Rendra Adyatama hanya memiliki dua hal: rumah tua yang hampir roboh peninggalan orang tuanya, dan status murid beasiswa di SMA Bhakti Kencana—sekolah elite yang dipenuhi anak pejabat dan konglomerat yang selalu merendahkannya. Dikelilingi kemewahan yang bukan miliknya, Rendra hanya mengandalkan kecerdasan, ketegasan, dan fisik atletisnya untuk bertahan, sambil bekerja sambilan menjaga warnet.
Hingga suatu malam, takdir—atau lebih tepatnya, sebuah Sistem—memberikan kunci untuk mendobrak dinding kemiskinannya. Mata Rendra kini mampu melihat masa depan 24 jam ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susilo Ginting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Wangi Buku Tua dan Janji di Bawah Matahari Sore
Cahaya matahari pagi yang nembus lewat celah ventilasi bunker jatuh tepat di atas meja kerja Rendra, bikin debu-debu halus yang melayang di udara kelihatan kayak serbuk emas yang lagi nari. Di tengah meja itu, tergeletak sebuah benda yang kontras banget sama suasana pagi yang tenang: Kartu Hitam The Zenith.
Rendra masih memandangi kartu itu sambil muter-muterin gelas kopinya. Logam hitam matte itu menyerap cahaya, seolah-olah dia adalah lubang hitam kecil yang siap menghisap siapa aja yang berani menyentuhnya Dingin. Berat. Dan bau bahaya.
"Jadi, ini tiket masuk neraka versi VIP, Bos?" Bagas nyeletuk dari arah dapur kecil, lagi sibuk menggoreng telor buat sarapan. Baunya gurih, bikin perut keroncongan, ngingetin Rendra kalau mereka masih manusia biasa yang butuh makan, bukan cuma mesin perang.
"Lebih tepatnya kandang singa, Gas," jawab Rendra, ngusap logo Matahari Hitam di kartu itu. Teksturnya kasar di ujung jari. "Di sana isinya orang-orang yang bisa beli hukum pake uang receh mereka. Kita harus hati-hati. Satu langkah salah, kita nggak cuma diusir, tapi dihilangkan."
"Santai, Bos. Jas baru lo udah siap. Gue udah pasang tracker di kancing mansetnya, jaga-jaga kalau lo diculik tante-tante girang di sana," canda Bagas sambil nyengir, naruh piring di meja.
Rendra ketawa kecil. Tawa yang jarang keluar kalau dia lagi sendirian. Keberadaan Bagas bener-bener jadi penyeimbang kewarasannya.
"Kadang, kita butuh berdiri di pinggir jurang buat sadar kalau pemandangan di bawah sana itu mengerikan, tapi tanah tempat kita memijak itu nyata dan berharga."
Rendra nyendok nasi goreng itu. Rasanya asin, kebanyakan garem. Tapi buat Rendra, ini rasa persahabatan. Rasa loyalitas yang nggak bisa dibeli pake saham atau bitcoin.
Siang harinya, Rendra udah ganti baju.
Seragam putih abu-abu yang dia pake kerasa agak sempit di bagian bahu efek latihan fisik rutin yang dia lakuin beberapa bulan terakhir. Dia jalan menyusuri koridor SMA Bhakti Kencana yang riuh. Suara tawa anak-anak, bunyi sepatu yang berdecit di lantai keramik, sama bau keringat campur parfum murah khas anak sekolahan menuhi indra nya.
Dulu, dia benci banget sama suara-suara ini. Dia ngerasa terasing. Tapi sekarang, di tengah pusaran mafia dan intrik politik yang dia hadapi tiap malam, suasana receh sekolah ini justru jadi... penenang.
Di sini, masalah terberat cuma PR Matematika yang lupa dikerjain atau siapa naksir siapa. Sederhana. Naif. Dan Rendra rindu rasa naif itu.
Langkah kaki Rendra ngebawa dia ke tempat favoritnya: Perpustakaan.
Bukan buat baca buku saham atau strategi perang, tapi karena dia tau siapa yang ada di sana.
Begitu pintu perpustakaan didorong, wangi khas kertas tua dan lemari kayu langsung nyapa hidung. Suasana hening, cuma ada suara bip dari mesin peminjam buku dan suara halaman dibalik.
