NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Rajendra, yang jauh lebih pragmatis dan takut miskin, segera menekan Elang. "Tutup mulutmu, Elang! Tidak peduli siapa Ethan, kita butuh uangnya!"

"Tapi Pa! Dia menghina kita! Dia membawa wanita ini untuk mempermainkan mentalku!" teriak Elang frustrasi.

Ethan membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Elang, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter. "Aku tidak perlu mempermainkan mentalmu, Elang, kamu sudah menghancurkan dirimu sendiri saat membiarkan Naura meracuni istrimu, aku hanya datang untuk mengambil sisa-sisanya."

Ethan berdiri tegak kembali, merapikan jasnya. "Nyonya Michelle tersayang, kurasa mereka butuh waktu lima menit untuk berdebat sebagai keluarga yang gagal, ayo, aku ingin menunjukkan padamu pemandangan kota dari balkon gedung yang sebentar lagi akan menjadi milikmu ini."

Ethan menuntun Michelle keluar dari ruang rapat, meninggalkan Elang yang berteriak histeris dan Rajendra yang memegangi dadanya, di koridor yang sepi, Michelle berbisik pelan. "Kamu terlalu kejam pada egonya, Ethan."

Ethan menyeringai, mengecup pelipis Michelle. "Itu belum seberapa, baby. Aku ingin dia melihatmu setiap hari di kantor ini, sebagai bosnya, sebagai pemilik hidupnya, dan sebagai wanita yang paling ia inginkan namun paling tidak bisa ia sentuh.”

"Sudah selesai dramanya?" tanya Michelle sambil melirik jam tangan berliannya yang elegan. "Karena saya tidak punya waktu seharian, kontrak sudah saya revisi di bagian pasal 12."

Rajendra dengan tangan gemetar membaca poin tersebut. Matanya membelalak. "Pasal 12... Pencopotan CEO secara permanen dan penyerahan hak kelola penuh kepada pihak investor?"

"Benar," sahut Michelle dingin. "Tuan Elang Abimanyu dianggap tidak lagi kompeten secara fisik maupun mental untuk memimpin perusahaan sebesar ini, jika saya masuk, Elang keluar."

"Kamu tidak bisa melakukan ini! Ini perusahaan keluargaku!" raung Elang dari kursi rodanya.

Setelah Rajendra dengan terpaksa menandatangani dokumen tersebut demi menyelamatkan hartanya, Michelle menoleh ke arah pintu.

"Karena posisi CEO telah kosong, saya perkenalkan orang yang akan memimpin operasional mulai hari ini," ucap Michelle dengan nada otoriter. "Dia adalah pria yang reputasinya di pasar modal Singapura tidak perlu diragukan lagi. Tuan Kalingga Wiratama."

Pintu terbuka lebar, seorang pria berusia sekitar 35 tahun dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin masuk ke dalam ruangan. Kalingga adalah sosok yang dikenal sebagai The Fixer, di dunia bisnis dia ahli dalam membersihkan perusahaan yang korup dan membuang pejabat-pejabat yang tidak berguna.

Kalingga berdiri di samping Michelle, memberikan hormat singkat yang sangat formal. "Selamat siang, Tuan-tuan," suara Kalingga terdengar seperti mesin yang efisien. "Berdasarkan mandat dari Ad Lynne Group, saya telah mengambil alih seluruh akses sistem perusahaan. Tuan Elang, tim keamanan saya sudah menunggu di luar untuk mengantar Anda keluar dari gedung ini."

Elang menatap Kalingga dengan kebencian, namun lebih banyak ketakutan, ia tahu siapa Kalingga pria ini tidak bisa disuap dan tidak punya belas kasihan.

"Siapa kau?! Kau hanya anjing peliharaan wanita ini!" teriak Elang frustrasi.

Ethan tertawa pelan, melangkah maju dan menepuk bahu Kalingga. "Dia bukan hanya CEO baru, Elang. Dia adalah orang yang aku tugaskan untuk mengaudit setiap rupiah yang pernah kamu curi dari perusahaan ini untuk membiayai kemewahan selingkuhanmu."

Michelle menyandarkan punggungnya, menikmati pemandangan Elang yang kini tampak kecil dan tak berarti di kursi rodanya.

"Tuan Kalingga," panggil Michelle dengan nada manis namun mematikan. "Pastikan ruangan CEO disterilkan. Saya tidak ingin ada bau alkohol atau sisa-sisa 'kegagalan' di sana saat saya berkunjung nanti."

