NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Kemenangan manis di perjamuan amal ternyata menjadi sumbu pendek yang mempercepat ledakan amarah keluarga besar Mahendra. Hanya berselang tiga hari, sebuah undangan makan malam tertutup mendadak dikirimkan langsung oleh Nenek Ambar. Kali ini bukan di tempat umum, melainkan di kediaman utama keluarga Mahendra—sebuah mansion tua bergaya kolonial yang menjadi simbol kekuasaan silsilah mereka. Semua keluarga besar, termasuk para tetua dan kolega bisnis inti, diwajibkan hadir.

Milly berdiri di depan cermin, meremas ujung gaun brokat abu-abu sederhananya. Kegelisahannya malam ini berkali-kali lipat lebih besar. Mengapa? Karena jangkar pelindungnya belum juga datang.

Ponsel Milly bergetar di atas meja rias.

Pak Suami: "Ada demonstrasi buruh mendadak di area pabrik anak perusahaan, jalurnya diblokade. Aku sedang mengusahakan helikopter atau jalur alternatif bersama Bara. Masuklah duluan, Benny akan mengantarmu sampai pintu depan. Jangan takut, aku akan segera sampai."

Milly menelan ludah dengan susah payah. Menghadapi serigala-serigala itu sendirian tanpa Arkan di sampingnya terasa seperti melompat ke dalam sumur tanpa tali pengaman. Namun, mengingat janji "Pak Suami", Milly menegakkan punggungnya. "Kamu bisa, Milly. Anggap saja mereka anak-anak panti yang sedang tantrum," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Begitu langkah kaki Milly memasuki ruang makan utama kediaman Mahendra, keheningan yang menindas langsung menyergapnya. Ruangan besar itu dipenuhi sekitar tiga puluh orang dari lingkaran inti keluarga dan kolega senior. Di ujung meja panjang, Nenek Ambar duduk bagai seorang ratu, diapit oleh Sofia dan... Clarissa Gunarto yang malam itu tersenyum manis penuh kemenangan saat melihat Milly datang seorang diri.

"Lihat siapa yang datang tanpa pengawal," sindir Sofia keras, sengaja memotong obrolan para tamu hingga perhatian seluruh ruangan terpusat pada Milly. "Di mana Arkan, Milly? Apa dia akhirnya sadar dan terlalu malu untuk membawamu ke acara keluarga inti?"

Milly melangkah maju, berusaha mengingat semua pelajaran etiket dari Madam Evelyn. Ia membungkuk hormat. "Selamat malam, Eyang, Tante Sofia, dan para hadirin. Arkan sedang ada urusan mendadak di pabrik dan sedang dalam perjalanan ke sini."

"Urusan mendadak atau sengaja menghindar?" sahut salah satu bibi Arkan dari jalur keluarga sampingan, memandang Milly dengan tatapan merendahkan. "Keluarga Mahendra tidak pernah memiliki tradisi terlambat, apalagi hanya untuk menemani wanita yang bahkan tidak tahu cara memegang pisau steak dengan benar."

Clarissa bangkit dari kursinya dengan anggun, berjalan mendekati Milly sambil membawa sebuah cangkir teh porselen. "Tante Sofia, jangan terlalu keras pada Milly. Dia kan tidak terbiasa dengan jamuan formal seperti ini. Di panti asuhannya dulu, mungkin mereka hanya makan dengan mangkuk plastik, bukan?"

Tawa renyah tertahan langsung pecah di beberapa sudut ruangan. Penghinaan itu dilemparkan secara terang-terangan, menguliti harga diri Milly di depan puluhan pasang mata kelas atas.

Milly mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. Ia mencoba mencari celah untuk membalas, namun kali ini situasinya berbeda. Tidak ada gawai di tangannya, tidak ada rekaman suara Kak Benny di telinganya, dan yang paling penting... tidak ada tatapan protektif Arkan yang biasa memberinya keberanian instan. Ia benar-benar telanjang tanpa perlindungan di tengah badai.

"Duduklah, Milly," perintah Nenek Ambar dingin, menunjuk sebuah kursi kosong di barisan paling ujung, jauh dari pusat meja sebuah posisi yang biasa diberikan untuk pelayan atau tamu tidak penting. "Karena kamu sudah menjadi 'pajangan' Arkan, setidaknya belajarlah tahu diri di mana tempatmu berada."