Di meja pojok dekat jendela besar yang mengha ke lapangan basket, Clara duduk sendirian.
Rambut hitam panjangnya diiket kuda asal-asalan, anak rambutnya jatuh nutupin pipi. Dia lagi nunduk serius banget, keningnya berkerut lucu sambil gigit ujung pulpen. Sinar matahari sore yang masuk lewat jendela bikin siluet wajahnya kelihatan bercahaya, kayak lukisan Renaissance yang hidup.
Rendra diem sebentar di balik rak buku Sejarah, cuma ngeliatin pemandangan itu. Dia ngerasa dadanya sesak, tapi sesak yang enak. Perasaan ingin melindungi yang begitu besar sampai rasanya sakit.
Dia jalan pelan, berusaha nggak bikin suara. Pas udah di belakang kursi Clara, dia nunduk dikit dan bisik pas di telinga gadis itu.
"Hati-hati, pulpennya bisa bocor kalau digigit terus."
"Ayam!" Clara kaget setengah mati, reflek loncat dikit di kursinya. Pulpennya jatuh menggelinding ke lantai.
Dia nengok ke belakang dengan muka merah padam, siap ngomel, tapi begitu liat Rendra yang lagi nyengir kuda, ekspresinya langsung berubah lega.
"Rendra! Ih, ngeselin banget sih! Jantung gue mau copot tau!" Clara mukul lengan Rendra pelan pake buku tulisnya.
Rendra ketawa renyah, ngambilin pulpen Clara di lantai. "Abisnya lo serius banget. Mikirin apaan sih? Negara?"
"Lebih parah. Kimia," Clara menghela napas panjang, nyender lemes di kursi. "Gue nggak ngerti stoikiometri. Rasanya otak gue mau meledak."
Rendra duduk di kursi sebelah Clara, narik buku paket Kimia yang tebel itu. Jari-jari mereka sempet bersentuhan dikit pas Rendra menggeser buku. Kulit Clara halus dan hangat Kontras banget sama dinginnya kartu logam Zenith atau gagang pistol yang pernah Rendra pegang.
"Mana yang susah? Sini gue liat," kata Rendra.
"Semuanya..." rengek Clara.
Rendra mulai ngejelasin. Suaranya pelan, rendah, dan sabar. Dia nggak pake istilah rumit. Dia pake analogi masak kue buat ngejelasin reaksi kimia. Clara dengerin dengan seksama, tapi lama-lama matanya nggak fokus ke buku, melainkan ke wajah samping Rendra.
"Ren..." panggil Clara tiba-tiba, motong penjelasan Rendra.
"Hm?" Rendra noleh, dan dia baru sadar jarak wajah mereka deket banget. Dia bisa nyium wangi shampoo stroberi dari rambut Clara. Wangi yang manis dan polos.
"Lo... capek ya?" tanya Clara lembut. Tangannya terangkat ragu-ragu, terus dengan berani dia merapihkan rambut Rendra yang jatuh ke belakang telinga. "Mata lo ada kantung itemnya. Lo begadang terus?"
Sentuhan tangan Clara di pelipisnya bikin Rendra diem mematung. Rasanya kayak disiram air es di tengah gurun pasir. Sejuk. Menenangkan.
Rendra pengen banget cerita. Iya, Ra. Gue capek. Semalem gue nge hack data politikus korup. Besok gue mau menyusup ke sarang mafia. Gue capek jadi hantu.
Tapi dia nggak bisa.
Rendra nangkep tangan Clara yang ada di wajahnya, menggenggamnya pelan tapi erat. Tangan itu kecil banget di dalam genggaman Rendra.
"Gue cuma lagi banyak kerjaan freelance, Ra. Biasa, kejar setoran buat masa depan," jawab Rendra sambil senyum tipis, berusaha nyembunyiin beban di matanya.
Clara natap Rendra dalem-dalem. Dia tau Rendra nyembunyiin sesuatu. Intuisinya sebagai cewek bilang kalau "kerjaan freelance" itu cuma puncak gunung es. Tapi dia juga tau, kalau Rendra belum mau cerita, dipaksa pun percuma.
"Jangan terlalu dipaksa ya, Ren," bisik Clara. "Gue nggak mau lo sakit. Lo... lo itu anchor gue. Kalau lo roboh, gue pegangan sama siapa?"
