Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 kedaulatan jiwa sang Kaisar dan jejak kaki menembus awan
Kata-kata yang meluncur dari bibir Yan Xinghe bagaikan sebilah belati es yang memotong seluruh keangkuhan tirani di bawah langit Kota Awan Mengambang.
Di atas tribun tertinggi, wajah tampan Gongsun Zhi yang semula dipenuhi senyum meremehkan seketika membeku. Sepasang matanya yang jernih menyipit tajam, memancarkan kilatan rasa terhina yang luar biasa. Sebagai Tuan Muda dari Tanah Suci Gerbang Langit Abadi, ia terbiasa melihat para penguasa kerajaan besar bersujud merangkak di bawah kakinya hanya untuk memohon sepatah kata petunjuk. Hari ini, di sebuah benua pinggiran yang kotor, seorang pemuda yang bahkan belum membuka satu pun meridiannya berani menyamakan leluhur pendiri faksi agungnya dengan seorang pelayan pembersih debu.
"Kelancangan yang melampaui batas langit!"
Suara raungan itu bukan keluar dari mulut Gongsun Zhi, melainkan dari salah satu tetua paruh baya di belakangnya. Pria tua itu bernama Tetua Xuan Kong, seorang ahli veteran di **Alam Melangkah Langit Tingkat Ketiga**.
Tetua Xuan Kong melangkah maju satu langkah di atas udara kosong. Seketika itu juga, atmosfer di dalam Stadion Besar Aliansi runtuh. Gelombang tekanan spiritual yang berwarna putih keperakan meledak dari tubuhnya, menyebar layaknya tsunami tak kasat mata yang meratakan sisa-sisa tembok tribun yang masih berdiri.
*BUMMM!*
Ribuan penonton di tribun bawah serentak memuntahkan darah segar. Beberapa praktisi lemah di Alam Penyempurnaan Tubuh langsung pingsan dengan telinga berdarah, tidak sanggup menahan seperseribu bagian dari tekanan aura seorang master transenden. Lin Zheng dan Lin Muxue terpaksa berlutut di lantai kayu tribun mereka, wajah mereka sepucat kertas, menggunakan seluruh energi mereka sekadar untuk menjaga jantung mereka tetap berdetak.
Ini adalah kekuatan Alam Melangkah Langit. Ranah di mana manusia fana telah berhasil memutuskan rantai gravitasi bumi, mampu memanipulasi hukum ruang skala kecil untuk menghancurkan musuh tanpa perlu mengayunkan tangan.
Xinghe berdiri diam di pusat badai tekanan tersebut. Jubah sutra hitamnya berkibar liar, menghasilkan suara robekan tajam di udara. Kulit porselen dari *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya berkedut panas, memancarkan rona keunguan pasif untuk menahan himpitan energi yang mencoba meremukkan persendiannya. Beban seberat lima ribu kati dari pedang berat di tangannya justru bertindak sebagai jangkar, menahan kakinya agar tidak bergeser satu milimeter pun dari lantai arena yang retak.
"Tuan Muda, izinkan hamba memotong lidah bocah ini dan menghancurkan jiwanya menjadi serpihan abu," desis Tetua Xuan Kong, matanya menyala oleh niat membunuh yang murni.
Gongsun Zhi mengangkat tangan kanannya perlahan, menghentikan pergerakan pengawalnya. Kemarahan di wajahnya telah berganti menjadi kedinginan yang amat pekat. "Jangan bunuh dia dengan cepat, Tetua Xuan Kong. Aku ingin kau mematahkan setiap sendi di tubuhnya terlebih dahulu. Aku ingin melihat apakah tulang rahangnya tetap sekeras kata-katanya saat ia merangkak menjilati sepatuku."
"Hamba menerima titah!"
Tetua Xuan Kong membalikkan telapak tangannya ke bawah. Di angkasa di atas arena, energi spiritual alam dalam radius beberapa mil mendadak berputar liar, memadat membentuk sebuah cetakan telapak tangan raksasa berwarna putih keperakan sepanjang lima puluh meter. Telapak tangan itu memancarkan garis-garis hukum ruang yang retak, menekan turun dengan kecepatan maut lurus menuju kepala Xinghe.
