Stefani Agnesia Smith, Dokter cantik berumur 22 tahun yang terlahir dari keluarga terpandang. Memiliki otak super cerdas dan cantik membuat semua pria tertarik kepadanya. Tapi karena sifatnya yang judes dan dingin membuat semua lelaki tidak berani untuk mendekatinya. Hingga ada seorang pria tampan yang merupakan ceo muda dari perusahaan terkenal mendekatinya.
Bisakah sang Ceo menaklukan hati si Dokter cantik?
Tunggu lanjutan ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dia?
Mobil yang membawa pasangan pengantin baru itu tiba di sebuah Mansion besar milik Keluarga Leo. Seorang pengawal membukakan pintu, lalu Leo dan Stefani keluar dari sana.
Mata Stefani menelisik ke setiap sudut bagian depan Mansion yang tak jauh berbeda dari Mansion milik keluarganya. Kepala perempuan itu mengangguk beberapa kali, merasa terkesan dengan desain Mansion suaminya yang menurutnya unik. Tunggu, suaminya?. Stefani terkekeh geli saat ia mengingat bahwa ia sekarang sudah memiliki suami.
"Lagi mikirin apa?" pertanyaan itu membuat atensinya beralih pada Leo. Pemuda itu sedang menatap kearahnya, menatap dengan tatapan bingung.
"Bukan apa-apa" jawabnya disertai gelengan.
"Ayo masuk!!" Leo merangkul bahu Stefani untuk ikut masuk bersamanya. Perempuan itu hanya diam menurut dan membiarkan pemuda yang sudah resmi menjadi suaminya itu membawanya kemanapun dia melangkah.
Leo membuka pintu Mansion dan terlihatlah semua keluarganya sedang berdiri menghadap kearah mereka. Sepertinya mereka memang sengaja menunggu kedatangan Leo dan Stefani.
"Selamat datang di keluarga kami sayang" Felisya mendekat dan langsung memeluk Stefani denhan erat layaknya putri kandung. Perempuan itu tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya, membalas pelukan yang ibu mertuanya berikan.
"Terimakasih Ma" sahut Stefani dengan tulus yang diangguki oleh Felisya.
Rio ikut mendekat diikuti Rayn yang berjalan dengan ogah-ogahan di belakangnya. Ia merangkul bahu Leo, menepuk-nepuk pundak putranya yang sudah menikah.
"Kamu udah nikah, jangan bertingkah seenaknya lagi. Inget, sekarang udah ada istri!!"
"Iya, Pah" sahut Leo diikuti dengusan malas.
Rayn hanya bersendekap dada menatap mereka. Hingga tatapannya beralih pada Stefani. Ia menatap perempuan itu dengan tatapan teduh yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun.
"Kenapa harus lo yang jadi kakak ipar gue?" tanya Rayn dalam hati dengan tatapan yang tak lepas dari perempuan itu. Ia hanya bisa mengucap dalam hati. Keberaniannya tak cukup untuk mengucapkan secara langsung apa yang ia pikirkan.
"Kami mau keatas dulu!!" setelah mendapat persetujuan dari orangtuanya, Leo segera menggandeng tangan Stefani untuk ikut ke lantai atas bersamanya. Ia menyadari, sangat menyadari bahwa Rayn masih menyimpan perasaan kepada Stefani. Apalagi tadi, dadanya tiba-tiba bergemuruh saat melihat tatapan penuh cinta yang Rayn tujukan untuk istrinya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Stefani yang kebingungan melihat perubahan sikap Leo secara tiba-tiba. Namun pemuda itu tidak menjawab, Ia terus berjalan hingga langkah mereka berhenti di sebuah kamar.
Leo mengambil kunci dari saku celananya kemudian membuka pintu kamar itu. Mereka masuk bersamaan. Mata Stefani memindai ke setiap sudut kamar bernuansa abu-abu itu, nampak rapi dan elegan.
"Kamu suka lukisan?" pertanyaan itu membuat aktivitas Leo yang sedang menata lemari terhenti. Ditatapnya punggung Stefani yang tengah melihat lukisan-lukisan di kamarnya dengan teduh.
"Iya, tapi itu dulu. Waktu aku masih bebas, aku sering ngelukis dan dateng ke pameran-pameran pelukis terkenal. Tapi setelah Papa nyuruh aku jadi CEO, aku jadi nggak terlalu merhatiin lukisan, nggak ada waktu soalnya" jawab Leo
Stefani mengangguk beberapa kali. Hingga tatapannya beralih pada sebuah lukisan danau yang menurutnya sangat unik.
"Ini buatan siapa?" tanyanya dengan tangan yang menunjuk lukisan itu.
"Itu buatan aku" jawab Leo yang membuat mata perempuan itu membulat seketika. Stefani segera berbalik badan, menatap Leo dengan wajah terkejut.
"Kamu serius?!" pekik Stefani seolah tak percaya.
"Iyalah, kamu pikir aku bohong?!" desis pemuda itu sambil memutar bola matanya malas.
"Ini bagus banget"puji Stefani dengan tatapan penuh kekaguman yang ia tujukan kepada lukisan di depannya.
"Biasanya kalo lukisan bagus begini pasti ada makna didalemnya" gumamnya tanpa sadar.
"Emang ada" Leo yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya membuat Ia kaget setengah hidup. Namun ia berusaha santai, mencoba mengontrol diri agar tidak lepas kendali.
"Tentang?"
"Seseorang" jawab Leo sambil tersenyum kecut. Stefani membalikkan badannya, menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya.
"Siapa dia?" tanyanya lagi. Rasa penasaran yang ia miliki tiba-tiba terasa begitu besar saat mendengar hal itu.
"Nggak penting, cuma masa lalu. Yang terpenting sekarang aku sama kamu"
Jawaban itu tidak cukup untuk menjawab rasa penasaran di hati Stefani. Ia menatap lekat ke mata Leo, terlihat jelas di sorot mata pria itu bahwa ia sedang menutupi sesuatu.
"Se-enggak percaya itukah dia sama gue?. Sampek cerita tentang itu aja nggak mau" batin Stefani.
...**Segini dulu yaaa, buat pembukaan kalo cerita ini bakalan lanjut. ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak semuanya. Happy Reading😘**...