Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roast Beef Sandwich dan Proposal Kejutan
Ren terus memandangi tas bekalnya. Sesekali Ren melihat smart watchnya. Jam makan siang yang biasanya tak pernah ia pedulikan, hari ini menjadi waktu paling Ren tunggu dalam hidupnya.
"11.21. Argh! Masih tiga puluh sembilan menit lagi," gumam Ren setelah melihat layar smart watchnya untuk yang ke-sekia kali.
"Tok... Tok..."
"Ya,"
Julian, sekretaris Ren, memasuki ruangan dengan wajah yang sama datarnya dengan wajah Ren.
"Narendra Tour and Travel mengajukan proposal kerjasama, Tuan. Saya sudah membacanya. Sepertinya ini akan menjadi kerjasama jangka panjang yang menguntungkan," lapor Julian.
"Narendra Tour and Travel..." gumam Ren.
Mata Ren kembali mendarat pada tas bekal yang dibawakan Lia. Ren seketika mengingat obrolan Lia dengan ayahnya semalam. Mereka membicarakan tentang bisnis dan kerjasama.
"Mungkin kita bisa proses proposal dari Narendra Tour and Travel," kata Ren.
"Kita bisa menggandeng Lavendra Hotel and Resorts untuk kerjasama ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Ren meminta pendapat Julian.
Julian menaikkan kedua alisnya. Pasalnya selama ini bosnya itu hampir tidak pernah menanyakan pendapatnya tentang apapun.
"Ehem. Saya kira itu ide cemerlang, Tuan. Pihak Narendra belum memberikan daftar hotel dan resort yang menjadi fasilitas pendukung mereka. Kita bisa menawarkan Lavendra Hotel and Resort pada pihak mereka sebagai syarat persetujuan kerjasama ini," kata Julian mantap. Ren terlihat manggut-manggut.
"Atur jadwal meeting dengan pihak Narendra dan juga Lavendra," perintah Ren. Julian mengangguk.
"Baik, Tuan," kata Julian.
"Proposal dari Narendra Tour and Travel sudah saya kirim ke email Tuan. Silakan Tuan pelajari," kata Julian. Ren mengangguk pelan.
"Permisi, Tuan," kata Julian sambil sedikit membungkukkan badan lalu berjalan pergi.
"Julian," panggil Ren menghentikan langkah Julian seketika.
"Ya, Tuan?" tanya Julian sambil berjalan kembali ke hadapan Ren.
"Kamu yang memenuhi kulkas apartemen saya dengan bahan makanan?" tanya Ren.
"Maaf sudah lancang, Tuan," kata Julian sambil menunduk.
"Tak masalah. Terimakasih. Tolong siapkan lagi. Saya rasa isi kulkas saya sudah hampir kosong," kata Ren sambil melirik ke arah tas bekalnya lagi. Julian melihat ke arah mata Ren melihat, membuatnya paham.
"Baik, Tuan. Saya akan membeli bahan-bahan makanan terbaik. Ada permintaan khusus dari Tuan atau..." Julian ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Pasalnya Julian belum mengetahui bagaimana hubungan Ren dan Lia setelah menikah. Julian hanya membaca berita morning kiss via media sosial yang tak bisa Julian nilai kebenarannya tanpa tahu situasinya.
"Atau?" tanya Ren menyadarkan Julian untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ehem... Atau mungkin Nona Muda menginginkan bahan makanan tertentu?" Julian melanjutkan kalimatnya yang terputus.
"Nona Muda?" tanya Ren sambil menaikkan kedua alisnya, lagi-lagi melirik tas bekalnya.
"Akan saya tanyakan padanya nanti," kata Ren tenang.
Julian sedikit terkejut. Menurut Julian, tuannya tak terlihat terganggu dengan kehadiran Lia dalam hidupnya. Padahal sebelumnya, setiap kali Tuan Besar mencoba mengenalkan beberapa nona muda pada Ren, Julian melihat Ren terlihat terganggu dengan itu.
"Baik, Tuan. Saya permisi," kata Julian sambil membungkukkan badannya sekali lagi lalu meninggalkan ruangan Ren.
