Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
"Apaan sih loh gue sama Dilan itu gak ada hubungan apa-apa lagian gue juga udah anggap dia seperti abang gue sendiri" Terucap begitu saja dari mulut Aletta yang tidak sinkron dengan perasaannya sendiri.
Dilan merasa kecewa dengan perkataan Aletta jujur saja dia merasa Aletta sedang membohongi perasaannya sendiri.
"Loh gak usaha bohong sama gue Al, gue lihat dari mata kepada gue sendiri kalau kalian saling menyukai" Ucapnya mengeluarkan keluh kesahnya.
Aletta merasa bingung dan cemas kepada nya pusing dia sendiri bimbingan dengan perasaannya karena jujur dia juga sangat takut kehilangan Dilan tetap dia tidak keretakan hubungan persahabatannya dengan Tamara.
Aletta terdiam membisu dia merasa gelisah dan tak tau harus berkata apa keringat dingin bercucuran keluarga begitu saja seluruh tubuhnya merasa menggigil.
Sampai pada akhirnya "Al loh mimisan" Ucap Ruby panik menghampiri Aletta begitu pun dengan Tamara merasa tidak enak karena telah memojokkan Aletta disaat dia masih sakit.
Aletta mengucek hidungnya tetapi darahnya malam tambah banyak keluarganya.
Dilan yang mendengar Aletta mimisan langsung membuka pintu dan menghampiri Aletta dan mementingkan kepalanya agara menghadap ke atas.
"Tiduran aja yah" Ucap Dilan mengarahkan Aletta untuk terlentang di ranjangnya dan dia hanya menurut saja.
Tamara merasa bersalah apalagi terlihat dari tatapan Dilan kepadanya kalau dia sedang kesal.
"Kita ke rumah aku aja yah" Ucap Dilan "biar nanti ayah periksa kondisi kamu" Ucapnya karena memang ayahnya Dilan adalah seorang dokter jadi sudah menjadi langganan Aletta sering diperiksa olehnya.
"Nanti aja masih ada temen temen gue gak enak" Ucap Aletta melirik Ruby deh Tamara yang terlihat khawatir kepadanya, dia tidak mau memberikan beban kepada sahabatnya.
Dilan melirik Ruby dan Tamara secara bergantian dengan isyarat kalau mereka harus pulang, Tamara sangat ketakutan dengan tatapan tajam dari Dilan sedangkan Ruby sudah paham dengan lirikan Dilan karena jujur saja Ruby adalah orang paling dewasa diantara mereka.
"Gak papa Al loh pergi aja biar di periksa, lagian kita juga harus pulang nih.... Udah mah sore juga nih" Ucap Ruby bersiap-siap menggandeng tasnya.
"Udah denger kan mereka mau pulang" Ucap Dilan tegas.
"Kirain kalian mau nginep" Ucapnya merasa sedih.
"Lain kali aja yah soalnya gue gak bilang ke nyokap gue kalau mau kerumah loh dulu" Ucap Ruby meyakinkan Aletta agar mengerti di posisinya sekarang dan kondisi Aletta yang sedang sakit.
"Ya udah deh" Ucap Aletta dan langsung di angkat oleh Dilan sehingga membuat Aletta terkejut begitu pula dengan Tamara.
"Loh apaan sih, gue bisa jalan sendiri tau" Ucap Aletta mengomel karena merasa malu di depan sahabatnya sendiri bahkan ada Tamara di sana, kenapa Dilan harus menunjukkan kedekatannya dengan Dilan sedangkan Dilan tau kalau Tamara menyukainya.
"Loh lupa yah tadi Bunda nyuruh gue buat gendong loh ke rumah, loh mau biarin gue tidur di luar gara gara gak bisa jaga loh" Ucapnya.
Tentu saja Aletta merasa tidak enak kepada Tamara apalgi dari tadi Tamara diam saja.
Sesampainya di rumah Dilan, Ayahnya yang memang seorang dokter langsung memeriksa Aletta.
"Kurang istirahat sama banyak pikiran nih, Tekanan darahnya rendah," kata Pak Dokter sambil memasang infus kecil di tangan Aletta. "Dilan, jagain teman kamu baik-baik ya."
"Siap Yah," jawab Dilan patuh.
Setelah orang tua mereka masuk ke kamar, tinggalah Aletta dan Dilan di ruang tengah. Aletta terbaring lemas di sofa, matanya terpejam.
