Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bianca Membeli Senjata dengan Menawar Harga
Pertemuan dengan Paman Vinnie malam itu berhasil dilewati dengan penuh ketegangan, namun dewan klan De Luca tidak bodoh. Mereka mulai mencium aroma ketidakberesan. Meskipun Bianca berhasil memasang wajah sangar Lorenzo dan menggertak Vinnie hingga orang tua itu mundur teratur, Dante memberikan peringatan keras: klan De Luca sedang mengalami krisis persenjataan. Sebagian besar gudang senjata mereka di Roma telah disita polisi setelah insiden katedral, atau dihancurkan oleh klan Rosanera.
"Kita butuh pasokan baru," kata Lorenzo (dalam tubuh Bianca) saat mereka berkumpul di dapur safe house keesokan paginya. "Aku sudah menghubungi Il Macellaio—Tukang Daging. Dia adalah salah satu penyelundup senjata pasar gelap terbesar di Italia Tengah. Kita akan bertemu dengannya di pelabuhan tua Ostia malam ini."
Dante menggelengkan kepala. "Masalahnya, rekening utama klan sedang dibekukan oleh dewan dewan untuk sementara sampai audit skandal katedral selesai. Kita hanya punya uang tunai darurat dalam jumlah terbatas. Anggaran kita ketat, Lorenzo."
Bianca (dalam tubuh Lorenzo) yang sedang asyik mencelupkan biskuit ke dalam kopi hitamnya langsung mendongak. Matanya berbinar. "Uang tunai terbatas? Anggaran ketat? Wah, serahkan pada saya, Mas Bos! Ini adalah keahlian utama saya sebagai alumni mahasiswi pemburu diskon Tanah Abang!"
Lorenzo menatap tubuhnya sendiri dengan cemas. "Bianca, kita sedang membeli senapan serbu dan bahan peledak militer, bukan membeli baju sisa ekspor atau sayur mayur di pasar tradisional."
"Halah, sama aja! Prinsip ekonomi itu universal, Mas: mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan barang sebagus-bagusnya. Pokoknya nanti malam, biar saya yang ngomong. Mas Lorenzo cukup berdiri di belakang saya sambil pasang muka imut."
Lorenzo menghela napas panjang, meratapi nasib martabat klannya yang kini berada di ujung lidah seorang gadis semprul.
Malam harinya, angin laut yang dingin berembus kencang di Pelabuhan Ostia. Di dalam sebuah gudang tua tempat penyimpanan kontainer ikan yang sudah tidak terpakai, bau amis berbaur dengan bau oli senjata.
Il Macellaio—seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan celemek kulit yang dipenuhi noda hitam, ditemani oleh empat pengawal berwajah bengis yang memegang submachine gun—sudah menunggu di balik sebuah meja kayu besar. Di atas meja, beberapa peti kayu telah dibuka, menampung deretan pucuk senjata yang masih berkilat karena minyak pelindung.
Bianca (tubuh Lorenzo) melangkah masuk dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan mahalnya. Di belakangnya, Lorenzo (tubuh Bianca) berjalan dengan kaku, mengenakan jaket hoodie kedodoran yang dipaksa Bianca agar ia "terlihat seperti asisten yang tertindas." Dante dan Valerio berjaga di luar gudang untuk mengamankan perimeter.
"Ah, Don Lorenzo!" suara Il Macellaio terdengar serak, menggema di dalam gudang yang luas. "Suatu kehormatan bisa berbisnis lagi dengan Anda setelah kekacauan di katedral. Saya dengar Anda sedang butuh 'mainan' baru dengan cepat?"
Bianca mengubah ekspresi wajah Lorenzo menjadi sedikit miring, mencoba meniru gaya bos mafia yang berwibawa, meskipun ia lupa membuang permen karet di mulutnya. "Iya, nih, Om Macel. Gudang lama saya agak kena apes kemarin. Jadi saya mau borong. Apa aja yang ada di menu hari ini?"
Il Macellaio mengernyitkan dahi mendengar panggilan "Om Macel", namun ia tetap tersenyum profesional. Ia menepuk salah satu peti. "Ini dia. AR-15 versi modifikasi taktis, lengkap dengan peredam suara dan kekerangan holografik. Akurasi tinggi, sangat cocok untuk membalas dendam pada Rosanera. Harga normal untuk klan De Luca: dua ribu lima ratus Euro per pucuk. Saya punya lima puluh pucuk ready."
