perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perdebatan pagi hari
Tak lama aku muncul dari dapur bersama Mbak Tini yang kuminta untuk membersihkan meja. Bu Lastri masih berdiri di tempatnya dengan mata melotot.
" Heh, kamu! Ngapain kamu masih bekerja disini? Sana cari tempat lain saja. Jangan harap ada yang membayarmu disini. Menantuku yang kurang ajar ini tidak punya uang untuk membayarmu. Lebih baik kamu pulang sekarang." Ucap Bu Lastri dengan nada tinggi.
Aku berniat membuka suara membela Mbak Tini, tetapi belum sempat mengatakan apapun, terdengar suara pintu kamar terbuka. Mas Rama muncul dengan rambut masih berantakan. Rupanya suara Ibu yang keras telah membangunkannya.
" Ada apa sih? Pagi-pagi sudah ribut begini?" Tanya Mas Rama.
" Itu istrimu!! Sekarang sudah pintar sekali. Sok-sok an memperkerjakan pembantu segala. Memangnya dia punya uang untuk membayar?" Seru Bu Lastri mengadu kepada anak lelakinya.
Sementara itu, Mbak Tini yang terlihat takut. Setelah selesai mengelap meja, aku memberi isyarat kepada Mbak Tini untuk segera kembali kedapur.
" Iya, Bu. Tapi tidak perlu sampau ribut seperti ini. Malu kalau sampai terdengar tetangga." Ucap Mas Rama dengan tenang.
" Lho, kenapa kamu malah membela istrimu? Bukan membela Ibu? Kalau semuanya di kerjakan pembantu, lalu istrimu mau mengerjakan apa? Duduk santai dan bermalas-malasan, begitu? Sombong sekali. Seperti kacang lupa kulit. Lupa dia dari mana dia berasal."
" Ibu, sudah. Jasmine memperkerjakan asisten rumah tangga bukan tanpa alasan. Dia sedang merintis usaha bersama teman-temannya. Jadi dia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengurus usaha itu."
" Apa? Lalu kamu mengijinkan? Kamu juga sudah ikut gila, Rama? Lama-lama kamu yang akan diperas istrimu, karena merasa sudah bisa mencari uang sendiri, nanti kamu malah diinjak-injak olehnya."
" Sudah,bu, sudah. Jangan diteruskan lagi. Aku dan Jasmine sudah membahasnya semalam. Jadi sekarang Ibu duduk saja. Jangan melakukan pekerjaan apapun. Biar asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya." Ujar Mas Rama.
Aku berusaha tetap tenang melihat perdebatan antara Ibu dan anak itu. Meski jujur saja, telingaku sudah terasa panas mendengar berbagai perkataan Bu Lastri yang terus menjelekkan dan menyudutkanku.
Untungnya semalam Mas Rama sudah mendengarkan penjelasanku tentang rencana membuka usaha bersama teman-temanku. Dan tentu saja, pembicaraan itu baru kulakukan setelah dia benar-benar kelelahan dan terkulai lemas di atas tempat tidur setelah permainan tiga ronde.
" Kamu sudah keterlaluan, Rama!! Sudah dicekoki apa kamu sama istrimu, sampai kamu tiba-tiba tunduk kepadanya." Ucap Bu Lastri dengan nada terisak. Setelah itu berbalik berjalan menuju kamar. Mas Rama mencoba menghalangi, namun langsung ditepis oleh Ibu.
Ibu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan begitu keras. Mas Rama hanya menghela napas panjang. Kemudian menatap ke arahku.
" Mas, pagi ini aku mau ke ruko dulu. Hari ini ada tukang yang akan merenovasi rukonya. Jadi harus ada yang mengawasi. Untuk urusan rumah, Mas tenang saja, karena aku sudah menjelaskan tugas-tugas Mbak Tini untuk hari ini. Kalau ada sesuatu, Mas telepon aku saja."
Mas Rama hanya mengangguk. Tidak ada larangan dan tidak ada protes. Karena semalam sudah menjadi kesepakatan bersama.
..............................
Pukul 8 pagi, aku sudah melajukan motorku dengan perlahan. Jalanan akhir pekan terlihat cukup lenggang, membuat perjalanan menuju ruko terasa lebih menyenangkan. Sesekali aku menambah kecepatan, berharap bisa tiba sebelum para pekerja datang.
Di sepanjang perjalanan, pikiranku justru kembali pada percakapanku dengan Mas Rama sebelum berangkat tadi.
" Yang, apa kamu benar-benar sudah mempertimbangkan kembali rencana membuka usaha mu ini?" Tanya Mas Rama.
" Tentu saja sudah, Mas. Memangnya kenapa?" Tanyaku balik.
" Kalau nanti kamu sibuk mengurus usahamu. Pasti kamu tidak akan punya banyak waktu untuk mengurusku dan juga mengurus anak-anak." Jawab Mas Rama.
Aku terdiam mendengar alasannya. Kemudian aku menatapnya dengan tenang.
" Mas, selama ini aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga. Tapi tetap saja rasanya selalu ada yang kurang di mata mu dan juga Ibu. Jadi kali ini aku ingin memilih jalan ini untuk diriku sendiri. Aku juga ingin merasa dihargai dan punya sesuatu yang bisa kubanggakan." Ujarku memberi penjelasan.
Mas Rama terdiam. Tatapannya tertuju kepadaku. Mungkin dia mulai berpikir ulang. Atau mungkin dia mulai khawatir kalau aku benar-benar berubah dan tidak lagi bergantung sepenuhnya kepadanya. Bisa jadi Mas Rama mulai meragukan keputusannya untuk mengijinkan aku memiliki usaha sendiri.
" Apakah gajiku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, yang? Bukankah semua kartu sudah aku berikan kepadamu?" Tanya Mas Rama.
" Mas ingat tidak? Selama ini berapa uang yang selalu Mas berikan kepadaku?"
" Iya, iya yang. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membatasi masalah keuangan. Tapi kita juga harus memikirkan kebutuhan lainnya."
" Sudahlah, Mas. Lagipula kita sudah sepakat, kan? Jadi kurasa tidak perlu di perdebatkan lagi. Yang terpenting aku tetap menjalankan tugasku sebagai seorang istri dan Juga seorang Ibu." Ucapku memberikan penjelasan.
" Iya yang,,, Tapi......"
Mas Rama menggantung kalimatnya. Entah apa yang sebenarnya yang ingin dia katakan. Wajah nya tampak ragu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Akhirnya dia hanya menghembuskan napas panjang.
" Sudah ya ,Mas. Aku pergi dulu. Kalau nanti Aira bangun, tolong dibantu. Mungkin nanti akan sedikit rewel karena baru bangun tidur. Tapi tidak akan lama." Ucapku sambil mengambil kunci motor di atas meja.
" Iya, hati-hati dijalan."
" Iya, Mas. Assalamualaikum."
" Walaikumsallam."
Aku tersenyum penuh kemenangan. Karena Mas Rama tidak bisa menahanku langkahku. Bukan karena aku ingin melawannya, tetapi karena sudah terlalu banyak hal yang terjadi hingga aku merasa berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Semua penghianatan yang dia lakukan pasti memiliki balasan dan konsekuensinya sendiri.
Ada harga yang harus dibayar. Aku sudah tidak peduli apakah Mas Rama memilih kembali kepada keluarga kecilnya ,ataukah memilih wanita jalang itu.
Terserah.
Aku sudah terlalu lelah. Aku hanya ingin fokus pada tujuanku. berjuang demi masa depan anak-anak.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏😘