"𝘏𝘢𝘭𝘰, 𝘪𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘬𝘦𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮, 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘱𝘢𝘮 𝘤𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨.
𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵,
𝘑𝘢𝘷𝘢𝘴—𝘬𝘶𝘳𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘯𝘥𝘢!"
Bagi Javas, seorang kurir dengan sejuta cara untuk mencuri perhatian, mengantarkan paket hanyalah alasan untuk bertemu dengannya: seorang janda anak satu yang menjadi langganan tetapnya. Dengan senyum menawan dan tekad sekuat baja, Javas bertekad untuk memenangkan hatinya. Tapi, masa lalu yang kelam dan tembok pertahanan yang tinggi membuat misinya terasa mustahil. Mampukah Javas menaklukkan hati sang janda, ataukah ia hanya akan menjadi kurir pengantar paket biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti_sR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Dokter Jaidan
Bohong jika Selena tidak memikirkan kalimat Sera. Nyatanya, sepanjang langkahnya yang tanpa arah itu, pikirannya terus saja berkecamuk. Dua pikiran yang saling bertentangan saling berbenturan di kepalanya, membuat napasnya terasa berat.
“Mau siapa lagi korban selanjutnya, Lala? atau Bibi Arumi?”
Kalimat itu berputar-putar, menggema di kepalanya, membuat lutut Selena terasa lemas. Dia bahkan sempat kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya menyandarkan diri pada dinding sejenak, mencoba menarik napas panjang.
Tanpa sadar langkahnya berakhir di halaman belakang rumah sakit. Sebuah taman kecil dengan pepohonan dan beberapa bangku yang tampak sepi. Hanya suara gemerisik daun dan angin malam yang berhembus pelan menemani. Selena memilih duduk di salah satu kursi taman di bawah cahaya lampu yang temaram. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan.
Wanita itu berkali-kali menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, seolah dengan begitu rasa sesak di dadanya bisa ikut keluar. Namun nyatanya tidak. Rasa bersalah itu tetap ada, menempel kuat di hatinya.
“Menangis bukan berarti lemah. Kadang kita memang perlu menangis untuk melampiaskan pikiran yang berkecamuk. Setidaknya setelah emosi itu keluar, ada sedikit rasa lega,” suara seseorang terdengar pelan di dekatnya.
Selena mendongak. Seorang pria berjas putih berdiri di hadapannya, senyumnya tenang, tangannya menyodorkan sapu tangan.
“Boleh saya duduk di sini?” tanyanya ramah.
Selena tidak menjawab, namun tubuhnya bergeser sedikit, memberi ruang. Dokter itu pun ikut duduk di bangku yang sama, jaraknya tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia ada di sisi Selena.
“Saya melihat semuanya tadi. Kalau kamu butuh teman cerita, saya siap mendengarkan,” katanya pelan, suaranya terdengar tulus.
Selena masih diam. Tatapannya lurus ke depan, tidak fokus pada apa pun, sementara air matanya jatuh begitu saja. Tangis itu senyap, tanpa suara, tetapi terlihat jelas betapa berat sesuatu yang sedang ia tahan.
“Kamu tahu, sering kali orang tidak mencoba memahami sudut pandang orang lain. Mereka tidak melihat cerita dari sisi lain, hanya menilai dari apa yang ada di depan mata mereka, lalu seolah itu sudah yang paling benar.”
“Pun dengan kita. Hidup tidak berhenti hanya karena kata orang. Bukan tugas kita memikul semua hal dan menyalahkan diri atas sesuatu yang bukan kesalahan kita. Kita harus keluar dari rasa itu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kita masih punya hari esok untuk ditatap, lembaran baru untuk dijalani, hidup baru yang lebih berarti daripada terkurung dalam rasa bersalah.”
“Kamu boleh cerita sama saya… anggap saja saya teman, bukan dokter. Oh ya, biar lebih santai, panggil saya Jaidan saja. Siapa nama kamu?” Dokter Jaidan mengulurkan tangan kanannya ke arah Selena. Senyum ramah tercetak jelas di wajahnya yang tampan, tatapannya teduh, tidak menghakimi.
Selena sempat diam. Tatapannya jatuh pada tangan yang terulur itu, ada keraguan yang tertahan di ujung matanya. Beberapa detik terasa cukup lama. Namun perlahan, tangannya ikut terangkat, menyambut uluran tangan itu meski sempat membuat Dokter Jaidan hampir menarik kembali karena pegal menunggu.
Sentuhan itu singkat, tetapi cukup untuk memberi sedikit rasa hangat di tengah kalutnya malam.
