NovelToon NovelToon
Incase You Didn'T Know

Incase You Didn'T Know

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faza Hira

Demi meraih mimpinya menjadi arsitek, Bunga, 18 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mereka setuju untuk hidup sebagai "teman serumah" selama empat tahun, namun perjanjian logis mereka mulai goyah saat kebiasaan dan perhatian tulus menumbuhkan cinta yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Hira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Perjalanan pulang dari stasiun itu terasa sangat panjang. Tangan mereka masih bertaut di atas konsol tengah mobil. Keheningan yang mengisi kabin bukanlah keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang padat, sarat dengan antisipasi dan pertanyaan besar yang tak terucapkan.

Setiap lampu merah terasa seperti jeda yang dipaksakan, memberi mereka waktu untuk memikirkan apa yang baru saja mereka setujui secara diam-diam.

Gimana kalau... kita nggak usah pindah?

Kata-kata Arga terus terngiang di kepala Bunga. Itu adalah sebuah proposal. Sebuah pertanyaan yang mengubah segalanya. Tidak ada lagi orang tua. Tidak ada lagi penonton. Tidak ada lagi naskah.

Jika Bunga kembali ke kamar Arga malam ini, itu adalah atas kemauannya sendiri.

Arga memarkirkan mobil di basement apartemen. Ia tidak langsung mematikan mesin. Ia hanya duduk diam, masih menggenggam tangan Bunga.

"Kita... sampai," kata Bunga pelan, seolah takut memecah gelembung realitas baru mereka.

Arga menghela napas panjang. Ia melepaskan genggaman tangan Bunga, dan Bunga langsung merasakan kehilangan kehangatan itu. Arga mematikan mesin.

"Ayo," katanya.

Mereka naik lift dalam diam. Berdampingan. Tidak bersentuhan. Arga menekan tombol lantai 21. Bunga memandangi angka-angka digital yang berubah, jantungnya berdebar seirama dengan naiknya lift.

Ting.

Pintu lift terbuka. Arga berjalan keluar lebih dulu. Ia berhenti di depan pintu unit 2108. Ia memasukkan kode digitalnya. Bip-bip-bip. Cklek.

Ia membuka pintu dan menahannya. "Masuk, Bunga."

Kata-kata itu terdengar berbeda. Bukan lagi "Masuk" yang biasa. Kali ini terdengar seperti sebuah undangan resmi.

Bunga melangkah melewati ambang pintu. Apartemen itu terasa... kosong. Sangat sepi. Setelah dua minggu penuh tawa dan celotehan Ibu Arga, keheningan ini terasa memekakkan telinga.

"Bunga... mau ganti baju dulu," kata Bunga, memecah kesunyian. Ia tidak tahu harus ke mana. Kakinya secara otomatis hampir berbelok ke kamar tamu—kamar lamanya.

"Bunga," panggil Arga.

Bunga berhenti.

"Kopermu," kata Arga pelan, "masih di kamar kita."

Kamar kita.

Bunga menelan ludah. "Oh. Iya."

Ia berbalik dan berjalan menuju master bedroom. Arga mengikutinya dari belakang. Ini adalah momen paling canggung dalam hidupnya. Mereka masuk ke kamar itu bersama-sama, tapi kali ini, tidak ada lagi alasan "latihan".

Kamar itu penuh dengan jejak mereka berdua. Novel Bunga masih di nakas. Jaket jeans baru yang dibelikan Arga tergantung di belakang pintu. Aroma mereka berdua—kopi, sabun musk, dan sampo stroberi—tercampur di udara.

Bunga berjalan cepat ke lemari, mengambil daster batiknya. Arga juga mengambil kaus oblong dan celan pendeknya dari sisi lemari yang lain.

Mereka berdiri di tengah kamar, masing-masing memegang pakaian ganti. Saling menatap.

"Mas... mau mandi dulu?" tanya Bunga.

"Kamu duluan," kata Arga.

"Nggak, Mas aja. Mas pasti capek habis nyetir."

"Kamu duluan, Bunga," kata Arga lagi, nadanya sedikit memaksa. Ia tidak ingin mereka berdebat soal hal sepele.

"Oke."

