Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Menjadi Istrimu
"Ada kehangatan yang tersembunyi di balik keluarga besar ini. Meski kini aku penasaran, dari mana kira-kira Rey memiliki sikap yang begitu dingin." ~Luana Casavia.
.
.
.
Suasana mansion keluarga Lueic itu tampak 180° berbeda.
Jika pada saat Luana datang tadi kediaman itu tampak lengang, maka sore ini rumah besar itu sudah dipadati oleh cukup banyak orang.
Rey mengulurkan tangan ke arah istrinya, meminta izin untuk menggandeng Luana tepat ketika mereka melangkah menuju pintu.
Dan begitu pintu kamar itu terbuka, suara hiruk pikuk telah terdengar hingga ke telinga, seiring dengan Luana yang menatap Rey tidak percaya.
"Keluarga besarku sudah tiba saat kau beristirahat tadi," lelaki itu buru-buru menjelaskan, bahkan tanpa Luana bertanya.
Membentuk huruf 'o' tanpa sadar di bibirnya, Luana hanya menganggukkan kepala.
"Apakah banyak tamu yang datang?" bisik perempuan itu mendekat.
Rey membimbing Luana untuk menuruni anak tangga satu per satu, sembari menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Cukup banyak. Meski ini hanyalah keluarga besar, tetapi sepertinya Ibuku mengundang beberapa keluarga dari sahabatnya juga."
Bola mata Luana menelisik sekitar, mendapati mansion itu kini telah dihias dengan sedemikian rupa. Dalam hati dia bertanya-tanya, bagaimana bisa rumah itu langsung tampak berbeda hanya dalam empat jam saja.
Berbagai ornamen lampu dipasang, hidupkan untuk memberikan sensasi terang benderang. Ruang utama tempat di mana ia menyapa Patricia tadi siang sebelumnya masih tampak kosong, tetapi kini lihatlah bagaimana meja panjang telah berjejer dengan berbagai hidangan di atasnya.
"Ini bukan hanya sekedar jamuan makan malam, benarkan?" Kembali berbisik Luana, seiring dengan langkah kaki yang tidak berhenti.
Tangga itu memiliki bentuk berputar, dan mereka tampaknya punya cukup banyak waktu untuk berbincang sebelum nantinya mencapai anak tangga paling bawah.
Rey tersenyum.
"Tentu saja jamuan makan malam," jawab lelaki itu. "Tetapi kita akan jadi bintangnya malam ini, sebab mereka di sini untuk merayakan pernikahan kita."
Luana terhenyak sesaat, berkedip ketika kata 'pernikahan kita' keluar dari bibir sang bangsawan. Genggaman tangan lelaki itu tidak mengendur sama sekali, ketika kini keduanya malah saling bertatapan.
Luana yang lebih dulu mengalihkan pandangan akhirnya, lantas mengerjapkan mata beberapa kali untuk berusaha kembali menguasai suasana.
Keduanya hampir sampai di tengah-tengah, ketika kini Luana kembali melontarkan pertanyaan.
"Tuan Rey, ada hal yang begitu mengusikku," kata perempuan itu.
Menghentikan langkahnya, Luana membiarkan Rey juga ikut menghentikan langkah sekarang.
Bola mata lelaki itu menusuknya dalam, tetapi Luana tahu pancaran sinar yang berasal dari sana tidak lagi terasa sedingin beberapa hari lalu.
"Apa itu? Katakan."
Luana memutar bola matanya.
"Aku hanya penasaran," kata perempuan itu. "Dengan membawaku ke tengah-tengah keluargamu seperti ini, apakah tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa seharusnya bukan aku yang menikah denganmu?"
Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak Luana tadi, dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari jawaban.
Bagaimana Patricia tadi menyambutnya dengan begitu hangat, memang membuat Luana merasa senang dan tenang. Tetapi tiba-tiba gadis itu berpikir, apakah Rey memang mengakui bahwa dia adalah pengantin palsu? Atau sebenarnya keluarga besar mereka memang sama sekali tidak mengenal Beatric sebelum ini?
Rey menarik napas dalam-dalam, mencerna dengan seksama pertanyaan yang baru saja mengudara. Dia tidak menyangka Luana akan bertanya seperti itu, meski itu bukanlah hal yang mustahil untuk ditanyakan oleh Luana sendiri.
"Karena seharusnya mereka mengenal Beatric, bukan begitu?" sambung Luana lagi.
Tampaknya sudah tidak ada kecanggungan antara mereka saat membahas perihal Beatric, karena ini bukan pertama kalinya nama perempuan itu melayang di antara Rey dan Luana.
Rey mendesah pelan.
"Tidak ada satu pun keluargaku yang mengenal Beatric," jawab lelaki itu jujur.
Luana tampak sedikit kebingungan, tidak bisa menahan kerutan yang begitu saja hadir di keningnya.
Apa yang dimaksud oleh lelaki ini? Mengapa bisa keluarga besar Lueic tidak mengenal sosok Beatric?
