NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34: Rute Aman Menuju Pulang

Genggaman tangan Valerius di jemari Savya terasa begitu hangat dan kokoh, kontras dengan hawa dingin yang mendadak melingkupi tubuh Savya akibat teror foto dari Katya. Pria itu tidak memberikan jika bagi Savya untuk tenggelam dalam kepanikannya. Dengan langkah kaki yang tenang namun pasti, ia menuntun Savya membelah jalur taman kota menuju area parkir.

Savya yang masih syok hanya bisa melangkah patuh di samping tubuh tegap Valerius. Pikirannya kosong, namun ia menyadari satu hal. Setiap kali mereka melewati celah terbuka di antara rimbunnya pepohonan, Valerius secara alami akan bergeser, memposisikan tubuhnya yang tinggi di sisi luar—seolah dengan sengaja menjadikannya perisai fisik untuk menutupi tubuh Savya dari sudut bidik kamera mana pun yang mungkin sedang mengintai di kejauhan.

Begitu sampai di area parkir, Valerius membukakan pintu depan mobil sedan mewahnya dengan cekatan.

"Masuk, Savya," ucap Valerius lembut namun tegas.

Savya bergerak cepat masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk. Detik berikutnya, Valerius memutari kap mobil, duduk di balik kemudi, dan langsung mengunci seluruh pintu secara otomatis. Suara klik dari sistem pengunci mobil entah mengapa membuat dada Savya yang semula sesak perlahan mulai bisa meraup oksigen kembali.

Valerius tidak langsung menyalakan mesin. Ia berbalik ke kursi belakang, mengambil sebotol air mineral yang masih segel, lalu membukanya sebelum menyodorkannya ke hadapan Savya.

"Minum ini dulu. Napas mu terlalu pendek, Savya. Tenangkan dirimu," ujar Valerius dengan nada suara yang rendah dan teratur, seolah situasi di luar sana sama sekali bukan ancaman besar baginya.

Savya menerima botol itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia meminumnya beberapa teguk, membiarkan air dingin itu membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kelontong.

"Terma kasih," bisik Savya lirih. Ia menaruh botol itu di konsol tengah, lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang nanar. "Aku... aku tidak menyangka Katya akan sejauh ini. Dia mengawasi ku sejak di galeri, Valerius. Dia tahu semua tempat yang ku kunjungi hari ini."

Valerius menyalakan mesin mobil, membuat deru halus mesin terdengar menenangkan di dalam kabin yang kedap suara. Sebelum memindahkan tuas transmisi, ia menoleh sebentar ke arah Savya.

"Ke mana arah rumahmu, Savya? Sebutkan jalurnya, aku akan mengantarmu," tanya Valerius datar, menunggu petunjuk jalan dari wanita di sampingnya.

Savya berkedip pelan, mencoba mengumpulkan kembali fokusnya yang sempat tercerai-berai. "Ah... keluar dari area taman ini, kamu ambil jalur kanan di lampu merah pertama. Nanti lurus saja sampai melewati jembatan layang."

Valerius mengangguk sekali tanpa banyak bertanya lagi. Ia mulai memutar kemudi, membawa mobil tersebut keluar dari area parkir taman dengan santai menuju rute yang disebutkan.

"Itu hanya taktik gertakan, Savya. Dia ingin mengacaukan mentalmu agar kamu mengambil keputusan yang salah karena panik," sahut Valerius setelah mobil mereka bergabung dengan arus lalu lintas jalan raya.

"Tapi bagaimana kalau dia nekat?" suara Savya mulai naik satu oktav, sarat akan rasa frustrasi yang tertahan. "Bagaimana kalau orang suruhannya tidak hanya mengambil foto? Bagaimana kalau mereka mencelakai orang tuaku atau adikku di rumah? Logikaku benar-benar buntu sekarang, Valerius. Aku menutup kedai untuk melindungi karyawanku, tapi sekarang aku justru membawa bahaya itu ke dekat keluargaku."

