Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Girls Talk
"Hai Mbak Six!!" seru Samantha. Ia berlari kecil ke arahku dan memelukku. Aku yang sedang mengangkat beberapa bantex dari ruangan Pak Bima jadi agak limbung.
Seseorang menahan punggungku dari belakang.
Aku menoleh dan melihat Pak Aria.
"Tengkyu Pak." sahutku. Ia merebut tiga baris teratas bantex dan membawanya ke posku sambil tersenyum.
Hm... Sepertinya moodnya sedang membaik.
Aku langsung menatap Samantha.
Wanita itu terlihat tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Jadi..." aku menatapnya bergantian dengan Pak Aria. Seingatku hari Jumat kemarin adalah hari kunjungan Aria ke proyek cafe Samantha. "Semuanya Lancar?"
Samantha masih mesem-mesem, pipinya memerah. Ia melirik Aria sembunyi-sembunyi. "Aku pingin banget cerita sama Mbak Six. Nanti makan siang lowong kaaan?! Plis?"
Aku sebenarnya ada janji makan siang sama Number Nine, Ten dan Farah karena ia mau datang ambil paklaring dari HRD . Dan bisa dibilang mereka semua saingannya Samantha.
Sudahlah, kukatakan saja.
"Aku ada janji makan siang sama anak-anak sekretaris." sahutku. "Kayaknya ngga bisa sekarang, kecuali... Kamu mau bergabung?" aku menawarkannya.
" Anak-anak sekretaris itu maksudnya..." ia menunjuk satu per satu pos sekretaris di depan kami.
Aku mengangguk.
"Mereka juga simpenan Aria yah?!"
Aku mengangkat bahuku. "Dulunya, iya."
"Dulunya?"
Aku mengangguk "Sekarang tampaknya mereka sudah tersadar kalau yang mereka lakukan tidak berguna." kataku.
"Yah... kita lihat saja." desisnya tajam. "Aku ingin kenal satu persatu."
"Serius?"
Samantha mengangguk.
"Lagi pula... Saat ini aku main aman, Mbak. Ngga terlalu mengejar juga. Tapi masih tetap suka. Tapi Arianya malah... Keukeuh banget dia minta acara makan malam sama aku."
"Kamu iyain?"
"Belum."
"Bagus." balasku. "Pelan-pelan aja yah."
"Aku ukur dulu sesiapnya aku. Seperti kata mbak Six, aku utamakan diri aku dulu."
Aku mengelus rambutnya. "Kamu makin cantik kalau begini." sahutku.
Pipinya bersemu merah.
"Yuk?" Pak Aria dan Pak Andre menghampiri kami. Number Nine keluar dari ruang meeting.
"All set Pak." ia menatap Samantha, lalu menunduk menghormat. "Bu Samantha." sapanya.
Samantha menatapnya dari atas ke bawah dengan sinis lalu mendengus. "Cuma karena kamu temen Mbak Six aku tahan-tahan ngga labrak yah." kata Samantha sambil masuk ke ruang meeting.
Number Nine melirikku. Tanpa berkata apapun ia kembali ke Posnya.
*****
Jam makan siang aku dan yang lain sudah duduk lebih dulu saat Samantha datang menghampiri kami.
"Kamu yang mengundang dia kesini, Six?" Number Nine Sewot.
Aku mengangguk.
"Kenapa?! Bikin rusak suasana saja!" kata Ten.
"Kenapa enggak?! Kalian harus akrab sama dia. Pak Aria sedang kejar-kejar dia, selama kalian masih mau kerja di sini kalian pasti akan ketemu dia lagi kalau mereka jadian."
Nine dan Ten membelalak ke arahku. Farah hanya diam sambil menyeruput jusnya.
"Mbak Six." sapa Samantha. Ia menatap tajam ke satu persatu teman-temanku.
"Sini sayang." aku menepuk kursi di sebelahku. Ia duduk dengan anggun, lebih ke angkuh, dan meletakkan tasnya yang seharga ratusan juta di meja depan kami. Perkiraanku sih untuk pamer ke Nine.
"Perkenalkan, ini Sisca dan Isabel." aku memperkenalkan Number Nine dan Ten dengan nama asli mereka. "Lalu ini Farah, dia sudah resign dari tugas sekretarisnya sebagai Number Seven dan sekarang kerja di Beaufort Mining."
Aku menghadap Samantha.
"Mereka sudah 3 tahun jadi sekretaris direksi, sudah banyak yang mereka lalui di sini. Mereka sudah puluhan kali menghalau wanita-wanita yang datang kesini untuk bertemu direksi tanpa janji."
Terdengar Sisca mendengus sambil terkekeh getir.
"Kalian juga tidur sama Aria?!" Samantha ngga suka basa-basi.