Bunga bergegas masuk ke kamar mandi. Ia refleks mengunci pintu dari dalam. Cklek.

Detik berikutnya, ia merasa sangat bodoh. Kenapa dikunci? Ia bersandar di pintu, memejamkan mata. Wajahnya memerah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Sikat gigi mereka masih berdampingan di dalam gelas. Botol skincare-nya masih berjejer di sebelah aftershave Arga.

Apa yang barusan aku setujui? Aku akan tidur di sini. Selamanya?

Ia mandi lebih lama dari biasanya. Mencoba mengulur waktu.

Saat ia keluar, kamar itu kosong. Arga tidak ada. Ia mendengar suara TV dari ruang tamu. Lega. Ia cepat-cepat mengeringkan rambutnya dan berganti pakaian.

Ia menemukan Arga sedang duduk di sofa, menonton berita, persis seperti malam pertengkaran mereka. Seolah semuanya kembali ke titik nol.

Bunga duduk di sofa yang lain. Jauh.

"Mas... nggak mandi?"

"Nanti," kata Arga, matanya tidak beralih dari layar. "Masih nanggung beritanya."

Bunga tahu itu bohong. Arga memberinya ruang. Memberinya waktu untuk beradaptasi dengan status baru kamar mereka.

Hening.

Ponsel Bunga bergetar. Sebuah pengingat dari kalendernya. 'Deadline Tugas STA: Parthenon. Jam 23.59.'

"Astaga!" pekik Bunga. "Tugas!"

Selama dua minggu menjadi "menantu idaman", ia benar-benar lupa pada status utamanya: Mahasiswi.

Arga menoleh. "Kenapa?"

"Tugas STA, Mas! Deadline malam ini! Bunga belum selesai bagian analisis filosofinya!"

"Ya sudah," Arga mematikan TV. "Kerjakan. Mau Mas bantu?"

"Eh..." Bunga bingung. "Jam Bimbingan...?"

Arga tersenyum tipis. "Kayaknya... kita perlu revisi 'perjanjian baru' kita. Jam Bimbingan tetap berlaku."

Bunga merasa lega luar biasa. Rutinitas. Ia butuh rutinitas. "Iya, Mas! Bunga ambil laptop!"

Mereka pindah ke meja makan. Studio kerja mereka. Bunga mengeluarkan laptop dan buku-bukunya. Arga duduk di seberangnya.

Tapi suasananya berbeda.

Bunga mencoba membaca catatannya, tapi otaknya tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang ke kamar tidur di ujung lorong. Ke ciuman itu. Ke pengakuan Arga.

"Masalahnya di mana?" tanya Arga, suaranya kembali menjadi 'dosen'.

"Ini... Bunga nggak ngerti maksudnya 'proporsi ilahi' itu apa," kata Bunga, otaknya benar-benar buntu.

Arga menghela napas. Ia mengambil pensil dan kertas. "Sini."

Ia mulai menggambar. "Intinya..."

Bunga mencoba mendengarkan. Ia bersumpah ia mencoba. Tapi yang ia dengar bukan penjelasan Arga. Yang ia lihat adalah cara Arga memegang pensil. Cara alisnya berkerut saat fokus. Cara bibirnya bergerak saat menjelaskan sesuatu yang ia cintai.

Bibir yang sama yang...

"Bunga?"

Bunga tersentak. "Eh, iya, Mas?"

Arga menatapnya. Ia tahu Bunga tidak mendengarkan. "Kamu nggak fokus," katanya.

"Maaf, Mas. Bunga... Bunga kepikiran."

"Kepikiran soal tadi di mobil?" tanya Arga blak-blakan.

Bunga hanya mengangguk malu.

Arga meletakkan pensilnya. "Bunga," katanya serius. "Kita nggak bisa kayak gini. Kamu nggak fokus. Mas... jujur, Mas juga nggak fokus."

Ia bersandar di kursinya. "Kita perlu bicara. Menetapkan aturan main yang baru. Yang benar-benar baru."

Bunga menatapnya, menunggu.

"Oke. Perjanjian baru, revisi kedua," kata Arga. "Satu. Kita tetap sekamar. Di kamar Mas. Kamar kamu resmi jadi kamar tamu. Itu sudah kita sepakati di mobil."