Valerius melirik sekilas ke arah samping, menatap profil wajah Savya yang tampak pucat dan cemas. Pria itu menghela napas pendek, lalu mengulurkan sebelah tangan yang bebas untuk mengetuk pelan layar ponsel Savya yang tergeletak di pangkuan wanita itu.

"Langkah pertama yang harus kamu lakukan sekarang adalah memasukkan ponsel itu ke dalam tasmu, Savya," kata Valerius tenang.

Savya mengernyitkan dahi, menoleh ke arah pria di sampingnya dengan bingung. "Kenapa? Aku harus tetap bersiap kalau-kalau ada pesan atau ancaman lain masuk."

"Tidak, kamu tidak harus melakukannya," bantah Valerius halus namun telak. "Melihat layar itu terus-menerus hanya akan memberi makan rasa takutmu. Biarkan ponselmu menyala untuk berjaga-bahaya jika ada hal darurat dari rumah, tapi jangan membuka ruang obrolan itu lagi untuk hari ini. Jangan biarkan Katya mengendalikan emosimu dari jarak jauh."

"Tapi—"

"Dengar," potong Valerius, suaranya terdengar sangat meneduhkan saat mobil mereka terus membelah jalanan utama kota. "Aku ada di sini, bersamamu. Dan aku pastikan rute perjalanan menuju rumahmu sore ini sepenuhnya aman. Tidak akan ada satu pun kendaraan atau orang asing yang bisa mendekatimu selama kamu berada di dalam mobil ini. Bisakah kamu mempercayaiku untuk bagian itu? Sekarang, ke mana lagi setelah pertigaan di depan?"

Savya tertegun. Ia menatap lekat pada garis rahang tegas Valerius yang tampak tenang di balik kemudi. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan. Cara Valerius mengendalikan situasi dengan sikap yang membumi dan realistis seperti ini perlahan-lahan meruntuhkan sisa kepanikan di dada Savya.

Savya akhirnya mengembuskan napas panjang yang berat. Ia mengambil ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas jinjingnya seperti yang diinstruksikan.

"Masuk ke kompleks perumahan di sebelah kiri, Valerius. Rumah nomor dua belas yang ada pagar besi hitamnya," jawab Savya pelan, matanya mulai menatap ke luar jendela.

"Baik," sahut Valerius singkat.

Mobil sedan mewah Valerius perlahan melambat dan berhenti tepat di depan pagar rumah keluarga Savya sesuai petunjuk. Suasana sore di sekitar rumah itu tampak tenang, namun begitu deru mobil berhenti, pintu pagar rumah segera berderit terbuka.

Seorang wanita paruh baya melangkah keluar dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Itu adalah ibu Savya. Sejak kepergian Savya siang tadi, firasat seorang ibu memang tidak pernah bisa dibohongi; beliau tahu anak gadisnya sedang membawa beban berat yang tidak diceritakan.

"Ibuku keluar," bisik Savya, mendadak merasa canggung karena pulang diantar oleh seorang pria dengan mobil mewah.

"Mari kita turun. Aku harus memastikan keselamatanmu sampai di depan pintu," ujar Valerius datar namun penuh tanggung jawab.

Mereka berdua turun dari mobil secara bersamaan. Ibu Savya yang melihat anak gadisnya turun dari mobil asing segera mempercepat langkah kakinya mendekat. Matanya langsung memindai wajah Savya yang masih menyisakan sedikit rona pucat.

"Vya! Ya ampun, Nak, kamu dari mana saja? Ibu menelepon mu berkali-kali tapi tidak diangkat," suara ibunya terdengar bergetar khawatir, sepasang tangannya langsung memeluk pundak Savya dengan erat. "Wajahmu kenapa pucat sekali? Kamu sakit?"

Savya membalas pelukan ibunya, mencoba memberikan ketenangan yang palsu. "Vya tidak apa-apa, Bu. Ponsel Vya tadi dimasukkan ke dalam tas jadi tidak kedengaran. Maaf sudah membuat Ibu khawatir."