Jurus **"Telapak Tangan Penunduk Iblis Sembilan Langit"**. sebuah teknik orisinal dari Tanah Suci yang sanggup meratakan sebuah gunung kecil menjadi dataran rendah dalam sekali hantam.
Menghadapi kehancuran yang jatuh dari langit, mata gelap Xinghe tidak mencerminkan kepanikan sedikit pun. Jiwa kaisarnya tahu benar bahwa secara kekuatan fisik murni, Tubuh Fana Tingkat Kesepuluh miliknya saat ini berada dalam posisi kalah mutlak. Perbedaan tingkat kultivasi antara Penyempurnaan Tubuh dan Melangkah Langit bukan lagi sekadar jurang, melainkan perbedaan antara setitik debu dan bentangan cakrawala.
Akan tetapi, seorang Kaisar Pedang tidak pernah bertarung murni mengandalkan ketebalan energi.
Xinghe menggertakkan giginya, membalikkan *Pedang Berat Tanpa Bilah* miliknya hingga posisi ujung tumpulnya menunjuk ke langit. Sembilan Meridian Petir di dalam dadanya meraung di tingkat maksimal, memompa seluruh sisa energi api Gagak Emas dan guntur murni ke dalam struktur *Meteorit Bintang Kegelapan* di tangannya.
Guratan emas-merah di bilah pedang hitam itu menyala luar biasa terang, melepaskan raungan guntur yang memekakkan telinga. Xinghe menarik napas panjang, mengabaikan rasa perih di dadanya akibat tegangan berlebihan pada sisa organ dalamnya.
"Seni Pedang Berat Penakluk Semesta: Formasi Patahan Poros Bumi!"
Xinghe mengayunkan pedang beratnya ke atas dalam gerakan setengah lingkaran yang sangat lambat namun membawa bobot visual yang luar biasa padat. Ayunan itu tidak melepaskan kilatan cahaya pedang; sebaliknya, ayunan itu memampatkan seluruh udara dan hukum gravitasi di sekitar arena menjadi satu titik fokus yang tajam di ujung pedangnya.
*DUAAAAARRR!*
Telapak tangan raksasa berwarna putih keperakan itu menghantam titik fokus pedang berat Xinghe di udara. Benturan dua kekuatan ekstrem itu menciptakan riak kejut spasial yang membelah seluruh Stadion Aliansi menjadi dua bagian yang terpisah. Tembok-tembok pelindung runtuh total, menciptakan hujan debu yang menggelapkan pandangan seluruh kota.
Di pusat benturan, tubuh Xinghe bergetar hebat. Semburan darah segar keluar dari mulutnya, menodai jubah hitamnya menjadi basah pekat. Tiga dari sembilan meridian petirnya yang baru disambung kembali retak, mengirimkan rasa sakit yang menusuk jiwa. Ini adalah harga mutlak yang harus dibayar fisiknya karena memaksakan diri menahan serangan tingkat transenden.
Walaupun fisiknya terluka parah, hasil pertarungan membuat Tetua Xuan Kong membelalakkan matanya ngeri.
Telapak tangan raksasa miliknya—yang didukung oleh kekuatan Alam Melangkah Langit—tidak mampu menekan Xinghe ke tanah. Sebaliknya, hantaman dari berat absolut meteorit hitam yang dipadukan dengan wawasan struktur ruang tingkat kaisar telah memicu keretakan di pusat energi telapak tangan tersebut. Garis-garis cahaya ungu petir merambat cepat, memecah cetakan energi putih itu menjadi jutaan serpihan cahaya yang bubar ditiup angin.
Serangan seorang master Tanah Suci berhasil dihancurkan oleh seorang pemuda fana.
"Mustahil! Sengketa hukum ruang macam apa ini?!" Tetua Xuan Kong terhuyung mundur satu langkah di udara, napasnya mendadak tidak stabil akibat umpan balik energinya yang hancur.
Xinghe menyeka darah di dagunya menggunakan punggung tangan kirinya. Sepasang mata gelapnya yang kini memancarkan kilatan ungu-keemasan menatap langsung ke arah rona panik di wajah Gongsun Zhi.
