NovelToon NovelToon
ISTRI MUDA

ISTRI MUDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: ZIZIPEDI

Kata orang,Usia 30 tahun usia yang matang untuk laki-laki menikah. tapi untuk si Gandi Argam bukannya matang tapi sudah busuk, benjut lagi.
Gandi Argam pria 33 tanun,tengah gusar memikirkan nasibnya. katanya sih, jodoh tak dapat di elak,balak tak dapat ditolak.

Bersembunyi di kolong jembatanpun jika Allah telah menetapkan takdir seseorang, pastilah akan terjadi.Tapi tunggu dulu,apakah inseden yang dialami Gandi termasuk jodoh..??

Entah lah hanya tuhan yang tahu. Entah mimpi apa,Gandi pemuda tajir melintir itu sakit kepala tiba-tiba.Bagai mana tidak, Niat nolong eeh malah ditodong untuk pertanggung jawab menikahi gadis ingusan pembuat onar.


Gandi Argam menelan ludah mendengar fakta yang mengejutkan. Ia,harus menikahi bocah perawan yang masih ingusan, yang buah dadanya saja masih datar seperti papan penggilasan.


Bisakah takdirnya ditukar...? Gandi meminta jodoh yang lain, yang bohai yang sedikit menggiurkan,tapi sayang itu hanya mimpi yang tak pernah terkabul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Angin berbisik lembut membelai indra perasa, Nyanyian angin bagai nyanyian surga yang menenangkan, namun itu semua tak mampu mengalahkan rasa yang berkecamuk di dada.

Sungguh miris terkadang kita terlampau mengedepanka rasa ketimbang logika.

Itu wajar karna nalar yang warasa dapat berpikir sesuai asumsi kita masing-masing.

Sehingga terkadang kita kalah oleh emosi kita sendiri, yang sudah barang tentu, itu akan mempengaruhi mood kita dalam mengarungi hari-hari kita sendiri.

Rara duduk berdampingan dengan sang papa, bermanja hanya untuk sekedar merilekskan rasa hatinya yang mulai kebas.

"Kemana Gandi nak, kenapa dia tak bersamamu?"

Tanya Rahmat membuka obrolan.

"Mas, lagi sibuk pa"

Rahmat mangut-mangut tanda paham.

"Perutmu sudah mulai terlihat, nak. Papa bahagia sebentar lagi, papa akan menimang cucu."

Ucap Rahmat bahagia, sembari mengelus surai halus putri satu-satunya itu.

Rara tersenyum, menatap wajah Rahmat dengan tulus. Tiba-tiba gadis itu bertanya di luar topik pembicaraan.

"Pa. Apa papa pernah selingkuh di belakang mama?"

Tanya Rara ingin tau. Kening Rahmat berkerut sejenak.

"Tak ada, wanita yang bisa menyaingi mamamu, sayang. Dia wanita hebat. Mamamu selalu ada untuk papa. Lantas perempuan seperti apa lagi yang harus papa cari, gak ada alasan untuk papa menghianati mamamu"

Seketika air mata Rara jatuh membasahi punggung Rahmat.

"Apa yang membuat kamu menangis, sayang?"

Rara menggelengkan kepalanya lemah.

"Mama beruntung, memiliki suami seperti papa. pasti mama menjadi istri paling bahagia semasa hidupnya."

Rahmat menghapus bulir bening di pipi buah hatinya.

"Kamu juga bisa memjadi istri paling bahagia, nak. Hanya satu sarat, berpikirlah positif jangan pernah kamu gunakan nalarmu untuk berpikir hal yang buruk terhadap suamimu. Papa yakin nak Gandi sosok suami yang setia dan penyayang. Jangan terlalu main hati dalam menghadapi situasi, agar hati kamu tidak terluka. Gunakan nalarmu sebagai benteng positif."

Rara seketika mengangkat wajahnya, manik bening itu menatap lekat pada sang ayah.

"Kenapa papa berucap seperti itu, Rara baik-baik saja pa."

"Papa percaya, kalian baik-baik saja. Papa hanya memperingatimu, nak. Lihatlah suamimi, Wajahnya cemas!"

Ucap Rahmat sedikit berbisik. Rara ikut nengarahkan pandangannya ke arah pintu.

Mata gadis itu membulat lebar.

Sepontan Rara berdiri menghampiri om suami.

"Mas, Kenapa mas kesini bersama dia?"

Gandi tak menjawab, pria itu langsung memeluk tubuh sintal istrinya.

"Jangan suka buat mas panik dek!"

Bisik Gandi lembut. Rara diam tak menanggapi, ia tak mau membuat keributan di rumah papanya. Rara masih dalam pelukan hangat om suami.

Sementara wanita asing itu berjalan dengan santai melewati mereka berdua. Mata Rara membulat, mengawasi pergerakan wanita itu.

Tak lama terdengar suara lembut menyapa pria paruh baya yang tengah duduk santai.

"Hay om. Om apa kabar?"

Rahmat menoleh ke asal suara. Pria paruh baya itu terkejut, melihat siapa yang berada di depannya.