"Tentu, Nyonya," jawab Kalingga tanpa ekspresi.

Dua petugas keamanan berpakaian safari masuk dan mulai mendorong kursi roda Elang keluar dari ruang rapat, Elang berteriak-teriak, memaki Ethan dan Michelle, namun suaranya perlahan menghilang seiring tertutupnya pintu lift eksekutif. Rajendra terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa meskipun perusahaannya selamat, kekuasaan keluarganya telah berakhir sepenuhnya.

Michelle berdiri, merapikan gaunnya, dan mengapit lengan Ethan kembali. "Mari, Ethan. Aku merasa ruangan ini butuh udara segar. Tuan Kalingga, laporkan hasil audit awal di meja saya besok pagi."

"Siap, Nyonya."

Saat mereka berjalan menuju mobil jemputan, Ethan berbisik di telinga Michelle. "Kalingga akan membuat hidup Elang semakin sulit secara legal, kamu menyukai pilihanku?"

Michelle tersenyum puas, menyandarkan kepalanya di bahu Ethan. "Sempurna dan sekarang, biarkan para profesional bekerja, sementara kita menikmati waktu berdua di Jakarta."

Malam itu, berita tentang pencopotan Elang Abimanyu dan penunjukan Kalingga Wiratama menjadi headline di seluruh media bisnis, tanpa disadari oleh siapa pun, di balik semua itu, ada seorang wanita bernama Michelle yang sedang tersenyum menatap langit malam, merayakan kemenangan pertamanya.

Ethan mengibaskan tangannya di depan udara yang terasa pengap, sementara Michelle melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah hiruk-pikuk jalanan Sudirman. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap pantulan dirinya di kaca dengan senyum yang sulit diartikan.

"Cukup bagus..." gumam Michelle sambil menyentuh permukaan meja jati yang sangat besar, meja yang dulu menjadi simbol keangkuhan Elang. "Tapi bau rokok dan alkoholnya sangat mengganggu. Rasanya seperti mencium aroma kegagalan yang membusuk."

Ethan melangkah di belakangnya, melingkarkan lengan di pinggang Michelle dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Ia menghirup aroma parfum vanilla dan sandalwood dari leher Michelle, sebuah kontras yang menyenangkan dari bau ruangan yang menjijikkan ini.

"Ruangan ini mencerminkan pemilik lamanya, *baby*," bisik Ethan, suaranya berat dan posesif. "Kotor, tidak teratur, dan penuh dengan pelarian.

Michelle berbalik dalam pelukan Ethan, menatap mata tajam pria itu. "Aku ingin semua furnitur di sini diganti besok, buang meja ini, ganti kursinya, dan bersihkan karpetnya sampai tidak ada satu pun sel kulit Elang yang tertinggal di sini."

Ethan terkekeh, lalu menoleh ke arah Kalingga yang masih berdiri tegak di ambang pintu, menunggu instruksi selanjutnya.

"Kalingga, kau dengar itu?" tanya Ethan.

"Dengar, Tuan," jawab Kalingga tanpa ekspresi. "Tim kebersihan dan dekorasi interior akan tiba malam ini jam delapan, besok pagi saat Nyonya Michelle kembali, ruangan ini akan memiliki aroma white tea dan furnitur baru dari Italia."

"Bagus," sahut Michelle.

Setelah Kalingga keluar untuk mulai memberikan perintah pada staf, Ethan menarik Michelle semakin rapat ke tubuhnya. Ia mendudukkan Michelle di tepi meja jati yang sebentar lagi akan dibuang itu.

"Bagaimana rasanya, Michelle?" tanya Ethan lembut, jemarinya mengusap pipi Michelle. "Duduk di tempat pria yang dulu meremehkanmu, sementara sekarang dia diusir seperti anjing jalanan?"

Michelle tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih nyata. "Rasanya... jauh lebih baik daripada yang aku bayangkan, Ethan, tapi ini baru permulaan, aku ingin melihat mereka kehilangan bukan hanya kantor ini, tapi juga martabat mereka sampai ke akar-akarnya."

Ethan membungkuk, memberikan kecupan panas di ceruk leher Michelle, membuat wanita itu sedikit mendesah. "Aku akan memastikan itu terjadi, tapi untuk sekarang..." Ethan menatap meja di bawah mereka dengan tatapan nakal. "Mungkin kita harus meninggalkan sedikit jejak 'kemenangan' kita di sini sebelum meja ini dihancurkan?"