Kalimat itu nonjok ulu hati Rendra. Anchor. Penahan. Jangkar.
Clara nganggep dia sandaran. Padahal Rendra ngerasa dirinya kayak kapal yang lagi berlayar di badai, siap karam kapan aja.
Rendra ngedeketin wajahnya dikit, bikin napas Clara tertahan. Suasana perpustakaan yang sepi bikin momen ini kerasa intim banget. Debu-debu emas tadi masih nari-nari di antara mereka.
"Gue nggak bakal roboh, Ra. Selama lo masih butuh gue, gue bakal tetep berdiri. Sekalipun gue harus nahan langit sendirian," janji Rendra. Suaranya serius, nggak ada nada bercanda.
Pipi Clara makin merah. Dia nunduk, nyembunyiin senyum malunya. "Gombal lo receh banget. Belajar dari mana?"
"Dari buku Fisika. Bab gaya tarik menarik," Rendra mengedipkan sebelah matanya, balik lagi ke mode santai.
Clara ketawa lagi. Tawa yang renyah dan lepas. Buat Rendra, suara tawa itu adalah bahan bakar. Itu alesan kenapa dia rela tangannya kotor. Biar Clara bisa tetep ketawa bersih kayak gini.
"Eh, Ren. Sabtu besok... lo sibuk nggak?" tanya Clara sambil mainin ujung bukunya.
Rendra mikir sebentar. Sabtu besok? Itu jadwal dia pergi ke Zenith bareng Bagas. Misi paling berbahaya sejauh ini.
"Kenapa emangnya?"
"Ada pameran seni di Galeri Nasional. Temen gue bilang bagus banget. Gue pengen ke sana, tapi males kalau sendirian. Lo... mau nemenin?" Clara natap Rendra penuh harap.
Hati Rendra mencelos. Dia pengen banget bilang iya. Dia pengen jadi cowok normal yang nemenin ceweknya jalan-jalan liat lukisan, makan es krim, terus pulang sore. Tapi Sabtu besok dia bakal ada di tengah-tengah monster.
"Sabtu... gue ada deadline, Ra. Maaf banget," tolak Rendra halus. Liat muka Clara yang langsung berubah kecewa bikin Rendra ngerasa bersalah banget.
"Oh... oke. Nggak papa kok. Gue ngerti, lo kan sibuk," kata Clara, berusaha senyum meski di paksain.
Rendra nggak tahan liat ekspresi itu. Dia muter otak. Misi Zenith itu malem. Pameran biasanya buka dari pagi.
"Tapi..." potong Rendra cepet. "Gue kosongnya pagi sampe siang. Kalau lo mau pergi jam 10 pagi, gue bisa. Gimana?"
Mata Clara langsung binar lagi. "Beneran?! Bisa! Gue jemput jam 10 ya? Eh nggak deng, kita ketemuan di sana aja!"
"Gue jemput lo," tegas Rendra. "Pake motor tapi. Mau nggak naik motor butut gue?"
"Mau banget! Asal sama lo, naik becak juga gue mau," Clara keceplosan, terus buru-buru nutup mulutnya. "Eh, maksud gue... ya gitu deh."
Rendra ketawa gemas. Dia mengelus kepala Clara.
"Oke. Sabtu pagi. Gue jemput. Sekarang, selesain dulu tuh soal Mol-molan lo. Kalau dapet nilai jelek, ntar gue yang dimarahin bokap lo."
Clara ngangguk semangat, balik ngerjain tugasnya dengan energi baru.
Rendra nyender lagi di kursinya, ngeliatin wajah samping Clara.
"Cinta itu aneh. Dia bisa bikin lo jadi orang paling lemah karena takut kehilangan, tapi di saat yang sama bikin lo jadi orang paling kuat karena punya alesan buat berjuang."
Di saku celananya, kartu Zenith yang dingin seolah ngingetin Rendra: Nikmati momen ini, Nak. Karena setelah Sabtu malam nanti, dunia lo nggak akan pernah sama lagi.
Rendra nutup matanya sebentar, ngerekam wangi stroberi, suara tawa Clara, dan hangatnya sinar matahari sore ini. Dia bakal butuh kenangan ini buat ngelawan dinginnya dunia malam yang udah nunggu di depan mata.
Semangat Thor