Bunga mengangguk.

"Dua," Arga menatapnya lekat. "Kita... pelan-pelan. Sangat pelan. Mas tahu kamu belum siap. Mas tahu kamu mungkin... masih bingung."

"Bunga emang bingung, Mas."

"Mas tahu," kata Arga lembut. "Mas nggak akan... Mas nggak akan menuntut hak Mas sebagai suami. Mas nggak akan melakukan apa pun yang membuat kamu nggak nyaman. Termasuk... ciuman itu."

Bunga menunduk.

"Itu... kecelakaan," kata Arga. "Sebuah kecerobohan dari Mas. Dan Mas janji, itu nggak akan terulang lagi."

Jantung Bunga terasa sedikit mencelos mendengarnya. Kecelakaan?

"Kecuali..." lanjut Arga.

Bunga mendongak.

"Kecuali kamu yang siap," kata Arga pelan. "Dan kamu yang mau. Mas akan serahkan semua kendalinya ke kamu, Bunga."

Ini... ini adalah pernyataan yang luar biasa. Arga, yang selalu memegang kendali, yang selalu menjadi 'sutradara', kini menyerahkan kendali terpenting dalam hubungan mereka ke tangan Bunga.

"Bunga... Bunga nggak tahu, Mas..."

"Nggak apa-apa kalau kamu nggak tahu," kata Arga. "Yang penting sekarang, kita berdua tahu posisi kita. Kita bukan lagi partner pura-pura. Kita adalah... dua orang yang sedang mencoba. Benar?"

"Iya," bisik Bunga. "Mencoba."

"Dan karena kita sedang mencoba," kata Arga, "kita nggak bisa punya ganjalan. Kamu nggak bisa terus-menerus canggung tiap lihat Mas."

Arga bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke kamarnya. Bunga menatapnya bingung.

Beberapa detik kemudian, Arga kembali. Ia membawa... 'Benteng Guling'.

Bunga terbelalak.

Arga meletakkan guling itu di kursi kosong di antara mereka.

"Mas?"

"Kita pelan-pelan," kata Arga, mengulangi janjinya. "Kalau benda ini bisa bikin kamu fokus kerjain tugasmu malam ini, dan bisa bikin kamu tidur nyenyak nanti... kita pakai ini lagi."

Bunga menatap guling itu. Lalu menatap Arga.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Laki-laki ini... baru saja mengakui perasaannya. Baru saja menciumnya. Dan sekarang... ia dengan sukarela membangun kembali tembok di antara mereka?

Hati Bunga dipenuhi oleh gelombang emosi yang tidak bisa ia definisikan. Itu bukan cinta yang meledak-ledak. Itu adalah... rasa terima kasih. Kekaguman yang mendalam. Rasa aman yang absolut.

Laki-laki ini tidak sedang memanipulasinya. Laki-laki ini sedang melindunginya. Bahkan dari dirinya sendiri.

"Nggak perlu, Mas," kata Bunga pelan.

Arga menatapnya, kaget.

Bunga berdiri. Ia mengambil 'Benteng Guling' itu. "Benda ini... cuma buat nutupin kenyataan."

Ia berjalan ke kamar tidur dan melempar guling itu ke kursi malas di sudut kamar. Tempat Momon, boneka pandanya, duduk.

Ia kembali ke meja makan. Ia duduk di kursinya. Ia menatap Arga.

"Bunga... Bunga mungkin takut," katanya, suaranya gemetar tapi mantap. "Bunga mungkin bingung. Tapi Bunga nggak mau sembunyi di balik guling."

Ia mengambil pensilnya. "Ayo, Mas. Ajarin Bunga lagi soal Parthenon. Bunga janji akan fokus."

Arga menatap Bunga lama sekali. Ada binar di matanya yang belum pernah Bunga lihat sebelumnya. Itu adalah... kebanggaan.

Ia tersenyum. Senyum yang tulus, lebar, dan sangat menawan. "Oke," katanya. "Kita mulai lagi. Proporsi ilahi itu..."

Pukul sebelas malam, tugas Bunga terkirim. Tepat waktu. Mereka membereskan meja makan dalam diam yang kini terasa jauh lebih ringan.