Rey mendapati masih ada rasa penasaran yang tersirat dari tatapan Luana, persis ketika lelaki itu kembali menarik napas untuk membuka suara.
"Aku tidak pernah membawa siapa pun ke sini," ujar Rey lagi. Tanpa sadar lelaki itu semakin menggenggam erat tangan Luana di bawah sana.
"Aku menjalin hubungan dengan Beatric, tetapi tidak sekali pun aku memperkenalkannya ke depan keluarga besarku," sambung sang bangsawan lagi. Ada nada berbeda yang ditangkap oleh telinga Luana, yang mungkin menyiratkan rasa sakit atau kecewa di sana.
"Begitukah?"
Rey mengangguk samar, tidak mengetahui mengapa ia kali ini sungguh begitu mudahnya berbicara tentang hubungan asmara pada sembarang orang.
Biasanya Rey menutup hubungannya erat-erat, sebab itulah mengapa teman-temannya pun bahkan tidak mengenal sosok Beatric sama sekali. Rey memang bukan tipikal lelaki yang suka memamerkan wanitanya, terlebih hubungan mereka kala itu masih dalam tahap berkencan.
"Kau adalah perempuan pertama yang aku bawa ke hadapan teman-temanku, dan kini ke hadapan keluarga besarku, Luana." Rey mengangkat kepala untuk membalas tatapan Luana, dan refleks mendapati ekspresi keterkejutan dari wajah perempuan itu.
Entah mengapa Luana begitu saja terbata, dengan lidah yang berubah kelu.
"Jadi kau tidak perlu khawatir," kata Rey menenangkan. "Bahkan tidak ada yang mengetahui bahwa perempuan yang menjadi istriku seharusnya bernama Beatric, jadi mereka bahkan tidak akan menyinggung soal itu di depanmu. Aku bisa janji."
Luana tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tetapi setidaknya rasa penasaran akan hal ini sudah terlunaskan.
Keduanya masih saling menatap, hingga satu suara di bawah sana membuyarkan lamunan.
"Luana, kau cantik sekali, Sayangku!"
Sontak menoleh ke arah sumber suara, Rey dan Luana mendapati Patricia yang sedang melebarkan tangannya di lantai dasar.
Senyum sumringah terpancar jelas di wajah perempuan itu, yang menandakan bahwa ibunda dari Rey itu pastilah sedang diliputi kebahagiaan yang membuncah.
"Rey, bawa menantuku ke sini!" ujar Patricia lagi, dengan tatapan yang teramat mendamba. "Awas, perlahan-lahan!"
"Baik, Ibu," sahut Rey cepat. "Ayo, Luana."
Luana menurut ketika Rey kembali mengiringnya untuk turun dari tangga, hingga tidak lama kemudian sepasang suami istri itu tiba di lantai dasar.
Patricia menyambut Luana dengan satu pelukan hangat, kini membawa keduanya untuk memasuki ruangan yang lain.
Ruangan di mana para keluarga sudah tampak berkumpul, dengan berbagai warna outfit yang memenuhi aula besar itu.
Tepat ketika Patricia dan Rey-Luana melewati pintu, sontak semua tatapan kini terarah dan tertuju pada mereka. Sebagian besar dari mereka begitu saja menghentikan aktivitas, dengan senyum yang merekah di masing-masingnya saat menyambut pasangan suami istri baru di keluarga besar itu.
Luana mengerjap beberapa kali, sungguh masih teramat asing dengan suasana ramai seperti ini. Tetapi Rey berulang kali mengeratkan gandengan tangan mereka, membiarkan cincin yang tersemat di jemari saling bersentuhan satu sama lain.
Sang bangsawan mengiring Luana ke arah depan ruangan, seakan-akan dia sudah tahu di mana tempat mereka harus berdiri sekarang.
Suara riuh yang tadinya terdengar kini perlahan-lahan senyap, tepat sebelum Rey memberikan penghormatan dan memperkenalkan Luana di depan keluarga besarnya.
"Terima kasih atas kehadiran kalian semua malam ini," ujar lelaki itu tanpa keraguan. Bola matanya mengitari ruangan, lantas berhenti untuk menoleh tepat ke arah Luana.
Luana sendiri hanya bisa terdiam, dengan degupan jantung yang semakin lama semakin berdetak cepat.
"Perkenalkan, dia adalah Nyonya Rey Lueic, yang telah sah menjadi anggota baru keluarga kita," sambung Rey lagi. "Perempuan cantik ini adalah istriku, Luana Lueic."
Sorak-sorai tepuk tangan dari para tamu undangan yang juga merupakan keluarga besar itu terdengar riuh, sebagai sambutan sukacita atas bergabungnya seorang lagi ke dalam keluarga mereka.
Luana hanya bisa menaikkan sudut bibir untuk membentuk senyuman, tetapi tiba-tiba saja waktunya terhenti ketika merasakan satu kecupan mendarat di pipinya.
Kecupan yang berasal dari bibir sang bangsawan, yang terasa sangat lembut sekali.
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar