Perhatian : Banyak adegan 21 + dan kekerasan.
Harap bijak dalam memilih cerita
(Masih dalam tahap revisi, tetapi masih bisa dinikmati alur ceritanya. Abaikan tanda baca dan penggunaan huruf besar juga kosa kata yang tidak sesuai dengan KBBI)
Salwa Humaira adalah putri sulung dari empat bersaudara, ia dibesarkan dengan kondisi ekonomi yang sulit. Dengan berat hati ia meninggalkan keluarganya untuk mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai TKW di negeri orang. Sampailah ia bertemu dengan dua orang bos mafia yang saling bermusuhan. Hidupnya seketika berubah setelah dua orang tersebut menaruh perhatian kepadanya.
Bagaimana keseruan jika seseorang yang bermusuhan menyukai gadis yang sama. Dan siapakah yang akan dipilih oleh Salwa Humaira sebagai pendamping masa depannya?
Dipenuhi aksi heroik dan romantis, siapkan hati, jantung dan pikiran beserta camilan yang lezat untuk menikmati alur cerita ini.
IG . aleena_anonymous
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reesha swee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadarlah (Part II)
Bip-bip-bip...
Suara grafik monitor terdengar jelas. Sean masih menunggu Salwa di sampingnya. Berharap mata mungil itu bisa terbuka dan menatapnya. Tangannya tidak beranjak memegang tangan kurus Salwa. Sudah tidak terhitung berapa kali ia mencium tangan kurus itu sampai akhirnya ia ikut terlelap disampingnya.
"Air......air" sebuah suara membangunkan Sean yang tengah tertidur. Mata itu masih terpejam, namun bibirnya mampu mengucapkan kata-kata. Sean masih tidak percaya apa yang barusan ia dengar.
"Air...." Salwa berkali-kali menelan salivanya namun ia masih mendapati tenggorokannya tetap kering. Sean begitu bahagia melihat bibir mungil itu mampu mengucapkan sesuatu, ia kemudian memencet tombol emergency warna merah yang berada di atas kamar pasien. Tak berapa lama dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan itu.
"Air.."
"Ambilkan air mineral"perintah dokter itu kepada perawat di sampingnya sambil memeriksa kondisi Salwa. Perawat itu segera pergi dan langsung kembali membawa 1 botol air mineral yang sudah ada sedotan di dalamnya.
"Minumlah", ucap dokter itu sambil membantu Salwa sedikit duduk,matanya sedikit terbuka, namun setelah minum mata itu kembali tertutup.
"Dokter, kenapa dia pingsan lagi" ucap Sean cemas.
"Tenang Tuan, pasien hanya tertidur, perkembangannya sudah sangat baik, dia sudah melewati masa-masa kritis, beberapa jam ke depan pasien akan sadar" tutur dokter itu menenangkan Sean. Seketika wajah Sean yang tegang kembali tenang.
"Baiklah kau boleh pergi, terimakasih sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik" ucap Sean tanpa menoleh ke arah dokter itu lagi. Matanya hanya terpaku dan takjub dengan apa yang baru saja dilihatnya. Akhirnya perempuan yang ia nantikan kesadarannya akan segera bangun dan tersenyum kepadanya.
"Kami permisi" dokter itupun keluar dari ruangan Salwa diikuti oleh perawat di belakangnya.
"Akhirnya kau sadar juga, aku akan membawamu pergi jauh dari sini setelah kau pulih" ucap Sean sambil mengecup tangan Salwa.
"Leon, aku ingin kau siapkan kamar VVIP" perintah Sean kepada Leon yang masih berada di perusahaan.
"Apa...., hey bos, itu rumah sakit kecil, kau tidak bisa mendapatkan fasilitas VVIP" jawab Leon kesal. Apa yang dipikirkan Sean saat ini sangatlah tidak masuk akal. Rumah sakit kecil dengan fasilitas minimal yaitu kamar rawat inap yang terbatas dengan jumlah pasien yang membludak dan sekarang bosnya itu mau menggunakan fasilitas VVIP . Aahhh.. Leon mulai gila dengan pemikiran atasannya itu.
"Aku tidak mau tahu, cepat siapkan untukku, aku ingin hari ini pindah ke kamar VVIP" ucap Sean sambil mengakhiri panggilan teleponnya.
