Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debaran Jantung
Laras merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Ia menatap langit-langit plafon, sementara pikirannya masih tertahan di bawah pohon angsana depan gerbang sekolah tadi sore. Bayangan tatapan tajam Bara terus menghantui, membuatnya berkali-kali mengecek ponsel yang ia letakkan tepat di samping bantal.
Tiba-tiba, sebuah getaran pendek terasa. Jantung Laras melonjak kegirangan. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.
"Bara?" batinnya penuh harap. Namun, binar di matanya seketika redup saat melihat nama pengirim di layar: Denandra
Laras mengembuskan napas panjang, ada rasa kecewa yang menyusup pelan di dadanya. Dengan malas, ia membuka pesan dari Denandra.
[Denandra]
"Ras, Sabtu malam besok kosong, kan? Keluar, yuk! Jalan-jalan atau nonton kek."
Laras mengernyit.
Belum sempat Laras membalas, sebuah pesan susulan masuk.
[Denandra]
"Plis ya? Sebenarnya gue mau nge-date sama pacar gue. Ya, ya, ya? Bantuin gue ya Ras!"
Laras memutar bola matanya. Ia terdiam sejenak, jemarinya terhenti di atas papan ketik.
[Laras]
"Dasar modus!. Ya sudah, nanti aku pikirkan. Lihat besok gimana kondisinya."
Ia meletakkan kembali ponselnya dengan kasar. Pikirannya kembali melayang. Bara sedang apa sekarang?
Laras menggigit bibir bawahnya, keraguannya kalah oleh rasa rindu yang mendesak di dada. Dengan napas tertahan, ia kembali meraih ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, mengetikkan pesan yang sejak tadi hanya tertahan di ujung jemari.
[Laras]
"P"
Ia menekan tombol kirim. Jantungnya berdebu kencang, menunggu ikon jam berubah menjadi tanda centang. Namun, sedetik, dua detik, hingga satu menit berlalu, hanya ada satu centang abu-abu yang muncul di sana. Centang satu. Laras mengembuskan napas panjang yang terasa berat.
Di satu sisi ada Denandra yang terus memberondongnya dengan rencana alibi kencan, dan di sisi lain ada Bara yang menghilang dalam sunyi.
"Aku kangen kamu, Bar," gumamnya lirih sebelum memejamkan mata, mencoba mencari sedikit ketenangan.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Pagi itu, atmosfer sekolah terasa begitu menyesakkan bagi Laras. Langkah kakinya gontai saat menyusuri sisi lapangan. Kepalanya tertunduk, memikirkan pesan semalam yang hanya berakhir dengan satu centang abu-abu.
Pluk!
Sesuatu yang kecil dan ringan mendarat tepat di depan sepatunya. Laras terhenti. Ia memungut benda itu—sebutir permen mint dengan kemasan yang bertulis “I miss you.”
Jantung Laras berdesir hebat. Sontak, ia mendongak ke rooftop gedung lama. Di sana, sosok itu berdiri. Bara. Mata Laras terbelalak. Tanpa sadar, sebuah senyum bahagia merekah begitu saja di bibirnya, menghapus seluruh mendung yang menggelayut sejak kemarin. Di atas sana, Bara hanya membalas dengan senyum tipis sambil menghisap sebuah loli di sudut bibirnya.
Tanpa pikir panjang, Laras berlari, menaiki anak tangga gedung lama satu per satu dengan napas yang mulai memburu. Sesampainya di depan pintu besi menuju atap, ia berhenti sejenak. Peluh membasahi pelipisnya, jantungnya berdegup liar—bukan hanya karena lelah, tapi karena debaran yang tak terkendali. Laras mendorong pintu besi itu dengan sisa tenaganya.
Krieeek.
Sepi. Angin pagi berembus kencang, namun tidak ada siapa pun di sana. Laras melangkah ke tengah area luas itu, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan raut bingung.
"Apa aku sudah gila, ya?" batin Laras lirih. Perasaan kecewa kembali menyergap. "Ternyata cuma halusinasi."
Namun, tepat saat ia hendak berbalik, sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar di lehernya dari belakang. Ringan, namun cukup untuk mengunci pergerakannya.
"Harta atau nyawa?" bisik sebuah suara berat yang sangat akrab di telinganya.
Aroma parfum maskulin yang khas—campuran bau sabun, memenuhi indra penciuman Laras. Itu Bara. Nyata. Laras membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia tertegun, menatap lekat wajah cowok di depannya yang kini tersenyum jahil. Lidah Laras seolah kelu; beribu pertanyaan yang ia siapkan semalam mendadak menguap begitu saja.
Bara menyadari sesuatu. Ia melihat sebutir keringat menetes perlahan dari pelipis Laras yang memerah. Secara refleks, tangan kasarnya terangkat, menyapu bulir keringat itu dengan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut.
Laras tersentak, matanya mengerjap kaget. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Eh, sorry..." gumam Bara, menarik tangannya dengan canggung.