Serangan psikologis itu tidak berhenti di sana. Sepanjang makan malam, Clarissa dan Sofia secara bergantian melempar umpan pertanyaan yang sengaja dirancang untuk menyudutkan Milly. Mereka membahas tentang investasi obligasi luar negeri, silsilah keluarga bangsawan Eropa, hingga yayasan sosial internasional. Setiap kali Milly terdiam karena tidak memahami topiknya, mereka akan saling melempar senyum sinis dan bisikan tajam.

"Sungguh menyedihkan," desis Clarissa cukup keras saat ia berjalan melewati kursi Milly untuk mengambil minuman. Ia membungkuk sedikit, berbisik tepat di telinga Milly dengan suara penuh racun yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

"Kamu pikir kemenangan kecil di lelang kemarin membuatmu setara dengan kami? Kamu hanya alat penenang sementara untuk Arkan, Milly. Kontrak pernikahan bawah tangan kalian... aku sudah tahu semuanya. Begitu proyek Mahendra selesai, Arkan akan membuangmu kembali ke tempat sampahmu di panti asuhan itu. Kamu tidak lebih dari sekadar kerikil murahan yang mengotori lantai mansion ini."

Deg.

Kalimat Clarissa menghantam tepat di pusat ketakutan terbesar Milly. Kata-kata tentang "kontrak pernikahan" dan "tempat sampah" seolah memutus seluruh pasokan oksigen di paru-parunya. Dadanya mendadak terasa luar biasa sesak, dan telinganya mulai berdengung hebat. Tatapan-tatapan sinis dan tawa merendahkan dari orang-orang di sekitar meja makan itu perlahan mengabur, berubah menjadi bayang-bayang hitam yang siap menelannya hidup-hidup.

Milly merasakan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Pertahanan mentalnya yang ia bangun dengan keras kepala selama seminggu ini runtuh total dalam sekejap. Air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga mulai menggenang di pelupuk matanya. Di dalam ruangan mewah yang dipenuhi kilau kristal itu, Milly merasa begitu kecil, hancur, dan benar-benar kehilangan pegangan.

## **Bab 93: Titik Nadir di Meja Perjamuan**

Air mata yang menggenang di pelupuk mata Milly akhirnya luruh satu per satu, membasahi pipinya yang mendadak pias. Pandangannya kabur menatap sendok dan garpu perak di hadapannya yang seolah berubah menjadi jeruji besi yang mengurungnya. Kata-kata Clarissa bagai belati yang menguliti seluruh sisa keberaniannya.

*Dia benar. Aku memang cuma kerikil murahan. Kontrak itu... status ini... semuanya cuma sementara,* bisikan itu bergaung di dalam kepala Milly, melumpuhkan logika taktis yang biasanya ia banggakan.

"Oh, lihatlah. Belum apa-apa dia sudah menangis," cemooh Sofia Mahendra, sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh meja kembali tertuju pada Milly. "Hanya karena kita membicarakan standar kelas sosial, dia langsung berakting menjadi korban. Sungguh mentalitas yang sangat... panti asuhan."

Clarissa kembali ke kursinya dengan senyum kemenangan yang mutlak. Ia melipat serbetnya dengan gestur teramat elegan, menikmati pemandangan Milly yang hancur di sudut meja tanpa ada seorang pun yang bergerak untuk membelanya. "Tante Sofia, kurasa kita tidak perlu heran. Beberapa orang memang dilahirkan untuk berada di bawah, tidak peduli seberapa mahal kain yang membungkus tubuh mereka."

Milly menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar halus. Isak tangis yang tertahan membuat dadanya terasa nyeri. Rasa percaya diri yang sempat tumbuh selama seminggu terakhir menguap tanpa bekas. Ia ingin bangkit dan berlari keluar dari mansiun terkutuk ini, namun kakinya terasa seperti terpaku ke lantai marmer yang dingin.

BRAK!

Pintu ganda ruang makan utama dihantam terbuka dengan sangat keras hingga menciptakan dentuman yang menggema di seluruh ruangan. Beberapa cangkir porselen di atas meja makan bahkan sempat berdenting akibat guncangan tersebut.

Seluruh anggota keluarga besar dan kolega bisnis spontan tersentak dan menoleh ke arah pintu.

