Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Sementara jet pribadi Arkan membelah langit Singapura kembali menuju Jakarta dengan kecepatan penuh, Milly justru tidak melarikan diri ke luar kota. Gadis itu tahu, stasiun, bandara, dan terminal bus akan menjadi tempat pertama yang diblokade oleh anak buah Arkan.
Menggunakan angkutan umum kota yang pengap dan menyelinap di antara keramaian pasar tradisional, Milly menuju ke sebuah rumah susun tua di pinggiran Jakarta Utara tempat tinggal salah satu mantan pengasuh panti yang sudah pensiun.
"Milly, kamu yakin dengan keputusan ini?" tanya Ibu Nur, menatap cemas ke arah Milly yang sedang merapikan baju usangnya ke dalam lemari kayu yang rapuh.
Milly tersenyum, meski matanya masih bengkak. "Yakin, Bu. Di sini Arkan tidak akan pernah mencari saya. Rumah susun ini tidak terdaftar di aset mana pun, dan di sini saya bukan Nyonya Mahendra. Saya cuma Milly yang bodoh dan ceroboh."
Milly melepas jam tangan mewah pemberian Arkan satu-satunya barang elektronik yang tersisa lalu mengeluarkan baterainya. Ia benar-benar memutus diri dari dunia luar. Di dalam kamar sempit yang pengap itu, Milly memeluk lututnya, mencoba membiasakan diri kembali dengan suara bising jalanan dan kipas angin tua yang berdecit, mencoba melupakan kasur empuk dan aroma tubuh Arkan yang menenangkan.
Kembalinya Arkananta Mahendra ke ibu kota membawa badai kegelapan yang sesungguhnya. Mansion pribadi mereka kini berubah menjadi pos komando yang dingin. Puluhan layar monitor menampilkan rekaman CCTV dari setiap sudut kota yang berhasil diretas oleh tim IT Mahendra Group.
BRAK!
"Bagaimana bisa seorang gadis yang bahkan sering salah memakai sandal bisa hilang di gang sekecil ini?!" amuk Arkan, melempar sebuah berkas tepat ke arah Bara yang tertunduk kaku di depan meja kerjanya.
"Maaf, Presdir. Nyonya memanfaatkan kepadatan pemukiman di sekitar panti. Mobil kami tidak bisa masuk, dan tampaknya... Nyonya sengaja tidak menggunakan satu pun kartu debit atau ponsel yang bisa dilacak," lapor Bara dengan keringat dingin yang bercucuran.
Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Ia melangkah mendekati jendela besar, menatap rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta.
"Dia membodohiku," desis Arkan, rahangnya mengetat hingga urat-uratnya menonjol. "Dia berpura-pura loading lama, berpura-pura ceroboh, hanya untuk membuatku lengah. Hebat sekali, Milly. Kamu berhasil mematukku dengan sifat polosmu itu."
Arkan mencengkeram pembatas jendela besi dengan sangat kuat. Rasa bersalah karena terlambat melindunginya di mansion utama kini bercampur aduk dengan rasa kepemilikan yang terancam. "Kerahkan seluruh informan bawah tanah. Tutup setiap jalur keluar kota. Jika dia tidak ditemukan dalam waktu dua puluh empat jam, pastikan tidak ada satu pun bisnis di area pelariannya yang bisa beroperasi dengan tenang!"
Dua hari berlalu, dan pencarian massal yang dilakukan Arkan mulai membuat Jakarta sesak. Milly yang bersembunyi di rusun mulai merasakan dampaknya. Beberapa pengawal berjas hitam terlihat mulai memeriksa area pasar tempat ia biasa membeli sayur.
Dia tidak akan pernah berhenti,pikir Milly panik, melihat dari balik tirai rusun yang usang. Kalau begini terus, Ibu Nur dan anak-anak panti bisa ikut terseret.
Milly tahu ia harus menghentikan kegilaan pria itu. Menggunakan ponsel umum di pinggir jalan, Milly menarik napas dalam-dalam, lalu menekan nomor pribadi yang sangat ia hafal di luar kepala.
Hanya dalam satu detik, panggilan itu langsung diangkat.
"Milly?!" suara bariton di seberang sana terdengar begitu serak, lelah, namun sarat akan emosi yang meledak-ledak. "Di mana kamu?! Jangan bergerak setapak pun dari sana!"