Dilan duduk di tepi sofa, menatap wajah damai Aletta. Tangannya terulur, ingin sekali menyentuh pipi gadis itu, tapi urung dilakukan.
"Kenapa sih harus bohong, Al?" bisik Dilan pelan. "Gue juga gak nyangka, gue sebegitu sayangnya sama lo..."
Keesokan harinya Aletta sudah masuk ke sekolah karena dia tetep ngeyel kepada Dilan kalau dia ingin sekolah dan merasa bosan hanya tiduran di rumah dengan catatan Aletta harus menurut kepadanya.
"Aletta akhirnya loh masuk juga rasanya sepi tau gak ada loh" Ucap Ruby memeluk Aletta.
"Iya loh tau gak Ruby udah jadian tau sama anwar" Ucap Tamara tak kalah antusias Memberikan kabar kepada Aletta
"Sumpah demi apa" Ucap Aletta merasa bahagia mendengarnya sedangkan Ruby merasa malu.
Aletta merasa senang akhirnya Tamara tidak marah kepadanya dan masih mau berteman dengannya.
Sedangkan Dilan merasa tenang akhirnya Tamara tidak lagi bertanya soal hubungannya dengan Aletta karena semenjak kejadian itu.
"Loh dengar baik baik gue sama Aletta gak ada hubungan apa apa kita cuma terhubung gara gara persahabatan orang tua dan ibunya Aletta sering nitipin Aletta sama nyokap gue" Ucap Dilan memarahi Tamara setelah dia mengantar Aletta ke rumahnya.
"Jadi gue peringatan loh sekali lagi jangan pernah loh memberikan pertanyaan yang menyudutkan Aletta karena gue gak mau bikin dia sakit" Ucapnya menunjuk Tamara yang dari tadi menunduk dan sebentar lagi akan menangis.
"Loh dengar gak" Ucap Dilan kesal karena Tamara diam saja sedangkan tadi dia paling semangat bertanya kepada Aletta.
"Iyya" Ucapnya bergetar
"Good girls" Ucapnya menepuk pundak Tamara lalu pergi dari hadapannya, akhirnya Tamara bisa bernapas dengan baik.
"Bagus lah berarti peringatan gue kemarin cukup mempan" Ucapnya tersenyum sendiri.
"Oyy loh kenapa senyum senyum sendiri" Ucap Erik mengagetkan Dilan yang sedang berdiri mematung di depan pintu sehingga membuat Aletta dan sahabatnya menolak ke depan pintu keluar.
Tamara mengingat kembali bagaimana dia di marahi oleh Dilan karena sudah bertanya soalnya dengan Aletta jujur saja dia sangat mencintai Dilan tetapi dia tidak menyukai sikapnya yang kasar.
"Apaan sih" Ucapnya berjalan menuju tempat duduknya.
"Loh jadi gak main bola sama anak sekolah Cinta Mulya" Ucap Erika ikut duduk di bangkunya Dilan.
"Jadi" Jawabnya sambil sibuk dengan ponselnya.
"Gue dengar dengar ada yang naksir sama loh" Ucapnya.
"Gue gak tertarik" Ucap Erik dengan penuh semangat.
"Loh yakin gak mau tahu orangnya, dia itu cewe paling populer di sekolahnya tahu, bahkan banyak cowok cowok yang naksir sama dia. Harusnya tuh loh bersukur bisa disukai sama loh" Ucap Erik dan tidak ditanggapi apa-apa.
Bu Nina masuk ke ke kelas sambil membawa kertas kertas yang berisi nama nama siswa daftar kelompok PKL
"Selamat pagi anak anak" Ucap Ibu Nina tersenyum ramah, sudah di tebak pasti ada pengumuman penting makanya beliau repot repot datang ke kelas.
"Selamat pagi bu" Serentak menjawab sapaan gurunya.
"Anak anak karena satu bulan lagi kalian akan mengadakan Praktek kerja Industri, ibu harap kalian sudah mempersiapkan semuanya" Ucap Ibu Nina menjelaskan.
"Ibu harap kalian sudah siap untuk kerja di lapangan, ibu harap setelah kalian karya wisata di jogjakarta kalian juga sudah mempersiapkan mental dan kebutuhan yang harus di persiapkan selalu PKL" Anak anak hanya mendengarkannya karena memang cukup tegang untuk mereka apa lagi mereka harus berhadapan dengan pasien yang sesungguhnya.