Di ambang pintu yang megah, berdiri Arkananta Mahendra. Napasnya sedikit memburu, rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan, dan jas tuksedonya terpasang tanpa dasi menandakan betapa gilanya pria itu menerobos kemacetan dan blokade demi sampai ke tempat ini. Namun, yang paling mengerikan adalah sepasang mata elangnya yang kini berkilat merah, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang menatapnya.

Pandangan Arkan menyapu ruangan luas itu dan langsung terkunci pada sosok mungil di ujung meja yang sedang menunduk dengan bahu bergetar. Melihat air mata yang membasahi wajah istrinya, sesuatu di dalam dada Arkan bergejolak hebat sebuah kemarahan murni yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Langkah kaki Arkan yang berat dan tegas menggema di atas lantai marmer saat ia berjalan lurus membelah ruangan, mengabaikan keberadaan Nenek Ambar ataupun ibunya sendiri.

"Arkan, kamu akhirnya..." Kalimat Sofia terputus di tengah jalan.

Arkan melewati ibunya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pun. Ia langsung berlutut di samping kursi Milly sebuah gestur yang sangat tidak terpuji bagi seorang kepala keluarga Mahendra di depan umum, namun Arkan tidak peduli lagi pada aturan sialan itu. Ia meraih kedua tangan Milly yang gemetar, menggenggamnya dengan teramat erat dan hangat.

"Milly... aku di sini," suara bariton Arkan bergetar rendah, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Maafkan aku. Aku terlambat."

Milly perlahan mengangkat wajahnya yang sembap. Begitu melihat manik mata elang Arkan yang menatapnya dengan kepastian mutlak, dengung ketakutan di kepalanya perlahan mereda. Genggaman tangan pria itu kembali menjadi jangkar yang menyelamatkannya dari tenggelam. "Tuan... eh, Pak Suami..." cicit Milly dengan suara serak.

Arkan berdiri tegak, memosisikan tubuhnya yang tinggi besar sebagai tameng kokoh di depan kursi Milly. Ketika ia berbalik menghadap meja panjang, kehangatan di matanya menguap total, digantikan oleh ekspresi sedingin es yang sanggup mencabik-cabik nyali siapa pun.

"Benny!" panggil Arkan lantang, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan.

Asisten Benny yang berdiri di dekat pintu langsung maju dan membungkuk hormat. "Ya, Presdir?"

"Batalkan seluruh kerja sama logistik, pasokan komoditas, dan investasi Mahendra Group dengan keluarga Gunarto serta seluruh keluarga sampingan yang berada di meja ini, efektif mulai detik ini," perintah Arkan tanpa ragu, suaranya datar namun sarat akan kehancuran finansial.

"Arkan! Apa-apaan kamu?!" Nenek Ambar akhirnya berdiri, memukul meja dengan tongkatnya, wajah tuanya memerah padam. "Kamu mau menghancurkan bisnis keluarga hanya karena perempuan ini?!"

"Bukan karena dia, Eyang. Tapi karena kalian telah menyentuh satu-satunya kepemilikanku yang paling berharga," desis Arkan, matanya menatap tajam ke arah Nenek Ambar sebelum beralih menusuk langsung ke arah Clarissa yang kini mulai gemetar ketakutan di kursinya.

"Clarissa Gunarto," panggil Arkan, menyebut nama wanita itu bagai sebuah vonis mati. "Kamu bilang istriku adalah kerikil murahan yang mengotori mansion ini? Mulai besok pagi, aku akan memastikan perusahaan keluargamu merangkak di lantai bursa untuk mengemis tanda tangan dari 'kerikil' yang baru saja kamu hina ini."

Arkan kembali berbalik ke arah Milly, membungkuk sedikit untuk menyeka sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jarinya yang hangat. Setelah itu, tanpa memedulikan teriakan histeris Sofia dan kemarahan Nenek Ambar, Arkan menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Milly, mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongan bridal style yang mantap.

"Kita pulang, Nyonya Mahendra. Tempat ini terlalu kotor untuk keanggunanmu," bisik Arkan lembut tepat di dahi Milly, sebelum melangkah lebar meninggalkan ruang makan mansion utama, membawa permaisurinya keluar dari kandang serigala dengan kemenangan mutlak yang tak terbantahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!