"Maya" ucap Rahmat sembari meletakan secangkir kopi di atas tatakannya.

"Iya om"

"Apa kabar kamu nak, bagai mana kabar orang tuamu?" Tanya rahmat ingin tau.

"Maya baik om, papa juga sehat. Mama sudah gak ada om. Tiga bulan yang lalu"

Wanita itu berkaca-kaca saat bercerita. Rahmat dengan sayang memeluk anak sahabatnya itu.

" Yang sabar ya, May. Lihatlah Rara dia bisa kuat meski hidup tanpa didampingi mamanya"

Maya mengangguk tanda setuju. Sementara Rara makin heran dan penasaran. Mengapa wanita itu akrab dan manja dengan papanyla.

Akhirnya mereka mendekat, ikut gabung di sofa ruang tengah.

"Sayang!. Maya ini anak tante Sarah. Tante sarah itu adik mamanya mas, tante sarahlah yang membesarkan mas setelah kepergian papa, mama. Waktu itu mas masih berusia dua belas tahun, tante maya membawa mas ke Jerman, karna memang mereka menetap di sana. Maya ini anak tante Sarah satu-satunya. Jadi dia adik mas satu-satunya dari keluarga mama sayang"

Rara malu mendengar penjelasan suaminya itu. Gadis itu merasa bodoh selalu salah dalam bersikap, tindakannya selalu saja sembrono, yang pada akhirnya membuat dirinya malu sendiri.

"Mas gak pernah cerita sama Rara, wajar kalau Rara berpikir yang macem-macem."

Gandi tersenyum sembari membawa kepala istrinya bersandar di dadanya.

"Maaf, mas terlalu sibuk sehingga terkadang hal penting seperti ini terlewatkan."

Ucap Gandi menyesali sikap dirinya, yang terlalu abai dengan asal usul keluarganya.

"Yang kamu lihat di cafe, itu tidak seperti yang lamu kira, mas hanya memberinya kekuatan, atas meninggalnya tante Sarah. Karna orang tua Maya itu orang tua mas juga. Sayang"

"Rara juga minta maaf, udah gak percaya sama mas" Rara melepas pelukan suaminya, kemudian duduk dengan tegap menghadap om suami.

"Yang salah bukan kamu, Ra. Mas Gandi tu yang gak pernah ngenalin kamu ke keluarga. Nah sekarang rasain kan mas, istri jadi ngambek gara-gara mas di kelilingi perempuan-perempuan mulu"

Gandi terbahak mendengar ucapan adik sepupunya itu"

"Ini baru aku lo. Ra! Masih banyak sepupu perempuan mas Gandi yang dari sebelah om Argam papa mas, yang kamu belum kenal. Saya yakin kalau mereka datang dan kebetulan ketemu di luar, terus kepergok kamu, kayak kejadian di cafe, pasti kalian bakal salah paham lagi"

Rara benar-benar malu, gadis itu nyengir kuda menampakkan gigi putihnya.

"Mas tu mbak. Yang gak mau ngenalin Rara ke keluarganya mas!" Rara gemes, dengan sekuat tenaga gadis itu mencubit pinggang suaminya.

"Ampun sayang, iya mas janji besok lusa kita terbang ke jerman, mas kenalin kamu ke oma dan keluarga mas, sekaligus kita ziarah ke makam tante Sarah dan orang tua mas"

Rara tersenyum manis, Maya dan Rahmatpun ikut tersenyum.

"Kalau gak ada kejadian ini, gak ada niatan kamu ngenalin Rara ke keluarga besarkan mas, dasar suami modelan apa coba mas itu"

Ejek Maya geram melihat tingkah masnya yang gak ada dewasa-dewasanya.

"Jangan suka mancing-mancing masalah deh dek. Tar, takutnya kompornya meledak, habis mas nanti, gak dikasih kamar"

Maya tertawa puas hingga terpingkal. Rahmatpun ikut tertawa melihat wajah ketakutan menantunya.

"Ra, jangan kasi dia bobok di kamar malam ini, biar dia tau rasa. Hobinya bikin istri mewek mulu, kesal mbak lihatnya, Ra."

Maya terus buat kesal masnya,ia suka lihat masnya galau.

"May, jangan ngajarin yang macem-macem ya, gak kamu ajarin juga mas selalu tidur disofa, kalau dia lagi ngambek"

"Iy dong. Males banget tidur bareng suami yang hobinya bikin kesel, sangka mas gak capek ya, nangis karna cemburu!"

Rara manyun tanda ia sebel dengan om suami.

melihat perdebatan sepasang suami istri itu, Rahmat dan Maya tertawa lepas. Sungguh mereka lucu dan romantis. Hingga tak terasa mereka hampir melewatkan jam makan siang.

Rahmat berdiri mengajak semuanya untuk makan. Mereka makan dengan lahapnya, tak lupa gadis manja itu makan dari suapan tangan suaminya. Hal itu menciptakan kebahahiaan tersendiri untuk pria dewasa yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah. Dari rahim istri tercinta.

Setelah pukul lima sore, akhirnya mereka pamit pulang. Maya ikut menginap di rumas Gandi.

