Warning,,,!!!! 21+, harap bijak mencari bacaan.!
Delia Larasaty, gadis cantik berusia 22 tahun itu tidak pernah menyangka jika dirinya akan menikah dengan kakak iparnya sendiri, atau lebih tepatnya menikah dengan suami kakaknya.
Dia adalah Bramantyo Sanjaya atau Bram. Pria dengan wajah tampan yang saat ini berusia 30 tahun tapi masih terlihat muda.
Anak tunggal dari Tuan Sanjaya, pemilik Sanjaya's Group. Salah satu perusahan terbesar dikota jakarta.
Bram menikah dengan Ditha Larasaty, kakak kandung Delia. Tapi 6 bulan yang lalu saat Ditha melahirkan, kondiri Ditha melemah hingga dia dinyatakan koma. Hingga saat ini Ditha belum juga sadar dari komanya.
Kedua orang tua Bram tidak tega melihat kondisi anaknya yang semakin tidak terawat dan terus berlalur dalam kesidihan karna tepukul atas kejadian yang menimpa istrinya. Maka dari itu kedua orang tua Bram meminta Bram untuk menikah dengan Delia, agar Bram tidak berlarut - larut dalam kesedihan karna terus memikirkan Ditha yang belum tentu akan bangun dari komanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Apa arti diriku
Setelah mendengarkan penjelasan Damar yang begitu menusuk hatinya. Bram memilih untuk pulang. Dia tidak kuat jika harus berlama - lama melihat Ditha. Baru saja Bram bangkit dari keterpurukannya saat Ditha dinyatakan koma, kini dia harus kembali menerima kenyataan pahit yang membuatnya hancur dan terpuruk kembali. Perasaan Bram sedang terombang ambing tanpa arah saat ini, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalahnya itu.
Sepanjang perjalan pulang, Delia dan Bram hanya diam. Mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing - masing. Delia juga ikut terpukul atas kejadian yang menimpa Bram juga Ditha. Delia tidak menyangka kehidupan rumah tangga Ditha dan Bram harus diterpa masalah sebesar ini. Ditha tidak sepenuhnya bersalah, tapi hal itu tetap saja membuat hati Bram bagaikan tersayat sembilu. Delia bisa melihat kehancuran dimata Bram saat dia mendengarkan penjelasan Damar.
Mereka sudah sampai, tapi Bram hanya menghentikan mobilnya didepan rumah dan tidak mematikan mesin mobilnya. Delia melirik Bram, dia ingin bertanya namun tidak memiliki keberanian, karna suasana hati Bram sedang kacau.
"Turunlah. Aku harus pergi." Bram menyuruh Ditha untuk keluar dari mobil. Suaranya datar, dia bahkan tidak melihat Delia.
"Mas Bram mau kemana.?"
"Aku ingin menenangkan diri."
"Tapi kemana.? Aku,,,,
"Delia.!! Aku memintamu untuk turun. Kamu tidak perlu tau aku akan kemana. Jangan mencampuri urusanku.!!" Bentak Bram.
Delia tidak menduga, kecemasan yang Delia rasakan untuk Bram, harus dibalas dengan kata - kata yang menyakitkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Delia segera keluar dari mobil. Saat itu juga mobil Bram melaju dengan kencang, meninggalkan Delia yang mematung. Bram bahkan tidak memperdulikan bagaimana perasaan Delia saat dia membentaknya.
Delia masih menatap mobil Bram yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.
"Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu mas, aku hanya mengkhawatirkanmu." Suara Delia bergetar, merasakan sakit dihatinya. Air mata yang mengalir dipipinya menjadi bukti betapa sakitnya hati Delia saat ini.
Delia merasa Bram sedang melampiaskan kekesalan padanya. Delia hanya ingin tau kemana Bram akan pergi disaat emosinya sedang tidak stabil. Dia takut terjadi sesuatu pada Bram, tentu saja Delia tidak mau hal buruk terjadi pada suaminya itu.
Menghapus air matanya, Delia masuk kedalam rumah. Delia memilih untuk pergi ke kamarnya. Dia bahkan mengabaikan makan malamnya yang sudah ditata rapi di meja makan. Masuk kedalam kamar mandi, Delia berdiri dibawah shower. Dia menyalakan shower dan membiarkan air itu terus mengalir membasahi tubuhnya yang masih mengenakan dress. Air matanya kembali menetes, bercampur dengan guyuran air dari atas kepalanya.
"Jangan mencampuri urusanku.?!" Kata - kata Bram terus terngiang dikepalanya.
'Aku tidak tau apa arti diriku untukmu. Tapi yang aku tau, aku mencintaimu. Apa aku salah jika mencemaskanmu.? Apa bagimu aku terlalu mencampuri urusanmu.? Lalu apa gunanya kamu memintaku untuk tetap berada disisimu.? Untuk menjadi pelampiasan seperti saat ini.?'
Delia tersenyum getir, dia duduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya. Menundukan kepala dengan air mata yang semakin deras mengalir, Delia merasakan hatinya terus tersayat.
'Aku terlalu berharap pada rasa yang sulit untuk ku gapai. Seharusnya aku sadar jika rasa cintamu itu hanya sebuah pelampiasan semata. Cintamu pada mba Ditha begitu besar, bagaimana mungkin kamu bisa membaginya denganku. Aku terjebak dengan perasaanku padamu, hingga tidak menyadari hal sebesar itu. Saat ini aku terluka, terluka karna kebodohan ku sendiri. Dan luka ini adalah konsekwensi karna aku sudah lancang mencintai miliki orang lain.'
