Ini adalah kelanjutan Novel Aku bukan Nona malam, dan jika akan membaca Novel ini sehendaknya membaca season ke 1 nya agar tak pusing.
°°°°°°
Bercerita tentang Andi, putra dari Angga dan juga Widia. Anak yang di besarkan oleh didikkan ayahnya, sehingga saat dia dewasa dia menjadi sangat dingin dan juga kejam. Tapi dia balik sikap dingin dan kejamnya itu, Andi merupakan pujaan para wanita karena dia memiliki wajah yang tampan meski dia jarang tersenyum tapi tetap tak mengurangi rasa tampannya.
Tapi di balik itu semua, Andi merupakan anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya dan juga adik kesayangannya.
Sampai suatu saat di di pertemukan kembali dengan gadis jelek di masa kecilnya.
Bagaimana kisah Andi, cuss.. Langsung baca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AngelKiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Keesokan harinya...
Nampak semua orang yang ada di kantor tengah berkumpul, terlihat Kila pun ikut berkumpul karena ada sebuah pengumuman penting.
Nampak Widia tengah berdiri sambil tersenyum kepada semua karyawan yang ada di perusahaan milik Andi.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Widia.
"Selamat pagi juga, Nyonya Widia." Jawab semua orang serempak.
"Hari ini saya ingin mengundang kalian untuk datang besok malam ke acara ulang tahun putra saya, yaitu bos kalian sendiri." Ucap Widia senang.
Nampak semua orang langsung senang, dan juga memberikan tepuk tangan. Setelah melakukan pengumuman itu Widia langsung pergi menuju ruangan Andi. Dan semua orang langsung membubarkan diri dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Sementara Kila langsung kembali ke ruang kerjanya, dia bingung harus memberikan hadiah apa kepada bosnya itu. Karena secara bosnya itu sangat kaya dan pasti dia sudah tak memerlukan apa-apa lagi.
"Kila." Panggil Widia.
"Ah, Tante." Jawab Kila.
Nampak Widia yang tadinya mau ke ruangan Andi langsung menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Kila.
"Kamu apa kabar?" Tanya Widia.
"Kila baik Tante." Jawab Kila.
"Hem... Ayo." Ajak Widia.
"Kemana Tante?" Tanya Kila.
"Anter Tante ke ruangan Andi." Ucap Widia. Dan Kila pun hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti langkah Widia dari belakang.
"Anakku tercinta." Panggil Widia sambil berjalan menghampiri Andi yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Apa yang ibu lakukan tadi?" Tanya Andi.
"Hemm.. Ibu hanya mengundang karyawanmu untuk datang ke pesta ulang tahunmu." Ucap Widia.
"Ibu, Andi sudah bilang Andi tak ingin ulang tahun Andi di rayakan seperti itu." Ucap Andi.
"Jadi kau tak menghargai usaha ibumu ini, hiks. Ibu udah kerja keras mempersiapkan semuanya tapi kamu, hiks, hiks,..." Ucap Widia sambil pura-pura menangis.
"Sudah cukup ibu, akting mu itu sangat jelek. Baiklah, aku tak keberatan ulang tahunku di rayakan." Ucap Andi.
"Baguslah kalau begitu." Ucap Widia.
"Hemm.." Dan Andi hanya menjawab dengan gumaman khas miliknya.
"Kila apakah kau sekarang tak ada kerjaan?" Tanya Widia.
"Eh, sebenarnya pekerjaan Kila sudah beres kemarin. Tante." Ucap Kila.
"Baguslah, kalau begitu ayo ikut Tante." Ucap Widia.
"Tak bisa ibu, ini masih masuk jam kerja." Ucap Andi.
"Kenapa tidak, aku nyonya di perusahaan ini." Ucap Widia.
Dan Andi hanya bisa menghela nafas karena kelakuan ibunya itu. "Bukannya Kila gak mau ikut sama Tante, tapi Kila tak mau jika karyawan kantor yang lain menggosipkan Kila yang tidak-tidak." Ucap Kila meminta maaf pada Widia.
"Hemm.. Baiklah. Kalau begitu Tante pulang dulu yah." Ucap Widia pada Kila dan juga Andi.
"Hati-hati di jalan Bu." Jawab Andi.
"Iya sayang." Jawab Widia sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Andi.
Setelah kepergian Widia, Kila segera pergi meninggalkan ruangan Andi.
Di dalam ruangan miliknya, Kila terus memikirkan tentang hadiah yang cocok untuk Andi.
"Apa aku harus memberinya jam tangan? Tapi pasti dia tak akan memakainya. Lagi pula jam tangannya kebanyakan jam tangan bermerk, haiss... Pusing kepalaku." Ucap Kila bingung.
Dan Kila pun memikirkan tentang pakaian yang harus dia pakai nanti, di tambah uang sakunya hanya tersisa sedikit. Dan tak mungkin meminta uang kepada ayahnya.
Tanpa di sadari, di balik pintu Andi mendengarkan semua keluhan Kila, dan sebuah senyuman nampak di wajahnya walau tak terlihat jelas.
Kemudian Andi langsung berjalan menjauh dari ruangan kerja milik kila, lalu Andi langsung mengambil handphone miliknya dan langsung menelpon seseorang.
"Hallo, tolong bawakan beberapa gaun yang indah dan untuk ukurannya akan ku kirimkan lewat chat." Ucap Andi sambil segera mengakhiri panggilan tersebut.