Permintaanmu semakin aneh-aneh saja, batin Leon. Leon memerintahkan anak buahnya menyiapkan kamar sesuai perintah Sean apapun caranya. Akhirnya diputuskan kamar yang berada di lantai paling atas yang biasanya di pakai oleh delapan orang di sulap menjadi kamar VVIP. Ranjang berukuran besar, sofa , mini bar, televisi dan berbagai fasilitas yang sebelumnya tidak ada , disediakan oleh pihak rumah sakit. Bunga-bunga tertata rapi di beberapa tempat membuat suasana menjadi lebih elegan dan tampak seperti rumah sakit kelas atas. Sean bisa mengistirahatkan tubuhnya di sofa empuk yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Sebenarnya ranjang yang digunakam Salwa bisa dipakai oleh dua orang, namun Sean tidak mau membuat kesalahan dengan tidur disamping gadis itu. Ia lebih memilih tidur di sofa sambil menunggu Salwa terbangun.
○○○○○○○○○○○○○○○
Rumah yang cukup besar bergaya klasik di daerah Fanling, New Teritories terlihat seorang nenek tua yang sedang termenung seorang diri. Seperti hari-hari biasanya melihat perkebunan setrawberry yang hijau dengan udara yang segar sambil menikmati secangkir teh seorang diri, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Nyonya, tuan Hans datang berkunjung" ucap seorang pelayan melapor.
"Akhirnya ada yang mengingatku" gumamnya lirih. "Suruh saja dia ke taman belakang, aku akan menemuinya disana, jangan lupa siapkan hidangan untuk menyambutnya" berdiri dengan perlahan meninggalkan area perkebunan. Hatinya terasa sedikit tersiram mengingat cucu perempuan yang ia nantikan tak kunjung datang, namun kedatangan seorang Hans yang merupakan tunangan cucu kesayangannya membuatnya sedikit terhibur.
"Cucuku, cepatlah kembali.. nenek sangat merindukanmu" batinnya
Seperti biasa Hans datang seorang diri sambil membawakan sedikit bingkisan untuk nyonya besar. Keluarga Bay, nyonya Bay yang sudah kehilangan anak dan menantunya sangat bahagia jika ada orang yang mengingatnya sebagai keluarga, Hans adalah pria baik dan perhatian, maka dari itu nyonya Bay ingin sekali segera menikahkannya dengan cucunya yang sekarang pergi entah kemana.
○○○○○●●●●●○○○○○
Mata kecil itu sudah mulai terbuka, mata yang sudah ditunggu-tunggu oleh Sean Arthur akhirnya menunjukkan manik hitamnya. Salwa melihat sekeliling, ruangan yang cukup besar dihiasi dengan bunga-bunga yang masih segar. Ia mengingat-ingat kejadian yang baru saja ia alami. Seketika wajahnya memerah setelah berhasil mengingat apa yang telah ia alami sampai berbaring di tempat ini. Ia mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling tanpa mengganti posisi tidurnya. Ia melihat seorang yang tengah terlelap menikmati tidurnya seolah begitu lelah menjalani hari-harinya. Wajah Salwa kembali memerah, entah mengapa ia merasa malu melihat laki-laki yang tertidur di atas sofa itu.
Sean sudah menghilangkan rasa kantuknya, istirahat sebentar memang sangat membantu memulihkan staminanya. Tubuhnya mengeliat dan tanpa sengaja sorot matanya menangkap tatapan Salwa kepadanya. Buru-buru Salwa menutup matanya kembali, ia pura-pura tidur karena masih bingung harus bagaimana berhadapan dengan laki-laki asing yang berada satu ruangan dengannya. Namun Sean sudah menangkap basah tatapan Salwa kepada dirinya.
"Emmm.. apa dia mau main-main" batinnya sambil tersenyum. Sean berjalan mendekati ranjang tidur Salwa. Ia menarik kursi pas di samping ranjang sehingga posisinya sekarang begitu dekat dengan gadis itu.
"Apa kau ingin tidur selamanya" ucap Sean sambil mengelus kepala Salwa. Salwa sedikit membuka matanya, ia sudah melihat wajah Sean begitu dekat dengan wajahnya. Ia sangat terkejut bercampur malu, wajahnya kembali memerah. Apa sebenarnya yang mau dia lakukan, batin Salwa. Ia teringat saat dirinya dipeluk oleh laki-laki di depannya ini, bahkan mereka sempat berciuman. Ya, ciuman pertama Salwa begitu mudah di dapatkan oleh laki-laki ini. Salwa juga sedikit mengingat sudah berapa kali laki-laki ini memeluk dan mencium keningnya saat ia sedang terluka. Salwa mencoba menelan salivanya, cukup lama ia termenung melihat wajah Sean begitu dekat dengannya sehingga membuat pikirannya kemana-mana.