Michelle tertawa pelan, mendorong dada Ethan dengan manja namun tidak benar-benar menjauh. "Ethan, ini masih jam kantor."

"Kantor ini milikmu sekarang, Nyonya Ad Lynne," goda Ethan sambil kembali mencium bibir Michelle dengan dalam. "Dan aku adalah satu-satunya 'investor' yang berhak mendapatkan perhatian penuhmu."

Di dalam ruangan yang dulu menjadi saksi bisu pengkhianatan Elang dan Naura, kini Michelle merayakan kekuasaannya bersama pria yang benar-benar memujanya, bau alkohol dan rokok itu perlahan terkalahkan oleh kehadiran mereka, sebuah pengambilalihan yang bukan hanya secara bisnis, tapi juga secara mental.

Michelle berdiri di samping jendela besar, memperhatikan dari ketinggian saat mobil keamanan mengawal kursi roda Elang keluar dari lobi utama. Dari lantai atas ini, Elang terlihat sangat kecil, seperti serangga yang sedang disingkirkan dari bangunan megah miliknya sendiri.

"Lihat dia, Ethan," bisik Michelle, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sangat puas. "Dulu, saat mereka meracuniku hingga aku sulit hamil, mereka tertawa diatas penderitaanku, dia merasa seperti Tuhan, sekarang, dia bahkan tidak punya kaki untuk melangkah keluar dari gedungnya sendiri."

Ethan berdiri di belakangnya, mengunci tubuh Michelle dalam pelukannya, ia bisa merasakan detak jantung Michelle yang stabil, tanda bahwa wanita ini telah sepenuhnya menguasai emosinya.

"Itu adalah pemandangan terbaik tahun ini, baby," sahut Ethan, suaranya rendah dan penuh kepuasan. Ia mencium puncak kepala Michelle, menghirup aroma rambut cokelatnya yang harum. "Dan yang paling manis adalah, dia pergi dengan membawa beban utang yang sudah aku 'atur' agar tetap melekat pada nama pribadinya, bukan pada perusahaan ini."

Michelle berbalik, melingkarkan lengannya di leher Ethan. Rasa puas itu menjalar di seluruh nadinya, memberikan sensasi kemenangan yang jauh lebih memabukkan daripada alkohol mana pun. "Terima kasih, Ethan. Tanpamu, aku mungkin hanya akan menjadi hantu yang meratap di makamku sendiri," ucap Michelle tulus.

"Jangan berterima kasih padaku," Ethan menarik pinggang Michelle lebih rapat, membuat tubuh mereka menempel sempurna. "Aku hanya menyediakan panggungnya, kamulah yang memainkan peran ratu dengan sangat sempurna tadi, sekarang, biarkan Kalingga mengurus sisanya, aku ingin membawamu pergi dari bau rokok ini dan merayakan kesuksesan kita di tempat yang lebih pantas."

Michelle mengangguk, melepaskan pandangannya dari jendela. Baginya, Elang sudah menjadi masa lalu yang sudah "dibuang" ke tempat sampah, fokusnya kini adalah masa depan, sebuah imperium baru yang ia bangun bersama Ethan dan kehidupan baru yang mungkin saja sudah mulai tumbuh di rahimnya.

Saat mereka melangkah keluar dari ruangan itu, Michelle tidak menoleh lagi. Ia berjalan dengan anggun, meninggalkan puing-puing harga diri Elang Abimanyu yang hancur berantakan di belakangnya.

Ethan membukakan pintu lift eksekutif untuk Michelle dengan gerakan yang sangat protektif, mereka turun menuju basemen khusus di mana sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam metalik sudah menunggu, mesinnya menderu halus dalam keheningan.

Di dalam mobil yang sejuk dan beraroma kayu cendana itu, Michelle menyandarkan kepalanya di bahu Ethan. Rasa lelah setelah konfrontasi tadi mulai terasa, namun rasa puas di hatinya jauh lebih mendominasi.

"Kita akan ke mana, Ethan?" tanya Michelle pelan, jemarinya memainkan ujung jas Ethan.

"Ke sebuah tempat yang tenang dan menyenangkan," jawab Ethan misterius. Ia menggenggam tangan Michelle, mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Tempat di mana tidak ada bau masa lalu, tidak ada kebisingan Jakarta, hanya ada kita berdua."

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!