NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Mode Kalkulasi Yang Dingin

Malam kedua setelah pembunuhan Rendi.

Arjuna muncul tiba-tiba di depan Indra, dan Seto yang sedang berpatroli di hutan.

Energi merah berkilau di sekujur tubuhnya, dan cahaya yang membakar udara di sekitarnya.

"Kalian masih mengingatku?" ucap Arjuna, suaranya dingin seperti es yang membeku. "Manusia yang kalian panggil sampah selama tiga tahun?"

Indra dan Seto berhenti berjalan, mata membesar melihat sosok yang seharusnya sudah mati.

"Tidak mungkin," bisik Indra, suaranya bergetar dengan ketakutan dan kemarahan. "Komandan membunuhmu tiga hari lalu."

"Komandan membuat kesalahan," jawab Arjuna, tawa gila keluar dari bibirnya. "Sama seperti kalian semua ketika memilih untuk merendahkanku."

Seto bergerak maju, dan energi biru yang mendesis mengumpul di tangannya.

"Diam kau!" bentak Seto, wajahnya merah karena amarah yang memuncak, "Kau hanya manusia biasa yang beruntung masih hidup.”

"Beruntung?" balas Arjuna, matanya menatap Seto dengan tatapan merendahkan. "Aku tidak percaya pada keberuntungan. Aku hanya percaya pada kalkulasi, dan kematian."

Indra melangkah mundur, tapi Arjuna bergerak lebih cepat untuk memotong jalannya.

"Tiga tahun," lanjut Arjuna, suaranya bergema di hutan malam. "Tiga tahun kalian menghinaku setiap hari. Memanggil aku sampah, dan memanggil aku manusia yang tidak layak hidup. Apakah manusia murni sepertiku tidak layak hidup?”

"Itu benar," sindir Seto, tawa kejam keluar dari bibirnya. "Manusia murni sepertimu adalah sampah. Tidak punya urat nadi spiritual, tidak punya kekuatan, dan tidak punya apa-apa."

"Sekarang lihat aku!" tunjuk Arjuna kepada dirinya sendiri, energi merah di sekitarnya menjadi lebih terang, dan brutal. "Lihat apa yang sudah terjadi padaku sekarang. Hasil dari penghinaan kalian sendiri."

Indra bergerak menyerang, dan tidak sabar lagi untuk mendengarkan.

"Diam bedebah! Wind Fist" bentak Indra, cahaya biru mengumpul di tinju kanannya. "Aku akan membunuhmu dengan tangan sendiri."

Arjuna melangkah ke samping dengan mudah, untuk menghindari pukulan seperti menghindari angin.

Tangan kirinya menyentuh perut Indra dengan gerakan yang presisi.

Matanya fokus pada tubuh Indra, dua titik cahaya biru muncul di dada, dan perutnya.

Itu adalah titik vital Etherion.

“Vital Strike!” seru Arjuna.

Energi merah menyembur dari telapak tangan Arjuna, dan langsung masuk secara cepat ke dalam tubuh Indra, menembus organ-organnya dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari.

Indra membuka mulut untuk berteriak, tapi suara tidak dapat keluar, hanya darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Rasa sakit yang tidak ada di alam semesta ini," gumam Arjuna, matanya menatap Indra dengan ekspresi kosong, "Itu yang kukatakan tiga tahun lalu ketika kalian meludahiku."

Indra terjatuh ke tanah, tubuhnya menggelepar dalam kesakitan yang luar biasa, dan meridian-meridiannya robek dari dalam.

Seto bergerak mundur, wajahnya pucat, dan penuh ketakutan.

"Apa yang kau lakukan kepadanya?" teriak Seto, sayap bercahaya biru menutup tubuhnya sebagai pertahanan. "Kau bukan manusia biasa."

"Itu yang baru kau sadari?" balas Arjuna, melangkah maju dengan kecepatan yang membuat Seto terkejut. "Setelah tiga tahun menghinaku setiap hari?"

Arjuna mengangkat tangan, cahaya merah membentuk pola seperti sisik naga di seluruh lengannya.

"Ingat namaku sekarang?" lanjut Arjuna, suaranya bergema di hutan. "Arjuna Sasrabahu. Nama yang kalian tertawakan setiap saat."

"Jangan!" bisik Seto, suaranya bergetar. "Jangan bunuh aku, aku … meminta maaf."

"Terlambat," desah Arjuna dengan napas pendek penuh kegilaan. "Tiga tahun terlambat untuk meminta maaf. Vital Strike!”"

Tangan Arjuna menembus dada Seto seperti pisau panas memotong mentega.

Seto berteriak, suara yang keluar bukan lagi suara manusia, tapi teriakan hewan yang disiksa.

"Sakit! Aaakh!" jerit Seto, badannya melengkung ke belakang dengan cara yang tidak natural. "Tolong, tolong aku!"

