Ayah seorang pria yang sederhana dan ramah, meskipun banyak yang menghina tapi dia selalu cuek dan tidak menanggapinya.
Namun tanpa di ketahui semua orang, termasuk mamah dan keluarganya. Ternyata ayah merupakan keturunan dari seorang pengusaha kaya.
Cerita ini hanyalah karangan fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan kejadian mohon maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal arifin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta maaf
Alice berjalan menuruni tangga, sebenarnya di kantor ini memiliki fasilitas lift. Namun rusak, jadi sedang dalam perbaikan.
"Huff ...! Belum selesai juga perbaikannya, padahal dari pagi. Tapi kenapa sampai sekarang belum beres juga," gerutu Alice yang merasa kecewa.
Kemudian Alice dengan terpaksa menuruni anak tangga satu persatu supaya cepat tiba di lantai utama.
°°°°
Setelah mendapat telepon dari bu Sherli, Luffi langsung pergi pulang untuk menjemput Clara yang berada di rumah guru anaknya itu.
Sebelumnya bu Sherli memberi kabar melalui telepon dan berkata, 'jika Clara di ajak pulang ke rumahnya' supaya tidak membuat Luffi jadi khawatir dan menjemput Clara di rumah dia.
Sesampainya di lobby kantor, Luffi melihat pak Asep dan pak Joko berdiri di depan pintu dengan memakai kalung antik buatan dia.
Luffi tersenyum melihat mereka berdua dari dalam lobby, lalu melirik ke arah Rendi yang sedang duduk sambil mengawasi mereka.
"Ren ...!" tegur Luffi menyapa kawannya.
Rendi pun melirik ke arah suara tersebut, "Yo, Kak Luffi," sahutnya seraya mengangkat tangan sebelah kanan.
Rendi langsung berdiri setelah Luffi berada di dekatnya.
"Tolong awasi mereka, dan pastikan mereka meminta maaf kepada istriku!" Luffi menyuruh Rendi mengawasi pak Asep dan pak Joko dan menjadi saksi ketika mereka meminta maaf kepada Alice.
"Siap, Bos!" ucap Rendi sambil memberi hormat.
"Aku akan pergi dulu, mau menjemput Anak-ku," ucap Luffi.
Rendi mengangguk pelan tanda mengerti.
"Kamu tenang saja, kak! Biar urusan mereka berdua serahkan saja padaku," ucap Rendi dengan penuh keyakinan.
"Oke!"
Luffi mengangguk pelan, dia langsung pergi berjalan menuju keluar pintu dan menatap pak Asep dan pak Joko.
Pak Asep dan pak Joko tertunduk takut saat Luffi menatapnya, seakan tidak mempunyai keberanian sedikit pun untuk menatap balik Luffi.
Luffi hanya tersenyum kecil saat berada di sebelah mereka berdua, tanpa berbicara apa pun Luffi langsung pergi meninggalkan pak Asep dan pak Joko.
°°°°
Setelah tiba di lobby, Alice merasa terkejut. Ketika dia melihat pak Asep dan pak Joko sedang berdiri di depan pintu utama.
Alice merasa penasaran dan mulai mendekati mereka, "Mungkin mereka telah melakukan sebuah kesalahan, sehingga mereka di hukum disana," gumam Alice dalam hati, namun saat jarak mereka dekat, tiba-tiba ekpresi wajah dia berubah menjadi emosi ketika dia membaca tulisan yang tergantung di tubuh mereka.
Alice memacu langkahnya sehingga dia tepat berada di hadapan mereka.
"Oh ... Jadi Pak Asep dan Pak Joko yang telah memfitnah, diriku. Tapi kenapa? Apakah Aku memiliki salah kepada kalian?!" umpat Alice kepada mereka berdua karena kesal.
Pak Asep dan pak Joko yang merasa bersalah dan takut, dia pun hanya tertunduk malu.
"Maafkan, Kami!"
Pak Asep dan Pak Joko dengan malu-malu meminta maaf pada Alice.
"Apa? Maaf!" sahut Alice yang merasa kesal.
"Apakah kalian pikir semudah itu, untuk Aku memberikan maaf kepada kalian! Setelah apa yang sudah kalian lakukan kepadaku?!"
Alice sangat emosi, karena nama baiknya telah tercoreng di kantor gara-gara gosip palsu yang telah di sebarkan oleh pak Asep dan pak Joko.
"Aku akan melakukan apapun supaya bisa mendapatkan maaf dari Nona Alice," ucap pak Joko dengan nada memelas.