"Enggak... enggak apa-apa," sahut Laras gagap. Ia segera menunduk dalam, berusaha mati-matian menyembunyikan wajahnya yang kini sudah semerah kepiting rebus.
"Kamu... cantik."
Suara Bara terdengar lebih lembut dari biasanya.
Mata Laras membulat sempurna. Ekspresi syok yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu?" tanya Laras memastikan.
"Hah?" Bara tampak salah tingkah, menyadari perubahan kata ganti yang baru saja ia ucapkan.
Laras tertawa kecil, rasa canggungnya sedikit mencair digantikan oleh rasa geli yang manis.
"Tumben... biasanya 'lo-gue', sekarang jadi 'kamu'?"
Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebuah senyum malu menghiasi wajah garangnya. Di bawah langit pagi yang mulai cerah, rahasia di antara mereka terasa semakin nyata, lebih dari sekadar kata-kata di bungkus permen mint.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Di atas lantai beton di sudut rooftop, Laras dan Bara duduk bersila, menyisakan jarak canggung yang terisi oleh embusan angin pagi. Suasana mendadak sunyi, seolah dunia di bawah sana berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi mereka berdua.
"Kamu kenapa ke sekolah? Kan, kamu masih diskors," tanya Laras memecah keheningan, berusaha mengalihkan debar jantungnya.
Bara menoleh, ujung loli di mulutnya berpindah posisi. "Kamu tadi enggak baca bungkus permennya?"
"Baca," jawab Laras singkat, pipinya kembali memanas.
"Ya, itu jawaban dari pertanyaanmu. Aku malu kalau ngomong langsung," ucap Bara sambil terkekeh pelan.
Tawanya terdengar tulus, tanpa nada sinis yang biasanya ia tunjukkan pada dunia.
"Justru kamu kalau begini, malah bikin aku malu maksimal, Bara!" batin Laras.
Ia menunduk, memainkan ujung seragamnya, tidak berani menatap mata elang di sampingnya itu.
"HP kamu kenapa?" tanya Laras lagi, mencoba mencari topik yang lebih aman.
"Kamu WhatsApp aku?" selidik Bara dengan nada menggoda.
"Enggak!" Laras langsung mengelak, suaranya naik satu oktaf karena panik.
"Ah... kamu WhatsApp aku, ya? Ketahuan, kan. Hahaha!" Bara tertawa puas melihat kegagapan gadis di sampingnya.
Laras hanya bisa semakin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam. Tiba-tiba, Laras merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Tangan besar Bara yang sedikit kasar mengelus rambutnya dengan sangat hati-hati, seolah Laras adalah porselen yang mudah pecah.
"HP aku lagi sekolah," ujar Bara santai.
"Maksudnya sekolah?" Laras mendongak bingung.
"Haha, maksudnya aku lagi butuh duit, jadi aku gadai."
Laras terdiam sebentar, mulutnya membentuk huruf 'O' kecil.
"Pantas saja cuma centang satu" batinnya dalam hati.
Bara menarik tangannya dari kepala Laras, lalu menatap lurus ke depan.
"Ehm... kamu enggak takut sama aku?"
"Takut kenapa?"
"Anak-anak lain pada takut sama aku, lho. Lagian, kamu juga pernah lihat aku mukulin Edwin sampai babak belur, kan?" Bara menoleh, menunggu reaksi Laras.
Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan sebuah senyuman—senyum paling tulus dan menenangkan yang pernah Bara lihat seumur hidupnya. Melihat senyum itu, jantung Bara mendadak berulah. Ada degupan kencang yang memukul dadanya begitu hebat. Refleks, Bara memegang dadanya sendiri, menekan jantungnya seolah takut suaranya akan terdengar sampai ke telinga Laras. Laras yang melihat gerakan itu langsung mengernyit cemas. Ia mengira Bara sedang menahan sakit.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Tanpa sadar, Laras merespons dengan gerakan refleks yang sangat cepat. Ia menyentuh tangan Bara yang masih menempel di dada cowok itu.
Waktu seakan berhenti. Laras tertegun, tangannya yang mungil kini berada di atas tangan Bara yang kokoh. Ia mendongak, menatap wajah Bara yang ternyata sudah sangat dekat. Begitu dekat hingga napas mereka terasa bertabrakan di udara. Hening yang mematikan. Jantung mereka kini berdetak dalam ritme yang sama, sangat kencang hingga telinga mereka berdenging. Selama beberapa detik yang terasa abadi, tak ada yang bergerak. Mereka terjebak dalam gravitasi yang tak terlihat.
Deg!
Tiba-tiba, sadar akan posisi mereka yang terlalu intim, keduanya tersentak kaget secara bersamaan. Seperti kutub magnet yang sama, mereka refleks menjauhkan tubuh satu sama lain dengan gerakan kikuk yang menggemaskan.
"E-eh... maaf," gumam Laras sambil membuang muka ke arah pagar pembatas.
Bara berdeham keras, berusaha menetralkan napasnya yang berantakan.
"I-iya... gue... eh, aku enggak apa-apa." jawab Bara gagap sambil menggaruk tengkuknya.
Ijin mampir🙏