"Bukan cuma Aria kali..." dengus Sisca.
"Direksi di sini sering kali menggoda mereka, kamu tahu kenapa mereka bisa dapat ‘jatah’ yang lebih banyak dibanding wanita lain, Sam?" Tanyaku.
"Kenapa?"
"Karena mereka tidak mengejar, dan mereka selalu ada..." Sahutku.
"Pria ngga suka dikejar, ngga suka ditekan dan dipaksa-paksa." jelas Sisca.
"Kalau cewek-cewek yang suka datang itu sekali dikasih mereka mepet terus, ngekor terus. Cowok risih kalo diikuti ke mana-mana." Kata Isabel.
"Tapi Kami melakukan itu demi karier, bukan perasaan." Kata Farah sambil menunduk menatap lantai. Terlihat sekali kalau perjuangannya untuk mendapatkan Bima hanya menyisakan penyesalan. Ia masih beruntung tidak hamil seperti Angeline.
"Sekarang gue tolak-tolakin ajakan yang datang, setelah gue tau kalo yang begitu ngga ada gunanya. Akhirnya kalo terlibat perasaan bakalan diusir juga. Mereka ngga hitung berapa jam yang kita lalui buat kerja beneran sama 'kerja sambilan'. Akhirnya ngga jadi bini boss juga! Mereka biasanya cari yang sama-sama crazy rich." Sisca mengangkat bahunya, lalu menyeruput jusnya. “Kita cuma pelampiasannya.”
"Jadi... kamu ngga ada perasaan apa pun sama Aria?" tanya Samantha ragu.
"Ngga tuh, ngga lagi. Gue sekarang mau cari pasangan yang... Bikin nyaman dan bisa nemenin sampai tua. Ngga kaya ngga papa, toh gue juga punya penghasilan. Kalo kaya yah bonus lah..." kata Sisca sambil tersenyum.
"Gue tetep mau usaha cari yang kaya lah, tapi kayaknya gue harus jadi pengusaha dulu. Bisa jadi kalo duit terkumpul, gue mau tambahin modal usaha bokap dan resign dari sini. Sapa tau dapet yang sama-sama punya usaha. Jaringan juga udah banyak kan? Ngga mau kerja sama gue sebar foto pornonya!" Isabel terbahak. Sisca menimpalinya.
"Lo kacau bener niat lo udah jelek gimana mau sukses!" katanya sambil tertawa. "Lo ngomongin siapa yang mau lo sebar foto pornonya haaah?!"
"Ngga perlu gue sebut namanya kaan, hahaha!"
Aku melihat Samantha yang sedang fokus memperhatikan Isabel dan Sisca. Terlihat ini adalah dunia baru baginya. Mungkin sosok Sisca dan Isabel bukan wujud yang pantas dijadikan teman baginya, namun yang harus ia ketahui bahwa ada dunia lain yang lebih keras di dekatnya. Ia juga harus waspada terhadap Pria yang saat ini dikejarnya.
Kasus Farah sedikit banyak menyisakan trauma mendalam bagi kami. Dan saat ini kami memperlakukan para wanita yang datang ke kantor lebih lembut lebih manusiawi karena kami tahu rasanya dibuang setelah dipakai.
Tidak peduli seberapa banyak harta yang dimiliki, seberapa mahal tas dan sepatu yang ditenteng, seberapa seksi lekuk tubuh kami, saat harga diri sudah terkoyak, kami hancur. Harta tidak bisa menambal hati kami yang sudah terlanjur robek.
"Sekarang, gue bersikap seprofesional mungkin. Adaptasi dari Six lah..." sahut Sisca. "Ngga ada lagi dia birahi terus manggil-manggil gue. Berapa banyak paracetamol yang harus gue tenggak pake bir biar rasa sakit ngga kerasa? Lo tau sendiri ukurannya."
"Aria...seperti itu ke kamu?"
"Dia ngga peduli gue lagi sakit ato sehat. Gue lagi ingin atau badmood. Kalau Gue lagi haid, dia rayu Isabel.”
“Kadang dia pakai kita berdua.” Sahut Isabel, Sisca mengerling padanya. Aku mencibir.
“Nah sekarang gue mau tanya sama lo.” Sisca menunjuk Samantha. “Lo temenan sama Six, sedikit banyak lo sudah dikasih tahu Aria kayak apa, iya kan? Kenapa lo masih kejar dia. Dia itu bahaya buat lo! Kecuali keluarga lo mau memperluas jaringan bisnis. Keluarganya Aria juga kalangan pengusaha soalnya.”
Samantha memandang Sisca dengan tegang. Sekarang di wajahnya sudah tidak ada lagi permusuhan.
“Ya...soalnya dia... yang pertama buat aku.”
Kami memandang Samantha yang kikuk dengan prihatin.
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.