Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramalan yang Melenceng
Xi Qinxue menunggu di paviliun batu yang setengah tertutup kabut tipis.
Tidak ada lilin. Tidak ada api. Hanya cahaya redup yang merembes dari celah awan, jatuh lurus ke lantai batu yang dingin. Udara di sekitarnya terasa lebih berat daripada jalur luar, seolah setiap langkah harus dibayar dengan perhatian penuh.
Feiyan berhenti di ambang.
Qinxue tidak menoleh.
“Masuk,” katanya.
Suaranya datar, tidak tinggi, tidak rendah. Namun gema tipisnya membuat ruang sempit itu terasa lebih dalam dari seharusnya.
Feiyan melangkah mendekat. Batu di bawah kakinya mengeluarkan bunyi pelan, seolah merespons kehadirannya. Kabut di sekitar paviliun bergerak perlahan, berputar, lalu kembali diam.
Qinxue duduk bersila di depan meja rendah. Di atasnya terbentang selembar kain putih, polos, tanpa simbol. Tangannya diletakkan di atas lutut, tenang, nyaris tidak bergerak.
“Kau memanggilku,” ujar Feiyan.
Qinxue mengangguk tipis. Baru kali itu matanya terangkat. Tatapannya jernih, dingin, tanpa pantulan cahaya berlebih. Sejenak, Feiyan merasa seolah sedang dilihat dari jarak yang sangat jauh.
“Beberapa jalur di depanmu mulai saling menindih,” kata Qinxue. “Jika dibiarkan, kau akan melangkah tanpa tahu mana yang kau injak.”
Feiyan tidak langsung menjawab. Bahunya sedikit kaku, bekas panas dan kelelahan beberapa hari terakhir belum sepenuhnya menghilang. Napasnya terjaga rapi, tapi ritmenya lebih pendek dari biasanya.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Qinxue mengangkat satu jari. Kabut di udara bergetar, lalu berkumpul di atas kain putih. Perlahan, bayangan terbentuk—tidak jelas, hanya garis dan tekanan, seperti jejak kaki di tanah basah.
“Ada dua kemungkinan yang paling dekat,” katanya. “Yang lain terlalu kabur untuk disentuh.”
Bayangan pertama tampak lebih lurus. Jalurnya tidak lebar, namun stabil. Kabut di sekitarnya tebal, menutupi sebagian besar ujung jalan. Dari dalamnya, sesekali muncul riak gelap, lalu tenggelam kembali.
“Ini yang paling sering dipilih,” lanjut Qinxue. “Langkahnya tidak berat. Tekanannya tersebar. Namun… hasilnya cenderung berakhir di tempat yang sama.”
Feiyan menatap bayangan itu lama. Tangannya mengepal tanpa sadar. Riak gelap di dalam kabut terasa akrab, seperti sesuatu yang pernah mendekat, lalu gagal disentuh.
“Dan yang satunya?” tanyanya.
Qinxue menggeser jarinya sedikit.
Bayangan kedua muncul.
Jalurnya sempit, menanjak tajam. Tidak ada kabut tebal yang menutupinya. Setiap lekuk terlihat jelas—retakan batu, tanjakan curam, sudut-sudut yang memaksa langkah berhenti sejenak. Tidak ada tempat berlindung.
“Ini lebih berat,” kata Qinxue. “Setiap langkah akan terasa.”
Feiyan menyipitkan mata.
“Kalau begitu, mengapa kau menunjukkannya?”
Qinxue menatap bayangan itu tanpa perubahan ekspresi. “Karena jalur ini tidak berakhir di tempat yang sama.”
Kabut di sekitarnya bergetar tipis. Udara terasa lebih dingin.
Feiyan bergeser setengah langkah mendekat ke meja. Jaraknya kini cukup dekat untuk melihat bahwa bayangan itu tidak sepenuhnya stabil. Ada bagian-bagian kecil yang bergetar, seolah jalur tersebut menolak untuk dipertahankan terlalu lama.
“Mana yang lebih aman?” tanyanya pelan.
Qinxue tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu. Kabut di udara bergerak pelan, menyentuh lengan Feiyan sebelum menjauh lagi. Sentuhan itu dingin, meninggalkan rasa tidak nyaman di kulit.
“Aman,” ulang Qinxue akhirnya. “Itu kata yang sering disalahartikan.”
Feiyan menoleh padanya.
“Jalur pertama jarang melukai dengan cepat,” lanjut Qinxue. “Ia mengikis perlahan. Banyak yang tidak sadar sampai langkah mereka tidak bisa lagi ditarik.”