Sampai di rumah, kembali Gandi disibukkan dengan pekerjaan kantor. Ia harus mengecek saham perusahaan. Gandi fokus menatap layar laptop.

Rara masuk keruang kerja suaminya dengan membawakan secangkir kopi kesukaan suaminya.

"Kopinya mas, diminum dulu"

Rara berucap sembari menaruh kopi di atas meja.

Pria dewasa itu melirik sekilas kemudian kembali fokus ke layar datar.

"Taruh saja di situ sayang, bentar lagi mas siap."

"Ya udah, Rara tinggal ya mas, kasihan mbak Maya sendirian."

Gandi mengangguk sebagai jawaban.

"Hati-hati, turun tangganya"

Ucap Gandi mengingatkan sang istri.

"Iya mas"

Sampai di ruang tengah terlihat Maya tengah membuat kopi di pantry. Rara mendekat lalu gadis itu duduk di meja pantry. Di sana mereka ngobrol.

Selesai membuat kopi, akhirnya mereka berjalan menuju ruang tengah. Mereka duduk santai sembari menikmati acara tv dan cemilan di pangkuannya.

"Mbak, nati Rara bobok sama mbak ya, Rara masih kesal sama mas!"

Maya tersenyum, menampakkan bibir merah yang melengkung.

"Eem. Emang di izinin, Mas itu orangnya protektif banget dek, mana mau dia kehilangan guling hangatnya."

Mereka terus berbincang hangat.

"Dulu, waktu kami tinggal serumah, mas selalu perhatiin semua, dari cara berpakaian mbak, teman-teman mbak, sekolah mbak, semua dia ikut andil. Malahan yang ngawasin mbak itu dia tiap harinya, karna papa sama mama sibuk ngurus bisnis"

"Masak sih mbak, mas segitunya. Pantesan aja mas selalu larang Rara, kalau Rara keluar pake baju seksi, mas sibuknya setengah msti, pasti Rara suruh ganti. Bahkan mas sempet cemburu tu sama dosen Rara di kampus. Satu lagi Rara gak boleh pergi kalau gak sama pak Tejo supir kepercayaan mas. Kalau keluar sama teman bolehnya sama Marsa dan melin. Selain itu Rara gak dikasih izin"

Maya tersenyum, sembari menggenggam jemari Rara.

"Itu tandanya mas sayang sama kamu, Kamu beruntung dapetin mas Gandi, susah lo dapetin suami kayak dia, mas itu termasuk barang langka. Ra!"

Rara tertawa mendengar ucapasn Maya, tak lama Gandi turun nyusul adik dan istrinya.

"Ra, mas udah ngantuk, ayok tidur"

Ajak Gandi tanpa basa basi.

"Mas bobok aja, Rara mau bobok sama mbak Maya, yakan mbak?"

Ucap Rara minta bantuan.

"Gak bisa sayang, mas gak mau tidur sendiri"

"Rara juga gak mau tidur sama om, malam ini!"

Gandi geram lihat istrinya, tanpa banyak omong, pria itu membopong istrinya ke lantai atas. Maya geleng kepala sembari tertawa, lihat laku masnya itu

"Mas, itu kasian perut Rara kecempet bahu, kamu!"

"Gak papa.Aman kok dek!"

Gandi terus memanggul istrinya yang keras kepala.

"Berat juga kamu sekatang ya sayang"

Keluh Gandi pada istrinya. Rara manyun

"Iyalah berat, kan Rara lagi hamil mas"

Sahut gadis itu misuh-misuh.

Sampai di kamar, Gandi dengan hati-hati membaringkan istrinya. Gandipun kemudian ikut rebahan sembari memeluk hangat guling kesayangannya itu.

1
mama yogi
sukaaaa ,ga banyak bab 👍👍👍👍🖤🖤🖤🖤🖤
Aku Mira
padahal cerita nya bagusss bangettt, tapi sayang banyak yang loncat nya😭
dina
cerita nya menarik
Maizuki Bintang
bgs
Julvita S
lanjut dong
Nur Ain
sakiiit
Nur Ain
hahaha rara2
Nur Ain
Abih sudah gandi
Wilda Rahma
ya tpi masak lebih mentingin sepupunya drpd istri mau check up kandungan, pake alesan sibuk kerja lagi si gandi ituu
Murlina Lina
Perempuan tak punya ahlak dn harga diri yaa begitu bgmanapun cara dn ke inginan akan tetcapai...
Murlina Lina
Nanti anaknya lahiran yaa panggil mbah 😅😅😅
Murlina Lina
Sama2 gilanya
parkseo
hdujdhd
Efrida
loncat y ceritanya
parkseo
ghui
ashalina putri Yuna syahfitri
yang bener Laura, Maura atau Amora???
Mairisa Wijaya
😁😁😁😁
Tua Jemima
lama lma kq ceritax membosankn madalh terus yg datang kpan bahagiax
Tua Jemima
memng rara kekanak kanakan gk dewasa ceroboh egois
Tua Jemima
rara ceroboh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!