"Selain itu kalian akan di ajarkan untuk mandiri dengan satu kosan bersama anggota kelompok kalian jadi ibu harap kalian bisa saling menghargai dan menciptakan kekeluargaan yang baik" Ucapnya kembali.
"Bu apakah anggotanya bisa di tentukan sendiri" Ucap silvia salah satu siswa yang menjabat sebagai sekretaris.
"Tentu saja tidak silvi, karena ibu sudah membuat kelompoknya sendiri dan sekarang ibu akan membacakannya"
Aletta duduk di mejanya yang terletak di pojok kanan belakang kelas, bersandar pada dinding dengan tangan yang menopang pipinya. Di sebelahnya, Ruby sedang menata buku tulisannya dengan rapi, meskipun matanya sering melirik ke arah Aletta dengan penuh perhatian.
Sedangkan beberapa meja di depan mereka, Dilan duduk bersama Erik, sedang membicarakan sesuatu dengan suara rendah. Sedangkan Tamara duduk tepat di sebelah Ruby, wajahnya tampak sedikit pucat seperti orang yang tidak enak badan, meskipun dia tetap mencoba menyimak penjelasan guru dengan seksama.
Suasana kelas menjadi hening seketika. Semua mata tertuju pada Bu Nina yang mulai membacakan nama-nama satu per satu. Jantung Aletta berdegup kencang, entah kenapa dia merasa gugup sekali, apalagi saat melihat Dilan yang tampak santai namun matanya sesekali melirik ke arahnya.
"Kelompok 1 akan ditempatkan di Puskesmas Cibiru. Anggotanya terdiri dari Ruby Anindya, Dilan Wijaya Kusuma, Raka Aditya, Bima Pratama, Rizky Ramadhan, Nabila Putri, Siti Aminah, Dinda Ayu, dan Maya Sari. Total 10 orang, semangat ya!" seru Bu Nina."
Mendengar namanya disebut, Ruby langsung menepuk bahu Dilan dengan senang. "Wah kita satu kelompok Lan!"
Dilan hanya mengangguk singkat, tapi matanya langsung mencari sosok Aletta, seolah ingin memastikan gadis itu ada di kelompok mana.
"Selanjutnya kelompok 2 akan bertugas di Panti jompo Wreda Bhakti. Anggotanya Aleta Syafira levan, Diego Pratama, Gerry Sanjaya, Naura Aprilia, Widi setia Ningsih, Cika Puspita, Marina, Tika, Luna, Oca. Satu kosan, harus kompak!" pungkas Bu Nina.
Aletta menghela napas, jadi dia satu kelompok sama Diego, tapi terpisah dari Dilan?
Diego yang duduk tidak jauh dari situ langsung melirik ke arah Aletta dan tersenyum lebar, sementara Aletta hanya membalas dengan senyum kecut. Dia merasa agak canggung karena tidak sekelompok sama Dilan dan sahabatnya.
"KELOMPOK 3 di Rumah sakit pusat. Nah ini kelompoknya Tamara Arista, Erik Saputra Farel Wijaya Kusuma, Wahyu Widodo, Funny Oktaviani, Kusuma, Andre Pratama, Silviani, Dita Karina, Lisa Karisa, Intan Permata Sari, Elsa Lestari, dan Alya Putri Kusuma Wardani," ujar Bu Nina lengkap."
Mata Tamara menoleh ke arah Erik yang duduk di barisan depan, dan cowok itu pun tersenyum mengacungkan jempol ke arahnya.
Dia pikir akan satu kelompok dengan Dilan tetapi ternyata tidak, entah lah rasanya hatinya masih berharap dengannya sedangkan logikanya menyuruhnya untuk menjauhinya.
"Ingat yah kalian di tugaskan untuk belajar kerja lapangan bukan untuk bersenang senang dan ber leha leha" Ucap Ibu Nina.
"Setelah kalian satu bulan bisa bergantian mulai dari puskesmas ke pani jompo dan terakhir ke rumah sakit begitu pula kelompok lainnya biar kalian merasakan berbagai tempat dan pengalaman baru di setiap bulannya, apakah ada yang ingin di tanyakan" Ucap Ibu Nina.
"Tidak ada bu" Ucap siswa siswi bersamaan.
"Kalau begitu kalian akan di lanjutkan oleh guru bimbing kalian masih masih yaitu Pak dimas guru produktif pantai jompo, Pak budi guru produktif rumah sakit, Ibu Siska guru produktif Puskesmas, mari bapak ibu saya pamit" Ucap Ibu Nina meninggalkan kelas.