Ia memindahkan pandangannya ke bayangan kedua. “Yang ini melukai sejak awal. Namun kau selalu tahu di mana kau berdiri.”
Feiyan terdiam.
Pikirannya kembali pada arena, panas yang hampir melampaui batas, tubuh yang nyaris runtuh, dan sensasi sempit yang masih tersisa di dada. Ia mengingat bagaimana setiap kesalahan kecil langsung menuntut harga.
“Jika aku memilih yang kedua,” katanya, “apa yang menungguku?”
Qinxue menatapnya lebih lama kali ini. Tatapannya tidak berubah, namun tekanan di udara meningkat samar, cukup untuk membuat napas Feiyan terasa sedikit lebih berat.
“Tekanan,” jawabnya singkat. “Kehilangan waktu. Kelelahan yang tidak bisa kau bagi.”
Feiyan tertawa pendek, tanpa suara. “Itu sudah biasa.”
Qinxue tidak menanggapi tawa itu.
“Yang pertama?” tanya Feiyan lagi.
“Tenang,” jawab Qinxue. “Lebih banyak ruang bernapas.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun setiap kali kau hampir mencapai sesuatu, jalurnya akan bergeser sedikit.”
Feiyan menatap bayangan pertama lagi. Riak gelap itu muncul sekali, lebih dekat dari sebelumnya, sebelum menghilang.
Tangannya mengepal lebih erat.
“Jika kau berada di posisiku,” katanya, “apa yang kau pilih?”
Qinxue menggeleng pelan. “Itu bukan pertanyaan yang berguna.”
Feiyan mendecak pelan, lalu menghela napas. Ia melangkah mundur setengah langkah, memberi jarak antara dirinya dan meja.
“Aku lelah salah melangkah,” katanya.
Qinxue menatapnya tanpa berkedip.
“Aku ingin menghindari hal-hal yang tidak perlu,” lanjut Feiyan. “Jika ada jalan yang tidak langsung menghancurkan… aku akan mengambilnya.”
Kabut di atas kain putih bergetar.
Qinxue mengangkat tangannya sedikit, lalu menurunkannya kembali. Bayangan pertama menguat, garisnya menjadi lebih jelas, sementara bayangan kedua mulai memudar, seolah ditarik menjauh.
“Kalau begitu,” katanya, “jangan tergoda oleh jalur yang terlihat jujur hanya karena ia terang.”
Feiyan menatapnya.
“Dan jangan meremehkan jalur yang tampak tenang hanya karena ia sunyi.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Feiyan akhirnya mengangguk. Gerakannya kecil, tapi tegas.
“Aku mengerti.”
Qinxue menurunkan pandangannya kembali ke kain putih. Kabut perlahan menyebar, menghapus kedua bayangan hingga tak tersisa apa pun selain permukaan polos.
“Pilihan selalu tampak benar saat diambil,” katanya. “Yang membedakannya hanyalah apa yang sanggup kau tanggung setelahnya.”
Feiyan berbalik.
Saat ia melangkah keluar dari paviliun, udara di luar terasa sedikit lebih ringan. Jalur batu di depannya tampak biasa—tidak curam, tidak sempit. Kabut di sekitarnya tidak terlalu tebal.
Ia melangkah tanpa ragu.
Di belakangnya, paviliun kembali sunyi.
Qinxue tetap duduk di tempatnya. Setelah beberapa saat, ia mengeluarkan sebuah buku tipis dari balik lengan jubahnya. Sampulnya polos, tanpa judul. Ia membuka halaman kosong, mengangkat kuas, lalu berhenti sejenak.
Tetesan tinta jatuh lebih dulu, membentuk satu titik hitam kecil.
Tangannya bergerak, perlahan, rapi.
Ia menulis.
...
Langkah Feiyan berhenti di persimpangan jalur dalam.
Tidak ada tanda. Tidak ada penjaga. Hanya dua lorong batu yang sama-sama sunyi, diterangi cahaya redup dari kristal dinding. Udara di sisi kiri terasa lebih padat, menekan bahu seperti beban lama yang kembali dipikul. Sisi kanan lebih lapang, namun dinginnya menusuk telapak kaki.
Ia mengingat kata-kata Qinxue.
Feiyan memilih kiri.
Beberapa langkah pertama berjalan mulus. Batu di bawah kakinya rata, nyaris tidak bersuara. Lorong itu lurus, panjang, tanpa tikungan tajam. Napasnya perlahan kembali teratur.
Lalu lantai bergetar.