"Tanah Suci kalian menghabiskan ribuan tahun hanya untuk mempelajari cara memadatkan energi kosmik secara kasar," suara Xinghe bergema di tengah kepulan debu, datar dan penuh penghinaan yang menusuk. "Di mataku, teknikmu tidak lebih dari seonggok lumpur yang dilemparkan dengan tenaga kuat. Panggung fana ini terlalu sempit untuk menghiburku lebih lama. Gongsun Zhi, ingatlah wajah ini baik-baik. Hari di mana aku melangkah masuk melewati gerbang Tanah Sucimu, adalah hari di mana seluruh silsilah klanmu akan dihapus dari tatanan Tiga Ribu Dunia."
Sebelum Tetua Xuan Kong dan pengawal lainnya sempat melancarkan serangan kedua, Xinghe menghentakkan pangkal pedang beratnya ke lantai arena dengan kekuatan penuh.
*BOOM!*
Sebuah formasi pelarian darurat kuno—*Jejak Hantu Pembalik Ruang*—yang telah digambar Xinghe secara rahasia menggunakan darah Mu Canghai dan serpihan energi Puppet Iblis di awal pertarungan, seketika menyala terang di bawah kakinya. Cahaya ungu keemasan melesat membungkus tubuh kurusnya.
Dalam sekejap mata, siluet Yan Xinghe perlahan memudar, menyatu dengan pusaran angin debu, dan menghilang sepenuhnya dari area Stadion Aliansi tanpa meninggalkan jejak energi sedikit pun yang bisa dilacak oleh indra spiritual para master transenden tersebut.
Gongsun Zhi berdiri mematung di atas tribun, wajah tampannya kini berubah menjadi merah padam akibat amarah yang tak terbendung. "Cari dia! Kepung seluruh kota! Hubungi Asosiasi Naga Bayangan! Siapa pun yang menyembunyikan bocah itu, bantai seluruh keluarganya tanpa sisa!"
Raungan sang Tuan Muda Tanah Suci menandai berakhirnya era kedamaian di Kota Awan Mengambang. Sebuah legenda baru tentang pemuda berjubah hitam yang menantang langit telah resmi lahir, siap membakar seisi benua pada waktu yang telah ditentukan.
Tiga jam setelah badai di stadion mereda, suasana di kedalaman Hutan Bambu Hijau sayap barat Paviliun Awan Putih diselimuti ketegangan yang sunyi.
Pintu rahasia Paviliun Bambu Hijau bergeser terbuka secara perlahan. Sesosok pemuda melangkah masuk dengan tubuh yang condong ke depan, bertumpu erat pada gagang pedang berat hitam di tangan kanannya. Jubah sutra hitamnya telah robek di beberapa bagian, menyingkap luka memar kebiruan yang memancarkan sisa-sisa energi spiritual putih keperakan milik Tetua Xuan Kong.
"Xinghe!"
Yan Qingshan yang sedari tadi bersiaga di balik pintu langsung melompat maju, menopang tubuh adiknya yang nyaris ambruk ke lantai kayu. Wajah pemuda kekar itu dipenuhi kecemasan yang mendalam melihat kondisi Xinghe yang begitu mengenaskan. Dari dalam ruangan, Shen Yulan dan Yan Xiaoxiao berlari keluar dengan mata berkaca-kaca, segera membantu memapah Xinghe menuju ranjang bambu.
"Aku baik-baik saja... hanya cedera otot luar dan sedikit keretakan di jalur meridian," bisik Xinghe seraya mendudukkan diri, napasnya terdengar pendek dan serak. Ia segera mengeluarkan botol obat penyembuh luka dalam terbaik dari kantong penyimpanannya, menelan tiga butir pil sekaligus untuk menekan gejolak darah di dadanya.
Qingshan mengepalkan tinjunya kuat-kuat, rasa frustrasi kembali menggerogoti hatinya. "Seluruh kota sedang dikepung oleh pasukan berzirah putih dari Tanah Suci, Xinghe. Nona Lin Muxue diam-diam mengirim pesan melalui Ye Ling'er setengah jam lalu. Ia mengatakan bahwa Ketua Lin sedang mengulur waktu di balai kota untuk mengalihkan perhatian Gongsun Zhi, tetapi tempat ini tidak akan aman lebih dari beberapa jam."
Xinghe memejamkan mata, membiarkan khasiat pil obat menyebar menstabilkan lautan energinya. *Tubuh Fana Tanpa Cacat* miliknya menunjukkan tingkat pemulihan yang tidak masuk akal; serat otot yang robek mulai merajut kembali secara perlahan di bawah siraman sisa energi api Gagak Emas.