“Selena,” jawab Selena singkat. Dia menarik kembali tangannya, menyembunyikan jemarinya di pangkuan seolah ingin melindungi diri sendiri.
“Jadi… apa yang memenuhi kepala kamu? Boleh saya tahu?” tanya Jaidan pelan. Tubuhnya ditegakkan sedikit, seolah benar-benar siap mendengar apa pun yang ingin Selena bagi.
Namun wanita itu hanya tersenyum samar. Bibirnya seakan ingin terbuka, tetapi tidak ada kata yang sanggup keluar. Dadanya naik turun, dan selebihnya hanya diam. Bercerita pada orang yang baru ditemuinya terasa terlalu berat.
...****************...
Jaidan tidak memaksa. “Baiklah kalau kamu belum bisa bercerita,” ujarnya lembut. “Tapi menangis sambil meluapkan emosi kadang jauh lebih baik daripada menangis tertahan seperti itu. Biarkan sedikit keluar, supaya kamu tidak sesak sendirian.”
“Maaf… maafkan aku… hiks…” isak Selena pecah. Ia memeluk lututnya lebih rapat, bahunya bergetar pelan.
“Aku salah ya, Dok… menjauhinya?” suaranya pecah. “Aku pikir kalau aku menjaga jarak, dia akan menyerah dan berhenti datang. Tapi ternyata tidak… dia tetap datang…” tangisnya makin berat. “Dia tidak pernah mau pergi. Bahkan tadi siang, sebelum kecelakaan itu terjadi, dia sempat ke tempatku…”
Tangan Selena menutup wajahnya. Air matanya jatuh tanpa henti.
“Semua salah aku, Dok. Andai tadi aku mau bicara, andai aku tidak mengacuhkannya, setidaknya dia tidak pergi secepat itu. Dia mungkin tidak akan kecelakaan…” napasnya tersendat. “Semua salah aku. Aku benar-benar pembawa sial…” ujarnya pilu sambil memukul pahanya sendiri, seperti ingin menghukum diri.
“Tidak ada manusia pembawa sial. Kalimat itu hanya ciptaan orang yang ingin melempar kesalahan,” ucap Jaidan tenang. “Semua yang terjadi itu takdir. Sama seperti yang kamu katakan barusan, kita tidak bisa mencegah apa yang sudah ditetapkan.”
Tatapannya lembut, nada suaranya menenangkan.
“Yang terpenting kamu harus tahu, apa pun yang terjadi pada seseorang, itu bukan sepenuhnya karena orang lain. Dan Javas… dia akan baik-baik saja. Percaya sama saya.”
Selena menatap Dokter Jaidan, berusaha mencari tahu apakah kalimat pria itu hanya sekadar penenang atau benar-benar keluar dari keyakinannya.
“Dokter tahu…” suaranya pelan.
“Saya sedikit tahu dari pembicaraan kalian berdua dengan gadis tadi. Maaf, saya tidak sengaja mendengar,” ujarnya sambil tersenyum kikuk.
“Dan dari yang kamu ceritakan, bahwa Javas tidak pernah menyerah datang, itu karena dia sangat mencintai kamu.” Nada suaranya lembut, tidak menghakimi. “Setidaknya beri dia sedikit ruang. Biarkan kehadirannya tetap ada sampai kamu benar-benar yakin. Apakah Javas patut kamu pertimbangkan untuk tinggal dalam hidupmu, atau justru harus kamu jauhkan.”
Kalimat itu terasa menembus pertahanan Selena. Wanita itu sampai mengerutkan kening, heran, seolah dokter di depannya tahu lebih banyak daripada yang sempat dia ucapkan tadi.
Lupakan semua itu. Satu hal yang benar-benar Selena tangkap dari kalimat panjang Dokter Jaidan hanyalah tentang keyakinannya sendiri—tentang perasaannya. Ya, wanita itu memang harus mempertimbangkan banyak hal.
“Terima kasih atas pencerahannya, Dok,” ucap Selena lirih. Perlahan ia bangkit dari duduknya. “Aku harus menemuinya sekarang. Aku harus membiarkannya hadir. Mungkin ini sedikit terlambat, tapi aku akan berusaha menemukan jawabannya,” lanjutnya sebelum melangkah pergi dengan tergesa.
Dokter Jaidan hanya tersenyum miring, menatap punggung Selena sampai sosoknya menghilang di balik dinding. Ia kemudian menarik ponsel dari saku jasnya dan menekan sebuah nomor.
“Saya sudah memberinya pengertian. Untuk keputusan selanjutnya, semuanya ada padanya,” ucapnya singkat sebelum memutus sambungan telepon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...