Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni di garis waktu yang baru
Lima tahun setelah malam pertunangan di bukit.
Sirkuit tua di pinggiran kota yang dulu penuh dengan coretan grafiti dan aroma ban terbakar, kini telah disulap menjadi sebuah taman otomotif modern yang asri. Tidak ada lagi balapan liar yang berbahaya, tempat itu kini menjadi museum hidup bagi sejarah Kencana-Sheq Technologies.
Pagi itu, udara terasa sejuk. Suara raungan mesin motor tidak lagi memekakkan telinga, digantikan oleh suara tawa anak-anak dan obrolan hangat. Sebuah reuni kecil sedang berlangsung.
Kalingga & Zelene: Logika dan Kasih Sayang
Kalingga tiba paling awal. Ia keluar dari mobil SUV keluarganya, namun penampilannya jauh dari kesan CEO dingin yang biasa terlihat di berita. Ia menggendong seorang balita laki-laki berusia tiga tahun yang sangat mirip dengannya, namun memiliki mata bulat yang cerdas milik ibunya.
"Ayo, Arka, jangan lari-lari dulu. Tunggu Mama," ujar Kalingga lembut sambil menurunkan putranya, Arka Kencana.
Zelene keluar dari pintu penumpang dengan langkah yang sedikit lebih pelan. Ia sedang hamil besar—tujuh bulan—anak kedua mereka. Meski sedang hamil, Zelene tetap tidak bisa lepas dari tablet tipis di tangannya, meski sekarang isinya bukan kode peretasan, melainkan jadwal nutrisi dan desain kamar bayi.
"Ling, sudah kubilang Arka butuh asupan air mineral dulu setelah perjalanan," ucap Zelene sambil merapikan rambut Arka. Kalingga hanya tersenyum dan mencium pelipis istrinya. "Siap, Nyonya CEO."
Talishia & Bagas: Mekanik Cilik yang Tangguh
Tak lama kemudian, sebuah mobil double cabin yang gagah masuk ke area parkir. Bagas turun dengan sigap, diikuti oleh Talishia yang tampak segar dengan rambut pendeknya yang ikonik. Di tangan Bagas, ada seorang bayi perempuan berusia sepuluh bulan bernama Luna.
Luna mengenakan jumper denim kecil dengan bordiran kunci pas di dadanya—jelas sekali hasil karya ibunya.
"Luna langsung semangat lihat ban motor," tawa Bagas sambil menimang putrinya.
Talishia menghampiri Zelene dan mengelus perut buncit sahabatnya itu. "Wah, makin besar ya, Zel! Pasti ini calon jenius komputer berikutnya. Luna saja sudah bisa memegang obeng mainan, mungkin nanti mereka bisa bangun robot bareng."
Zelene tertawa. "Asal jangan ajak mereka balapan liar sebelum umur tujuh belas tahun, Tal."
Galaksi & Cassia: Legenda yang Menetap
Terakhir, sebuah deru mesin motor yang sangat halus terdengar. Bukan motor listrik, melainkan motor kustom berbahan bakar hidrogen yang menjadi masterpiece terbaru mereka. Galaksi turun lebih dulu, lalu membantu Cassia turun dari jok belakang.
Cassia tampak mempesona. Keanggunannya sebagai seorang ibu tidak melunturkan aura tangguhnya. Di gendongan depan Galaksi, tertidur lelap seorang bayi laki-laki berusia enam bulan yang diberi nama Valky Arsheq.
"Maaf kami terlambat. Valky tadi sulit sekali lepas dari botol susunya," ucap Galaksi dengan nada yang jauh lebih hangat dan santai dibandingkan lima tahun lalu.
Kalingga menghampiri Galaksi, mereka bersalaman ala sahabat lama. Kalingga melirik bayi Valky. "Wajahnya benar-benar fotokopi darimu, Sheq. Dingin dan tenang saat tidur."
"Tapi sifat keras kepalanya seratus persen dari ibunya," balas Galaksi sambil melirik Cassia yang sedang tertawa bersama Zelene dan Talishia.
Momen di Bawah Pohon Kenangan
Mereka duduk melingkar di atas rumput hijau, di bawah pohon besar tempat mereka dulu sering merencanakan strategi balap. Kini, di tengah lingkaran itu bukan lagi peta sirkuit, melainkan tumpukan mainan bayi dan keranjang piknik.
"Siapa yang sangka, ya?" Cassia membuka suara sambil memandangi Arka yang sedang mencoba menunjukkan mainan mobil-mobilannya pada Luna yang masih merangkak. "Dulu kita cuma mikirin gimana caranya supaya nggak tertangkap polisi atau gimana cara menang dari Dante."
"Dunia berubah cepat," sahut Bagas sambil menyandarkan kepalanya di bahu Talishia. "Tapi aku senang dunia berubah ke arah ini."
Zelene menatap ke arah lintasan sirkuit yang kini sepi. "Teknologi yang kita bangun... ternyata memang paling indah saat digunakan untuk menjaga kehidupan, bukan cuma untuk kecepatan."
Galaksi menggenggam tangan Cassia erat. Ia menatap teman-temannya satu per satu—keluarga yang ia pilih sendiri di jalanan aspal. "Kita sudah sampai di garis finis yang kita cari dulu. Dan ternyata, di garis finis ini, kita nggak sendirian."
Kalingga mengangkat gelas jusnya. "Untuk masa lalu yang menguatkan kita, dan untuk anak-anak kita yang akan membuat masa depan lebih cerah."
"Cheers!" seru mereka bersamaan.
Di sore yang tenang itu, bayangan masa lalu yang kelam telah sepenuhnya sirna. Digantikan oleh tawa generasi baru yang akan tumbuh dengan cinta, tanpa perlu bersembunyi di balik topeng atau kecepatan yang mematikan. Sang Phantom dan sang Valkyrie kini telah mendarat dengan sempurna di rumah yang mereka bangun bersama.
SELESAI.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...