"Tempat ini memang sudah selesai bagi kita," ucap Xinghe perlahan, membuka sepasang mata gelapnya yang kembali sedalam jurang tak berdasar. "Kota Awan Mengambang hanyalah kolam dangkal. Mengalahkan Keluarga Mu dan Sekte Pedang telah menguras habis sisa nilai komersial tempat ini. Kehadiran Tanah Suci justru menjadi petunjuk yang bagus; itu berarti material kultivasi tingkat tinggi yang kubutuhkan berada di wilayah pusat benua."
Xinghe menatap wajah ibunya yang dipenuhi ketakutan. "Ibu, Kakak, kita akan meninggalkan kota ini melalui jalur bawah tanah distrik selatan malam ini juga. Ye Ling'er akan memandu rute pelarian kita."
"Ke mana kita akan pergi, Xinghe?" tanya Shen Yulan, membelai pipi putranya yang dingin. "Tanah Suci memiliki mata dan telinga di setiap kerajaan besar di benua ini. Ke mana pun kita melangkah, nama keluarga Yan akan menjadi buronan."
Sebuah senyum tipis, sedingin es abadi, terukir di bibir Xinghe. "Jika seluruh benua ini memburu kita, maka kita hanya perlu pergi ke tempat di mana hukum Tanah Suci itu sendiri tidak berlaku. Kita akan menuju *Kekaisaran Naga Langit* di wilayah timur laut."
Qingshan terkesiap, ingatan lamanya sebagai penebang kayu memunculkan nama legendaris tersebut. "Kekaisaran Naga Langit? Bukankah itu wilayah perang yang dikuasai oleh tiga faksi militer raksasa? Tempat di mana pembunuhan terjadi setiap detik?"
"Tepat sekali," jawab Xinghe tegas seraya bangkit berdiri dari ranjang, meraih kembali pedang beratnya. "Di tempat yang penuh kekacauan dan darah seperti itulah, identitas kita akan tersamarkan dengan sempurna. Di sana pula, aku bisa memburu inti monster tingkat tinggi dan menjarah sumber daya militer untuk mendorong kultivasiku menembus *Alam Pembukaan Meridian* dan *Alam Pemadatan Inti* dalam waktu sesingkat mungkin."
Langkah kaki yang halus terdengar dari arah langit-langit paviliun. Tirai jendela bergetar, dan Ye Ling'er melompat masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang tidak lagi jenaka. Wajah mungil sang gadis penenun informasi tampak sangat serius, beberapa noda debu hitam mengotori pakaian hijaunya.
"Waktu kita habis, Yan Xinghe," potong Ye Ling'er cepat, menyilangkan kedua lengannya di dada. "Pasukan zirah putih Tanah Suci baru saja merubuhkan gerbang sayap timur Paviliun Awan Putih. Master Gu Yan sedang mencoba menahan mereka dengan meledakkan beberapa tungku alkimia tiruan, tetapi itu hanya memberikan kita waktu lima belas menit."
Xinghe mengangguk tipis. Ia mengikatkan kembali pedang berat *Meteorit Bintang Kegelapan* ke punggungnya menggunakan tali kulit yang baru. Berat lima ribu kati itu kembali menekan pundaknya, bertindak sebagai cambuk penderitaan fana yang terus menempa kekuatan fisiknya di setiap detik perjalanan.
"Ayo pergi," perintah Xinghe.
Rombongan kecil keluarga Yan, dipimpin oleh Ye Ling'er, melangkah keluar melalui pintu rahasia di bawah lantai dapur paviliun, menerobos kegelapan lorong bawah tanah yang dingin dan lembap. Mereka meninggalkan kemewahan Kota Awan Mengambang di belakang mereka, berjalan menembus kegelapan malam menuju wilayah yang jauh lebih luas, lebih berdarah, dan penuh dengan kesengsaraan.
Naga yang baru bangkit dari dasar jurang itu kini telah melebarkan sayapnya lebih lebar, bersiap menantang badai kosmik yang sesungguhnya di bentangan Tiga Ribu Dunia. Langkah kakinya yang berdarah menembus awan tinggi baru saja dimulai.