Lorenzo asli yang berdiri di belakang Bianca langsung menghitung dalam hati. Totalnya seratus dua puluh lima ribu Euro. Uang tunai mereka di koper hanya ada seratus ribu Euro. Mereka akan kurang.
Namun, sebelum Lorenzo sempat membisikkan sesuatu, Bianca sudah melangkah maju. Ia mengambil satu pucuk AR-15, membolak-balik akal-akalan senjata itu seperti emak-emak yang sedang memeriksa kualitas bahan daster.
"Dua ribu lima ratus?" Bianca berdecak, suaranya bariton Lorenzo terdengar sangat meremehkan. "Om, jangan bercanda dong. Ini besinya agak lecet di bagian pelatuk. Terus ini kekerannya agak goyang dikit. Kualitas KW super ya ini? Jangan bohongin saya, Om. Di negara saya, senjata kayak gini tiruannya banyak di toko mainan."
Il Macellaio terperangah. Wajahnya memerah. "KW super?! Don Lorenzo, ini diproduksi langsung dari pabrik militer Eropa Timur! Lecet itu karena gesekan di dalam peti pengiriman!"
"Ah, masa? Pokoknya saya nggak mau tahu. Ini kalau di pasar loak harganya nggak nyampe seribu lima ratus," bohong Bianca dengan wajah paling meyakinkan sejagat raya.
Lorenzo (tubuh Bianca) di belakangnya langsung memegangi keningnya. Ia ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dalam laut Ostia saat itu juga. Seorang Capo dei Capi menawar senjata militer dengan alasan "ada lecet dikit" dan membandingkannya dengan pasar loak.
"Don Lorenzo, Anda bercanda?" Il Macellaio mulai merasa terhina. Dua pengawalnya menggeser posisi senjata mereka. "Harga saya adalah harga mati di pasar gelap Italia."
"Nggak ada yang mati sebelum saya tembak, Om," balas Bianca santai, menggunakan nama besar Lorenzo untuk menggertak. Ia kemudian bersedekah senyum tipis. "Gini aja. Saya ini kan langganan lama. Masa nggak ada diskon kemitraan? Diskon early bird? Atau bonus apa gitu? Beli dua gratis satu kek."
"Ini senjata pemusnah, Don Lorenzo, bukan sepatu olahraga!" bentak Il Macellaio.
"Ya udah, kalau Om nggak mau kasih harga pas, saya pindah toko aja. Saya denger klan seberang, klan Barone, lagi cuci gudang senjata juga. Mereka malah nawarin bonus minyak senjata sama peluru dua kardus," ucap Bianca sambil berbalik badan, bersiap untuk berjalan keluar.
Ini adalah taktik pamungkas Tanah Abang: Pura-pura pergi agar dipanggil kembali.
Lorenzo asli panik dalam hati. Jangan pergi, bodoh! Kita tidak punya jaringan lain yang secepat ini! pikirnya, berharap koneksi batin mereka bisa menyampaikan pesan itu. Namun Bianca mengabaikannya, ia menghitung dalam hati: Satu... dua... tiga...
"Tunggu!" panggil Il Macellaio.
Bianca tersenyum kemenangan dalam hati. Taktik emak-emak emang nggak pernah gagal!
Il Macellaio mengusap wajahnya yang berkeringat. Kehilangan pembeli sebesar De Luca dalam kondisi ekonomi seperti ini juga akan merugikannya. "Baik. Dua ribu dua ratus Euro per pucuk. Itu batas paling bawah saya. Saya tidak akan untung jika kurang dari itu."
Bianca berbalik lagi, berjalan mendekati meja. Ia mengetuk meja dengan jarinya yang besar. "Dua ribu pas. Tapi, saya mau bonus lima kotak granat asap, sepuluh pasang rompi antipeluru, sama... hmm, itu apa yang di pojok?" Bianca menunjuk sebuah kotak kecil berisi pistol saku kaliber kecil.
"Itu Beretta Nano. Untuk pertahanan diri jarak dekat," jawab Tukang Daging dengan nada pasrah.
"Nah, itu buat bonus asisten saya yang imut ini," Bianca menunjuk Lorenzo (tubuh Bianca). "Jadi, totalnya seratus ribu Euro pas untuk semua barang di gudang ini beserta bonusnya. Gimana? Kalau oke, uang tunai di koper langsung saya serahin sekarang. Enggak pakai nunggu audit dewan klan."
Il Macellaio menatap koper hitam yang dibawa Lorenzo. Uang tunai segar di depan mata dalam situasi krisis adalah godaan yang sangat besar bagi seorang penyelundup. Setelah menimbang-nimbang selama satu menit yang terasa seperti satu jam, ia akhirnya menghela napas pasrah.