Waktunya tidur.

Ini adalah ujian sesungguhnya. Tidak ada orang tua. Tidak ada 'Benteng Guling'.

Bunga masuk ke kamar mandi lebih dulu. Ia berganti piyama. Jantungnya berdebar, tapi ia tidak lagi takut. Saat ia keluar, Arga sudah menunggunya.

"Silakan, Mas," kata Bunga.

Arga masuk ke kamar mandi. Bunga tidak menunggu di luar. Ia masuk ke kamar, duduk di sisi ranjangnya, dan mulai memakai skincare-nya di depan meja rias.

Ia mendengar suara shower dari kamar mandi. Ia mencoba untuk tidak membayangkan apa-apa.

Saat Arga keluar, hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblongnya yang biasa, rambutnya basah dan acak-acakan, Bunga sudah berada di bawah selimut.

Ia pura-pura membaca novelnya.

Arga tidak berkata apa-apa. Ia berjalan ke sisi ranjangnya, mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur di nakas Bunga.

Ia naik ke atas kasur. Ia berbaring telentang.

Hening.

Bunga masih pura-pura membaca.

"Bunga," panggil Arga pelan.

"Ya?"

"Kamu nggak akan bisa baca dalam gelap."

Bunga sadar ia hanya menatap halaman yang sama selama lima menit. Ia menutup novelnya. "Iya."

Ia mematikan lampu tidurnya.

Kamar itu kini gelap total.

Mereka berbaring berdampingan. Jarak di antara mereka hanya sekitar tiga puluh senti. Cukup jauh untuk tidak bersentuhan, tapi cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain.

Bunga berbaring kaku, telentang. Arga juga.

"Mas..." bisik Bunga.

"Hmm?"

"Soal... soal yang Mas Arga bilang... 'kecuali Bunga yang minta'..."

Arga terdengar menahan napas. "Ya?"

"Itu... Bunga... boleh mikir-mikir dulu, kan?" tanya Bunga, suaranya nyaris tak terdengar.

Terdengar suara tawa pelan di kegelapan. Tawa Arga yang rendah dan hangat.

"Ambil waktumu sebanyak yang kamu mau, Bunga," katanya, suaranya terdengar geli dan lega. "Sepuluh tahun lagi juga Mas tungguin."

"Mas Arga!" protes Bunga sambil tertawa pelan.

"Sudah, tidur," kata Arga lembut. "Besok kamu kuliah pagi."

"Iya. Selamat malam, Mas."

"Malam, Bunga."

Bunga berbalik, membelakangi Arga. Ia memeluk guling yang ada di pinggir ranjang—guling yang tadinya ia pakai agar tidak jatuh.

Ia mendengar kasur bergerak. Arga juga berbalik, menghadap punggungnya.

Malam itu, Bunga tidur dengan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat aman.

Satu jam kemudian, dalam tidurnya, Bunga yang kedinginan karena AC, tanpa sadar bergeser ke belakang, mencari kehangatan. Ia menemukan sumber kehangatan itu. Punggungnya menempel pada dada bidang Arga.

Arga, yang belum sepenuhnya tidur, membuka matanya di kegelapan. Ia terdiam saat merasakan tubuh Bunga yang hangat bersandar padanya.

Ia tidak bergerak. Ia tidak memeluk Bunga. Ia hanya membiarkannya. Ia menutup matanya lagi, dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah, Arga Pradipta tidur dengan nyenyak.

1
indy
Selamat arga bunga adam. tadi kirain ada plot twist arga pingsan pas arga lahir😄
indy
bahagia sekali bunga...
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
indy
sudah end ya
Faza Hira: tunggu special chapter nya kak 🤭
total 1 replies
indy
jangan sampai diana jadi ulet bulu
indy
jadi degdegan...
indy
lanjut...
indy
sebentar lagi...
indy
semangat arga bunga
indy
bikin penasaran
indy
lanjut kakak, suka banget
indy
Ceritanya bikin senyum-senyum sendiri. arga latihan sekalian modus ya...
minsook123
Suka banget sama cerita ini, thor!
Edana
Sudah berhari-hari menunggu update, thor. Jangan lama-lama ya!
Ivy
Keren banget sih ceritanya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!