NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tikus Kecil

"Pelayan, tambah lagi twak nya..!!! "

Seorang pemuda tampan dengan tubuh tegap dan pakaian bangsawan, berteriak sambil melemparkan kendi kosong ke lantai tempat hiburan terbesar di barat Kotaraja Watugaluh. Wajahnya memerah karena pengaruh minuman keras yang baru saja ia tenggak.

Dua orang perempuan muda nan cantik dengan pakaian yang sanggup membuat mata para lelaki melotot karena saking terbuka nya, menggelayut manja di kedua sisi badannya. Dengan genit keduanya terus menggesek-gesekkan payudara nya pada sang pemuda tampan yang seperti nya sudah mabuk berat ini.

Di belakang pemuda ini, dua orang lelaki berbadan gempal dan kekar dengan tampang sangar berdiri penuh kewaspadaan. Mereka adalah dua pengawal pribadi sang pemuda yang senantiasa selalu bersama dengan nya, baik di istana maupun di luar istana.

Pemuda tampan ini adalah Mapanji Wijaya, putra kedua Sri Lokapala dan Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, penguasa Kerajaan Medang kala itu. Sebagai putra kedua raja, seharusnya ia memiliki budi pekerti yang luhur dan berwibawa tetapi Mapanji Wijaya adalah kebalikan nya. Pangeran muda ini adalah seorang pecundang besar.

Selayaknya seorang pangeran, Mapanji Wijaya seharusnya sudah belajar pada seorang guru untuk menunjang masa depan nya sebagai seorang putra raja. Tetapi dari semua pusat pendidikan besar di Kerajaan Medang tak satupun dari mereka yang mau menerima dia sebagai murid. Ini juga karena sikapnya yang seenaknya sendiri.

Dua pengawal pribadi nya, Warak dan Ludaka, adalah satu-satunya teman yang dimiliki oleh sang pangeran. Walaupun usia keduanya selisih sekitar satu windu dengan sang pangeran manja ini, tetapi mereka sangat hormat dan menyayangi sang pangeran lebih dari saudara mereka sendiri. Ini juga merupakan amanat dari guru mereka, Resi Kumbayana, saat mereka mulai dipekerjakan sebagai pengawal pribadi Mapanji Wijaya.

Tak peduli salah atau benar, keduanya patuh dengan perintah Mapanji Wijaya. Walaupun resikonya adalah nyawa mereka sendiri, Warak dan Ludaka, tak pernah sekalipun membantah atau menolak apa yang diperintahkan kepada mereka. Benar-benar abdi yang setia.

Teriakan keras Mapanji Wijaya terdengar ke seluruh penjuru rumah pelacuran ini. Seorang lelaki muda dengan tergesa-gesa mendekati meja Pangeran Mapanji Wijaya dan meletakkan kendi berisi minuman keras yang diminta sang pangeran.

"Mohon ampun Gusti Pangeran..

Ini sudah kendi ke 4, sebaiknya Gusti Pangeran menyudahinya. Tidak baik untuk kesehatan Gusti Pangeran", nasehat lelaki berpakaian pelayan itu dengan wajah ketakutan.

" Hemmmm..

Kau berani mengatur ku? Uhhh sudah bosan hidup kau ya hah?!! ", bentak Pangeran Mapanji Wijaya sembari bangkit dari tempat duduknya.

Tindakan ini sontak membuat si pelayan rumah hiburan ini langsung berlutut ketakutan.

" Tidak berani tidak berani...

Hamba mohon ampun Gusti Pangeran, hamba lancang. Mohon ampuni hamba", hiba si pelayan dengan penuh ketakutan.

"Dasar kurang ajar!!

Hekkk uhhh, Warak!!! Tampar mulut si kurang ajar ini sekarang juga! Cepat...!!! "

Warak yang berbadan gempal langsung maju dan mencengkeram baju si pelayan rumah hiburan ini. Tubuh ceking si pelayan langsung diangkat ke atas. Jari jemari Warak yang sebesar pisang klutuk siap melayang ke pipi si pelayan yang ketakutan saat seorang perempuan paruh baya berdandan menor datang dan langsung menghormat pada Mapanji Wijaya.

"Gusti Pangeran, mohon hentikan..