Melihat Bram yang begitu terpukul dan tidak bisa menerima kenyataan itu, Delia yakin jika Bram sangat mencintai Ditha dan takut kehilangannya. Delia yakin jika dirinya tidak punya harapan untuk terus berada di sisi Bram.
Setelah puas menangis dan merasa lebih tenang, Delia memilih untuk mandi.
Selesai mandi, Delia turun kebawah untuk melihat Alea. Dia merasa kasihan pada Alea, ibunya bahkan belum sadarkan diri, tapi masalah baru sudah muncul dalam rumah tangga kedua orang tuannya.
"Amel, Hardan.!" Delia sedikit terkejut mendapati baby sitter Alea dan supir pribadi Bram berada didalam kamar Alea. Keduanya juga tidak kalah terkejutnya karna kehadiran Delia yang tanpa permisi.
"Non Delia,," Seru keduanya bersamaan.
"Ka,, kami sedang bermain dengan Alea." Ujar Amel gugup. Sedangkan Hardan terlihat salah tingkah dan menggeser duduknya menjauh dari Amel.
Delia masuk dan menghampiri mereka, sebelum itu dia menutup pintu terlebih dulu.
"Tidak apa. Alea pasti senang di ajak main sama duo jomblo." Ujar Delia
"Uhukk,,uhhukk,,," Perkataan Delia membuat Hardan tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan Amel menundukan wajahnya.
"Kenapa Dan.? Kamu lagi batuk.?"
"Itu non, a,,,anu,,"
"Anu apa.?!" Delia mengerutkan keningnya.
"Iya saya batuk. Permisi non, saya mau mintum kom*x dulu,,"
Delia mengangkat bahunya acuh. Melihat Hardan akan keluar kamar, Delia mencegahnya.
"Tunggu Dan." Hardan menoleh.
"Tolong setelah minum kom*x, jangan kembali dulu ke kamarmu. Mas Bram belum pulang, tolong kamu tunggu mas Bram diruang tamu sampai dia kembali." Titah Delia. Amel terlihat menahan ketawa.
Awalnya Hardan merasa bingung dan ingin bertanya, tapi dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengiyakan perintah majikannya itu.
Bukan tanpa alasan Delia menyuruh Hardan untuk menunggu Bram pulang. Delia merasa cemas dan ingin memastikan jika Bram pulang dalam keadaan baik - baik saja.
Delia mengambil Alea dari pangkuan Amel. Dia baru menyadari jika mata Alea sembab dan sedikit merah.
"Amel, mata Alea kenapa.? Apa dia habis menangis.?"
"Iya non, sejak bangun tidur sore tadi Alea terus menangis. Makanya saya memanggil Hardan untuk membantu menenangkan Alea. Alea baru berhenti menangis 1 jam yang lalu." Terang Amel. Delia langsung terkejut mendengarnya.
"Apa.!" Pekinya.
"Memang jam berapa Alea bangun.?"
"Jam 4 non. Padahal badanya tidak panas, tidak biasanya Alea menangis seperti itu." Terang Amel.
"Ya ampun. Berarti Alea menangis selama 3 jam.?" Delia melirik jam yang sudah menunjukan pukul 8 malam.
"Sayang, kamu kenapa.?" Delia berdiri untuk menimang - nimang Alea, untuk membuat Alea tertidur agar beristirahat. Bayi itu pasti sangaylt lelah setelah menangis berjam - jam.
"Amel sini berikan susu Alea." Pinta Delia. Amel memberikan botol susu pada Delia. Sambil menimang Alea dan memberinya susu, Delia mulai bersenandung agar Alea cepat tertidur.
'Alea,, apa kamu ikut merasakan semua itu.? Aunty tau jika tangisanmu bukan tanpa alasan. Kamu pasti ikut merasakan apa yang kami rasakan. Semua ini tidaklah mudah untuk kami. Aunty janji akan membuat mama dan papa Alea tetap bersama. Papa Alea pasti bisa memaafkan kesalahan mama yang tidak pernah disengaja itu. Kamu harus tau kalau papa sangat mencintai mama Alea."
Delia tersenyum melihat Alea yang mulai terlelap. Setelah Alea tidur dengan pulas, Delia meletakannya di tempat tidur. Dia mengecup kening Alea dengan penuh cinta dan kasih sayang.
...*****...
Sementara itu, di sebuah Club terbesar di kota J, Bram duduk sendirian disudut ruangan. Dia sudah mengabiskan banyak alkohol disana. Kesadarannya juga mulai berkurang, namun itu tidak membuat Bram berhenti minum. Dia merasa jauh lebih baik setelah menenggak beberapa botol alkohol.
Sejak tadi sudah banyak wanita yang mengahampirinya, wanita - wanita yang haus belaian itu tentu saja sangat tertarik dengan ketampanan dan badan Bram. Mereka mencoba untuk menggoda Bram agar bisa menikmato tubuh sempurna milik Bram. Sayangnya nasib tidak berpihak pada mereka. Mereka tidak tau jika Bram sedang frustasi, bukannya mendapat sambutan, para wanita itu justru mendapat hinaan pedas dari mulut Bram.
"Dasar jal*ng sialan.! Pergi kau dari hadapanku.! Aku muak melihatmu.!" Bram terus mengakatan umpatan itu pada setiap wanita yang mengahampirinya. Dia bahkan mencekik salah satu wanita yang tidak mau pergi dan berani mencium Bram. Jika saja tidak ada yang memisahkannya, entah akan seperti apa nasib wanita itu.
Jangan lupa untuk Vote dan tinggalkan Likenya. 😊
Semakin banyak vote dan like, akan semakin sering untuk up😁
Happy Reading😚