NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11

Malam itu, langit di atas kediaman Mas Danu tidak sekadar mendung, ia seolah-olah sedang menyiapkan upacara kematian bagi martabat seorang wanita.

Cahaya lampu gantung kristal dari dalam ruang tamu yang megah merembas keluar, menyinari rintik hujan yang mulai jatuh satu per satu di atas aspal hitam.

Arumi berdiri di depan pintu besar kayu jati itu. Tubuhnya yang kurus tampak kian mengecil di balik daster pudar yang serat kainnya sudah mulai rapuh.

Di gendongannya, Kirana meringkuk lemas. Tangan kecil bocah itu sesekali mencengkeram baju Arumi, mencari kehangatan yang bahkan Arumi sendiri tidak miliki.

Perut Arumi melilit perih. Sejak kemarin, ia hanya menelan air putih agar sisa nasi aking yang ia dapatkan bisa dimakan oleh Kirana.

Namun, rasa lapar itu mendadak hilang, tergantikan oleh sensasi dingin yang menjalar dari telapak kaki hingga ke jantungnya saat ia melihat siapa saja yang duduk di dalam sana.

"Masuk, Arumi. Jangan berdiri di sana seperti gelandangan. Kamu mempermalukan pemandangan depan rumahku," suara Mbak Sari melengking, tajam dan tanpa celah simpati.

Arumi melangkah masuk. Lantai marmer yang mewah terasa menyengat telapak kakinya yang telanjang. Di ruang tengah, Mas Danu duduk di kursi utama, dikelilingi oleh beberapa kerabat jauh yang menatap Arumi seolah melihat bercak kotor di dinding putih.

Namun, yang membuat napas Arumi benar-benar tercekat adalah kehadiran Dinda, Reni, dan pria yang menjadi poros dari segala petakanya - Reza.

Reza duduk dengan tenang di samping istrinya yang anggun. Ia menyesap teh dari cangkir porselen mahal, menatap Arumi dengan pandangan kosong, seolah-olah wanita di depannya adalah benda menjijikkan yang baru saja ditemukan di selokan.

"Kita berkumpul di sini bukan untuk silaturahmi," Mas Danu memulai, suaranya berat dan penuh wibawa yang dipaksakan. "Tapi untuk membersihkan nama baik keluarga besar ini. Arumi, aku sudah mendengar semuanya. Dari Dinda, dari Pak Reza, dan dari fakta-fakta yang beredar."

"Mas, tolong... dengarkan penjelasanku sekali saja," Arumi berbisik, suaranya parau.

"Penjelasan apa?!" Mbak Sari memotong, ia melemparkan sebuah tas kain lusuh ke tengah ruangan. Tas milik Arumi. "Penjelasan tentang bagaimana kamu menyelipkan cincin orang ke dalam tasmu? Atau bagaimana kamu mencoba menjerat Pak Reza agar dia menceraikan istrinya demi janda miskin sepertimu?"

Dinda tersenyum tipis, sebuah seringai kemenangan yang sangat halus. "Kasihan ya, Mbak Sari. Saya pikir dia butuh bantuan pekerjaan, ternyata dia malah butuh suami orang."

Arumi merasa kepalanya berputar. Ia menatap orang-orang yang dulu mengenalnya sejak kecil, kini menatapnya dengan pandangan jijik.

"Pak Reza..." Arumi menatap pria itu, memohon sisa-sisa nurani. "Bapak tahu yang sebenarnya. Bapak tahu siapa yang mengejar siapa di kantor itu."

Reza berdehem, merapikan letak jas mahalnya. "Arumi, saya menghargai usahamu untuk bertahan hidup. Tapi jangan pernah bawa-bawa namaku untuk menutupi tabiat burukmu. Saya hanya merasa kasihan padamu, tidak lebih. Jangan karena saya baik, kamu berpikir bisa masuk ke dalam hidupku secara paksa."

Tawa kecil Reni meledak pelan. "Lihat? Bahkan Pak Reza yang baik hati pun sampai merasa terganggu. Arumi, kamu itu bukan cuma miskin harta, tapi miskin urat malu."

Mas Danu berdiri. Ia mengambil selembar kertas dari atas meja - Kartu Keluarga. Dengan gerakan yang lambat dan disengaja, ia merobek kertas itu tepat di depan wajah Arumi.