Si Madangkungan ini pelayan baru, kurang mengerti tata krama. Mohon Pangeran bersedia untuk memaafkannya. Kalau Pangeran mau memaafkan Madangkungan, nanti Gusti Pangeran akan hamba akan menyuruh Si Tunjung, primadona rumah hiburan ini untuk menemani Gusti Pangeran malam ini", ucap perempuan yang masih terlihat cantik ini segera.

Pangeran Mapanji Wijaya segera mengangkat tangannya tepat sesaat sebelum telapak tangan Warak menempeleng pipi si pelayan rumah hiburan yang bernama Madangkungan ini. Tentu saja melihat isyarat itu, Warak yang sudah hafal semua sikap majikannya, dengan patuh menghentikan pergerakannya. Dia langsung menurunkan tubuh Madangkungan yang gemetaran karena takut dan segera melepaskan nya.

"Hehehehe...

Aku suka dengan sikap mu ini, Nyai Kantil. Sekarang ayo antar aku ke kamar Si Tunjung, aku sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan nya", ujar Pangeran Mapanji Wijaya sembari meletakkan dua kepeng perak di atas meja.

" Mari kita kesana, Gusti Pangeran.. ", sahut Nyai Kantil, mucikari sekaligus pemilik rumah pelacuran itu sambil tersenyum bahagia.

Keduanya segera pergi meninggalkan meja itu sementara dua pelacur yang menemani minum segera berebut kepeng perak yang ditinggalkan.

Ekor mata Pangeran Mapanji Wijaya melirik ke dekat pintu lorong kanan dan senyuman tipis tersungging di sudut mulutnya. Ia terus mengikuti Nyai Kantil diikuti oleh Warak dan Ludaka.

"Benar benar sampah!!

Orang seperti dia tidak pantas menjadi seorang pangeran dari Istana Kotaraja Watugaluh. Ini benar benar memalukan. Dia harus ku beri pelajaran..", geram seorang lelaki berusia antara 3 dasawarsa dengan pakaian bagus dan bertubuh kekar seperti seorang perwira prajurit. Tangannya memukul kayu tiang penyangga bangunan dengan sedikit keras.

Dia adalah satu dari dua orang yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Pangeran Mapanji Wijaya.

Dua hari yang lalu, dua pengawal pribadi Pangeran Mapanji Wijaya Si Warak dan Ludaka menghajar adiknya Wismaya hanya karena menyenggol si pangeran yang sempoyongan berjalan setelah banyak menenggak minuman keras. Bagi yang sering datang ke rumah pelacuran Nyai Kantil, hal ini sudah biasa mereka lihat. Sang Pangeran Medang yang satu ini memang suka bersikap seperti ini, menindas orang seenaknya.

"Jangan bertindak gegabah, Jantaka...

Bagaimanapun juga, ia putra Yang Mulia Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Kita akan menjadi buronan jika sampai melukai nya", nasehat kawan nya yang berada di sisi dekat pintu lorong kanan rumah hiburan.

" Aku tak peduli, Mangir!!

Malam ini dia harus merasakan bagaimana rasanya terluka dengan senjata rahasia ku. Adik ku masih terkapar akibat kesombongannya, ia harus membayarnya ", jawab si pemuda bernama Jantaka ini sembari berbalik arah. Melihat Jantaka bergerak, Mangir tersenyum licik. Dia segera berbalik arah meninggalkan tempat itu untuk melakukan rencana nya sendiri.

Nyai Kantil segera membawa Pangeran Mapanji Wijaya ke bilik di salah satu sudut bangunan rumah pelacuran ini. Bilik ini adalah bilik mewah yang cuma digunakan sebagai tempat tinggal primadona pelacuran itu.

Begitu pintu bilik dibuka, seorang gadis cantik dengan rona wajah penuh ketakutan meringkuk di atas ranjang. Dia segera bangun dari tempat tidur nya dan duduk sambil menangis sesenggukan.

"Gusti Pangeran, ini Tunjung Biru. Dia baru saja masuk ke rumah hiburan ini, mohon sedikit bersabar dengan nya ya hehehe..

Dia masih perawan loh, jadi harga nya sedikit mahal hihihihi", tawa genit Nyai Kantil terdengar.