"Selamat pagi anak anak karena tadi sudah di jelaskan oleh guru BP kalian maka bapak akan melanjutkannya" Ucap pak Dimas.
"Jangan pada tegang gini dong santai aja PKL itu bukan tempat menakutkan tapi tempat kalian mengenal Dunia pekerjaan" Ucap pak Budi.
"Gini aja deh gimana kalau kita survey kosan yang nyaman buat kalian nginep" Ucap Ibu Siska.
"Boleh juga tuh kayanya menarik" Ucap Bima dan yang lain pun menyetujuinya mereka pun bersiap siap untuk pergi.
Dilan tiba-tiba saja beranjak dari bangkunya dan menarik tangan Aletta "loh bareng gue perginya" Ucap Dilan dengan tegasnya.
Aletta melirik Tamara sekilas tetapi Tamara berusaha untuk menghindari tatapan Aletta.
"Loh apa-apa sih lan, tarik tarik tangan gue, gue mau sama Ruby dan Tamara. Kenapa sih loh maksa banget" Protes Aletta sambil berusaha melepaskan tangannya, tapi tenaga Dilan jauh lebih kuat.
"Gue yang ngurusin tempat tinggal loh. Gue yang pastikan aman atau enggaknya. Lagian... gue gak rela kalau lo jalan sama cowok lain," bisik Dilan pelan tapi jelas didengar oleh Aletta.
Mau tak mau, akhirnya Aletta hanya bisa menurut. Dia naik ke motor Dilan, memeluk benda di depannya saja takut salah sentuh, sementara Dilan melajukan motornya dengan wajah yang terlihat sangat protektif.
Sesampainya di lokasi, mereka baru saja turun dari motor. Aletta masih mengibaskan bajunya yang sedikit kusut, tiba-tiba HP-nya berbunyi nyaring.
Ting... Tung...
Aletta melihat layar, nama Jonathan terpampang besar. Jantungnya berdegup kencang, campur aduk antara senang dan kesal.
"Halo?" jawab Aletta dengan nada datar, sedikit jutek.
"Halo... Assalamu’alaikum Aletta..." suara Meldi terdengar ragu dan lembut dari seberang sana.
"Waalaikumsalam. Ada apa?"
"Aletta... Aku... Aku mau minta maaf banget ya soal waktu itu. Waktu aku janji mau ketemu tapi aku batalin gitu aja..." Jonathan terdengar sangat menyesal.
Aletta mendengus, rasa sakit hati waktu itu masih terasa. "Iya aku tau. kamu bikin aku nunggu lama banget tau gak? Aku udah siap-siap, eh kamu malah gak jadi dateng. Sakit hati tau gak!" seru Aletta mulai meluapkan kekesalannya.
"Iya Aletta... Aku tau aku salah banget. Aku minta maaf ya... Sebenernya waktu itu aku udah di jalan mau ketemu kamu, tapi tiba-tiba aku berhenti sendiri."
"Loh terus kenapa batal? Kamu anggap aku cewe apa sih?" tanya Aletta kesal.
"Aku... Aku minder Aletta..." jawab Jonathan pelan hampir tak terdengar. "Aku liat foto kamu kan cantik banget, gaya kamu juga kece, temen-temen kamu juga keren-keren. Sedangkan aku... Aku cuma cowok biasa, penampilan aku seadanya. Aku takut pas ketemu kamu malah jadi ilfeel atau malu jalan sama aku. Jadi aku memutuskan buat pulang dan bohongin kamu. Maafin aku ya Aletta..."
Mendengar alasan itu, hati Aletta langsung luluh. Ternyata Jonathan membatalkan pertemuan karena merasa minder, bukan karena tidak sayang atau tidak peduli.
"Yaelah Jo... ngapain sih kamu mikir gitu? Aku suka sama kamu yah karena nyambung ngobrolnya, bukan karena penampilan doang!" ucap Aletta mulai melunak.
"Tapi aku tetep salah Aletta... Aku kangen banget tau gak sama kamu. Hampir tiap malem aku kepikiran kamu. Plis Aletta... boleh gak kita ketemu sekarang? Aku janji aku bakal dateng dan gak bakal kabur lagi. Alu kangen banget pengen peluk kamu..." rengek Jonathan di telepon.
Aletta menghela napas panjang. Rasa kesalnya perlahan hilang berganti rasa rindu yang membuncah.