Pandangan ibu Savya kemudian beralih pada sosok pria jangkung berpakaian formal yang berdiri tegak di samping mobil dengan sikap yang sangat sopan namun terlihat sedikit kaku. "Lahu... ini siapa, Vya?"

Valerius segera melangkah maju satu langkah, menundukkan kepalanya sedikit dengan gestur tubuh yang sangat formal dan menjaga jarak di depan wanita paruh baya itu.

"Selamat sore, Tante. Saya Valerius, rekan kerja Savya," ucap Valerius. Suaranya terdengar bariton, singkat, padat, namun tetap terdengar sangat santun di telinga orang tua.

Ibu Savya menatap Valerius, menangkap kesan tegas dan irit bicara dari pria tersebut. Kekhawatiran di wajah ibunya sedikit mereda, digantikan oleh rasa sungkan sekaligus lega. "Oh, Nak Valerius. Terima kasih banyak sudah mengantarkan anak gadis saya pulang. Tadi pagi dia pamit mau menyegarkan pikiran, tapi sore ini pulangnya malah lemas begini. Mari, Nak, masuk dulu ke dalam. Ibu buatkan teh hangat."

Valerius memberikan anggukan kecil yang sangat sopan, menolak tawaran itu dengan cara yang halus tanpa merusak etika. "Terima kasih atas tawarannya, Tante. Namun saya harus segera kembali ke kantor. Masih ada urusan pekerjaan penting yang harus saya selesaikan sore ini."

Ibu Savya mengangguk paham, menghargai kesibukan pria di depannya. "Ah, begitu ya? Pekerjaan kantoran memang repot sekali ya, Nak. Kalau begitu, sekali lagi terima kasih banyak ya sudah memastikan Vya sampai di rumah dengan selamat."

"Sama-sama, Tante. Saya permisi dulu," jawab Valerius singkat.

Sebelum berbalik menuju pintu kemudi, Valerius mengalihkan pandangannya lurus pada Savya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksinya. Tatapan mata Valerius mendadak berubah menjadi sangat dalam, seolah mengunci seluruh atensi Savya hanya pada dirinya. Ada pesan tak tersirat yang sangat kuat di balik tatapan itu—sebuah janji senyap bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Aku pamit dulu, Savya. Istirahatlah," ucap Valerius, suaranya terdengar lebih melembut namun tetap irit kata.

Savya menelan ludah dengan berat, merasakan debaran aneh yang kembali berpacu di dalam dadanya akibat tatapan intens tersebut. Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, Valerius. Hati-hati di jalan. Terima kasih untuk hari ini."

Valerius mengangguk sekali sebagai tanda perpisahan, lalu masuk ke dalam mobilnya tanpa membuang waktu lagi. Tak lama kemudian, mobil sedan mewah itu perlahan melaju pergi, membelah jalanan kompleks perumahan yang mulai temaram oleh bayang-bayang senja.

Ibu Savya merangkul pinggang anaknya, menatap sisa kepergian mobil Valerius dengan dahi sedikit berkerut namun kagum. "Temanmu itu kelihatan tegas dan sedikit pendiam ya, Vya. Tapi sopan sekali. Ibu jadi sedikit lebih tenang melihatmu ada yang menjaga di luar sana."

Savya hanya bisa tersenym getir mendengar penuturan ibunya. Matanya masih menatap kosong pada ujung jalan tempat mobil Valerius menghilang. Di balik rasa aman yang berhasil pria itu berikan sore ini, batin Savya justru semakin bergejolak hebat. Ia merasa dinding pertahanannya telah runtuh sepenuhnya, tanpa pernah ia sadari bahwa di balik sosok pekerja kantoran dingin yang baru saja mengantarnya pulang dengan selamat, seluruh pergerakan hidupnya dan juga teror Katya sebenarnya sedang digerakkan dari balik bayang-bayang oleh pria yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!