"Tidak ada yang akan menolongmu," bisik Arjuna di telinga Seto, nafasnya panas seperti api gunung berapi. "Seperti yang tidak ada yang menolongku ketika kalian menghinaku."

Seto terjatuh bersamaan dengan Indra. Kedua prajurit itu bergelimpangan di tanah dengan darah mengalir dari setiap celah tubuh mereka.

Arjuna diam untuk menarik nafas panjang.

Meridiannya mulai terasa panas. Sakit yang menjalar dari pusar sampai ke kepala seperti ribuan jarum yang menusuk dari dalam.

Dua skill Vital Strike sudah dipakai, satu lagi bisa dilakukan hari ini sebelum meridiannya benar-benar rusak.

Cahaya panel hologram muncul.

[Kemajuan Misi: 3/10 jantung Etherion dikumpulkan]

[Kemajuan Kultivasi: 15% menuju 20%]

[Warning: Meridian Stress 60%. Satu Vital Strike lagi akan mencapai batas aman]

Arjuna menutup panel dengan malas, matanya masih merah membara.

Dia mendengar suara langkah di antara pohon-pohon, dua prajurit lagi sedang mendekat.

Mereka sudah mendengar teriakan Indra, dan Seto.

Candra, dan Bagas muncul dari kegelapan. Nata mereka membesar melihat tubuh teman-teman mereka bergelimpangan.

"Apa yang terjadi di sini?" bentak Candra, suaranya penuh kemarahan, dan ketakutan. "Indra, Seto, kalian masih hidup?"

Indra dan Seto hanya bisa membuat suara mendesah, meridian mereka sudah hancur, tubuh mereka tidak bisa bergerak lagi. Mereka berdua hanya sedang menunggu raja neraka datang menghampiri beberapa detik lagi.

"Arjuna …," ucap Bagas, suaranya bergema di hutan malam dengan mata membola. "Kau masih hidup?!”

"Aku tidak hanya hidup," jawab Arjuna, tawa gila keluar dari bibirnya. "Aku lebih kuat dari sebelumnya, lebih brutal dari yang kalian bayangkan. Kalian akan merasakan apa yang sudah aku rasakan sebelumnya.”

Candra melangkah maju, dan energi biru mengumpul di tangan-tangannya.

"Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?" bentak Candra, wajahnya merah padam dengan urat otot yang menonjol di sekujur tubuhnya. "Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, dan membuat kau menderita selamanya."

Arjuna bergerak ke depan dengan kecepatan yang melebihi antisipasi Candra.

Matanya fokus pada tubuh Candra untuk mencari titik penanda Vital Strike.

Empat titik cahaya biru muncul, dua di perut, satu di leher, dan satu di belakang kepala.

Candra lebih kuat dari Indra, dan Seto. Titik vitalnya lebih banyak.

‘Vital Strike!”

Arjuna menyentuh perut Candra dengan tangan yang merah membara.

Energi merah meledak dari dalam tubuh Candra, lalu membakar meridian-meridiannya dengan kecepatan yang brutal.

Candra membuka mulut dalam teriakan yang menggoyahkan pohon-pohon di sekitarnya.

"Ini untuk tiga tahun kalian menghinaku," ucap Arjuna, suaranya dingin seperti es yang tidak pernah meleleh. "Ini untuk setiap kata pedas, setiap tatapan penghinaan, dan setiap momen yang kalian curi dari hidupku."

Candra terjatuh ke tanah. Tubuhnya bergerak-gerak dalam penderitaan yang tak terbayangkan.

Meridian Arjuna terasa sangat panas sekarang dengan sakit yang tidak bisa dia tahan lagi.

[Warning: Meridian Stress 100%. Vital Strike tidak bisa digunakan lagi hari ini]

Panel peringatan muncul, tapi Arjuna sudah mengabaikannya.

Dia berdiri di atas Candra, menatap Bagas dengan mata yang penuh kebengisan.

"Berikutnya kau," ucap Arjuna, bergerak maju dengan langkah yang lambat tapi pasti.

Bagas mundur, mata bersinar dengan ketakutan pertama kalinya.

Tiba-tiba, cahaya biru yang sangat terang menyilaukan seluruh hutan.

Komandan Wiryo turun dari langit seperti dewa perang yang murka, aura cahayanya begitu kuat, sehingga membuat semua orang di bawah terasa seperti serangga.

"Arjuna Sasrabahu," ucap Komandan, suaranya seperti guntur yang membelah bumi. "Kau masih hidup?”

Arjuna berbalik, mata merahnya bertemu dengan mata biru Komandan Wiryo.

Meridiannya sedang dalam kondisi kritis, tubuhnya sudah mencapai batas, dan energinya hampir habis.

Akan tetapi dia tersenyum licik dengan menunjukkan gigi yang dipenuhi darah.

"Komandan …," ucap Arjuna, suaranya tenang meskipun kondisinya kritis. "Selamat datang ke perang yang baru."

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!