Dikhianati dan difitnah oleh selir suaminya, Ratu Corvina Lysandre terlahir kembali dengan tekad akan merubah nasib buruknya.
Kali ini, ia tak akan lagi mengejar cinta sang kaisar, ia menagih dendam dan keadilan.
Dalam istana yang berlapis senyum dan racun, Corvina akan membuat semua orang berlutut… termasuk sang kaisar yang dulu membiarkannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Theon?” Cassian menatap tajam, suaranya merendah tapi jelas mengandung bara. “Jadi kau mengusirku karena menunggu dia?”
Corvina menegakkan tubuhnya, menatap Cassian dengan tatapan yang dingin. “Jangan berlebihan, Yang Mulia. Aku tidak menunggu siapa pun. Theon datang tanpa pemberitahuan.”
Tepat saat itu Theon melangkah masuk lebih dalam, wajahnya sedikit kaku menyadari suasana di antara keduanya. Ia langsung menunduk hormat.
“Hormat saya kepada Yang Mulia Kaisar dan Ratu.”
Cassian menatap Theon lama, seolah menimbang sesuatu di balik sikap tenang pria itu. “Kau datang di waktu yang tepat, Theon,” katanya dingin. “Sangat menarik.”
Theon menelan ludah pelan. “Yang Mulia. Saya hanya ingin menyerahkan laporan tentang rakyat utara yang sedang mengalami kelapran karena di utara terjadi kemarau panjang. Saya datang ke istana Anda tapi penjaga disana berkata Anda sedang menuju istana Ratu, maka dari itu saya menyusul kemari, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud mengganggu.”
“Benarkah ?” Cassian tersenyum tipis, tapi senyum itu seperti pisau. “Ratu tampaknya justru menunggumu dengan cukup antusias.”
Corvina berdiri, matanya menatap Cassian tajam. “Kau berlebihan, Cassian. Theon datang untuk urusan kerja, yang hendak dia temui itu kau bukan aku. Jika kau tidak percaya padaku, mungkin aku akan pergi meninggalkan kalian.”
Cassian menahan napas sejenak. Tatapan mereka bertaut tajam. "Kau tidak perlu pergi jika kau tak ingin pergi."
Cassian lalu duduk dan menyuruh Theon dan Corvina ikut duduk bersama. Cassian mengesampingkan urusan pribadinya saat sedang menghadapi urusan kekaisaran.
"Bagaimana langkah selanjutnya, Grand Duke?" tanya Cassian dengan nada yang serius.
"Kita harus mengirimkan bantuan pangan dan air bersih ke sana, Yang Mulia."
"Maka lakukanlah!" perintah Cassian.
"Justru itu kendala nya, Yang Mulia. Karena jalur ke arah utara sangat lah jauh jadi memerlukan banyak prajurit dan kereta kuda."
Cassian mengusap pelipisnya pelan, wajahnya mulai menegang. “Berapa banyak yang kita butuhkan?”
“Sekitar dua batalion untuk pengawalan, dan tiga puluh kereta kuda berisi logistik,” jawab Theon. “Namun persediaan di gudang pusat menipis karena pengiriman terakhir ke wilayah barat.”
Cassian menatapnya tajam. “Kekaisaran sebesar ini, tapi tak bisa memastikan rakyatnya makan? Menyedihkan.”
Corvina menatap mereka bergantian, lalu berkata tenang, “Kita masih punya cadangan bahan pangan di wilayah selatan. Aku bisa meminta gubernur di sana untuk mengirimkan sebagian. Mereka baru saja panen.”
Cassian menoleh ke arah Corvina, sedikit terkejut. “Kau masih ingat data logistik seakurat itu?”
“Kau pikir aku hanya duduk diam di istana ini? ternyata tidakan ku tepat kan, memangkas anggaran istana selir yang berlebihan, Cassian? Di luar sana rakyat kita kekurangan makanan.” balas Corvina dingin. “Aku masih Ratu Kekaisaran, jadi aku masih punya wewenang untuk melakukan hal yang menurutku benar.”