Milly memejamkan matanya, air matanya luruh mendengar suara yang sangat ia rindukan itu. "Pak Suami... hentikan semuanya. Jangan cari saya lagi. Kontrak kita sudah selesai. Clarissa benar, tempat saya bukan di dunia Anda yang megah."
"Persetan dengan kontrak dan Clarissa!" raung Arkan dari seberang telepon, terdengar suara hantaman meja yang keras. "Kamu pikir aku peduli dengan kertas sialan itu? Kamu milikku, Milly! Pulang sekarang, atau aku akan meratakan seluruh panti asuhan tempatmu tumbuh!"
Milly tersenyum getir, suaranya bergetar namun terdengar tegas. "Kalau Anda menyentuh panti atau orang-orang di sekitar saya... Anda hanya akan mendapatkan jasad saya, Pak Suami. Mari kita akhiri ini dengan baik- baik. Lepaskan saya."
Klik.
Milly langsung mematikan sambungan telepon dan mencabut kabel telepon umum tersebut, meninggalkan Arkan di ujung sana yang membeku dengan kemarahan yang kini berubah menjadi ketakutan terbesar dalam hidupnya kehilangan Milly untuk selamanya.
Setelah sambungan telepon umum itu terputus dengan bunyi klik yang dingin, keheningan di ruang kerja Arkan terasa begitu mencekam. Napas Arkan memburu, tetapi kemarahan berapi-api yang beberapa saat lalu meledak, kini berganti menjadi ketakutan yang melumpuhkan.
“Anda hanya akan mendapatkan jasad saya, Pak Suami.”
Kalimat lirih namun sarat akan keputusasaan dari Milly terus terngiang, mencengkeram jantung Arkan hingga ia sulit bernapas. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Arkananta Mahendra pria yang selalu mengendalikan segala hal dengan tangan besi ia menyadari bahwa ia telah mendorong permaisurinya ke tepi jurang. Posesifitasnya yang membabi buta justru menjadi racun yang mencekik Milly.
"Presdir..." Bara berbisik sangat pelan di dekat pintu, nyaris tidak berani bersuara melihat tubuh bosnya yang menegang kaku.
Arkan perlahan menurunkan tangannya yang memegang ponsel retak. Matanya yang merah beralih menatap Bara dengan tatapan yang sangat kosong, namun menyimpan riak kegilaan yang siap menghancurkan apa saja.
"Hentikan semua pemeriksaan kasar di jalanan," perintah Arkan, suaranya terdengar sangat rendah dan serak, seolah jiwanya baru saja direnggut paksa. "Tarik semua anak buah kita dari pasar-pasar tradisional. Jangan ada yang mendekati panti asuhan satu senti pun."
"Baik, Presdir. Lalu... apa rencana kita sekarang?"
Arkan menegakkan tubuhnya. Aura dingin yang tadinya tertuju pada pelarian Milly, kini bergeser sepenuhnya. Fokus matanya menajam, mengirimkan sinyal bahaya yang mutlak. "Siapkan mobil. Kita ke kediaman utama Mahendra. Ada beberapa urusan lama yang harus kuselesaikan dengan orang-orang yang merasa diri mereka suci di sana."
Malam itu, hujan lebat mengguyur Jakarta, seolah langit ikut meramalkan badai besar yang akan melanda kediaman utama keluarga Mahendra.
Di dalam ruang keluarga mansion kolonial yang megah itu, Nenek Ambar sedang duduk bersama Sofia, menikmati teh hangat. Dan seolah tak punya urusan lain, Clarissa Gunarto juga ada di sana, sedang berusaha mengambil hati sang matriark pasca-bencana pemutusan hubungan bisnis beberapa hari lalu.
BRAK!
Pintu utama mansion kolonial itu tidak sekadar diketuk, melainkan ditendang hingga jeblok dari engselnya.
Arkan melangkah masuk dengan langkah lebar yang menggelegar. Setelannya basah kuyup oleh air hujan, rambutnya berantakan, dan dari jemarinya yang mengepal erat, tetesan air atau mungkin darah dari tangannya yang menghantam kaca meja sebelumnya menetes ke atas lantai marmer putih yang bersih.
"Arkan! Apa-apaan kelakuanmu ini?!" teriak Sofia, langsung berdiri dengan wajah syok melihat putra tunggalnya masuk seperti iblis yang murka.