"Apa aku sangat tampan?" Ucap Sean percaya diri. Salwa memalingkan wajahnya. Ia baru sadar bahwa sudah menatap laki-laki itu begitu lama.
Sekali lagi ia merasa sangat haus, ia ingin minun. Tapi malu untuk mengatakannya, berulang kali ia berusaha membasahi tenggorokannya dengan menelan salivanya berkali-kali, namun tetap terasa kering. Sean menyadari bahwa Salwa sedang haus, ia berdiri mengambilkan air mineral yang sudah ada sedotan di dalamnya.
"Minumlah, kau tidak perlu malu seperti itu" Sean membantu menegakkan badan Salwa yang sedang terbaring agar bisa minum dengan nyaman. Salwa hanya menurut saja, ia masih bingung harus berbuat apa. Lagi pula tenggorokannya sudah protes sejak tadi ingin segera di segarkan oleh air. Bahu Sean masih dipakai oleh Salwa untuk menyandarkan punggungnya. Salwa segera menyesap air yang diberikan oleh Sean untuk membasahi tenggorokannya. Sean tersenyum melihat Salwa sudah mulai sadar, jarak mereka saat ini begitu dekat sehingga ia bisa merasakan rambut panjang Salwa yang tergerai menyentuh wajahnya. Suasana intim seakan tercipta di antara mereka. Sean meraih botol yang di pegang oleh Salwa lalu meletakkannya di atas meja. Suasana canggung masih dirasakan oleh kedua manusia itu.
"Kenapa kau masih disitu" ucap Salwa dengan wajah menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah bagai udang rebus. Sean yang tadinya hanya senyum-senyum ikut canggung. Ia meletakkan beberapa bantal untuk digunakan Salwa agar bisa bersandar. Sean segera beralih ke kursi di samping ranjang. Cukup lama mereka bersama tanpa suara.
"Mengapa kau menolongku" ucap Salwa memecah keheningan. Bagaimanapun juga Salwa lah yang mencari masalah dengan Sean, menyekapnya dan memukulinya hingga wajah Sean babak belur seperti sekarang ini.
"Kenapa aku harus membiarkanmu mati" perkataan Sean seolah mengisyaratkan bahwa Salwa belum boleh mati. Apakah laki-laki ini akan menyiksanya perlahan dan tidak membiarkan dirinya mati dengan mudah. Salwa teringat dengan foto-foto keluarganya yang telah tiada, hatinya kemudian terasa sesak. Meskipun ia sama sekali belum mengingat mereka akan tetapi keluarga tetaplah keluarga, keluarga adalah tempat dimana kita berpulang, menyalurkan kasih sayang antara satu sama lain, saling bersinergi antara hati dan juga perbuatan yang membuat kehangatan sebuah hubungan keluarga.
"Aku ingin bertemu keluargaku yang sudah kau habisi, aku ingin bersama mereka daripada hidup sebatang kara seperti ini" ucap Salwa dengan meneteskan caoran bening di sudut matanya.
"Apa yang kau katakan, mereka bukan keluargamu, kau bahkan tidak mengenal mereka" ucap Sean dengan sedikit heran, apa yang dikatakan Salwa sungguh tidak masuk akal.
"Apa maksudmu?" Salwa semakin bingung. Pikirannya masih belum bisa mencerna dan menerjemahkan perkataan Sean yang sederhana itu.
"Mengapa kau jadi bodoh, tentu saja mereka bukan keluargamu, mengapa kau berfikir mereka keluargamu" Sean kembali mengatakan hal yang sama bahwa mereka semua bukanlah keluarga Salwa.
"Apa yang kau tahu tentangku, mengapa kau bilang mereka bukan keluargaku, apa sebelumnya kau mengenalku, mengapa sepertinya kau tidak asing meskipun aku baru saja bertemu denganmu" ucap Salwa memastikan. Ada sedikit perasaan lega saat dia mendapati bahwa yang ditunjukkan Yang Pou Han kepadanya bukanlah keluarganya.
"Apa keluargaku masih ada, apa aku masih punya keluarga?" Salwa bertanya lagi kepada Sean. Matanya seolah mengiba meminta penjelasan dari mulut Sean.
"Apa.. kau tidak ingat apa-apa?"
○○》》 Lanjut..
lanjut marathon yg kedua..