NovelToon NovelToon
LINGKARAN PARA PENGHIANAT

LINGKARAN PARA PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pelakor / Poligami / Cerai / Selingkuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
​Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
​Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Permisi, Bu Laura. Hari ini dokter mengatakan bahwa Ibu sudah diperbolehkan pulang," ucap seorang perawat dengan ramah saat memasuki ruangan.

"Oh, iya. Makasih banyak ya, Sus," sahut Dirga yang sedang membereskan tas pakaian di pojok ruangan.

Setelah urusan administrasi selesai, mereka berdua bergegas meninggalkan rumah sakit. Tak ada mobil mewah, hanya sebuah taksi online yang membawa mereka kembali ke kontrakan sederhana.

"Ayo sayang, hati-hati turunnya," ucap Dirga lembut sambil memapah Laura masuk ke rumah.

"Iya, Mas."

Begitu sampai di dalam, Dirga langsung merebahkan Laura di tempat tidur.

"Ra, minum obatnya dulu ya, terus kamu istirahat. Pokoknya jangan banyak gerak dulu. Aku keluar sebentar, mau beli ayam goreng buat makan kita, ya?"

"Iya Mas, makasih ya,"

******

Begitu deru motor Dirga menjauh, ekspresi wajah Laura berubah total. Sorot matanya yang tadi sayu mendadak tajam dan penuh amarah. Ia meraba bantal, mencari ponselnya, lalu menekan sebuah nomor dengan cepat.

"Halo, Hendra. Aku ada kerjaan buat kamu," ucapnya tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.

"Apa yang bisa aku bantu, Ra?" tanya Hendra di ujung telepon.

"Bantu aku habisi Karin."

. "Karin? Mantan istri suamimu itu kan? Wah, dendam banget kelihatannya."

"Nggak usah banyak tanya. Aku mau dia celaka malam ini juga!"

"Hahaha, tenang, Ra. Urusan begini sih gampang buat aku. Masalahnya cuma satu... bayarannya berapa kalau aku berhasil?"

Laura terdiam sejenak.

"Sekarang aku lagi bener-bener nggak punya uang. Mas Dirga baru aja dipecat dari kantornya. Tapi kamu jangan khawatir, nanti aku usahain cari uangnya kalau kamu berhasil habisi karin."

Hendra tertawa lagi, kali ini terdengar lebih sinis.

"Laura, Laura... kasihan banget sih hidup kamu sekarang. Gini deh, aku nggak minta uang. Tapi gantinya, kamu tidur sama aku. Gimana? Deal?"

"Kamu gila, ya! Aku ini udah punya suami, Hen! Jangan kurang ajar!" bentak Laura.

"Ya sudah kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa. Tapi ya jangan berharap aku mau bantu kamu," ucap Hendra enteng, seolah hendak memutus panggilan.

"Tunggu! Jangan ditutup! telepon nya, Oke. Aku mau."

"Nah, gitu dong. Itu baru Laura yang aku kenal."

Baru saja Laura hendak membalas ucapan Hendra, suara Dirga yang mengucap salam sudah terdengar menggema di ruang tamu.

"Assalamualaikum Sayang, aku pulang!" seru Dirga.

Laura tersentak. Dengan gerakan kilat, ia mematikan teleponnya dan menyembunyikan ponsel itu ke bawah bantal. Jantungnya berdegup kencang, berusaha mengatur napas agar terlihat tenang saat Dirga melangkah masuk ke kamar.

"Ra, wajah kamu kok panik gitu? Kamu kenapa?" .

Laura tersentak, tangannya masih sedikit gemetar di balik selimut. Ia berusaha mengatur napas agar tidak terlihat mencurigakan.

"Eh... enggak apa-apa kok, Mas. Mungkin aku cuma kecapekan aja," jawabnya sambil memaksakan senyum tipis diwajahnya.

Dirga terdiam sejenak, namun kemudian mengangguk. Lalu Ia meletakkan bungkusan makanan di meja kecil samping tempat tidur.