Ren kembali melihat smart watchnya. Jam 11.43. Ren sudah tak sabar lagi. Dia kemudian berdiri dan meraih tas bekal di sudut meja kerjanya. Ren duduk di sofa dan membuka tas bekalnya. Satu kotak bekal berukuran kecil ada di dalamnya dengan satu termos kecil. Di atas kotak bekal ada memo kecil. Sudut bibir Ren terangkat membacanya.
Stok seafood di kulkas habis. Jadi, saya hanya memakai bahan yang ada. Semoga sesuai dengan selera Tuan. Selamat makan!
P.S.: kopi tanpa gula tak ketinggalan
^^^—Lia—^^^
Ren melipat memo itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya kemudian membuka kotak bekalnya. Ren menaikkan kedua alisnya melihat apa yang ada di dalam kotak bekalnya. Roast beef sandwich dengan irisan daging sapi panggang berwarna merah muda tampak keluar dari sela roti sourdough yang keemasan. Aroma mentega dan daging panggang bercampur dengan kesegaran arugula dan mustard Dijon. Kentang wedges panggang tertata rapi di samping dua potong roast beef sandwich.
Ren mengambil sepotong roast beef sandwich dan memasukkannya ke mulut. Seperti biasa, masakan Lia selalu berhasil memanjakan lidah Ren. Terbukti Ren memakan sandwichnya dengan lahap sambil sesekali memasukkan kentang panggang ke mulutnya.
Tak butuh waktu lama, bekal simpel buatan Lia ludes dilahap oleh Ren. Ren menatap kotak bekal makan siangnya yang kosong sambil meminum kopi buatan Lia. Hari ini, pertama kali dalam hidupnya, Ren merasakan sesuatu yang membuatnya merasa hangat di tengah-tengah jam kerjanya.
Ren berdiri, berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil ponselnya. Ren membuka riwayat pesan singkatnya dengan Lia. Ibu jari Ren menggantung di udara, memikirkan apa yang sebaiknya dia tulis untuk Lia.
Terimakasih roast beef sandwich dan kopinya. Julian menanyakan supply bahan makanan yang mungkin kamu butuhkan.
Ren duduk di kursi kerjanya. Sambil menatap layar ponselnya. Seperti dugaannya. Balasan dari Lia datang tak lama kemudian.
Syukurlah Tuan menyukainya. Saya kira Tuan tidak begitu suka daging karena Tuan pecinta seafood.
Ren tersenyum tipis membaca pesan balasan dari Lia.
"Dia tahu aku suka seafood? Darimana? Aku tak pernah mengatakannya," gumam Ren, heran. Satu pesan lagi mendarat ke ponsel Ren.
Julian?
Ren baru sadar, dia belum pernah mengenalkan Lia pada Julian.
Sekretaris saya.
Saya rasa, saya butuh lobster dan kepiting.
Baik. Akan saya sampaikan pada Julian.
Eh? Bagaimana kalau saya saja yang belanja.
Kamu tidak perlu repot. Itu sudah tugas Julian.
Baiklah. Terimakasih.
Sama-sama.
Ren masih menatap layar ponselnya, berharap Lia membalas pesannya lagi.
"Apa yang aku pikirkan?" gumam Ren, heran dengan sikapnya sendiri.
Ren meletakkan kembali ponselnya. Dia memutuskan kembali bekerja setelah perutnya terisi penuh. Ren membaca proposal Narendra Tour and Travel yang dikirimkan Julian padanya. Ren cukup terkesan dengan rancangan kerjasama yang diusulkan. Menurutnya, Lavendra Hotel and Resort akan dapat memenuhi kriteria kerjasama itu. Tiba-tiba, Ren mulai membayangkan melakukan meeting bersama dengan Lia. Tanpa Ren sadari sudut bibirnya sedikit terangkat.
Ren kembali fokus membaca proposal kerjasama dari Narendra Tour and Travel. Saat Ren sedang membaca nama-nama staff yang akan terlibat dalam kerjasama itu, mata Ren membulat melihat satu nama. Arka Bara Aditama, Kepala Divisi Digital Marketing sekaligus pemohon proposal.
Ponsel Ren berdering. Satu pesan singkat masuk. Ren segera meraih ponselnya, berpikir Lia membalas pesan singkat terakhirnya. Mata Ren kembali membulat saat membaca pesan singkat dari nomor yang tak dikenalnya.
Kamu sudah baca proposal dariku? Tak ku sangka kamu akan menerima kerjasama ini. Terimakasih, Ren.
***