Arkan mengabaikan ibunya. Matanya yang berkilat gelap langsung mengunci Clarissa yang duduk di sofa panjang. Hanya dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, Arkan melangkah maju dan menyapu seluruh cangkir teh porselen mahal di atas meja kaca di hadapan mereka hingga hancur berkeping-keping di lantai.
PRANG!
Clarissa menjerit histeris, spontan mundur hingga terdesak ke sandaran sofa dengan wajah pucat pasi. "Arkan! Kamu gila?!"
"Ya! Aku gila!" raung Arkan, suaranya menggelegar memenuhi mansion luas itu hingga para pelayan di dapur gemetar ketakutan. "Dan kegilaanku ini adalah hasil karya kalian semua!"
Nenek Ambar berdiri, memukul tongkatnya ke lantai dengan gemetar. "Arkan! Jaga sopan santunmu! Ini mansion utama Mahendra! Berani-beraninya kamu membuat keributan hanya karena perempuan panti asuhan murahan yang sekarang melarikan diri itu!"
Arkan tertawa sumbang sebuah suara tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menatap neneknya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Mansion utama?" desis Arkan, melangkah mendekati Nenek Ambar hingga wanita tua itu terpaksa mundur selangkah. "Mulai besok pagi, mansion ini akan disita oleh bank atas nama anak perusahaan Mahendra Group yang kupegang secara pribadi. Aku memegang delapan puluh persen saham silsilah kalian. Jika aku mau, aku bisa membuat kalian semua tidur di jalanan beraspal dalam waktu satu malam!"
"Arkan! Aku ini ibumu!" Sofia berteriak histeris, air matanya mulai mengalir melihat kehancuran yang nyata di depan mata. "Bagaimana bisa kamu setega ini pada keluargamu sendiri?!"
"Ibu?" Arkan berbalik perlahan, menatap Sofia dengan sorot mata paling asing yang pernah Sofia lihat. "Seorang ibu tidak akan membiarkan menantunya diinjak-injak dan dihina seperti pelayan di rumahnya sendiri. Sejak malam itu, aku tidak lagi menganggap kalian sebagai keluarga."
Pandangan Arkan kemudian beralih sepenuhnya pada Clarissa yang sudah menangis ketakutan di sudut sofa. Arkan membungkuk, mencengkeram dagu Clarissa dengan sangat kasar hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Dan kamu, Clarissa..." bisik Arkan tepat di depan wajah Clarissa dengan nada suara yang teramat dingin. "Kamu membisikkan racun tentang kontrak pernikahan itu ke telinga istriku, bukan? Kamu membuatnya berpikir dia akan kubuang seperti sampah."
"A-Arkan... aku... aku cuma bicara kenyataan..." Clarissa terbata-bata, seluruh tubuhnya gemetar hebat di bawah cengkeraman Arkan.
"Kenyataannya adalah, mulai detik ini, keluarga Gunarto dinyatakan bangkrut," ucap Arkan kejam, melepaskan cengkeramannya hingga kepala Clarissa terhempas ke samping. "Aku sudah menandatangani dokumen akuisisi paksa seluruh aset keluargamu. Besok, ayahmu akan diseret ke pengadilan atas kasus penggelapan pajak yang selama ini kututupi demi hubungan bisnis lama kita. Nikmati sisa hidupmu di jalanan, Clarissa."
"Arkan! Tidak! Tolong jangan!" Clarissa bersujud di lantai marmer yang dipenuhi pecahan porselen, memohon sambil menangis histeris, namun Arkan bahkan tidak meliriknya lagi.
Arkan berbalik, menatap dingin ke arah Sofia dan Nenek Ambar yang membisu seribu bahasa dengan wajah yang luar biasa pucat.
"Ingat ini baik-baik," kata Arkan dengan nada final yang mutlak. "Jika sampai terjadi sesuatu pada Milly... jika seujung kuku dari istriku terluka karena pelariannya ini... aku bersumpah demi nama Mahendra yang kalian agung-agungkan, aku sendiri yang akan memastikan kalian semua memohon untuk mati."
Tanpa menunggu jawaban, Arkan berbalik dan melangkah pergi menembus derasnya hujan malam, meninggalkan kediaman utama Mahendra yang kini hancur lebur di bawah amarah sang singa yang terluka.