Ada kilat aneh di mata Pangeran Mapanji Wijaya melihat keadaan Tunjung Biru yang sedemikian rupa. Tetapi ia cepat-cepat membalut perasaannya dengan seringai lebar seorang lelaki hidung belang.

Pangeran Mapanji Wijaya segera merogoh kantong baju nya dan memberikan kantong kain berisi duit pada Nyai Kantil. Mucikari itu segera membukanya dan mata nya melebar seketika melihat puluhan kepeng emas ada disana.

"Selama aku belum bosan bermain dengan nya, jangan sekali-kali membiarkan nya bermain dengan orang lain. Uang itu semuanya boleh kau ambil.. ", tutur Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat senyuman Nyai Kantil merekah seketika.

" Hamba patuh pada perintah Gusti Pangeran. Selamat bersenang-senang malam ini ", ucap Nyai Kantil sembari berlalu pergi dari kamar tidur ini.

Pangeran Mapanji Wijaya segera memberikan isyarat kepada Warak dan Ludaka agar mereka juga keluar. Dengan patuh, keduanya segera keluar sambil menutup pintu.

" M-mau apa kau hah?! Jangan harap bisa menyentuh ku!! "

Tunjung Biru segera mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan di balik selimut tidur nya.

"Kucing liar rupanya hehehe..

Aku jadi semangat ingin bercinta dengan mu. Ayo sini mendekat sama aku", ucap Pangeran Mapanji Wijaya seraya berjalan mendekati ranjang tidur. Ketakutan dengan sikap tak peduli Pangeran Mapanji Wijaya, Tunjung Biru melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu kamar.

Atap bangunan yang terbuat dari daun alang-alang kering perlahan di singkap dari atas dan sesosok bayangan hitam perlahan memasukkan ujung sumpit bambu dari luar. Perlahan ia memasukkan sebuah jarum berwarna biru dan begitu sasaran sudah ditentukan, si bayangan hitam segera meniupnya sekuat tenaga.

Puuuuuuuuhhhhh...

Shhrriiiiiinnngggggg!!!!

Ujung telinga Pangeran Mapanji Wijaya bergerak mendengarkan sesuatu membelah udara. Dia pun. dengan segera melihat ujung sumpit bambu tersembul dari langit-langit bilik. Maka dengan gerakan yang halus, ia menghindari serangan sumpit beracun ini. Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Tunjung Biru yang memegang pisau sesaat sebelum perempuan cantik itu mencapai gagang pintu.

Segera ia meremas pergelangan tangan Tunjung Biru yang membuat perempuan cantik itu kesakitan dan melepaskan pisau di tangan kanannya. Pisau meluncur ke bawah dan menancap di lantai.

Sementara sosok bayangan hitam yang melihat serangannya gagal, mendengus dingin sambil mengulangi serangannya. Kali ini ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyumpit Pangeran Mapanji Wijaya.

Shhrriiiiiinnngggggg..!!!

Pangeran Mapanji Wijaya yang sudah mengetahui bahwa ia sedang diincar seseorang, dengan santai nya merangkul pinggang ramping Tunjung Biru dan mendorong nya ke meja kecil di samping tempat tidur.

Lagi-lagi serangan sumpit ini hanya menancap pada dinding kamar tidur. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tak bisa berdiam diri lagi. Dia dengan cepat menghentakkan kaki nya ke ubin bilik hingga pisau milik Tunjung Biru terangkat ke udara. Lalu dengan sebuah gerakan cepat, kaki nya menendang pisau itu ke arah sumpit.

Dhhaaaassssss shhrreeeeeeeeettttt!!!!

Kecepatan tinggi yang dimiliki oleh pisau itu melesat cepat bagaikan mata anak panah, merobek kain hitam yang menutupi wajah si bayangan hitam.

Uuuuuuggghhhh!!!

Jerit kecil tertahan langsung keluar dari si bayangan hitam yang tak lain adalah Jantaka. Pisau yang ditendang Pangeran Mapanji Wijaya tak cuma melepas penutup wajahnya tetapi menciptakan luka memanjang pada pipi kiri nya.

Menyadari bahwa dirinya sudah ketahuan, Jantaka langsung melarikan diri dari tempat itu. Sementara itu di bawah, Pangeran Mapanji Wijaya hanya tersenyum sedikit sembari berkata dengan nada dingin,

"Huh dasar tikus kecil.. "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!