"Iya deh iya..." jawab Aletta akhirnya lembut. "Aku juga sebenernya kangen banget sama kamu Jonathan. Yaudah ayo ketemu. Kamu dimana sekarang?"
"Makasih Aletta! Makasih banyak! Aku di warung seblak pelangi nih, cepetan kesini yaaa!" suara Jonathan kembali ceria.
Mendengar percakapan itu, wajah Dilan langsung berubah masam. Alisnya terangkat tinggi, tangannya terlipat di dada.
"Siapa?" tanyanya ketus.
"Meldi Dilan! Dia mau ketemu gue sekarang. Plis Dilan mengizinkan ya..." Aletta langsung memelas, menatap Dilan dengan mata berbinar memohon.
"Gak! Kita kan lagi ada urusan liat kosan!" tolak Dilan tegas.
"Plis deh... Gue janji gak lama. Nanti gue sama Tamara sama Ruby kok, gue gak sendirian. Plis Dil..." Aletta merengek sambil menarik-narik ujung jaket Dilan.
Dilan mendengus kasar, matanya menatap tajam ke arah Tamara dan Ruby yang dari tadi memperhatikan.
"Yaudah! Boleh! TAPI... gue yang anterin kalian. Gue yang nganter lo ketemu orang itu. Gak boleh lo pergi sendiri!" tuntut Dilan.
"Iya-iya siap bos!" Aletta langsung tersenyum lebar, senang sekali bisa bertemu teman online-nya itu.
Akhirnya mereka tetap masuk melihat-lihat kondisi kosan dulu sebentar. Ruangannya luas, ada dapur, kamar mandi, dan kamar tidur yang cukup nyaman.
"Gimana Al? Kamar ini cukup luas kan buat lo?" tanya Diego yang memang satu kelompok dengan Aletta.
"Iya lumayan Go..." jawab Aletta asal, matanya terus melirik jam tangan. Pikiran dan hatinya sudah terbang membayangkan pertemuan dengan Meldi.
Dari tadi Dilan memperhatikan Aletta yang terlihat gelisah dan tidak fokus. Dia tahu Aletta sudah tidak sabar, dan itu membuat Dilan merasa sedikit tersinggung dan cemburu.
"Dasar cewek keras kepala, udah di bohongin masih aja mau pergi sama cowok pengecut, kalau bukan karena gue suka sama loh ogah gue temuin tuh cowok," batin Dilan kesal.
Singkat cerita, mereka sampai di tempat pertemuan. Tidak lama kemudian, munculah sosok laki-laki ceria bernama Meldi.
"ALETTA!!" teriak Meldi.
"Jonathan!!" Aletta langsung lari menghampiri dan mereka berpelukan erat, sangat bahagia akhirnya bisa bertemu secara langsung.
Mereka tertawa, mengobrol, saling puji-pujian. Aletta benar-benar terlihat sangat bahagia.
Di sisi lain, Dilan berdiri mematung di pojokan. Dia tidak ikut gabung mengobrol. Wajahnya datar, dingin, dan terlihat sangat tidak suka melihat Aletta yang tertawa lepas bersama orang lain. Rasa cemburu membara di dadanya.
Tanpa berkata apa-apa, Dilan berbalik badan dan berjalan pergi, menancapkan gas motornya dengan kecepatan penuh, memberikan mereka waktu berdua tapi dengan hati yang dongkol.
Sementara itu, Tamara yang berdiri tidak jauh dari situ memperhatikan segala kejadian. Dia melihat Dilan yang pergi dengan penuh amarah sudah dipastikan Dilan terbakar cemburu.
Hati Tamara terasa perih. "Kenapa sih Dilan lo harus sedih karena Aletta? Padahal gue ada di sini, gue perhatiin lo terus..." batin Tamara pilu.
Dia merasa sedih karena sadar posisinya hanya sebagai teman, dan perhatian Dilan 100% tertuju pada Aletta, bahkan saat Aletta sedang bersama orang lain pun Dilan tetap memikirkannya.
"Tamara... loh kenapa diam aja?" tanya Ruby yang menyadari sahabatnya itu terlihat murung.
"Enggak... gue gak apa-apa Ruby. Cuma... kasian liat Dilan pergi setelah melihat Aletta dengan Jonathan," jawab Tamara berbohong, padahal sebenarnya dia iri melihat kedekatan Aletta dan Dilan yang begitu kuat meskipun sedang bertengkar atau cemburu sekalipun.
~back to continuous~