"Oh, gitu ya? Ya sudah, kita makan dulu yuk. Tadi aku beli ayam goreng langganan kita," ucap Dirga , Tunggu sebentar, Mas ambilin piring dulu ya."

"Ah... iya, Mas," sahut Laura pendek, merasa lega sekaligus was was karena rahasianya nyaris terbongkar.

************

Hendra tidak menunggu lama. Baginya, permintaan Laura adalah perintah yang tak bisa ditolak. Ia segera bersiap melancarkan aksinya untuk mencelakai Karin, tanpa peduli seberapa besar risikonya.

Bagi Hendra, ini bukan sekadar bantuan, tapi pembuktian cinta. Sudah sejak lama ia memendam perasaan pada Laura, namun kenyataan bahwa Laura lebih memilih bersanding dengan Dirga.

Rasa sayang yang berubah menjadi obsesi itu membuatnya gelap mata; ia rela melakukan apa saja bahkan hal yang paling kotor sekalipun asalkan itu bisa menyenangkan hati wanita yang selama ini ia idamkan.

"Laura... Laura," gerutunya sambil menggelengkan kepala. "Andai saja dulu kamu nggak memilih Dirga, mungkin kamu nggak akan terjebak dalam masalah kayak begini."

Hendra mencengkeram kemudi motornya erat-erat, sorot matanya tajam menembus kegelapan jalan.

"Tapi nggak apa-apa. Demi mendapatkan kamu kembali, apa pun bakal aku lakukan."

Hendra akhirnya tiba di depan rumah Karin. Namun langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa rumah itu kini dijaga ketat oleh beberapa satpam. Rahangnya mengeras, tatapannya dipenuhi amarah. Dengan pengamanan seketat itu, ia tahu rencananya untuk mencelakai Karin malam ini mustahil dilakukan.

"Sial! Gimana caranya aku bisa masuk kalau penjaganya sebanyak itu?" gerutunya kesal sambil memukul kemudi motor.

Hendra menyipitkan mata, otaknya berputar cepat mencari celah. Tiba-tiba, senyum licik mengembang di wajahnya saat melihat

seragam yang dikenakan para penjaga itu.

"Gila, kenapa nggak dari tadi ya?" gumamnya pelan. "Kalau aku nyamar jadi satpam juga, urusannya bakal lebih gampang. Tinggal bawain mereka kopi yang udah dicampur obat tidur, mereka pasti nggak bakal curiga. Siapa sih yang bakal nolak kopi gratis di jam malam begini?"

Dia terkekeh sendiri membayangkan rencananya berhasil. Tanpa membuang waktu, Hendra segera memutar motornya. Dia harus mencari perlengkapan untuk melancarkan penyamarannya sebelum malam semakin larut.

"Nah, kalau gini kan baru sip," gumam Hendra sambil menepuk tangannya pelan.

"Rencanaku nggak mungkin gagal kalau caranya begini. Sekarang aku harus cepat cari kopi dan siapin semuanya buat satpam-satpam itu."

Tanpa membuang waktu, ia segera memacu motornya mencari kedai terdekat yang masih buka. Di kepalanya, ia sudah menyusun skenario bagaimana cara mendekati para penjaga itu tanpa memancing kecurigaan sedikit pun.

Hendra berjalan santai mendekati pos penjagaan dengan wajah sumringah yang dibuat-buat. Di tangannya, ia menjinjing beberapa plastik berisi gelas kopi panas. Agar terlihat seperti rekan sejawat yang sedang santai, ia mulai bersenandung keras, menirukan gaya viral lagu Happy Asmara.

"Hay, Bapak-bapak! Ngopi-ngopi...!" teriak Hendra sambil tertawa renyah.

Ia pun lanjut menyanyi dengan nada yang sengaja dibikin asyik, "Mumet mikir cicilan, ngopi-ngopi Mas seh... Mumet mikir tagihan, ngopi-ngopi Mas seh! Ngopi ngopi, Mas seh!"