Getaran itu halus, hampir seperti denyut nadi. Feiyan berhenti. Telapak kakinya terasa hangat sesaat, lalu dingin. Ia menunduk—retakan tipis menjalar di batu, berhenti tepat sebelum sepatunya.
Ia melangkah lagi.
Dua murid melintas dari arah berlawanan. Pandangan mereka singkat, cepat berpaling. Salah satunya berhenti sejenak, menoleh ke lantai retak, lalu mempercepat langkah tanpa sepatah kata.
Lorong berikutnya menyempit.
Bahunya hampir menyentuh dinding. Kristal penerang di atas meredup, cahayanya berdenyut tidak stabil. Setiap beberapa langkah, hawa di sekitarnya berubah, kadang terlalu dingin, kadang menyesakkan.
Feiyan merasakan denyut asing di dalam dadanya.
Langkahnya melambat.
Di sebuah aula kecil, ia melihat papan pengumuman. Beberapa nama terukir rapi dengan tinta hitam. Ia mendekat, membaca cepat, lalu berhenti.
Namanya tidak ada.
Namun tepat di bawah papan, di sudut yang jarang diperhatikan, terdapat secarik lembar tipis terpasang dengan paku kecil. Tulisan di atasnya samar, seolah tidak ingin dibaca.
“Penyesuaian jadwal latihan.”
Feiyan menyipitkan mata. Waktu dan lokasi tercantum—berbeda dari yang ia terima sebelumnya.
Ia melirik sekeliling. Aula itu kosong.
Ia merobek lembar itu, melipatnya, lalu menyimpannya.
Saat melangkah keluar, udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Dinding lorong tampak lebih dekat, bayangannya memanjang tidak wajar. Setiap napas seperti harus melewati lapisan tipis yang menahan.
Denyut di dadanya kembali terasa.
Kali ini lebih jelas.
Feiyan berhenti, menekan telapak tangan ke dinding batu. Permukaannya dingin, namun dari dalam retakan halus, hawa asing merembes keluar. Tangannya sedikit bergetar, lalu ia menariknya kembali.
Ia tidak berbalik.
Di halaman latihan luar, tanah terlihat kering. Beberapa bekas jejak lama masih tertinggal, namun tidak ada murid lain. Angin berhembus rendah, membawa debu tipis yang berputar di pergelangan kaki.
Feiyan berdiri di tengah lapangan.
Saat ia menarik napas, udara masuk terlalu cepat. Denyut di dadanya tersentak, lalu terhenti sesaat. Pandangannya menggelap di tepi, namun ia tetap berdiri.
Beberapa langkah dari sana, seorang pengawas melirik sekilas, lalu menunduk pada catatannya. Tidak ada teguran. Tidak ada panggilan.
Feiyan mengatur ulang posisinya, menjejak tanah lebih kuat. Debu berhamburan tipis.
Di dalam dirinya, sesuatu bergeser.
Seutas benang tipis bergetar, nyaris tak terlihat, namun dampaknya langsung terasa. Aliran yang biasanya menyebar kini tertarik ke satu titik, menyempit, lalu melambat. Ruang di sekitarnya terasa lebih sempit, seolah dunia sedikit condong ke arahnya.
Feiyan mengerjap, lalu berdiri tegak kembali.
Latihan berlangsung singkat. Setiap gerakan terasa lebih berat dari biasanya. Tanah di bawah kakinya retak lebih cepat. Napasnya terpotong lebih sering. Saat ia selesai, keringat di punggungnya terasa dingin, bukan hangat.
Ia melangkah pergi tanpa menoleh.
Malam turun lebih cepat di jalur itu.
Saat Feiyan kembali ke paviliunnya, lentera di depan pintu berkedip, lalu padam. Ia menyalakannya kembali dengan sentuhan ringan. Api kecil menyala, bergetar sebentar, lalu stabil.
Ia duduk di tepi ranjang, membuka telapak tangan.
Denyut itu masih ada. Lebih dalam. Lebih sempit.
Di tempat lain, paviliun batu kembali diselimuti kabut.
Xi Qinxue duduk di posisi yang sama. Buku tipis terbuka di hadapannya. Tinta di halaman terakhir masih basah.
Ia meniupnya pelan.
Tulisan itu sederhana, rapi, tanpa hiasan.
“Dia memilih jalan tersulit.”
Qinxue menutup buku itu, menyelipkannya kembali ke balik lengan jubah. Kabut di sekitarnya menipis, lalu diam.
Di kejauhan, jalur yang dipilih Feiyan memanjang tanpa tanda akhir.