"Anda benar-benar telah berubah, Don Lorenzo. Dulu Anda akan langsung melempar koper uang tanpa melihat isinya. Sekarang... Anda lebih pelit daripada akuntan Yahudi saya," Il Macellaio mengulurkan tangannya. "Baik. Kesepakatan tercapai."
Bianca menjabat tangan besar Tukang Daging itu dengan mantap. "Bisnis yang menyenangkan, Om Macel. Sering-sering kasih diskon ya, biar berkah usahanya."
Setelah para pengawal memasukkan semua peti senjata ke dalam bagasi SUV De Luca, mereka segera meninggalkan pelabuhan. Di dalam mobil, Valerio yang menyetir sesekali melirik ke kaca spion dengan ekspresi tidak percaya.
"Kau... kau berhasil mendapatkan seluruh pasokan itu dengan harga seratus ribu Euro?" tanya Valerio. "Dante baru saja menghitung bahwa nilai asli barang-barang itu seharusnya seratus empat puluh ribu Euro termasuk semua bonus yang kau minta."
Dante yang duduk di kursi depan mengangguk, menatap tabletnya dengan takjub. "Secara matematis, Bianca baru saja menghemat pengeluaran klan sebesar dua puluh delapan koma lima persen. Ini adalah anomali finansial terbesar dalam sejarah De Luca."
Bianca (tubuh Lorenzo) tertawa bangga, suara tawa beratnya memenuhi kabin mobil. "Makanya, jangan remehkan kekuatan menawar! Di Jakarta, kalau kamu nggak bisa nawar, kamu bakal kenyang makan harga getok. Itu namanya ilmu bertahan hidup kelas kakap."
Lorenzo (tubuh Bianca) yang duduk di sampingnya hanya diam. Ia memandangi sebuah kotak beludru kecil di pangkuannya—Beretta Nano yang diminta Bianca sebagai bonus tadi.
"Kenapa kau meminta pistol ini untukku?" tanya Lorenzo pelan, suaranya yang lembut terdengar asing di telinganya sendiri.
Bianca menoleh, menatap wajah aslinya yang kini dihuni Lorenzo. "Ya kan tubuh saya itu ringkih, Mas Bos. Nggak punya otot kayak tubuh Mas ini. Kalau nanti ada bahaya lagi dan kita belum bisa tukeran balik, minimal Mas Lorenzo bisa lindungin badan saya pakai pistol kecil itu. Pas kan di saku jaket?"
Lorenzo tertegun. Melalui koneksi batin mereka, ia bisa merasakan bahwa tindakan Bianca menawar dengan sengit tadi bukan hanya soal menghemat uang, melainkan karena ia tahu klan De Luca sedang dalam posisi sulit dan ia ingin memastikan semua orang—termasuk Lorenzo yang berada di tubuh lemahnya—memiliki perlindungan yang cukup.
Rasa hangat yang tak biasa kembali menjalar di dada Lorenzo. Ia menggenggam pistol kecil itu erat-erat. "Terima kasih, Bianca. Tapi ketahuilah, bahkan tanpa senjata ini pun, aku tidak akan membiarkan sebutir peluru pun menyentuh wadah jiwamu."
Bianca nyengir, wajah Lorenzo tampak menjadi agak kemerahan. "Waduh, Mas Bos kalau ngomong suka bikin merinding ya. Efek koneksi batin atau emang Mas lagi gombal nih?"
Valerio mendengus dari kursi kemudi. "Bisakah kalian berdua tidak melakukan percakapan romantis yang membingungkan secara visual ini? Aku sedang mencoba fokus menyetir agar kita tidak ditangkap polisi."
Dante tertawa kecil. "Biarkan saja, Valerio. Ini adalah dinamika baru klan kita: Capo yang pandai menawar harga, dan asisten yang memegang senjata."
Malam itu, di bawah langit Roma yang dingin, klan De Luca tidak hanya mendapatkan senjata baru untuk menghadapi ancaman luar. Mereka juga menyadari bahwa di dalam tubuh sang mafia yang menakutkan, kini ada jiwa seorang gadis semprul yang mampu mengubah transaksi pasar gelap yang berdarah menjadi ajang belanja bulanan yang penuh kemenangan manis. Perang melawan Rosanera dan misteri Vatikan masih panjang, tapi dengan persediaan senjata penuh dan dompet yang hemat, mereka siap menghadapi apa saja.