Sret... Sret...

"Mulai detik ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini. Nama Danu tidak akan pernah lagi bersanding dengan namamu. Keluar dari lingkungan ini! Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depan kita lagi. Kamu adalah aib yang harus dibuang!"

"Mas! Kirana sakit! Aku tidak punya tempat tinggal malam ini!" Arumi bersimpuh di atas marmer dingin, tangisnya pecah tanpa bisa dibendung lagi.

"Itu bukan urusanku lagi," Danu membuang muka, seolah melihat Arumi akan menularkan penyakit. "Mungkin itu adalah ganjaran karena kamu sudah berani mengotori nama orang tua kita."

Dua penjaga keamanan Mas Danu melangkah maju. Mereka mencengkeram lengan Arumi dengan kasar, menyeretnya keluar melewati lantai marmer yang licin.

Tangisan Kirana yang melengking memecah keheningan malam, namun tidak ada satu pun orang di dalam ruangan itu yang bergeming. Mereka kembali menikmati hidangan makan malam yang berlimpah, melanjutkan diskusi seolah-olah baru saja membuang sekantong sampah yang bau.

Bruk!

Arumi dilemparkan ke aspal jalanan di depan pagar besi yang tinggi. Hujan yang tadinya rintik kini berubah menjadi badai yang menderu.

Arumi memeluk Kirana erat-erat di dadanya, berusaha menjadi perisai bagi putrinya dari terjangan air langit. Tas kainnya yang berisi sisa-sisa perca dan gunting tajamnya terlempar ke dalam genangan lumpur becek.

Melalui celah pagar besi, Arumi melihat ke arah jendela kaca yang hangat. Di sana, di bawah cahaya lampu kristal yang kuning keemasan, ia melihat Mbak Sari, Dinda, dan Reni sedang tertawa bersama.

Mereka tampak seperti malaikat dalam balutan kain-kain mahal, sementara ia di sini, tersungkur di tanah yang kotor, tampak seperti iblis yang diusir dari surga.

"Ibu... dingin... Kirana mau pulang," isak bocah kecil itu. Suaranya kian melemah, membuat jantung Arumi seolah berhenti berdetak sesaat.

Arumi tidak menjawab dengan isakan. Sesuatu yang aneh terjadi di dalam dadanya. Rasa sakit yang tadi menusuk-nusuk tiba-tiba menghilang, digantikan oleh kekosongan yang sangat dingin dan padat. Air matanya berhenti mengalir begitu saja, padahal hujan kian lebat menghantam wajahnya.

Ia berdiri perlahan. Gerakannya tenang, hampir mekanis. Ia memunguti tasnya dari lumpur, lalu jemarinya meraba dasar tas hingga menyentuh benda logam yang dingin - gunting jahitnya. Gunting itu berkilat terkena cahaya lampu jalan, tampak tajam dan siap memutuskan apa pun.

Arumi menatap rumah Mas Danu untuk terakhir kalinya. Di matanya tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi cinta persaudaraan.

Ia mengambil gunting itu, lalu dengan satu gerakan pasti, ia memotong sisa kain daster yang menjuntai di lengannya, sebuah simbol pelepasan terakhir dari masa lalunya yang menyedihkan.

"Kalian pikir kalian sudah menghancurkanku," gumam Arumi. Suaranya rendah, namun lebih berwibawa daripada guntur yang bersahutan di langit.

Ia mencium dahi Kirana dengan lembut, namun tatapannya tetap lurus ke depan, menembus kegelapan jalanan yang tak berujung.

Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya yang basah, lalu menggunakan ujung gunting untuk menggores tanda silang besar di atas halaman yang berisi alamat rumah Mas Danu.

Arumi berbalik. Ia berjalan menembus hujan badai dengan punggung yang tegak. Setiap langkahnya di atas aspal yang dingin bukan lagi langkah seorang pelarian, melainkan langkah seorang pemangsa yang baru saja menandai wilayahnya.

Ia tahu ke mana ia akan pergi. Ia tahu pintu mana yang akan ia ketuk. Dan ia tahu pasti, suatu saat nanti, ia akan kembali untuk memadamkan lampu kristal di rumah itu dengan tangannya sendiri.

...----------------...

To Be Continue .....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!