Suasana yang tadinya tegang dan sunyi seketika pecah. Para satpam yang berjaga menoleh ke arahnya, beberapa di antaranya mulai tersenyum melihat tingkah laku rekan baru mereka yang tampak sangat akrab itu.

"Wah, pas banget! Emang lagi pengen minum kopi nih. Mau dong, Bro, satu," sahut salah satu satpam sambil mendekat dengan wajah sumringah.

"Sikat, Pak! Silakan diminum. Jam-jam segini pasti mata udah mulai sepet kan kalau nggak minum kopi? Hehe... ayo, ayo diambil," jawab Hendra ramah, sambil menyodorkan gelas-gelas plastik itu dengan tangan yang tampak santai.

Salah satu satpam senior menyipitkan mata, menatap Hendra dari ujung kaki sampai kepala. "Eh, Bro, ngomong-ngomong saya kok baru lihat kamu ya? Satpam dari blok mana?"

Jantung Hendra berdegup lebih kencang, tapi ia tetap memasang wajah tenang dan tertawa kecil.

"Saya jaga di perumahan sebelah itu, Pak. Tadi pas saya lagi ngantuk berat terus pesan kopi, saya kepikiran lihat Bapak-bapak lagi jaga di sini. Ya sudah, saya pesenin sekalian buat kalian, itung-itung sedekah hehe."

"Wah, mantap banget ini! Rezeki anak saleh beneran," ujar satpam satunya lagi sambil langsung menyeruput kopi panas itu tanpa curiga sedikit pun.

Tanpa rasa curiga, para satpam itu langsung menyeruput kopi pemberian Hendra hingga tandas. Mereka bahkan sempat bersendawa puas, menikmati sisa rasa hangat di tenggorokan.

Namun, hanya berselang beberapa menit, suasana mulai berubah.

"Waduh... kok kepalaku mendadak berat banget ya?" gumam salah satu satpam sambil memijat pelipisnya.

Satpam yang lain tidak menyahut, ia justru sudah menyandarkan punggungnya ke tembok dengan mata yang berkedip-kedip layu.

Satu per satu dari mereka mulai merasakan kantuk yang luar biasa berat, seolah kelopak mata mereka ditarik paksa ke bawah. Tidak butuh waktu lama, suara obrolan tadi berganti menjadi dengkuran halus. Mereka semua tumbang, tertidur pulas.

Hendra menyeringai puas melihat para penjaga itu sudah tak berdaya. Ia melangkah mendekat, memastikan tidak ada lagi yang terjaga di pos itu.

"Yes! Akhirnya rencana gue berhasil juga," gumamnya pelan dengan nada penuh kemenangan.

Ia menatap gerbang yang kini tak lagi terjaga. Tanpa membuang waktu, Hendra segera bergerak masuk, meninggalkan para satpam yang masih terlelap dalam pengaruh obat tidurnya.

Hendra bergerak gesit, menyelinap masuk ke dalam rumah yang sunyi itu. Ia menaiki tangga dengan langkah sepelan mungkin. Begitu sampai di depan kamar Karin, ia memutar kenop pintu dengan sangat hati-hati.

Karin yang sedang membelakangi pintu mendadak merasa ada yang aneh. Bulu kuduknya meremang. Ia seperti menangkap pergerakan samar dari pantulan cermin di depannya.

"Siapa ya? Kayaknya tadi ada bayangan lewat..." gumam Karin curiga.

Namun, belum sempat Karin berbalik untuk memastikan, Hendra sudah menerjang. Tanpa suara, ia menghujamkan pisau yang dibawanya tepat ke perut Karin.

"Akhh...!" Karin tersentak, suaranya tertahan di kerongkongan. Ia ambruk ke lantai sambil memegangi perutnya yang mulai basah oleh darah.

Melihat sasarannya sudah tak berdaya, Hendra tak mau membuang waktu. Ia segera berbalik, lari menuruni tangga, dan menghilang di kegelapan malam dengan motornya.