Theon menunduk menahan senyum kecil, tapi segera menghilangkannya begitu Cassian menatap curiga.
Cassian akhirnya menghela napas panjang. “Baik. Surat perintah pengiriman akan kubuat hari ini juga. Grand Duke, kau yang memimpin langsung pengawalan ke utara.”
“Siap, Yang Mulia,” jawab Theon cepat.
“Dan Ratu…” Cassian berhenti sejenak, suaranya merendah. “Jangan ikut campur terlalu jauh dalam urusan militer. Aku tidak ingin rumor lain muncul.”
Corvina berdiri, menatapnya datar. “Kau menyebutku ratu, tapi memperlakukanku seperti bayangan.” Ia berbalik gaunnya berayun lembut, “Kalau begitu biarkan bayangan ini tetap di belakangmu tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari bayangan itu menelan cahayanya.”
Cassian terdiam. Kalimat itu seperti tamparan halus yang meninggalkan bekas.
Setelah Corvina pergi, Cassian menatap Theon tajam. “Kau tampak terlalu nyaman berbicara dengannya.”
Theon menunduk dalam-dalam. “Saya hanya menghormati Ratu, Yang Mulia.”
Cassian bersandar di kursinya, suaranya dingin. “Hormat atau… kekaguman?”
Theon tak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban paling berbahaya di ruangan itu.
Cassian menatap jendela, matanya redup. “Perjalananmu ke utara, Grand Duke… pastikan kau kembali dengan selamat dan pastikan rakyatku tidak lagi kelaparan. Aku ingin melihat sendiri seberapa jauh kesetiaanmu.”
Dan untuk pertama kalinya, Theon merasa misi itu lebih seperti ujian bukan lagi tugas.
*
Keesokan harinya, langit tampak muram seolah ikut menyembunyikan sesuatu. Udara pagi di istana terasa lebih berat dari biasanya. Pelayan berjalan cepat dengan kepala menunduk, takut menatap siapa pun terlalu lama.
Corvina duduk di balkon kamarnya, mengenakan jubah tipis, rambutnya terurai lembut diterpa angin. Secangkir teh di depannya sudah dingin. Ia menatap ke arah taman di bawah, tempat Cassian biasanya berjalan pagi bersama Meriel dan benar saja, bayangan dua orang itu kini tampak di sana.
Cassian berjalan pelan, mendengarkan Meriel yang bicara dengan gaya lembut dan manja. Tapi yang menarik perhatian Corvina bukan mereka, melainkan sosok Theon yang berdiri di kejauhan, tengah berbicara dengan kepala pengawal.
Ia akan berangkat hari ini.
“Yang Mulia,” Cesie muncul membawa baki berisi roti hangat dan surat bersampul merah. “Utusan Grand Duke baru saja datang. Surat ini dititipkan untuk Anda.”
Corvina mengambil surat itu tanpa berkata apa-apa. Ia membuka segelnya perlahan. Tulisan tangan Theon rapi dan tegas.
Yang Mulia Ratu,
Aku akan sangat merindukanmu ... perjalanan ini akan terasa menyenangkan jika ada kamu di sampingku.
Jagalah dirimu… dan jangan biarkan siapa pun memadamkan cahaya di matamu.
—Theon
Corvina menutup surat itu perlahan. Hening yang mengikutinya terasa panjang.
Cesie menatap tuannya cemas. “Yang Mulia, Anda baik-baik saja?”
“Aku baik,” jawab Corvina singkat. Ia menatap keluar jendela. “Hanya... tehnya sudah keburu dingin.”
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Theon menaiki kudanya dan meninggalkan istana. Entah kenapa, langkah itu terasa berat di hatinya.
Dan tanpa ia sadari, Cassian juga melihat ke arah balkon. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Corvina menutup tirainya perlahan.
Hari itu, Theon pergi membawa tugas, Cassian tenggelam dalam kebingungan, dan Corvina menyadari satu hal badai yang sebenarnya, bukan datang dari luar, tapi dari perasaannya sendiri.
💪thor
kalah dgn yg sdh mjd bagiian hidup
"perintahku.. cepatlah UP lg"
🤣