Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Saingan?
"PRAS!!" teriak Arman, seolah-olah jarak mereka sangat jauh, padahal hanya sekitar 5 meter saja.
"Ya, Bos." Reflek Pras mengubah posisi berdirinya menghadap ke arah Arman. "Ada apa?"
"Keluar belikan aku sate domba. Aku sedang ingin makan itu," titahnya.
Mulut Pras langsung menganga. "Hah, sate domba, Bos? Beli di mana? Perasaan di sekitar sini tidak ada yang jual. Kalau sate ayam sama sate kambing sih banyak, Bos. Tidak mau yang itu saja?" tanya Pras, coba menawarkan opsi yang menurutnya lebih mudah dan masuk akal.
Arman melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak mau. Aku maunya makan sate domba. Dan terserah kamu mau beli di mana saja. Yang jelas, aku ingin makan itu malam ini."
"Tapi, Bos—"
"Tidak ada tapi-tapi, Pras. Cepat sana pergi," titahnya, tak ingin lagi dibantah. "Jangan berani muncul di hadapanku kalau belum ketemu apa yang aku mau, Pras."
Pras meringis. "I—iya, Bos," ucapnya, lalu beranjak pergi dari sana secepatnya. Tapi sebelum itu, dia masih sempat menoleh pada Firda. "Dek Firda, Mas Pras pamit dulu ya. Mau titip sate domba juga sama seperti pesanan Si Bos? Biar sekalian belinya."
Firda tersenyum dipaksakan sambil menggeleng. "Tidak, terima kasih."
Kepergian Pras hanya menyisakan Arman dan Firda di ruang keluarga. Selama beberapa saat suasana menjadi hening. Hingga akhirnya Firda yang memecah kesunyian itu duluan.
"Mm ... Tuan." Firda berjalan mendekat, mengulurkan goodie bag dengan kedua tangannya kepada Arman. "Sepertinya saya tidak bisa menerima barang semahal ini, Tuan."
Arman menatap tangan Firda yang menggantung di hadapannya. Kedua tangannya yang tadinya terlipat di depan dada kini masuk ke dalam saku celananay. Sebelum menanggapi ucapan ibu susu putrinya, dia berdehem terlebih dahulu. "Asal kamu tahu, aku membelikan ponsel yang sama persis seperti yang kupakai bukan tanpa alasan. Karena, aku mau kamu mengabadikan setiap momen berharga pertumbuhan Akira dengan kamera yang jernih. Jadi kamu tidak perlu salah paham." Nada bicara Arman terdengar sedikit ketus, membuat Firda tertunduk karena berpikir Arman masih marah padanya akibat kelalaiannya malam itu.
"Baik, Tuan. Saya mengerti, dan saya juga minta maaf," ucap Firda. "Kalau begitu saya permisi dulu, mau mandikan Akira."
"Hem," gumam Arman. Dia menatap punggung Firda yang berjalan cepat menuju kamar putrinya. Begitu Firda hilang ditelan pintu, dia langsung menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke sofa sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar.
"Ngomong-ngomong, di mana nanti Pras bisa menemukan sate domba, ya?" gumamnya bicara sendiri. Baru sadar kalau permintaannya tadi tidak masuk akal.
"Huh, terserah dia lah. Nanti saja pesanannya aku batalkan. Biarkan saja dulu dia keliling kota selama 2 jam."
Tiba-tiba saja Arman teringat adegan saat Pras pamit kepada Firda tadi. "Dek Firda, Mas Pras pamit dulu, ya." Arman menirukan ucapan Pras dengan gaya menye-menye, tidak bisa menyembunyikan perasaan kesal dan jengkel di hati. "Cih."
...****************...
Mengabadikan setiap momen keseharian Baby Akira menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi Firda akhir-akhir ini setelah punya ponsel sendiri. Bayi yang sudah menginjak usia 3 bulan tersebut terlihat semakin menggemaskan dengan tubuhnya yang kian hari makin berisi. Usai memandikan Akira pagi itu, Firda langsung mendadaninya dengan memakaikan bando pita yang senada dengan warna bajunya.
^^^Firda : Cantik dan lucu kan, Tuan😍🥰🥰^^^
Itu adalah pesan yang dikirim Firda kepada Arman menyertai 2 buah foto baru Baby Akira yang dia ambil pagi ini.
Sementara itu di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Arman baru saja sampai di parkiran kantor bersama Pras. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya setelah mendengar suara notifikasi pesan yang dia setel dengan nada khusus. Pesan itu dari nomor kontak yang dia beri nama "Bundanya Akira". Arman tersenyum bahagia menatap layar ponselnya kala membuka foto baru yang dikirim sang ibu susu.
"Bos, aku perhatikan selama seminggu terakhir Anda jadi sering senyum-senyum sendiri saat bermain ponsel." Pras berceletuk saat mereka berdua sudah masuk ke dalam lift eksekutif.
Mendapat teguran, Arman langsung memasang wajah datar, sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. "Itu karena aku melihat foto dan video baru Akira."
"Oh." Pras mengangguk mengerti. "Bos, by the way, apakah ibu susunya Akira punya hari khusus untuk libur setiap minggunya, atau kalau tidak setiap bulannya?"
Kening Arman berkerut. Kedua matanya menyipit menatap Pras. "Maksudmu?"
"Maksudku, apakah dia punya waktu khusus untuk dirinya sendiri? Misalkan keluar jalan-jalan untuk refreshing di akhir pekan. Kan tidak mungkin juga dia tinggal di rumah terus sepanjang hari selama berbulan-bulan, Bos. Bisa-bisa dia jadi stres."
"Apanya yang tidak mungkin, Pras? Dia 'kan punya bayi. Jadi mana boleh dia keluar keluyuran untuk urusan yang tidak jelas," ucap Arman. Nada bicaranya sedikit sewot.
Pras meringis. "Sayang sekali kalau begitu," lirihnya. Beruntung karena Arman tidak mendengarnya.
"Bos, memangnya dia dikontrak berapa lama untuk jadi ibu susunya baby Akira?" tanya Pras penasaran, begitu mereka berdua sama-sama keluar dari lift, dan sekarang keduanya sama-sama berjalan menuju ruangan Arman. "Apa kontraknya 2 tahun sampai Baby Akira berhenti menyusu?"
Mata Arman terpicing menatap Pras. "Apa urusanmu menanyakan semua itu?"
"Tidak, Bos. Saya hanya bertanya saja," jawab Pras, mulai salah tingkah gara-gara tatapan Arman. "Maksudku begini, Bos, Firda itu 'kan tidak mungkin menyusui Baby Akira selamanya. Suatu saat nanti seiring berjalannya waktu, Baby Akira sudah bukan bayi lagi. Sudah besar. Jadi sudah tidak menyusu lagi. Nah, maksudku, nanti kalau Baby Akira sudah besar dan Firda sudah berhenti jadi ibu susunya, Firda 'kan bisa kembali memulai kehidupannya sendiri, menata hidupnya kembali. Misalnya ... mencari suami baru mungkin. Dia 'kan janda, Bos. Suaminya meninggal beberapa bulan lalu."
Langkah Arman sontak terhenti tepat di depan pintu ruangannya. "Pras, tadi kamu bertanya berapa lama aku mengontrak Firda jadi ibu susu, 'kan?"
Pras tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, Bos. Berapa lama?" tanyanya tak sabar.
Arman terdiam sejenak lalu berkata, "Jawabannya, S-E-L-A-M-A-N-Y-A!"
Pras tertawa. Dikiranya Arman sedang bercanda. "Selamanya, Bos? Tidak masuk akal. Akira 'kan tidak selamanya jadi bayi. Ada-ada saja Bos ini." Pras terus saja tertawa.
"Aku tidak bercanda, Pras. Setelah nanti Akira besar dan sudah berhenti menyusu, gantian aku yang menyusu."
Seperti sebuah kendaraan yang direm mendadak, begitulah tawa Pras saat ini. Wajah pria berkacamata itu langsung melempem. Dia kehabisan kata-kata. Baru sadar kalau Arman sedang menatapnya tajam, yang artinya bosnya itu sedang marah.
"Saya pamit ke pantry dulu, Bos. Mau bikin kopi." Pras beranjak pergi dengan hati dongkol. "Enak saja Si Bos mau menguasai sendiri. Aku 'kan juga mau."
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..