"Aku juga,"
"Katakan saja, apa yang harus Kami lakukan supaya Kamu memaafkan kami."
Asep yang merasa takut akan ancaman Luffi langsung memohon kepada Alice.
Alice yang awalnya merasa kesal, berubah menjadi empati terhadap mereka.
Bagaimana Alice tidak merasa kasihan. Pak Asep dan pak Joko bersujud di hadapan Alice sambil memohon agar memaafkan mereka.
"Baiklah, Aku akan maafkan kalian! Tetapi dengan satu syarat?" ucap Alice.
"Apa itu syaratnya?" tanya pak Asep cepat.
"Kalian harus membersihkan nama baik ku dan jangan pernah mengganggu Aku lagi!" ucap Alice dengan wajah serius.
"Baiklah, Kami akan melakukan itu," ucap pak Asep dengan antusias.
"Aku janji tidak akan mengganggu Kamu lagi," ucap pak Joko dengan nada ketakutan.
"Aku juga janji padamu, tidak akan berani untuk menyari masalah denganmu lagi," ucap pak Asep dengan wajah ketakutan.
"Baiklah, Aku pegang janji kalian. Sekarang beri Aku jalan, biarkan aku lewat," ucap Alice ketus.
Pak Asep dan pak Joko langsung berdiri dan membungkuk berterima kasih.
"Terima kasih, Nona Alice."
°°°°
"Clara pintar makannya," ucap bu Guru Sherli memuji Clara.
"Masakan Ibu Guru enak seperti buatan ayah, Clara suka," sahut Clara sambil tersenyum manis.
"Ayah Clara juga suka masak?" tanya bu Guru Sherli.
"Iya, masakan Ayah saangat enak," sahut Clara memuji masakan Luffi.
"Berbeda dengan mamah," lanjutnya sambil membayangkan ketika memakan masakan ibunya.
Ketika sepasang Guru dan murid ini sedang asyik berbicara sambil makan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Tok ... Tok ... Tok!"
"Asalam mualaikum," ucap seseorang dari luar pintu.
Bu Guru Sherli yang mendengar suara tersebut lalu berdiri dari kursi makan dan pergi untuk membuka pintu.
"Sebentar, biar Ibu buka pintu dulu yah," ucap Bu Guru Sherli kepada Clara.
Clara hanya mengangguk menjawab ucapan Bu Guru Sherli.
"Waalaikum salam, siapa?" sahut Bu Guru Sherli seraya bertanya sebelum membuka pintu.
"Aku Luffi, Ayahnya Clara," sahut Luffi dari balik pintu.
Ceklek
"Silahkan masuk Pak Luffi," ucap bu Guru Sherli dengan nada sopan.
"Terima kasih, Bu," sahut Luffi dengan sopan.
"Duduk dulu Pak, saya akan panggilkan Clara. Soalnya dia lagi makan," ucap Bu Guru Sherli.
"Makan!" ucap Luffi singkat.
"Maaf jadi merepotkan Bu Guru Sherli," ucap Luffi merasa tidak enak hati.
"Engga apa-apa kok, Pak. Jangan terlalu sungkan seperti itu, lagi pula Clara adalah murid yang baik di kelas. Aku sudah menganggap dia seperti anakku sendiri, jadi tidak perlu sungkan," ucap bu Guru Sherli seraya pergi menemui Clara.
"Clara apa sudah selesai makannya, nak? Ayahmu sudah datang menjemput," ucap bu Guru Sherli.
"Sudah, Bu Guru. Dimana Ayah sekarang?" tanya Clara.
"Ada di depan! Mari kita ke sana," sahut bu Guru Sherli sambil tersenyum.
Bu Guru Sherli mengajak Clara menemui ayahnya yang berada di ruang tamu.
"Ayah ...!" teriak Clara sambil berlari kecil menuju Luffi.
"Clara sayang, ayo kita pulang. Tapi bilang makasih dulu sama bu Guru Sherli," ucap Luffi lembut kepada anaknya.
"Terima kasih, Bu Guru," ucap Clara dengan nada sopan.
"Sama-sama sayang," sahut bu Guru Sherli dengan nada lembut.
"Terima kasih, bu Guru Sherli-! Maaf sudah merepotkan Bu Guru," ucap Luffi berterima kasih.
"Sama-sama, pak Luffi," sahut bu Guru Sherli.
"Asalam mualaikum," ucap Luffi.
"Waalaikum salam," sahut bu Guru Sherli.
°°°°