Tak lama kemudian, Bik Siti lewat di depan kamar sambil membawa tumpukan baju bersih. Langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar terbuka lebar. Begitu melongok ke dalam, tumpukan baju itu langsung jatuh berantakan.

"Ya Allah! Non... Non Karin!" Bik Siti menjerit histeris.

Ia lari mendekat, bingung harus berbuat apa melihat Karin sudah bersimbah darah. "Non, kenapa bisa begini? Siapa yang tega, Non?!"

Bik Siti kemudian berlari ke arah jendela sambil terus berteriak sekencang mungkin, "Tolong! Tolong! Ada orang Jahat! Tolong"

Bik Siti berlari sempoyongan keluar rumah menuju pos penjagaan sambil terus berteriak minta tolong. Suaranya sampai serak, memecah keheningan malam yang mencekam.

"Pak! Bangun, Pak! Ada orang jahat! Non Karin, Pak!" teriaknya sambil menggedor-gedor kaca pos satpam.

Bersambung.........

1
Masitoh Masitoh
biasa la keguguran bagiku
Soraya
karin bodoh knp gak diusir aja Laura
Soraya
satu lagi istri bodoh
Soraya
mampir thor
Panda
beneran bingung ane

Dirga nikah siri sama Laura?

status belum cerai kan ya sama Karin

berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak

Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin

kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya

kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai

dan itu gak pake wali gak sah...

ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya

maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
Wiji Yani: iya nikah siri kak, dan Karin mengizinkan Dirga buat nikahi laura, tapi setelah mereka menikah kan Karin langsung usir mereka dari rumah karin😊🙏dan nanti nya Karin bakal urus perceraian dengan Dirga kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
muter2 muter g sat set buat pembaca nya skip dulu
Wiji Yani: 🙏🙏Maaf ya kak kalau cerita nya kurang berkenan, aku perbaiki lagi ya🙏 terimakasih sudah memberi masukan nya😊
total 1 replies
Ma Em
Karin hati2 dlm bertindak Mona itu orang licik apalagi anaknya Mona si Laura lbh licik , Karin jgn gegabah dlm bertindak balas juga si Laura biar mereka sama merasakan sakitnya dibuang ditinggalkan .
Panda
semangat kak, dua chapter lagi 👍
Wiji Yani: terima kasih kak, support nya🙏
total 1 replies
Ma Em
Ayo Karin jgn menyerah cepat cari bukti agar bisa memenjarakan Mona .
Ma Em
minta uang seratus juta tapi informasinya tdk lengkap malah digantung , mungkin nanti akan minta uang lagi pada Karin untuk informasi kedua dan itu namanya pemerasan mungkin itu mantan suaminya Mona .
Panda
terjadi inkonsistensi pada bagian ini

pria itu kan menawarkan sebuah informasi

apalagi dibayar mahal

tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya

jadi ada inkonsistensi di sini

kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong

"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?

Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"

Karin bakal jadi the winner


keep update kak
Panda
lumayan kak tulisannya udah mulai oke.

semangat 💪
Wiji Yani: iya kak, terimakasih atas masukannya nya🙏🙏😁
total 1 replies
Ma Em
Semoga Karin segera mengetahui semua kebenarannya bahwa Mona bkn ibunya Karin tapi ibunya Laura agar Karin bisa langsung membuang para benalu seperti si Dirga, Laura juga Mona .
Panda
chapter 1-4 mungkin perlu editing tulisan lagi kak biar enggak kebanyakan typo dan miss tanda baca

apakah ini cerita panjang??

semangat terus ya kak
Wiji Yani: iya kak makasih ya buat saran nya soalnya aku masih belajar dan jujur aku belum punya pengalaman menulis🙏 masukan dari kakak sangat membantu aku🥰🙏🙏
total 1 replies
Panda
jangan lupa update
Wiji Yani: siap kakak ditunggu ya, makasih Lo udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!