itu pasti memberikan jalan tol untuk kebohongan ini. Wijaya selalu mengamankan asetnya, dan Nyonya Dharma adalah pion yang sempurna untuk menjaga hierarki darah keluarganya tetap terlihat suci di mata publik.

Savira mencengkeram ujung meja kayu kuat-kuat hingga buku jarinya menonjol pucat. Kuku-kukunya nyaris menembus sarung tangan lateks yang ia kenakan.

Luka pengabaian yang selama ini ia telan bulat-bulat kembali mengoyak rongga dadanya tanpa ampun. Ia tidak pernah gagal. Ia tidak pernah cacat atau membawa sial. Ia dibuang murni karena identitas aslinya telah dirampok sejak ia menarik napas pertama di dunia busuk ini.

Delusi Nadia tentang status putri keberuntungan sepenuhnya dibangun di atas kejahatan kriminal yang sangat kejam dan manipulatif. Nadia hanyalah boneka bodoh yang merampas tempat yang seharusnya menjadi milik Savira.

Savira memejamkan mata sesaat. Ia menolak membiarkan kemarahan merusak rasionalitasnya. Emosi yang tidak terkendali hanya akan membawanya pada kekalahan di papan catur Wijaya.

Ia membuka mata kembali. Otak jeniusnya berputar liar mencari celah fatal di balik tembok kebohongan administratif ini.

Jika halaman ini ditulis ulang, maka si pemalsu pasti menyalin sisa data dari halaman asli agar buku registrasi ini tetap terlihat normal saat diaudit.

Savira memindai deretan kolom di halaman palsu tersebut dengan mata elangnya. Kolom waktu kelahiran, kolom berat badan, kolom dokter penanggung jawab.

Semuanya terlihat sangat sempurna, kecuali satu kolom kecil yang terletak di ujung paling kanan halaman.

Kolom nama bidan pelaksana.

Mata Savira menyipit tajam. Dokter kandungan yang menangani persalinan malam itu adalah dokter senior dari ibu kota. Dokter elit itu pasti telah dibungkam secara finansial atau disingkirkan jauh ke luar negeri.

Namun, tugas teknis persalinan di rumah sakit kelas menengah ini selalu dibantu penuh oleh tenaga bidan lokal.

Savira menelusuri garis tulisan tangan di kolom tersebut dengan cermat.

Ia menemukan sebuah anomali visual. Tanda tangan di kolom bidan tampak sedikit bergetar dan kaku, berbeda drastis dengan tarikan garis tegas pada kolom lainnya. Pemalsu dokumen ini jelas kesulitan meniru ritme tanda tangan asli sang bidan.

Pelaku kriminal selalu meninggalkan satu jejak kepanikan di tempat kejadian perkara.

Savira mengeluarkan ponsel sekundernya dari saku jaket. Ia menyalakan fitur kamera makro dan mengambil puluhan foto resolusi tinggi dari halaman palsu tersebut. Ia memotret sisa robekan kertas, perbedaan warna lem, tekstur tinta, dan setiap detail kejanggalan yang ada di depan matanya.

Bukti fisik ini masih belum cukup kuat untuk menyeret Wijaya ke ruang sidang pengadilan negeri. Ayahnya akan dengan sangat mudah menyalahkan pihak manajemen rumah sakit atas kelalaian administrasi masa lalu.

Ia butuh saksi hidup. Seseorang yang memiliki pita suara untuk membeberkan kebenaran murni dari malam kelahirannya.

Savira memperbesar foto tanda tangan bidan tersebut di layar ponselnya. Ia membedah bentuk huruf yang melengkung kaku itu, mengabaikan goresan palsu yang menutupi bentuk aslinya.

Ia membutuhkan waktu beberapa detik sebelum otaknya berhasil memecahkan bentuk tulisan sambung tersebut.

Jantungnya kembali berpacu sangat cepat. Adrenalin membakar setiap sel saraf di dalam tubuhnya, memompa energi yang mengusir hawa dingin ruangan ini.

Ia telah menemukan kunci pembuka kotak Pandora keluarga Dharma.

Savira memasukkan kembali buku registrasi itu ke dalam map hijaunya dengan gerakan cepat. Ia mengembalikan map tersebut ke posisi asalnya di dalam laci besi, memastikan tidak ada jejak debu yang berubah.

Ia mematikan senter taktisnya. Kegelapan kembali menelan ruang arsip bawah tanah tersebut dalam sekejap mata.

Savira berbalik dan melangkah mantap meninggalkan rumah sakit tua itu. Langkahnya kini jauh lebih ringan namun sarat akan ancaman mematikan.

Udara malam yang dingin di luar gedung terasa sangat menyegarkan saat menerpa wajahnya. Paru-parunya rakus menghirup oksigen bebas, bersiap menghadapi perang berskala besar yang akan segera meledak.

Rencananya kini menjadi sangat terang, tajam, dan tidak menyisakan ruang pengampunan. Ia akan memburu saksi kunci ini. Ia akan menyeret kebenaran ini keluar dari liang kubur dan melemparkannya tepat ke wajah ayahnya yang selalu tersenyum sopan.

1
DdCantik
ironis banget, baru bab1 padahal 👍
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!